Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

352 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Alasan Tuhan Menciptakan Perbedaan



Kamis , 10 Juli 2025



Telah dibaca :  750

Sebenarnya siapa Tuhan anda? Pertanyaan yang mempunyai jawaban berbeda-beda jika diberikan kepada orang-orang yang berbeda agama dan berbeda pandangan hidup nya -ideologi nya.

Akal manusia sangat terbatas kemampuan menyingkap seluruh rahasia di alam semesta yang bersifat konkrit. Manusia tidak mampu mengidentifikasi berbagai persoalan-persoalan sesuai dengan kebenaran yang semua orang menerimanya. Kemampuan manusia mengumpulkan data akan melahirkan berbagai persoalan-persoalan kebenaran ilmiah. Sebab data bersifat dinamis, sedangkan kemampuan manusia terbatas oleh waktu, tenaga dan ruang kajian.

Berkaitan dengan hal-hal yang bersifat ilmiah mengalami perbedaan kesimpulan, apalagi hal-hal yang bersifat spiritual dan keyakinan. Itu sebabnya ketika Nabi Muhammad mendapatkan tawaran untuk melebur sistem keyakinan dan peribadatan oleh Kaum Qurays, ia tidak menerima nya. Sebab keyakinan merupakan suatu persoalan batiniah yang tidak bisa disama-ratakan seperti seperti sebuah produk mekanik. Semua orang bisa berkomentar perbedaan mobil jenis ini dan itu dengan segala kelebihan dan kekurangan. Keyakinan berkaitan dengan rasa cinta, takut, rindu dan kepasrahan diri kepada Sang Pencipta akan keselamatan dan kebahagiaan di Hari Kemudian (Ghozali, Agama dan Masa Depan Generasi Islam di Era Digital , 2025).

Peristiwa tersebut yang kemudian menjadi asbabul nuzul turun Surat Al-Kafirun yang berbunyi: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Kamu juga bukan penyembah apa yang aku sembah. Aku juga tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”

Ayat tersebut menunjukan bahwa persoalan keyakinan, kepercayaan atau agama -apapun bentuk nya -yang menjadi pegangan hidup seseorang sebenarnya otoritas orang tersebut. Allah telah memberi kebebasan dan kemerdekaan untuk menjadi penganut agama masing-masing. Pilihan-pilihan ini merupakan wujud bahwa agama tidak membenarkan adanya paksaan untuk menganut agama tertentu. Sedangkan para pendakwah agama apapun merupakan aktivitas mengajak kepada kebaikan-kebaikan yang mereka pilih agar orang lain mengikuti kebaikan tersebut untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akherat.

Jadi visi-misi para pendakwah yaitu untuk mendapatkan hakikat kebahagiaan. Dalam Islam hakikat kebahagiaan yaitu mengakui, menyakini, dan mengenal Allah dan Rasul-Nya dalam menjalankan kehidupan sehari-hari sebagai seorang mu’min dan muslim. Ia bisa menjalankan syariat dengan baik, ia juga mampu menyelami filosofis syariat tersebut dalam kontek muamalah (Ghozali, Puasa, Jihad dan Cinta , 2025).

Ironisnya ketika agama ditempatkan sebagai media kehidupan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akherat sering kali mengalami kegagalan dalam kehidupan sehari-hari. Para pendakwah yang -pemegang otoritas agama -mendakwahkan diri untuk menciptakan cinta kasih, justru dari sini juga muncul benih-benih pertikaian dan pertumpahan darah. Banyak beragam kepentingan-kepentingan yang menyeliputinya. Sudah begitu banyak persolan kepentingan yang sangat sulit diurai satu persatu. Namun faktanya demikian. Ada kepentingan dan Hasrat-hasrat besar ingin mendapatkan pengaruh kekuasaan, kehormatan dan kekayaan telah merubah materi-materi dakwah seperti dalam pusaran air yang sangat kuat, lalu terpental jauh dan kemudian silih berganti lagi dengan air-air berikutnya. Pada pusaran itu juga beragam benda-benda tidak mampu menahannya. Ia sama-sama ikut tertelan dalam pusaran tersebut.

Hadist Nabi Muhammad tentang umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang selamat telah menjadi konsumsi politis sangat menggairahkan untuk menempatkan diri sendiri sebagai satu golongan yang selamat, dan menempatkan kelompok lain sebagai Ahli Neraka. Klaim-klaim sepihak dan atas dasar tafsir sepihak juga telah membuat kesombongan bertengger dalam hati. Lalu secara sengaja atau tidak sengaja, ia mengumbar dirinya paling Islami dan menganggap kelompok lain diragukan keislamannya (Ghozali, Tirakat dan Tarikat Gus Dur, 2025).

Selain aspek teologi tersebut di atas, ada aspek politik. Pada padangan politik, sebagian umat Islam menganggap kehancuran umat Islam saat sekarang ini bisa hancur lebur karena tidak bersatunya dalam naungan khilafah (negara dunia) dalam satu kepemimpinan. Kelompok ini memberi solusi untuk mengikuti pola-pola pemerintahan Islam klasik dan meninggalkan ajaran-ajaran politik yang dianggap sebagai berhala-berhala. Kesemangatan yang sangat tinggi Hasrat politik dalam otaknya menyebabkan hilang juga rasa belas kasih yang tertanam dalam hati. Ia tidak segan-segan menganggap selain sistem nya produk kafir, hukum kafir dan semua tidak dinilai benar dalam pandangan Allah SWT (Wahid, Ilusi Negara Islam , 2009).

Klaim-klaim sepihak tentu saja bukan omong kosong. Gerakan-gerakan politis yang bertebaran di internet, buku-buku, artikel-artikel sudah sangat mahfum dan sudah menjadi kajian-kajian ilmiah di berbagai kalangan. Ia bukan sebatas omon-omon, tapi realita bahwa timbul nya konflik terjadi saat ini dalam tubuh umat islam karena adanya pro dan kontra terhadap konsep-konsep politik Islam yang tidak berkesudahan hingga kini (Ghozali, Implementasi Hak-Hak Politik Kelompok Minoritas Menurut Abdurrahman Wahid, 2020). Belum lagi konflik akibat dari paham puritan yang sangat gampang sekali menuduh orang Islam lain sebagai ahli bid’ah, ahli syirik dan ahli kafir. Persoalan-persoalan tersebut menjadi daftar panjang sebagai bagian permusuhan di tubuh umat Islam.

Itulah persoalan islam sunni yang kini terjadi. semua bisa anda lihat, baca dan dengar informasi pada setiap waktu. semua mengajarkan kerukunan dan mengajak umatan wahidah, tapi setiap juziyah-juziyah sudah mempunyai konsep sendiri-sendiri tentang umatan wahidah tersebut.

Sebelah Islam Sunni ada Islam Syi’ah. Ia sama kompleknya dengan sunni. Ada pertentangan-pertentangan yang hingga kini juga masih ada yang belum tuntas. Pergolakan dan perselisihan terjadi dimana-mana dari setiap kurun waktu.

Ketika Negara Israel bertikai dengan Negara Iran pada tahun 2025, sebagian umat Islam sedikit melupakan kegaduhan di internalnya. Mereka melihat Negara Iran sebagai Negara Islam -Syi’ah -berani menghajar kecongkakan Negara Israel. Ada rasa bangga dan haru. Sebab Umat Islam sudah sangat jengah dan muak sekali terhadap perilaku Negara Israel yang sangat menyakiti umat Islam di dunia secara umum dan masyarakat Palestina secara khusus. Seperti permainan sepak bola, semua pasti akan kagum ketika melihat suatu tim yang tidak pernah lolos di semi final tiba-tiba masuk pada final. Rasa haru dan bangga pun muncul dan sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Memang tidak semua umat Islam setuju dengan sikap Negara Iran. Lagi-lagi alasan politis dan ideologis. Paling tidak, penulis bisa belajar dari peristiwa tersebut bahwa perbedaan sebenarnya bisa menjadi jalan untuk bersatu pada wilayah-wilayah tertentu tanpa harus menanggalkan identitas diri.

Dalam kontek dengan orang  kafir saja -Q.S. Al-Qurayis -Allah memberikan penghargaan adanya kemandirian dan kemerdekaan dalam hal sesembahan yang jelas-jelas berbeda sesembahan nya. Tidak ada problem sama sekali. lakum dienukum wali yadien. Tapi dalam konteks sosial, perlu ada kesamaan tujuan dalam keberagaman. Di Madinah pada masa Nabi Muhammad, ada keberagaman suku dan agama, tetapi bersatu dalam tujuan negara dan bangsa.

Kini ada perbedaan di tubuh umat Islam -Sunni dan Syi’ah-,tentu saja ada kesamaan sebagai pengikat yang sangat kuat yaitu kesamaan Tuhan yang disembah dan Rasullah-Nya: Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Perbedaan sebenarnya bukan jalan untuk saling menghujat, tetapi perbedaan untuk saling melihat kekurangan diri sendiri dan berbuat lebih besar untuk kemaslahatan yang lebih besar bagi masyarakat, bangsa dan negara.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   208

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   176

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   228

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   303

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   150

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13820


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4868


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3272