
Ini adalah foto setelah selesai prosesi
akreditasi prodi PAI dengan Asesor dan Kepala P2M, Mas Johan, M.Pd.I. Saya
sengaja yang minta berfoto dengan senyum optimis bersama mereka. Ma’lum, foto
yang diruangan kurang bagus. Mungkin pengaruh nervous atau pengaturan cahaya ruangan
dan HP yang kurang tepat. Cari yang bagus. Alhamadulillah agak sedikit bagus.
Semoga Prodi PAI dapat nilai unggul. Semoga
kita dikabulkan oleh Allah SWT. Amin.
Akreditasi berasal dari kata accredere
yang berarti “memberikan kepercayaan”. Tentu saja proses kepercayaan cukup
panjang yang melibatkan begitu banyak orang yang terlibat di dalam nya. Keberhasilan
akreditasi merupakan cermin dari keberhasilan bersama. Semua pun akan menikmati
buah tersebut.
Proses akreditasi sebenarnya sedang melihat
data secara keseluruhan. Ada komponen-komponen yang harus dipenuhi baik SDM
atau administrasi lainnya. SDM sangat bervariasi; ada yang level grandmaster,
master, dan masih menuju master. Tentu setiap level mempunyai keistimewaan yang
berbeda-beda.
Memang saya melihat akreditasi masih
bersifat faktual administrasi. Ada barang yang diinginkan, maka keluar
nilainya.
Sebenarnya perlu juga ada akreditasi yang
mengacu kepada subtansional. Ia tidak hanya sebatas pada kelengkapan yang
bersifat fisik semata. Ia lebih mengarah kepada kualitas pendidik yang
berimplikasi pada peningkatan kualitas peserta didik.
Jika akreditasi sebatas kelengkapan fisik,
selama nya perguruan tinggi yang ada di daerah tidak bisa bersaing dengan
perguruan tinggi yang berada di daerah ibu kota atau kota-kota besar. Apalagi
ada puluhan ribu perguruan tinggi swasta yang mempunyai keterbatasan SDM dan
sarana prasarana. Semakin sangat sulit untuk bersaing dengan perguruan tinggi
yang sudah mapan.
Mungkin perlu ada penyederhanaan akreditasi
beralih kepada basis karya. Meskipun dosen baru magister tapi mempunyai
kualitas karya seperti mempunyai buku ajar, buku referensi dan buku-buku
lainnya yang diakui tingkat nasional atau internasiional maka kualitas nya sama
dengan doktor atau professor. Coba saja, jika setiap semester setiap dosen
mampu menghasilkan buku ajar yang menjadi bahan ajar setiap mahasiswa, maka
penulis bisa membayangkan betapa kaya sekali karya ilmiah dosen yang mudah di akses dan
dipelajari oleh para mahasiswa. Rak-rak buku di perpustakaan ofline maupun
online penuh dengan karya-karya dosen tempatan. Karya ilmiah seperti jurnal
memang baik, tapi penulis melihat karya buku jauh lebih baik lagi.
Saya kira akreditasi subtansional sejak
zaman dulu sudah ada. Para ulama besar yang kita nikmati karya-karya nya adalah
produk akreditasi subtansional. Ia mendapatkan pengakuan karena karya nya. Institusi
pun terangkat secara internasional, bahkan daerah nya pun ikut terkenal
seantero dunia. Gara-gara lahir karya ilmuwan besar di tempat tersebut.
Menurutku, perguruan tinggi adalah produk
untuk menghasilkan pendidik yang seperti itu, yang kemudian akan diikuti oleh
peserta didiknya. Sebab itu pola akreditasi peradaban model para ulama yang
kematiannya menghasilkan jejak intelektual yang selalu hidup sepanjang zaman.
Penulis : Imam Ghozali
Menyalakan Obor Tradisi Ulama-Sebuah Pengantar
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   247
Lail Al-Qadr : Menggali Ruh Peradaban Islam
08 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   115
Alarm Depresi Remaja Australia, Peringatan bagi Indonesia !
17 Desember 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   309
Mutiara Untuk Anak-Anakku
25 November 2025   Oleh : Dr.Edi Purnomo,MA   153
Bom Molotov, Sekolah dan Jiwa-Jiwa Merana
08 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   439
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872