Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Budaya Ngrumpi dan Social Capital: Sumber Kebahagiaan?



Sabtu , 31 Mei 2025



Telah dibaca :  580

Pagi ini saya kaget. Bukan karena berita Prabowo yang sedang bersulang minuman bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron saat jamuan makan malam. Kata netizen minuman beralkohol. Pihak Istana bilang itu Saripati Apel. Saya tidak ikut campur, lagian mereka sudah sama-sama ada Waskat (Pengawasan Melekat): malaikat raqib-atib.

Namanya juga netizen. Ngrumpi model now memang begitu. Bayangkan saja presiden minum, yang heboh satu planet bumi. Orang biasa, minum oli satu galon tidak ada yang peduli.

Pagi ini yang membuat kaget juga bukan persoalan nasab Ba’alawi. Toh dibahas sudah tidak ngefek. Era nasab mulai luntur. Era nasib mulai muncul. Era dalam pewayangan disebut”goro-goro”. Era sekarang ini-menurut Dahlan Iskan-wujud kebenaran pada  prasangka (presepsi), bukan lagi fakta . Manusia atau kelompok lebih menang “ngrumat” buzzer” daripada menumpuk kebenaran. Yang dibutuhkan bukan dalil kebenaran dan fakta, tapi  bodrex, paracetamol, salompas, sekaligus isi Tas. Semua ada, manusia ceria.

Pagi saya kaget membaca berita yang dirilis oleh Global Flourishing Study (BFS) Harvard University. Artikel tersebut menempatkan Indonesia negara paling Sejahtera, kalahkan AS.

Kaget. Heran. Apa benar masyarakat Indonesia lebih sejahtera dari AS. Berani benar dosen Harvard University meneliti sekeras itu. Jangan-jangan Rektor dan dosen Harvard University lagi marah karena Tukin para dosen ditahan oleh Donald Trump. Marah, karena ada pelarangan dari pemerintahannya terhadap mahassiwa berasal dari luarnegeri. Jumlah sangat sangat banyak. Terutama dari china dan negara-negara asia. Itu sebabnya, Trump menuduh Harvard sebagai kampus yang menerapkan antisemitisme, kebencian terhadap Yahudi. Mahasiswa luar negeri seperti dari Indonesia sudah mulai ketar-ketir. Mereka ramai-ramai ingin pindah kampus. Takut diusir Trump.

Bagaimana mungkin negara yang mempunyai kekuatan ekonomi raksasa status kesejahteraan di bawah Indonesia. yang benar donk. Masa sih, gajah di kalahkan oleh kambing. Gajah kalah sama gajah pantas. tapi dipikir-pikir bisa juga gajah kalah sama semut. 1 Gajah  dikerubut 10.000 semut, pasti mati.

Saya belajar husnudhon dulu. Apalagi yang melakukan penelitian dari Harvard. Bisa jadi metodologi dan pertanyaan-pertanyaannya berbeda, sehingga berbeda juga jawabannya.

Penelitian yang diterbitkan pada nature mental health, ada sepuluh besar bangsa yang mempunyai tingkat kesejahteraan paling tinggi yaitu: Indonesia, Israel, Filipina, Meksiko, Polandia, Nigeria, Mesir, Kenya, Tanzania, dan Argentina. Penelitian tentang ukuran kebahagiaan dengan indikator tidak sebatas kualitas ekonomi, kesehatan dan kebahagiaan, tapi terletak kebahagiaan dan kepuasan hidup, kondisi mental dan fisik, makna dan tujuan hidup, karakter dan nilai-nilai moral, hubungan sosial yang kuat serta kestabilan finansial dan materi.

Penelitian ini mulai menggeser asumsi makna kebahagiaan tidak melulu pada persoalan terpenuhi finansial dan kuat ekonominya. Sistem kehidupan materialisme membuka ruang persaingan tidak sehat. Hidup menjadi homo homini lupus. Manusia menjadi serigala bagi manusia lain. manusia diciptakan seperti mesin pencipta uang. bekerja-bekerja dan terus bekerja. Hingga pada dirinya hilang sisi kemanusiaan. Baginya, kejayaan dan kebahagiaan ketika semakin banyak investasi kebendaan yang diraihnya. Akibatnya, melihat manusia satu dengan lainnya berdasarkan pertingganan untung rugi, bukan lagi pada pertimbangan sisi kemanusiaan.

Padahal manusia merupakan makhluk sosial. Kaum kapitalis sering menggunakan intelektual sebagai jalan untuk meraih kebahagiaan. Pada permulaannya ia berhasil. Kecerdasan mampu merubah sistem kerja manusia, dari tradisional yang dikaitkan dengan sistem kerja tenaga manusia dan binatang, berubah mennjadi tenaga mesin. Ini disebut dengan zaman modern. Serba mekanik. Zaman ini terus berkembang, hingga saat sekarang ini disebut dengan zaman 5.0 pada kehidupan berbasis teknologi.

Manusia-manusia cerdas tidak menyangka sama sekali. Penciptaan teknologi yang awalnya menjadi sarana untuk membantu manusia, kini justru menjadi musuh paling mengerikan bagi manusia. ketika manusia-manusia modern menggunakan teknologi untuk membantu segala aktivitas dan pekerjaan, maka di sisi lain ada gelombang pengangguran yang sangat hebat. jurusan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi banyak yang tutup. Perusahaan tekstil dan kain batik banyak yang tutup karena sudah diganti dengan computer. Kerajinan meubel,kursi, meja dari kayu sudah tidak lagi dikerjakan manusia. Pabrik sudah tidak butuh tenanga mereka. Cukup dengan bekal komputer, sudah bisa mendesain dan mengukir dengan hasil yang lebih halus dan lebih baik. Hal sama pada aspek lainnya.

Itu sudah mulai dialami di Indonesia dan sudah mencapai puncaknya di negara-negara maju seperti AS, Jepang dan Jerman. Mereka telah mendesain manusia hanya pada kecerdasan akal, melupakan kecerdasan lain seperti kecerdasan spiritual, emosional dan sosial. Dampaknya, mereka mengalami penderitaan batin yang sangat kuat dan muncul penyakit-penyakit jiwa (mental health), terisolasi hubungan sesama manusia dan lebih tragis lagi tidak mempunyai pegangan hidup atas keyakinan terhadap agama.

Kita patut bersyukur sebagai negara yang masih social capital yang masih sangat melimpah dalam wujud jaringan hubungan sosial, norma, dan kepercayaan yang memungkinkan seseorang atau kelompok untuk bekerja sama, mencapai tujuan bersama, dan memperoleh keuntungan. Di masyarakat masih ada ritual yang berdampak pada kebahagiaan sosial seperti kenduri, yasinan, tahlilan, hari-hari besar islam, gotong royong membangun masjid, rumah dan membersihkan selokan. Pola hidup seperti itu menyumbangkan rasa kebahagiaan dan persaudaraan semakin kuat. Jika hal tersebut hilang, maka krisis kebahagiaan dan kerukunan masyarakat pun akan runtuh.

Masyarakat Indonesia juga masyarakat religius. Setiap agama masih rajin pergi ke tempat ibadah. Kajian bukan hanya sholat, tapi juga tentang pentingnya makna sabar, tawakal, syukur, dan pasrah kepada allah swt. kegiatan ini menumbuhkan kecerdasan emosional dan spiritual. Secara tidak langsung, kegiatan tersebut membantu membangun kebahagiaan mereka. Prinsip hidup “semua sudah diatur oleh Allah” merupakan suatu keyakinan sederhana tapi efektif menciptakan ketenangan jiwa.

Masyarakat Indonesia masih suka berkumpul-kumpul. Duduk-duduk di bawah pohon kelapa dan di Majelis Ta’lim. Ketika mereka ada problem atau hal-hal yang penting atau menarik untuk diceritakan, maka dengan sigap pertemuan tersebut berubah seperti drama  mirip Film Indosiar: ngrumpi, bisik-bisik tetangga, gosif.

Anda jangan pesimis dulu. Secara psikologis, orang ngrumpi itu sedang menyalurkan kegundahan dalam pikiran dan hati. ketika sudah disalurkan semua, maka sesak di dada dan sakit di kepala akan hilang. Jadi ngrumpi, gosip juga menyumbangkan kebahagiaan. Ia juga sebagai penyumbang masyarakat Indonesia sebagai manusia paling sejahtera di dunia.

Walaupun sebagai penyumbang kebahagiaan, mbok yaauu…ojo kebanyakan ngrumpi. Masa sih bahagia hanya dari ngrumpi. Apa tidak ada sumber kebahagiaan lainnya. Terlaluu !!!



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874