Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Cak Nun dan Cak Non



Rabu , 18 Januari 2023



Telah dibaca :  470

Cerita Budayawan legendaris dan Kepala Negara dalam sejarah politik Islam yang melekat di benak masyarakat muslim yaitu kisah Abu Nawas Dan Khalifah Harun Al-Rasyid. Abu Nawas itu menyebalkan, tapi happy ending. Khalifah sering marah, tapi akhir cerita nya dia pun tertawa terhibur dan melepaskan Abu Nawas dari jeratan hukuman.

Tentu Abu Nawas seorang budayawan dan intelektual kelas wahid. Dia mampu membuat seluruh ruangan tertawa bahagia, dan pada saat yang sama dia pun mampu seluruh yang melihat dan mendengar ceritanya menangis tersedu-sedu. Kesalahan Abu Nawas yang melanggar UU kekhalifahan waktu itu adalah tidak boleh ‘buang air besar’ di depan Sang Raja. Abu Nawas telah melakukan kesalahan. Dia ‘berak’ di Sungai mengalir yang kebetulan di belakang nya, Sang Khalifah sedang buang air juga. Ketika tahu, Sang Khalifah pun akan menghukum mati.

Abu Nawas pun sebelum dihukum mati meminta izin menyampaikan argumentasi. Katanya:

“Ampun khalifah, saya memang melakukan kesalahan yaitu buang air besar di depan Khalifah. Namun tindakan saya ini sebenarnya bentuk kecintaan saya kepada mu. Itu sebabnya, kemana pun kotoran Tuan pergi, saya harus mengawal nya.”

Se-mbeling-mbeling-nya Abu Nawas, tidak pernah mengatakan kepada Khalifah Harun Al-Rasyid dengan makhluk yang dikutuk oleh Allah; Fir’aun. Abu Nawas tahu bahwa dalam etika mengkritik seorang pemimpin adalah suatu kewajiban, dan mengedepankan etika dan kecerdasan argumentasi adalah suatu keharusan. Kritik tanpa etika, maka sudah kehilangan nilai sebagian dari ajaran Islam itu sendiri yang selalu mengutamakan Akhlak Al-Karimah dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam politik.

Abu Nawas bukan Emha Ainun Najib ( Cak Nun). Beda pemimpin dan beda sistem Negara dan pemerintahan. Abu Nawas hidup pada sistem Khalifah dan dia mempunyai otoritas untuk menghukum siapapun yang dianggap bersalah. Cak Nun hidup pada masa Presiden Joko Widodo yang menggunakan sistem demokrasi dan memberikan ‘siapapun’ untuk berbicara dan dalam wujud apapun. Abu Nawas hidup selalu mengkritik untuk pembelajaran bersama bahwa khalifah yang mengunci untuk dikritik pun, harus dikritik sebagai wujud dakwah dan kebaikan kepada nya. itu sebabnya dia menggunakan pilihan kata-kata yang terkadang lucu, tetapi tetap menyimpan nilai-nilai moralitas yang agung. Seharunya alam demokrasi bisa digunakan oleh Cak Nun untuk mengkritik dan menebarkan nilai-nilai Islam yang rahmat bagi semesta alam.

Tentu agak berbeda dengan Cak Nun. Penggunaan pilihan ‘Fir’aun, Patih Haman dan Qarun’ adalah keberanian yang diluar kewajaran. Sebab ketiga kata tersebut bukan sebatas pada persoalan menyangkut pada kebijakan politik, tapi persoalan keyakinan, keimanan dimana Fir’aun dengan lantang mengatakan ;”Akulah Tuhanmu yang Tertinggi” (Q.S. An-Nazi’at Ayat 24). Pada diri Fir’aun terkumpul kesyirikan, tidak beriman, sombong, dan otoriter serta tidak peduli terhadap kehidupan beragama.

Ini berbeda dengan Presiden Joko Widodo yang secara agama adalah seorang muslim yang menurut saya pribadi taat beribadah, telah masuk ke dalam Ka’bah sebuah tempat dimana seluruh umat Islam menghadap ke arahnya, termasuk Cak Nun. Tentu sangat tidak logis, jika Cak Nun menuduh Joko Widodo sebagai seorang Fir’aun dimana dia sendiri menghadap tempat dimana Presiden nya masuk ke dalam nya.

Saya tidak tahu motif Cak Nun mengatakan demikian; apakah sebatas sensasi, kehabisan materi ceramah atau dagelan, atau ada misi politik tertentu. Semua orang hanya mampu menafsiri dan menduga-duga. Allah dan Cak Nun yang tahu, bahkan jika Istri dan anak nya dikasih tahu pun belum tentu itu maksudnya. Namun, supaya lebih adil dan memberi pencerahan lebih luas, agar lebih trending lagi, mungkin Cak Nun bisa menganalogikan presiden-presiden sebelumnya dengan orang-orang yang dilaknat oleh Allah S.W.T; Raja Namrud, Abu Jahal, Abu Lahab dan sejenisnya. Apakah Cak Nun berani melakukan ini? Pertanyaan ini saya kira menjadi pintu masuk untuk menafsiri dari maqashid yang dia tuduhkan kepada Presiden Joko Widodo.

Saya tidak membenci Cak Nun dan tidak membenci presiden-presiden sebelumnya. Bahkan bisa dibilang saya pengagum penampilan dan tulisan-tulisannya di Media Massa. Saya mempunyai Buku kumpulan tulisanya. Tulisan-tulisanya bernas. Isinya membahas persoalan-persoalan; pembersihan batin, kepedulian sosial dan kritik terhadap pemerintah. Dulu tulisanya sangat mendekati model politik NU; mengkritisi bukan mencaci maki.

Dulu Emha Ainun Najib memang masih Cak Nun “ ن“ yang menjadi permulaan Surat Al-Qalam yang terusannya mempunyai arti ; “Demi Pena dan apa yang mereka tuliskan”. Ini filosofis dari Cak Nun yang senantiasa menulis dan memberikan inspirasi untuk melakukan perubahan. Mungkin sekarang sudah jarang menulis, jadi lebih banyak berbicara.

Apakah kata “Nun” sudah berubah menjadi “Non” yang dalam bahasa Inggris artinya ‘Bukan’. Bisa jadi, komentar Cak Nun memang bukan sejatinya, tapi sudah menjadi orang lain yang bukan atas nama dirinya. Jika demikian, maka dia telah kehilangan esensi moral dan kemandirian yang dia dengung-dengungkan. Dia sudah tidak lagi menjadi Cak Nun, tapi telah berubah menjadi Cak Non.

Haruskah bangsa ini akan terus bermuhasabah dengan ayat Nun’ yang selalu aktif mengkritik dengan senantiasa menjaga etika, atau demokrasi kebablasan dengan Non” yang mengkritik, ‘jeplak asal ngomong’ tanpa aturan moralitas? Kita mempunyai pilihan-pilihan sesuai selera kita.

Wallahu a’lam.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   95

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   216

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   206

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   220

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   239

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13569


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4567


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884