Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Arti Penting Bulan Muharram bagi Kaum Sunni dan Syi’ah



Sabtu , 28 Juni 2025



Telah dibaca :  526

Bulan Muharram mempunyai arti penting bagi umat Islam baik kaum Sunni maupun Syiah. Bulan tersebut tersebut sering menjadikan  sebagai bulan reformasi.“faraqat bain al-haq wa al-batil”, pemisah antara hak dan batil.

Jika merujuk kepada tradisi kaum sunni bulan muharam mempunyai berbagai keistimewaan yaitu: Pertama, bulan muharram termasuk dari empat bulan dari dua belas bulan yang diistimewakan oleh Allah Swt (Q.S. At-Taubah [9]:36). Kedua, bulan muharram juga sering disebut dengan bulan asyura berkaitan dengan peristiwa pembebasan Nabi Musa dari kejaran Raja Fir’aun. Ketiga, pada bulan muharram ada puasa asyura sebagaimana hadist Nabi Muhammad SAW sebagai berikut:”Puasa pada hari asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim, No.1977).

Selain hikmah yang cukup banyak di bulan muharram, kaum sunni sering menggunakan bulan tersebut sebagai bulan perubahan “min ad-dzulumati il nur”, dari kondisi terbelakang menuju kearah peradaban. Pendekatan ini berangkat dari penanggalan bulan hijriyah pada bulan tersebut saat Nabi Muhammad dan para sahabat hijrah ke yasrtib. Perubahan yasrib menjadi Madinah Al-Munawarah merupakan simbol peradaban Islam. Itu sebabnya, Umar bin Khatab menggunakan penanggalan Islam pada bulan muharram.

Daya gebrak penanggalan hijrah sangat luarbiasa. etos dakwah Islamiyah plus perluasan wilayah kekuasaan terus dilakukan oleh umar bin khatab. Ia mulai memperbaiki sistem administrasi yang modern, termasuk sistem akuntansi pembayaran para pegawai dan administrasi-administrasi pemerintahan. Sehingga pemerintahan pada masa nya sudah mulai tertata dengan baik administrasinya.

Sepengganti Umar bin Khatab yaitu Utsman bin Affan. Sistem politik mengalami perubahan. Keluarga besar Utsman bin Affan banyak masuk di wilayah kekuasaan. Hembusan kebencian terhadap nya semakin besar. Kekacauan politik memuncak. Kelompok oposisi berhasil membunuh Utsman bin Affan. Situasi negara semakin kacau. Berbagai kelompok menginginkan menjadi penguasa. Namun akhirnya, Ali bin Abi Thalib terpilih menjadi khalifah.

Terpilihnya ali bin abi thalib melahirkan beragam faksi: faksi kelompok Aisyah dan muawiyah. Kelompok Aisyah melakukan kudeta. Perang meletus yang disebut dengan perang jamal. Akhirnya, Aisyah pun kalah. Namun tidak lama kemudian, meletus lagi perang antara Ali bin Abi Thalib ban Muawiyah yang terkenal dengan Perang Siffin.

Akibat perang siffin, pasukan umat islam terpecah menjadi dua: syi’ah dan Khawarij. Pasukan syi’ah yang setiap terhadap Keputusan penguasa yaitu menghentikan perang. Sebagian pasukan tidak patuh terhadap Keputusan khalifah ali bin abi thalib. Kelompok ini sering disebut kaum Khawarij.

Dari peristiwa ini sunni terpecah belah bukan pada persoalan akidah dan ibadah, tapi karena persoalan politik. Ada kelompok syi’ah, kelompok khawarij dan kelompok sunni yang tidak ingin terlibat konflik antara ali bin abi thalib dan muawiyah.

Setelah Ali bin Abi Thalib meninggal dunia, kekhalifahan diambil alih oleh Hasan bin Ali. Namun kemudian ia menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah dengan persyaratan mampu menyatukan seluruh umat Islam. Lahirlah babak baru perpolitikan Islam, yaitu dinasti Muawiyyah.

Pada masa pemerintahan Yazid Bin Muawiyah terjadi perang antara Yazid dan Husein bin Ali. Terjadi pertempuran yang tidak seimbang di Padang Karbala. Rombongan husein sekitar 72 orang yang terdiri dari kaum perempuan dan anak-anak. Sedangkan pasukan Yazid berjumlah ribuan tentara. Sayidina Husein terbunuh dengan sangat mengerikan. Ia dipenggal kepalanya dan dibawa di hadapan Yazid. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriyah.

Peristiwa terbunuhnya husein menjadi pemicu terbelah antara kelompok Islam Sunni dan kelompok Islam Syi’ah. Peristiwa ini dijadikan oleh kelompok syi’ah sebagai hari berkabung atas meninggal Syahid Husein dan hari kebangkitan kelompok syi’ah sebagai wujud komitmen menerapkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan dalam bingkai ajaran Islam.

Dari kedua paparan tersebut di atas, baik kelompok Islam sunni maupun syi’ah telah menjadikan bulan Muharram sebagai kebangkitan umat Islam. Kedua kelompok tersebut telah menjadikan momentum sangat penting dan bersejarah untuk mewujudkan cita-cita besar mereka -Sunni dan Syi’ah -sebagai ajaran Islam yang rahmatalil ‘alamiin.

Apakah kedua kelompok Islam tersebut bisa mewujudkan makna rahmatalil ‘alamin sebagai jalan rujuk atas perbedaan yang telah berlangsung berabad-abad tersebut. Atau rahmatalil ‘alamin sebatas di atas kertas yang selalu saling curiga dan saling menjatuhkan sepanjang sejarah. wallahu a’lam.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875