
Bulan Muharram mempunyai arti penting bagi umat Islam baik kaum Sunni maupun Syiah. Bulan tersebut tersebut sering
menjadikan sebagai bulan reformasi.“faraqat bain al-haq wa
al-batil”, pemisah antara hak dan batil.
Jika merujuk kepada tradisi kaum sunni
bulan muharam mempunyai berbagai keistimewaan yaitu: Pertama, bulan muharram
termasuk dari empat bulan dari dua belas bulan yang diistimewakan oleh Allah
Swt (Q.S. At-Taubah [9]:36). Kedua, bulan muharram juga sering disebut dengan
bulan asyura berkaitan dengan peristiwa pembebasan Nabi Musa dari
kejaran Raja Fir’aun. Ketiga, pada bulan muharram ada puasa asyura
sebagaimana hadist Nabi Muhammad SAW sebagai berikut:”Puasa pada hari asyura
menghapuskan dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim, No.1977).
Selain hikmah yang cukup banyak di bulan muharram,
kaum sunni sering menggunakan bulan tersebut sebagai bulan perubahan “min
ad-dzulumati il nur”, dari kondisi terbelakang menuju kearah peradaban. Pendekatan
ini berangkat dari penanggalan bulan hijriyah pada bulan tersebut saat Nabi Muhammad
dan para sahabat hijrah ke yasrtib. Perubahan yasrib menjadi Madinah Al-Munawarah
merupakan simbol peradaban Islam. Itu sebabnya, Umar bin Khatab menggunakan
penanggalan Islam pada bulan muharram.
Daya gebrak penanggalan hijrah sangat
luarbiasa. etos dakwah Islamiyah plus perluasan wilayah kekuasaan terus dilakukan
oleh umar bin khatab. Ia mulai memperbaiki sistem administrasi yang modern,
termasuk sistem akuntansi pembayaran para pegawai dan administrasi-administrasi
pemerintahan. Sehingga pemerintahan pada masa nya sudah mulai tertata dengan
baik administrasinya.
Sepengganti Umar bin Khatab yaitu Utsman bin
Affan. Sistem politik mengalami perubahan. Keluarga besar Utsman bin Affan banyak
masuk di wilayah kekuasaan. Hembusan kebencian terhadap nya semakin besar. Kekacauan
politik memuncak. Kelompok oposisi berhasil membunuh Utsman bin Affan. Situasi negara
semakin kacau. Berbagai kelompok menginginkan menjadi penguasa. Namun akhirnya,
Ali bin Abi Thalib terpilih menjadi khalifah.
Terpilihnya ali bin abi thalib melahirkan
beragam faksi: faksi kelompok Aisyah dan muawiyah. Kelompok Aisyah melakukan
kudeta. Perang meletus yang disebut dengan perang jamal. Akhirnya, Aisyah pun
kalah. Namun tidak lama kemudian, meletus lagi perang antara Ali bin Abi Thalib
ban Muawiyah yang terkenal dengan Perang Siffin.
Akibat perang siffin, pasukan umat islam
terpecah menjadi dua: syi’ah dan Khawarij. Pasukan syi’ah yang setiap terhadap Keputusan
penguasa yaitu menghentikan perang. Sebagian pasukan tidak patuh terhadap Keputusan
khalifah ali bin abi thalib. Kelompok ini sering disebut kaum Khawarij.
Dari peristiwa ini sunni terpecah belah
bukan pada persoalan akidah dan ibadah, tapi karena persoalan politik. Ada kelompok
syi’ah, kelompok khawarij dan kelompok sunni yang tidak ingin terlibat konflik
antara ali bin abi thalib dan muawiyah.
Setelah Ali bin Abi Thalib meninggal dunia,
kekhalifahan diambil alih oleh Hasan bin Ali. Namun kemudian ia menyerahkan
kekuasaan kepada Muawiyah dengan persyaratan mampu menyatukan seluruh umat Islam.
Lahirlah babak baru perpolitikan Islam, yaitu dinasti Muawiyyah.
Pada masa pemerintahan Yazid Bin Muawiyah terjadi
perang antara Yazid dan Husein bin Ali. Terjadi pertempuran yang tidak seimbang
di Padang Karbala. Rombongan husein sekitar 72 orang yang terdiri dari kaum perempuan
dan anak-anak. Sedangkan pasukan Yazid berjumlah ribuan tentara. Sayidina Husein
terbunuh dengan sangat mengerikan. Ia dipenggal kepalanya dan dibawa di hadapan
Yazid. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriyah.
Peristiwa terbunuhnya husein menjadi pemicu
terbelah antara kelompok Islam Sunni dan kelompok Islam Syi’ah. Peristiwa ini
dijadikan oleh kelompok syi’ah sebagai hari berkabung atas meninggal Syahid
Husein dan hari kebangkitan kelompok syi’ah sebagai wujud komitmen menerapkan
nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan dalam bingkai ajaran Islam.
Dari kedua paparan tersebut di atas, baik
kelompok Islam sunni maupun syi’ah telah menjadikan bulan Muharram sebagai kebangkitan
umat Islam. Kedua kelompok tersebut telah menjadikan momentum sangat penting
dan bersejarah untuk mewujudkan cita-cita besar mereka -Sunni dan Syi’ah -sebagai
ajaran Islam yang rahmatalil ‘alamiin.
Apakah kedua kelompok Islam tersebut bisa
mewujudkan makna rahmatalil ‘alamin sebagai jalan rujuk atas perbedaan
yang telah berlangsung berabad-abad tersebut. Atau rahmatalil ‘alamin
sebatas di atas kertas yang selalu saling curiga dan saling menjatuhkan
sepanjang sejarah. wallahu a’lam.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875