
Gara-gara negara Palestina, semua menjadi
baper. Perang Iran-Israel pun tafsirnya jadi kemana-mana. Kok bisa. Silahkan baca
tulisan singkat ku ini. Sekembali menengok lokasi MTQ malam ini,
saya langsung membuka Laptop dan menulis peristiwa yang masih “anget” dan terus “dipanaskan”
untuk beberapa waktu ke depan, yaitu Perang Iran-Isael.
Sudah ada sekitar tujuh judul tulisan ku
membahas persoalan Iran, Palestina, dan Israel. Jika anda mengikuti beberapa
tulisan ku sebelumnya, maka akan menemukan kebenaran kesimpulan apa yang
terjadi saat ini. meskipun agak semrawut, tapi 90 persen tepat sasaran.
Pertama, persoalan luka lama-terjadi pada masa Ali bin Abi Thalib-muncul kembali. Sebagian dari kelompok Sunni masih
mempersoalkan sebagian dari pandangan kaum syi’ah yang tidak mengakui sahabat
nabi (Abu Bakar, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan). Tapi tidak semua nya menganut aliran seperti ini. Jadi,
ada aliran syi’ah takfiri. Sebagian aliran syi’ah tetap mengakui kepemimpinan
sahabat empat dengan tetap memilih khalifah Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah utama.
Pada kelompok sunni juga begitu. Ada moderat, ada juga takfiri. Kita sering mendengar para penceramah atau tulisan-tulisan di buku-buku yang membid’ahkan hingga mengkafirkan sesama muslim. Jadi, persoalan kafir-mengkafirkan bukan hanya di kalangan teologi syi’ah, tapi juga di kalangan sunni. Konflik internal antara sunni tidak berkesudahan. Kita bisa melihat fakta seperti di Sudan, Somalia, Yaman, Palestina, Mesir dan negara-negara Timur Tengah. mereka saling serang, saling bunuh tidak pernah berhenti. egoisme politik telah membuat mereka menumpahkan darah saudara satu iman dalam beda pandangan.
Kedua, persoalan pandangan pemikiran politik. Syi’ah menggunakan sistem imamah. Sunni menggunakan sistem khilafah pada masa dulu. Faktanya, kini tidak ada satupun negara sunni menggunakan sistem khilafah. Mereka lebih suka menggunakan sistem kerajaan, kesultanan dan republik. Sedangkan syi'ah telah berhasil menerapkan sistem imamah seperti di Iran.
Buku tentang khilafah banyak ditulis oleh
para ilmuwan. Salah satunya oleh Taqiyuddin An-Nabhani. Gerakannya Hizbut
Tahrir. Teori ini belum pernah berhasil mewujudkan khilafah Islamiyah di negara
asal yaitu Palestina. Lalu berkembang pemikiran ini ke berbagai penjuru dunia.
termasuk di Indonesia. Aliran ini di Indonesia sering disebut Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
Ada juga gerakan Islam yang ingin
memperjuangkan khilafah Islamiyah selain HTI seperti DI/TII, Jama’ah Islamiyah,
ISIS, Al-Qaida,Salafi Wahabi dan lain-lain (masih banyak lagi gerakan-gerakan
sejenis ini hidup di masyarakat).
Bagi sebagian aktivis khilafah Islamiyah tersebut
di atas, memang kurang suka terhadap berita-berita yang berbau Iran dan Syi’ah.
Itu sudah pasti. Apalagi jika Iran dikaitkan dengan Palestina, saya kira “ubun-ubun”
kepala sebagian aktivis khilafah sedikit panas. Sebab palestina merupakan
harapan lahirnya sistem khilafah Islamiyah sebagai suatu tanah yang diberkati
oleh Allah SWT.
Ketiga, kelompok Salafi Wahabi jelas
menolak Iran. Ia juga tidak suka terhadap kelompok sunni yang aktivitas
politiknya sebagai pegiat khilafah. Sebab kelompok wahabi juga geram terhadap
kelompok tersebut yang sering mengkritisi pemerintahan Arab Saudi yang dianggap
tidak sesuai dengan ajaran khilafah Islamiyah.
Keempat, Iran juga sangat geram terhadap
negara-negara Islam yang tidak tegas sikapnya terhadap Pemerintah Israel. Negara-negara
tersebut dianggap terlalu bestie dengan Israel dan AS. Kunjungan besar-besaran Donal
Trump ke Arab Saudi bagian dari kritik Iran terhadap negara tersebut yang
terlalu lunak dan seolah-olah AS sebagai dewa penyelamat negara tersebut.
Jadi saat sekarang ini, Di tengah-tengah Perang
Iran-Israel, tidak semua umat Islam mendukung negara Iran. Ada faktor sejarah,
ideologi, dan kepentingan politik. Itu sebabnya beberapa hari yang lalu saya
membuat judul tulisan”Perang Iran-Israel: Dunia Islam Diam?”.
Sekarang kadang serba susah hidup di Dunia
Maya. Mendukung perjuangan Iran dianggap sebagai Agen Syi’ah. Mendukung Arab Saudi
dianggap sebagai agen AS. Pergi ke Cina dikira agen Komunis. Pergi ke Israel
dianggap agen Israel. Tidak mendukung siapa-siapa-netral-dianggap laki-laki tidak
jelas pendiriannya.
Apakah yang sangat mencintai palestina
hanya sebatas ormas-ormas politik yang memperjuangkan khilafah Islamiyah
saja. Tidak. Tidak sama sekali. seluruh umat islam di dunia sangat menginginkan
negara Palestina merdeka. Ormas yang sangat mencintai NKRI seperti Muhamadiyah,
NU, Alwasliah, Perti dan lain-lain juga sangat mendukung sekali kemerdekaan Palestina. Ormas-ormas tersebut juga menggalang dana dan menggalang koneksi
internasional kepada negara-negara non-muslim untuk mendukung kemerdekaan
tersebut.
Apa hasilnya? Palestina semakin hari
semakin terjepit. Negara Palestina semakin sempit. Israel semakin
terang-terangan membantai rakyat Palestina dan menyerobot tanah-tanah mereka. Rakyat
Palestina saat sekarang ini laksana lost generation. Mereka terombang ambing
dalam badai ketidakpastian.
Negara mana yang berani melawan Israel? Terlepas dari beragam motif nya. Tidak ada satupun negara Islam yang berani melawan Israel dan memperjuangkan kemerdekaan Palestina dengan berperang. Semua nya sungkan. Karena di belakang Israel ada AS. Dalam sejarah, dua negara yang berani melawan AS yaitu Irak pada masa kepemimpinan Sadam Husein dan Libya pada masa pemerintahan muammar Kadafi. Kedua-duanya aliran Islam sunni. Hebat dan pemberani menentang AS. Namun akhirnya dihancurkan oleh AS.
Para aktivis pejuang khilafah keluar masuk masjid, demonstrasi, di jalan-jalan menyuarakan khilafah dengan menggalang dana, hingga kini Palestina semakin parah. AS tetap "budeg". Israel tetap "mingkem". Apakah perjuangan kemerdekaan Palestina cukup hanya seperti ini!.
Ketika ada satu negara -yang bernama Iran- yang berani melawan Israel dan AS, sebagai bagian pemecah kebingungan umat islam, tiba-tiba ada sekelompok kecil yang "berisik" mencaci maki Iran hanya karena syi'ah dan imamah. bagiku sungguh tidak punya etika dan rasa kemanusiaan. Padahal Islam telah mengajarkan untuk belajar menegakan "keadilan berfikir" meskipun itu terhadap rival ataupun musuh nya. Salah satu bentuk keadilan, yaitu menerima realita bahwa yang berani menyerang israel dari Negara Islam hanya Iran.
Sekarang ada negara Iran. Sejak tahun 1979,
setelah ayatollah Khomeini menumbangkan pemerintah boneka AS, Mohammad Reza Pahlavi,
ia tancap gas melawan AS dan memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Kini tahun 2025 lahir pemimpin Iran bayang-bayang
dari Ayatollah Khomeini Yaitu Sayyid Ali Khameini. Saya mencoba mencari ucapan
kotor atau menjelek-jelekan kaum sunni. Untuk sementara ini saya belum
menemukan.
Yang ada diberanda HP ku justru muncul aura
ketenangan di wajah nya. Tidak takut terhadap gempuran musuh. Sangat tenang. Ia
benar-benar sudah bulat lahir batin apa yang diperjuangkan merupakan perintah Tuhan
meskipun tidak ada satupun negara yang membantu nya.
Salah satu cuplikan dari TV Astro yang
berisi himbauan pemimpin tertinggi Iran sebagai berikut:
“Rakyat Iran untuk hidup seperti biasa,
beraktivitas seperti biasa, jangan berfikir kalian takut kepada nya, rasa lemah
dia pun tidak akan melepaskan keadaan anda. Terus beraktifitas penuh dengan
kekuatan. Tugas hidup adalah berdakwah…”
TV iNews pada tanggal 19 Juli 2025 memberitakan
sebagai berikut:
“Perang Iran-Israel bagi Iran merupakan
wujud eksistensinya dalam membantu Palestina untuk mendapatkan kemerdekaan. Persoalan
asbabul nuzul perang israel-iran bukan karena alasan Netanyahu bahwa Iran
mempunyai senjaa nuklir, tapi karena Iran yang sangat aktif membantu bukan
hanya logistic, Tetapi juga senjata kepada Palestina yang digunakan untuk
melawan Israel. Maka menghancurkan iran merupakan langkah efektif agar tidak
ada lagi negara yang membantu Palestina seberani Iran.”
Saya kira, saat ini melihat perang Iran-Israel
tidak usah pada baper dan merasa tersudutkan oleh keberanian Iran melawan
Israel. Mari kita sama-sama berdoa saja, semoga perang ini tidak meluas dan
tidak berdampak sangat signifikan terhadap kondisi Indonesia saat sekarang ini.
Jika anda sebagai pejuang kemerdekaan Palestina,
tidak usah disebutpun sudah dicatat sebagai pejuang. Khawatir jika disebut
terus pahalanya habis. Jika anda benci terhadap Iran, jangan lah terlalu benci.
Sebab dipuing-puing kotoran pun ada manfaatnya untuk kesuburan tanah.
Belajar melihat realita, bahwa ada
perbedaan iya dan sangat jelas. Syi’ah akan tetap syi’ah dan sunni juga akan
tetap sunni. Semua punya prinsip. Tapi kita juga harus belajar menerima prinsip
universal dari semua itu, yaitu kemerdekaan Palestina merupakan suatu
keharusan. Siapaun yang memperjuangkan, meskipun itu adalah negara ateis seperti
Cina pun kita harus mendukung nya. Bukan karena mendukung ateisnya, tapi
mendukung perjuangan kemaslahatan rakyat Palestina.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875