
Anak kecil tersebut duduk di depan
televisi. Rudal berterbangan di malam hari laksana kembang api dan mengeluarkan
suara sangat keras, “duaaar!!”. Sesekali kedua matanya memandang buku yang ada
di tanganya. Novel karya Yahya Yakhlief berjudul,”Moonlight On The Holy Land
Palestina”. Kisah perang Arab-Israel tahun 1948. Sekarang tahun 2023M. Sudah
75 tahun. Kini terjadi perang lagi. Ratusan masyarakat sipil jadi korban.
Anak kecil: “Ayah, apakah Palestina negeri
para nabi?”
Ayah : “Benar anak ku”
Anak kecil: “Tapi kenapa perang tidak
pernah berhenti. Bukankah para nabi mengajarkan perdamaian?”.
Sang ayah kaget mendapatkan pertanyaan yang
tidak pernah terpikirkan olehnya. Dia diam dan tidak cepat menjawab. Dalam hati,
sang ayah tadi pun membenarkan pertanyaan anak nya tentang fenomena di Palestina.
Tanah para nabi kini berubah laksanakan Neraka mini di Dunia. Isinya: kobaran api,
jeritan anak kecil kehilangan orang tua, mayat-mayat bergeletak di pinggir jalan karena perang dan kepalaran. Akses makanan dan air bersih diputus oleh Israel.
Anak kecil: “Ayah, kenapa? Ayah belum
menjawab pertanyaanku”
Ayah : “Anaku, ini persoalan yang sangat
pelik. Persoalan antara tiga agama; Islam, Yahudi, dan Nasrani. Semua mengklaim
bahwa mereka yang paling berhak. Islam karena Masjid Al-Aqsha, Yahudi karena
ada dome of the rock, Kristen ada gereja. Semua nya berdekatan dalam satu
tempat”.
Anak kecil: “Apakah mereka tidak bisa
berdamai?”
Ayah : “ Sulit. Yahudi mengklaim tanah
tersebut adalah tanah kelahiranya. Islam mengklaim bahwa itu adalah tanah nya
dan wajib dipertahankan. Begitu juga agama Kristen”.
Anak kecil: “Apa arti ajaran perdamaian
yang diserukan oleh para nabi, jika tidak bisa mendamaikan peperangan?”
Ayah : “Anakku, ajaran para nabi tidak
serta merta hanya berada di tempat kelahirannya. Ajaran nabi itu universal dan
membasahi hati manusia di seluruh penjuru Dunia. Mungkin di tempat asal ketika egoisme
kekuasaan dan mempertahankan eksistensi agama dan negara sudah menjadi tujuan
hidup, bisa jadi ajaran kedamaian terasa gersang. Namun percayalah, udara
perdamaian akan terus berhembus dari seluruh penjuru mata angin untuk kedamaian
perang Israel-Palestina”.
Anak kecil diam. Seperti ada yang
dipikirkan. Namun raut muka masih terlihat kesal atas ulah Israel yang membombardir
Palestina. Sudah sekitar 1.600 orang tewas dan 6.434 orang lain terluka.
Anak kecil: “Apakah Allah Maha Kuasa ayah?”
Ayah : “Kenapa kamu bertanya demikian?”
Anak kecil: “Jika Allah Berkuasa, kenapa
tidak hancurkan saja Israel agar dunia aman”.
Ayah : “Anakku, Allah memberi kebebasan
kepada manusia untuk mengubah nasibhnya sendiri. Siapapun yang mempunyai
semangat tinggi merubah nasibnya maka akan menjadi pemenang. Meskipun demikian,
Allah juga mempunyai otoritas-Nya yang tidak dipunyai oleh manusia, “wallahu ya’lamu
wa antum laa ta’lamuun”, Allah lebih mengetahui rahasia setiap kejadian, dan
manusia tidak mengetahui hal tersebut”.
Anak kecil: “Bukankah dulu pada masa Nabi
Luth, Nabi Su’aib dan nabi-nabi dulu, jika ada kaum yang ingkar, Tuhan langsung
menghancurkan mereka?”
Ayah : “Benar anakku. Tuhan menurunkan Nabi
Muhammad SAW adalah untuk Rahmat Semesta Alam. Model dakwah nya tidak seperti
dulu lagi. Dia pembawa Panji Perdamaian. Peperangan harus diselesaikan dengan
akal, intelektual dan kecerdasan manusia. Sebab Al-Qur’an dan Hadist Nabi mengajarkan
tentang pentingnya akal pikiran untuk menyelesaikan sengketa sebagaimana yang
terjadi saat sekarang ini”
Anak kecil: “Tapi kata damai hanya
akal-bulus bangsa barat”
Ayah : Dalam politik dan peperangan selalu
saja terjadi. Tapi ajaran Islam memang harus senantiasa menyuarakan perdamaian
walaupun rintangan sangat berat. Itulah tugas yang sangat mulia sebagai
pengikut Nabi Muhammad SAW.
Anak kecil: “Apa bisa berhasil dengan cara
seperti ini. Korban terus berjatuhan. Kasihan bangsa Palestina. Mereka terus
digempur dan banyak yang meninggal dunia”
Ayah : “Anakku, jangan melihat rasa cinta
kepada Allah dengan sebatas dilihat dari kacamata dhohir. Anakku mungkin sedih
melihat mayat bergelimpang di jalan-jalan kota Palestina. Tapi bagi mereka
adalah kesukesan. Sebab mereka menjadi suhada dan masuk surga. Tahukah siapa
suhada? Mereka hakikatnya tidak meninggal, dan tetap hidup sepanjang masa.”
Anak kecil tadi manggut-manggut. Walaupun kurang
begitu memahami ucapan ayahnya. Dia sudah mulai mengerti bahwa
dalam perang tidak melulu bicara tentang kesedihan, tapi juga ada kebahagiaan
yaitu bahagia meninggal dunia dalam membela agama dan negara.
Anak kecil: “Jadi, mereka yang meninggal
dunia karena membela agama dan negara adalah orang-orang yang sukses?”
Ayah : “Iya, sukses. Tuhan sangat
menyayangi mereka agar cepat berjumpa dengan-Nya. Sebab Tuhan tidak ingin jika
tetap hidup, bisa jadi mereka akan memalingkan mukanya tidak membela agama dan
negaranya, tapi hanya tujuan mencari kehidupan dunia dan ikut membela Israeil”.
Anak kecil tadi mengangguk. Dia semakin
paham. Ketika melihat anaknya semakin paham, ayah nya pun memberi nasehat lagi
kepada anak nya:
“Anakku, bangsa Indonesia juga dulu seperti
Palestina. Dijajah oleh Bangsa Barat. Bangsa ini bersatu, tidak peduli dari
suku apa agama apa, mereka bersatu melawan penjajah. Para santri dari Pesantren
dan ulama-ulama seperti Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari mengeluarkan resolusi
jihad. Isinya “membela dan mempertahankan tanah air bagian dari jihad
fisabilillah. Meninggal mati sahid dan masuk surga”. Hubul wathan minal iman,
mencintai tanah air sebagian dari iman.
Penulis : Imam Ghozali
Muhammad Syahrum
Bagus pak Dr. , Tulisan nya..
Aria Okta yudansyah (Abi 1 c)
Konflik Israel-Palestina adalah konflik militer dan politik yang sedang berlangsung dari abad le-19 hingga pada abad ke-21. Konflik ini merupakan salah satu konflik terpanjang yang masih berlangsung di dunia.
KHAIRI
1.Islam mengajarkan umatnya bersikap toleran terhadap berbagai perbedaan. Toleransi juga menafikan pemaksaan dalam memeluk Islam. Artinya: Tidak ada paksaan dalam (menerima) agama (Islam) (QS. Al-Baqarah: 256). Toleransi berarti tidak memaksa beribadah sesuai agama Islam, namun membiarkan agama lain menjalankan ibadah sesuai ajarannya (QS. Yunus: 40-41) (Rahman, 1996: 203) 2.Islam adalah agama perdamaian. Sesuai dengan namanya, Islam berarti perdamian (Qs.Al anfal:61) (Qs.Al hujarat:9) Qs.An nisa:125 3.Kita harus membela Palestina, karena israel yg merebut tanah Palestina yang tidak wajar apalagi saat peperangan atau serangan terjadi di Palestina memakan korban jiwa
Intan Ziadatus Salamah ABI 1A
hadir pak
???? Notification- Operation #KQ60. GET > https://
o4qhmc
???? Ticket: + 1.82456 BTC. Get > out.carrotquest-
b3co1c
???? You have a message(-s) № 848. Read > https://
1q9zx3
???? You got a transfer from us. Withdrаw =>> out.
sd2v65
???? You have received 1 message(-s) № 556. Open >
gqv8y7
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   95
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   214
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   206
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   220
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2970
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876