
Sebenarnya siapa Tuhan anda? Pertanyaan
yang mempunyai jawaban berbeda-beda jika diberikan kepada orang-orang yang
berbeda agama dan berbeda pandangan hidup nya -ideologi nya.
Akal manusia sangat terbatas kemampuan
menyingkap seluruh rahasia di alam semesta yang bersifat konkrit. Manusia tidak
mampu mengidentifikasi berbagai persoalan-persoalan sesuai dengan kebenaran
yang semua orang menerimanya. Kemampuan manusia mengumpulkan data akan melahirkan
berbagai persoalan-persoalan kebenaran ilmiah. Sebab data bersifat dinamis,
sedangkan kemampuan manusia terbatas oleh waktu, tenaga dan ruang kajian.
Berkaitan dengan hal-hal yang bersifat
ilmiah mengalami perbedaan kesimpulan, apalagi hal-hal yang bersifat spiritual
dan keyakinan. Itu sebabnya ketika Nabi Muhammad mendapatkan tawaran untuk melebur
sistem keyakinan dan peribadatan oleh Kaum Qurays, ia tidak menerima nya. Sebab
keyakinan merupakan suatu persoalan batiniah yang tidak bisa disama-ratakan
seperti seperti sebuah produk mekanik. Semua orang bisa berkomentar perbedaan
mobil jenis ini dan itu dengan segala kelebihan dan kekurangan. Keyakinan berkaitan
dengan rasa cinta, takut, rindu dan kepasrahan diri kepada Sang Pencipta akan
keselamatan dan kebahagiaan di Hari Kemudian
Peristiwa tersebut yang kemudian menjadi asbabul
nuzul turun Surat Al-Kafirun yang berbunyi: “Katakanlah (Nabi Muhammad),
“Wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Kamu juga bukan penyembah apa yang aku
sembah. Aku juga tidak pernah menjadi penyembah apa
yang kamu sembah. Kamu tidak
pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”
Ayat tersebut menunjukan bahwa persoalan
keyakinan, kepercayaan atau agama -apapun bentuk nya -yang menjadi pegangan
hidup seseorang sebenarnya otoritas orang tersebut. Allah telah memberi kebebasan
dan kemerdekaan untuk menjadi penganut agama masing-masing. Pilihan-pilihan ini
merupakan wujud bahwa agama tidak membenarkan adanya paksaan untuk menganut
agama tertentu. Sedangkan para pendakwah agama apapun merupakan aktivitas
mengajak kepada kebaikan-kebaikan yang mereka pilih agar orang lain mengikuti
kebaikan tersebut untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akherat.
Jadi visi-misi para pendakwah yaitu untuk
mendapatkan hakikat kebahagiaan. Dalam Islam hakikat kebahagiaan yaitu mengakui,
menyakini, dan mengenal Allah dan Rasul-Nya dalam menjalankan kehidupan
sehari-hari sebagai seorang mu’min dan muslim. Ia bisa menjalankan syariat
dengan baik, ia juga mampu menyelami filosofis syariat tersebut dalam kontek muamalah
Ironisnya ketika agama ditempatkan sebagai
media kehidupan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akherat sering
kali mengalami kegagalan dalam kehidupan sehari-hari. Para pendakwah yang
-pemegang otoritas agama -mendakwahkan diri untuk menciptakan cinta kasih, justru
dari sini juga muncul benih-benih pertikaian dan pertumpahan darah. Banyak beragam
kepentingan-kepentingan yang menyeliputinya. Sudah begitu banyak persolan
kepentingan yang sangat sulit diurai satu persatu. Namun faktanya demikian. Ada
kepentingan dan Hasrat-hasrat besar ingin mendapatkan pengaruh kekuasaan,
kehormatan dan kekayaan telah merubah materi-materi dakwah seperti dalam
pusaran air yang sangat kuat, lalu terpental jauh dan kemudian silih berganti
lagi dengan air-air berikutnya. Pada pusaran itu juga beragam benda-benda tidak
mampu menahannya. Ia sama-sama ikut tertelan dalam pusaran tersebut.
Hadist Nabi Muhammad tentang umat Islam
akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang selamat telah
menjadi konsumsi politis sangat menggairahkan untuk menempatkan diri sendiri
sebagai satu golongan yang selamat, dan menempatkan kelompok lain sebagai Ahli
Neraka. Klaim-klaim sepihak dan atas dasar tafsir sepihak juga telah membuat
kesombongan bertengger dalam hati. Lalu secara sengaja atau tidak sengaja, ia
mengumbar dirinya paling Islami dan menganggap kelompok lain diragukan
keislamannya
Selain aspek teologi tersebut di atas, ada
aspek politik. Pada padangan politik, sebagian umat Islam menganggap kehancuran
umat Islam saat sekarang ini bisa hancur lebur karena tidak bersatunya dalam
naungan khilafah (negara dunia) dalam satu kepemimpinan. Kelompok ini memberi solusi
untuk mengikuti pola-pola pemerintahan Islam klasik dan meninggalkan ajaran-ajaran
politik yang dianggap sebagai berhala-berhala. Kesemangatan yang sangat tinggi Hasrat
politik dalam otaknya menyebabkan hilang juga rasa belas kasih yang tertanam
dalam hati. Ia tidak segan-segan menganggap selain sistem nya produk kafir,
hukum kafir dan semua tidak dinilai benar dalam pandangan Allah SWT
Klaim-klaim sepihak tentu saja bukan omong
kosong. Gerakan-gerakan politis yang bertebaran di internet, buku-buku,
artikel-artikel sudah sangat mahfum dan sudah menjadi kajian-kajian ilmiah di
berbagai kalangan. Ia bukan sebatas omon-omon, tapi realita bahwa timbul nya
konflik terjadi saat ini dalam tubuh umat islam karena adanya pro dan kontra
terhadap konsep-konsep politik Islam yang tidak berkesudahan hingga kini
Itulah persoalan islam sunni yang kini
terjadi. semua bisa anda lihat, baca dan dengar informasi pada setiap waktu.
semua mengajarkan kerukunan dan mengajak umatan wahidah, tapi setiap juziyah-juziyah
sudah mempunyai konsep sendiri-sendiri tentang umatan wahidah tersebut.
Sebelah Islam Sunni ada Islam Syi’ah. Ia sama
kompleknya dengan sunni. Ada pertentangan-pertentangan yang hingga kini juga
masih ada yang belum tuntas. Pergolakan dan perselisihan terjadi dimana-mana
dari setiap kurun waktu.
Ketika Negara Israel bertikai dengan Negara
Iran pada tahun 2025, sebagian umat Islam sedikit melupakan kegaduhan di
internalnya. Mereka melihat Negara Iran sebagai Negara Islam -Syi’ah -berani menghajar
kecongkakan Negara Israel. Ada rasa bangga dan haru. Sebab Umat Islam sudah
sangat jengah dan muak sekali terhadap perilaku Negara Israel yang
sangat menyakiti umat Islam di dunia secara umum dan masyarakat Palestina
secara khusus. Seperti permainan sepak bola, semua pasti akan kagum ketika
melihat suatu tim yang tidak pernah lolos di semi final tiba-tiba masuk pada final.
Rasa haru dan bangga pun muncul dan sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Memang tidak semua umat Islam setuju dengan
sikap Negara Iran. Lagi-lagi alasan politis dan ideologis. Paling tidak,
penulis bisa belajar dari peristiwa tersebut bahwa perbedaan sebenarnya bisa
menjadi jalan untuk bersatu pada wilayah-wilayah tertentu tanpa harus
menanggalkan identitas diri.
Dalam kontek dengan orang kafir saja -Q.S. Al-Qurayis -Allah memberikan
penghargaan adanya kemandirian dan kemerdekaan dalam hal sesembahan yang
jelas-jelas berbeda sesembahan nya. Tidak ada problem sama sekali. lakum
dienukum wali yadien. Tapi dalam konteks sosial, perlu ada kesamaan tujuan
dalam keberagaman. Di Madinah pada masa Nabi Muhammad, ada keberagaman suku dan
agama, tetapi bersatu dalam tujuan negara dan bangsa.
Kini ada perbedaan di tubuh umat Islam
-Sunni dan Syi’ah-,tentu saja ada kesamaan sebagai pengikat yang sangat kuat
yaitu kesamaan Tuhan yang disembah dan Rasullah-Nya: Allah SWT dan Nabi Muhammad
SAW.
Perbedaan sebenarnya bukan jalan untuk saling
menghujat, tetapi perbedaan untuk saling melihat kekurangan diri sendiri dan
berbuat lebih besar untuk kemaslahatan yang lebih besar bagi masyarakat, bangsa
dan negara.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   208
Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   176
Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   228
Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   303
Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   150
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13820
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4868
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3863
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3522
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3272