Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Bolehkah Umat Islam Mendukung Israel: Sebuah Analisis Kaum Pinggiran



Selasa , 24 Juni 2025



Telah dibaca :  670

Saya menemukan Flyer di FB yang narasinya lebih pada propaganda daripada sajian data ilmiah. Di Flyer tersebut menganggap Iran jauh lebih jahat dari Israel. Kok bisa. Apakah tukang share tersebut tidak pernah membaca buku atau paling tidak menelusuri data kedua negara tersebut melalui artikel akurat yang tersedia di internet.

Istilah penjajah jika dipersempit terjadi setelah ada peristiwa revolusi industri di Inggris tahun 1760-an. Setelah ada penemuan besar-besar di bidang industri dan ada teori - dari seorang ilmuwan bernama Galileo bahwa bumi itu bulat - perlu membuat suatu penelitian langsung untuk membuktikan kebenaran ini. Pembuktian ini yang kemudian bangsa barat berkeliling dunia dan kemudian hari melahirkan imperialisme dan kolonialisme.

Ketika berbicara Iran dan Israel dalam kontek sebagai penjajah. Maka pokok pembahasan harus dipersempit, yaitu Israel sebagai negara Israel, bukan nama Rumawi (Rum) dan bukan Persia (Iran) pada masa Nabi Muhammad SAW. Pembahasan perlu dipersempit pada pendirian negara Israel pada 14 Mei 1948 dan penamaan negara Iran pada tahun 1935 oleh Reza Shah Pahlavi.

Jika ingin diperluas lagi maka perlu juga dibahas negara Irak dan Arab Saudi. Supaya beritanya berimbang. Pembahasan Irak dipersempit pembahasan cukup ketika sudah menjadi Negara Republik yaitu tahun 1958.

Pembahasan Arab Saudi juga cukup dimulai tanggal berdirinya kerajaan pada tanggal 23 September 1932 oleh Raja Abdulaziz bin Abdul Rahman Al-Saud. Tidak perlu melebar kemana-mana yang tidak jelas “jluntrungnya”.

Apa aliran negara-negara tersebut. Irak dan Arab Saudi Sunni. Namun setelah ada gerakan pemurnian tauhid oleh Muhammad bin Abdul Wahab pada abad ke-18 di Najd, jenis Sunni ini sering disebut Wahabi. Menisbatkan nama belakang dari pendiri tersebut. Dasar hukum ada dua: Al-Qur’an dan As-sunnah. Sedangkan Irak Sunni seperti pada masa Arab Saudi sebelum ada Gerakan Wahabi dengan menggunakan dasar hukum Al-Qur’an, As-sunnah dan Ijtihad (Ijma’ Dan Qiyas).

Sedangkan Syi’ah sumber hukum nya al-Qur’an dan as-Sunnah. Perbedaan yang mencolok antara sunni dan syiah terletak pada konsep imamah dan penafsiran hukum lainnya, termasuk tafsir al-Qur’an dan as-Sunnah nya.

Lahirnya syi’ah karena persoalan politik. Sejak terpilihnya Abu Bakar, sebagian sahabat telah terbelah dukungan politiknya. Hingga kemudian, Abu Bakar memilih penggantinya Umar bin khotob dengan penunjukan langsung. Karena Sang Khalifah tidak ingin peristiwa terbelah para sahabat nabi terulang kembali.

Persoalan politik bagi syi’ah sangat membekas. Ketika Abu Bakar terpilih menjadi khalifah hingga sampai pada Utsman bin Affan, bagian khumus (seperlima) dari ghonimah untuk rasul dan keluarganya (QS al-Anfal [8]: 41). Ketika Fatimah meminta bagian tersebut, Abu Bakar mengatakan bahwa bagian tersebut ketika nabi masih hidup. Ketika ia sudah meninggal, maka hak keluarga hilang. Hal sama jawaban Umar dan Utsman saat menjadi khalifah. Dari persoalan ini sangat jelas, akumulasi pendukung Ali bin Abi Thalib dalam persoalan politik. Puncak nya, pada saat Perang Siffin antara pasukan Ali bin Abi Thalib dan pasukan Muawiyah.

Setelah mengetahui sejarah lahir negara tersebut, maka yang perlu ditelusuri adalah apakah di internal setiap negara terjadi konflik. apakah juga terjadi penjajahan ke negara lain.

Baik Iran, Irak dan Arab Saudi terjadi konflik internal. Di internal Irak terjadi konflik terpenting yang patut dicatat pada tahun 1958 yaitu penggulingan sistem monarcki, konflik Irak-Kurdi, dan Revolusi Irak tahun 1968 yang membawa Partai Ba’ath berkuasa dengan presiden Sadam Husein.

Di internal iran terjadi konflik yaitu penggulingan reza shah Pahlavi yang dianggap boneka AS oleh ayatollah khomaini sebagai tokoh sentral revolusi iran pada tahun 1979. Kedua belah pihak pun menjadi korban.

Di internal Arab Saudi juga pernah terjadi konflik. pemaksaan paham wahabi telah memakan korban kaum sunni dan orang-orang syiah keluar dari Hijaz. Jika mengacu kepada buku yang ditulis oleh Hamid Algar, ada ratusan ribu umat Islam terbunuh akibat persoalan penerapan paham wahabi di Arab Saudi hingga tahun 1920-an. Ada buku ditulis oleh Yaroslav Trofimov setebal 368 berjudul “Kudeta Makah,Sejarah Yang Tak Terkuak”. Pada tahun 1979 pemberontakan dilakukan oleh kelompok salafi radikal dipimpin oleh Juhaiman. Masjid al-haram bersimbah darah. Tepat pada hari selasa, 4 Desember 1979 agen resmi Saudi mengumumkan kepada dunia sebuah pernyataan dari Pangeran Nasyif tentang pembersihan semua anggota dari kelompok pembelot dari basemen Masjid Al-Haram.

Dari fakta tersebut persoalan konflik politik internal yang berujung pada pembunuhan telah terjadi di semua negara.

Apakah negara-negara tersebut di atas-Arab Saudi, Irak Dan Iran-pernah saling menjajah Negara Islam lainnya. Konsep imperialisme dan kolonialisme sebenarnya lebih tepat untuk bangsa barat bukan untuk negara-negara Islam. Dan ini fakta. Hampir semua negara Islam pernah dijajah oleh barat.

Apa penyebab terjadi Perang Irak-Iran?. Jika ditelusuri, penyebab perang Irak-Iran bukan kesalahan dari Iran. Justru Irak melakukan invansi ke Iran dengan tujuan agar Ideologi Syi’ah Iran tidak berkembang. Pada perang ini, Irak mendapatkan bantuan Amerika Serikat. Dalam perang tersebut, pasukan dan masyarakat biasa yang banyak terbunuh dari negara Iran.

Setelah Irak hancur pasca perang Irak-Kuwait, nyaris tidak ada kekuatan politik di Timur Tengah yang menonjol selain Arab Saudi dan Iran. Ada perbedaan pandangan ideologi agama (syi’ah dan sunni) dan persoalan kepentingan geopolitik kedua negara tersebut ingin sebagai pemain utama di Timur Tengah. Itu sebabnya politik panas-dingin Arab Saudi-Iran paling sering terjadi. termasuk pada perang Israel-Iran saat sekarang ini. maka, wajar bahwa negara-negara besar mempunyai kepentingan. AS mendekat ke Arab Saudi, dan Rusia, Cina (bisa juga Jerman) mendekat Ke Iran.

Siapa yang dajjal di antara negara tersebut? AS,Rusia, Cina, Jerman, apa Israel? Terserah anda pendukung siapa. Jika anda pendukung Iran, maka muncul kata-kata dajjal berupa AS dan Israel. Jika anda pendukung Arab Saudi, maka sebutan dajjal untuk Rusia dan Cina. Terserah anda pilih negara mana? Yang jelas dajjal bertambah senang sebab nama nya dipakai terus. Dajjal semakin terkenal.

Apakah negara-negara Islam seperti Arab Saudi dan Iran dibalik penghancuran negara Palestina? Jelas tidak sama sekali. Kedua negara tersebut-sebagaimana negara-negara muslim lain-sangat mendukung kemerdekaan palestina dengan cara nya masing-masing. Tentu dengan cara politik masing-masing.

Kenapa Arab Saudi lebih terkesan lunak terhadap AS dan Israel. Saya berhusnudzan saja, bahwa pertimbangan nya untuk kemaslahatan umat Islam seluruh dunia. bukan terletak pada sikap politik kaum wahabi. Di Arab Saudi itu ada dua kota suci, Makah dan Madinah. Apa jadinya ketika negara tersebut tidak aman.

Saya mungkin seperti anda yang pengetahuan persoalan politik dan kekuasaan sangat dangkal. Saya dan anda mungkin tidak sabar melihat pemerintah Arab Saudi dan akan ngomong “Bras-bres pateni Israel dan AS”. Itu pikiran kita. Pemerintah Arab Saudi jauh lebih memahami geopolitik dan untung rugi bagi negara nya dan bagi umat Islam lainnya.

Hanya saja yang tidak pantas adalah menganggap Israel lebih mulia dari Iran itu memang parah logika berfikirnya. Apa dasarnya? Al-Qur’an sudah jelas memberi stempel terhadap mereka. Sejarah sudah jelas bangsa Israel telah menghancurkan masa depan Palestina. Mbok yoaauuuu jika memang benci terhadap Iran jangan lah terlewat jauh.

Melihat segala peristiwa belajar lah berfikir realistis, bahwa tidak semua persoalan harus “diseret-seret” pada persoalan ideologi. Mari kita lihat pada sisi kemanusiaannya. Umat Islam telah terbukti belum mampu mewujudkan palestina Merdeka. Kaum yahudi malah lebih dulu mempunyai negara.

Kaum yahudi juga mempunyai beragam faksi sama seperti umat Islam. Kenapa mereka bisa bersatu dalam satu tujuan, dan kita bercerai berai dalam melihat persoalan Palestina dan Iran. Sebagian umat Islam dan para aktivis dengan tidak tanggung-tanggung merasa risih ketika menyebut Iran sebagai pejuang kemerdekaan Palestina. Seolah-olah mereka tidak membaca sejarah. Negara Iran yang perang saja tidak brisik, Kita yang tidak ikut perang melawan Israel kadang "bising nya setengah modar".

Jika umat Islam tidak bisa bersatu dalam keberagaman sebagaimana kaum yahudi bisa bersatu dalam keberagaman, setidaknya cukup berfikir adil saja melihat perjuangan bangsa Iran terhadap seorang diri.

Islam telah mengajarkan kepada umat nya, “Janganlah kebencian kita kepada suatu kaum membuat kita tidak bisa berlaku adil (dalam kerangka berfikir-pen)”



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875