
Pagi ini saya kaget. Bukan karena berita
Prabowo yang sedang bersulang minuman bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron
saat jamuan makan malam. Kata netizen minuman beralkohol. Pihak Istana bilang
itu Saripati Apel. Saya tidak ikut campur, lagian mereka sudah sama-sama ada
Waskat (Pengawasan Melekat): malaikat raqib-atib.
Namanya juga netizen. Ngrumpi model
now memang begitu. Bayangkan saja presiden minum, yang heboh satu planet bumi. Orang
biasa, minum oli satu galon tidak ada yang peduli.
Pagi ini yang membuat kaget juga bukan
persoalan nasab Ba’alawi. Toh dibahas sudah tidak ngefek. Era nasab
mulai luntur. Era nasib mulai muncul. Era dalam pewayangan disebut”goro-goro”.
Era sekarang ini-menurut Dahlan Iskan-wujud kebenaran pada prasangka (presepsi), bukan lagi fakta . Manusia
atau kelompok lebih menang “ngrumat” buzzer” daripada menumpuk
kebenaran. Yang dibutuhkan bukan dalil kebenaran dan fakta, tapi bodrex, paracetamol, salompas, sekaligus isi
Tas. Semua ada, manusia ceria.
Pagi saya kaget membaca berita yang dirilis
oleh Global Flourishing Study (BFS) Harvard University. Artikel tersebut
menempatkan Indonesia negara paling Sejahtera, kalahkan AS.
Kaget. Heran. Apa benar masyarakat
Indonesia lebih sejahtera dari AS. Berani benar dosen Harvard University meneliti
sekeras itu. Jangan-jangan Rektor dan dosen Harvard University lagi marah
karena Tukin para dosen ditahan oleh Donald Trump. Marah, karena ada pelarangan
dari pemerintahannya terhadap mahassiwa berasal dari luarnegeri. Jumlah sangat
sangat banyak. Terutama dari china dan negara-negara asia. Itu sebabnya, Trump
menuduh Harvard sebagai kampus yang menerapkan antisemitisme, kebencian
terhadap Yahudi. Mahasiswa luar negeri seperti dari Indonesia sudah mulai
ketar-ketir. Mereka ramai-ramai ingin pindah kampus. Takut diusir Trump.
Bagaimana mungkin negara yang mempunyai
kekuatan ekonomi raksasa status kesejahteraan di bawah Indonesia. yang benar donk.
Masa sih, gajah di kalahkan oleh kambing. Gajah kalah sama gajah pantas. tapi
dipikir-pikir bisa juga gajah kalah sama semut. 1 Gajah dikerubut 10.000 semut, pasti mati.
Saya belajar husnudhon dulu. Apalagi yang
melakukan penelitian dari Harvard. Bisa jadi metodologi dan
pertanyaan-pertanyaannya berbeda, sehingga berbeda juga jawabannya.
Penelitian yang diterbitkan pada nature
mental health, ada sepuluh besar bangsa yang mempunyai tingkat kesejahteraan
paling tinggi yaitu: Indonesia, Israel, Filipina, Meksiko, Polandia, Nigeria,
Mesir, Kenya, Tanzania, dan Argentina. Penelitian tentang ukuran kebahagiaan
dengan indikator tidak sebatas kualitas ekonomi, kesehatan dan kebahagiaan, tapi
terletak kebahagiaan dan kepuasan hidup, kondisi mental dan fisik, makna dan
tujuan hidup, karakter dan nilai-nilai moral, hubungan sosial yang kuat serta kestabilan
finansial dan materi.
Penelitian ini mulai menggeser asumsi makna
kebahagiaan tidak melulu pada persoalan terpenuhi finansial dan kuat ekonominya.
Sistem kehidupan materialisme membuka ruang persaingan tidak sehat. Hidup menjadi
homo homini lupus. Manusia menjadi serigala bagi manusia lain. manusia
diciptakan seperti mesin pencipta uang. bekerja-bekerja dan terus bekerja. Hingga
pada dirinya hilang sisi kemanusiaan. Baginya, kejayaan dan kebahagiaan ketika
semakin banyak investasi kebendaan yang diraihnya. Akibatnya, melihat manusia
satu dengan lainnya berdasarkan pertingganan untung rugi, bukan lagi pada
pertimbangan sisi kemanusiaan.
Padahal manusia merupakan makhluk sosial. Kaum
kapitalis sering menggunakan intelektual sebagai jalan untuk meraih
kebahagiaan. Pada permulaannya ia berhasil. Kecerdasan mampu merubah sistem
kerja manusia, dari tradisional yang dikaitkan dengan sistem kerja tenaga
manusia dan binatang, berubah mennjadi tenaga mesin. Ini disebut dengan zaman
modern. Serba mekanik. Zaman ini terus berkembang, hingga saat sekarang ini
disebut dengan zaman 5.0 pada kehidupan berbasis teknologi.
Manusia-manusia cerdas tidak menyangka sama
sekali. Penciptaan teknologi yang awalnya menjadi sarana untuk membantu
manusia, kini justru menjadi musuh paling mengerikan bagi manusia. ketika
manusia-manusia modern menggunakan teknologi untuk membantu segala aktivitas
dan pekerjaan, maka di sisi lain ada gelombang pengangguran yang sangat hebat. jurusan
sekolah-sekolah dan perguruan tinggi banyak yang tutup. Perusahaan tekstil dan
kain batik banyak yang tutup karena sudah diganti dengan computer. Kerajinan meubel,kursi,
meja dari kayu sudah tidak lagi dikerjakan manusia. Pabrik sudah tidak butuh
tenanga mereka. Cukup dengan bekal komputer, sudah bisa mendesain dan mengukir
dengan hasil yang lebih halus dan lebih baik. Hal sama pada aspek lainnya.
Itu sudah mulai dialami di Indonesia dan
sudah mencapai puncaknya di negara-negara maju seperti AS, Jepang dan Jerman. Mereka
telah mendesain manusia hanya pada kecerdasan akal, melupakan kecerdasan lain
seperti kecerdasan spiritual, emosional dan sosial. Dampaknya, mereka mengalami
penderitaan batin yang sangat kuat dan muncul penyakit-penyakit jiwa (mental
health), terisolasi hubungan sesama manusia dan lebih tragis lagi tidak
mempunyai pegangan hidup atas keyakinan terhadap agama.
Kita patut bersyukur sebagai negara yang
masih social capital yang masih sangat melimpah dalam wujud jaringan
hubungan sosial, norma, dan kepercayaan yang memungkinkan seseorang atau
kelompok untuk bekerja sama, mencapai tujuan bersama, dan memperoleh keuntungan.
Di masyarakat masih ada ritual yang berdampak pada kebahagiaan sosial seperti
kenduri, yasinan, tahlilan, hari-hari besar islam, gotong royong membangun
masjid, rumah dan membersihkan selokan. Pola hidup seperti itu menyumbangkan rasa
kebahagiaan dan persaudaraan semakin kuat. Jika hal tersebut hilang, maka
krisis kebahagiaan dan kerukunan masyarakat pun akan runtuh.
Masyarakat Indonesia juga masyarakat
religius. Setiap agama masih rajin pergi ke tempat ibadah. Kajian bukan hanya
sholat, tapi juga tentang pentingnya makna sabar, tawakal, syukur, dan pasrah
kepada allah swt. kegiatan ini menumbuhkan kecerdasan emosional dan spiritual. Secara
tidak langsung, kegiatan tersebut membantu membangun kebahagiaan mereka. Prinsip
hidup “semua sudah diatur oleh Allah” merupakan suatu keyakinan sederhana tapi
efektif menciptakan ketenangan jiwa.
Masyarakat Indonesia masih suka
berkumpul-kumpul. Duduk-duduk di bawah pohon kelapa dan di Majelis Ta’lim. Ketika
mereka ada problem atau hal-hal yang penting atau menarik untuk diceritakan,
maka dengan sigap pertemuan tersebut berubah seperti drama mirip Film Indosiar: ngrumpi, bisik-bisik
tetangga, gosif.
Anda jangan pesimis dulu. Secara psikologis,
orang ngrumpi itu sedang menyalurkan kegundahan dalam pikiran dan hati. ketika
sudah disalurkan semua, maka sesak di dada dan sakit di kepala akan hilang. Jadi
ngrumpi, gosip juga menyumbangkan kebahagiaan. Ia juga sebagai penyumbang
masyarakat Indonesia sebagai manusia paling sejahtera di dunia.
Walaupun sebagai penyumbang kebahagiaan, mbok
yaauu…ojo kebanyakan ngrumpi. Masa sih bahagia hanya dari ngrumpi. Apa tidak
ada sumber kebahagiaan lainnya. Terlaluu !!!
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2945
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874