
Cerita Budayawan legendaris dan Kepala Negara dalam sejarah
politik Islam yang melekat di benak masyarakat muslim yaitu kisah Abu Nawas Dan
Khalifah Harun Al-Rasyid. Abu Nawas itu menyebalkan, tapi happy ending. Khalifah
sering marah, tapi akhir cerita nya dia pun tertawa terhibur dan melepaskan Abu
Nawas dari jeratan hukuman.
Tentu Abu Nawas seorang budayawan dan intelektual
kelas wahid. Dia mampu membuat seluruh ruangan tertawa bahagia, dan pada saat
yang sama dia pun mampu seluruh yang melihat dan mendengar ceritanya menangis
tersedu-sedu. Kesalahan Abu Nawas yang melanggar UU kekhalifahan waktu itu
adalah tidak boleh ‘buang air besar’ di depan Sang Raja. Abu Nawas telah
melakukan kesalahan. Dia ‘berak’ di Sungai mengalir yang kebetulan di belakang
nya, Sang Khalifah sedang buang air juga. Ketika tahu, Sang Khalifah pun akan
menghukum mati.
Abu Nawas pun sebelum dihukum mati meminta izin
menyampaikan argumentasi. Katanya:
“Ampun khalifah, saya memang melakukan
kesalahan yaitu buang air besar di depan Khalifah. Namun tindakan saya ini
sebenarnya bentuk kecintaan saya kepada mu. Itu sebabnya, kemana pun kotoran Tuan
pergi, saya harus mengawal nya.”
Se-mbeling-mbeling-nya Abu Nawas, tidak pernah
mengatakan kepada Khalifah Harun Al-Rasyid dengan makhluk yang dikutuk oleh Allah;
Fir’aun. Abu Nawas tahu bahwa dalam etika mengkritik seorang pemimpin adalah
suatu kewajiban, dan mengedepankan etika dan kecerdasan argumentasi adalah
suatu keharusan. Kritik tanpa etika, maka sudah kehilangan nilai sebagian dari
ajaran Islam itu sendiri yang selalu mengutamakan Akhlak Al-Karimah dalam
segala aspek kehidupan, termasuk dalam politik.
Abu Nawas bukan Emha Ainun Najib ( Cak Nun). Beda pemimpin
dan beda sistem Negara dan pemerintahan. Abu Nawas hidup pada sistem Khalifah
dan dia mempunyai otoritas untuk menghukum siapapun yang dianggap bersalah. Cak
Nun hidup pada masa Presiden Joko Widodo yang menggunakan sistem demokrasi dan
memberikan ‘siapapun’ untuk berbicara dan dalam wujud apapun. Abu Nawas hidup selalu
mengkritik untuk pembelajaran bersama bahwa khalifah yang mengunci untuk
dikritik pun, harus dikritik sebagai wujud dakwah dan kebaikan kepada nya. itu
sebabnya dia menggunakan pilihan kata-kata yang terkadang lucu, tetapi tetap
menyimpan nilai-nilai moralitas yang agung. Seharunya alam demokrasi bisa
digunakan oleh Cak Nun untuk mengkritik dan menebarkan nilai-nilai Islam yang
rahmat bagi semesta alam.
Tentu agak berbeda dengan Cak Nun. Penggunaan
pilihan ‘Fir’aun, Patih Haman dan Qarun’ adalah keberanian yang diluar
kewajaran. Sebab ketiga kata tersebut bukan sebatas pada persoalan menyangkut
pada kebijakan politik, tapi persoalan keyakinan, keimanan dimana Fir’aun
dengan lantang mengatakan ;”Akulah Tuhanmu yang Tertinggi” (Q.S. An-Nazi’at
Ayat 24). Pada diri Fir’aun terkumpul kesyirikan, tidak beriman, sombong, dan
otoriter serta tidak peduli terhadap kehidupan beragama.
Ini berbeda dengan Presiden Joko Widodo yang secara
agama adalah seorang muslim yang menurut saya pribadi taat beribadah, telah
masuk ke dalam Ka’bah sebuah tempat dimana seluruh umat Islam menghadap ke
arahnya, termasuk Cak Nun. Tentu sangat tidak logis, jika Cak Nun menuduh Joko
Widodo sebagai seorang Fir’aun dimana dia sendiri menghadap tempat dimana Presiden
nya masuk ke dalam nya.
Saya tidak tahu motif Cak Nun mengatakan demikian;
apakah sebatas sensasi, kehabisan materi ceramah atau dagelan, atau ada misi
politik tertentu. Semua orang hanya mampu menafsiri dan menduga-duga. Allah dan
Cak Nun yang tahu, bahkan jika Istri dan anak nya dikasih tahu pun belum tentu
itu maksudnya. Namun, supaya lebih adil dan memberi pencerahan lebih luas, agar
lebih trending lagi, mungkin Cak Nun bisa menganalogikan presiden-presiden
sebelumnya dengan orang-orang yang dilaknat oleh Allah S.W.T; Raja Namrud, Abu
Jahal, Abu Lahab dan sejenisnya. Apakah Cak Nun berani melakukan ini? Pertanyaan
ini saya kira menjadi pintu masuk untuk menafsiri dari maqashid yang dia
tuduhkan kepada Presiden Joko Widodo.
Saya tidak membenci Cak Nun dan tidak membenci
presiden-presiden sebelumnya. Bahkan bisa dibilang saya pengagum penampilan dan
tulisan-tulisannya di Media Massa. Saya mempunyai Buku kumpulan tulisanya. Tulisan-tulisanya
bernas. Isinya membahas persoalan-persoalan; pembersihan batin, kepedulian
sosial dan kritik terhadap pemerintah. Dulu tulisanya sangat mendekati model
politik NU; mengkritisi bukan mencaci maki.
Dulu Emha Ainun Najib memang masih Cak Nun “
ن“ yang menjadi permulaan Surat Al-Qalam yang
terusannya mempunyai arti ; “Demi Pena dan apa yang mereka tuliskan”. Ini filosofis
dari Cak Nun yang senantiasa menulis dan memberikan inspirasi untuk melakukan
perubahan. Mungkin sekarang sudah jarang menulis, jadi lebih banyak berbicara.
Apakah kata “Nun” sudah berubah menjadi “Non” yang
dalam bahasa Inggris artinya ‘Bukan’. Bisa jadi, komentar Cak Nun memang bukan
sejatinya, tapi sudah menjadi orang lain yang bukan atas nama dirinya. Jika demikian,
maka dia telah kehilangan esensi moral dan kemandirian yang dia
dengung-dengungkan. Dia sudah tidak lagi menjadi Cak Nun, tapi telah berubah
menjadi Cak Non.
Haruskah bangsa ini akan terus bermuhasabah dengan
ayat “Nun’ yang selalu aktif mengkritik dengan senantiasa menjaga etika,
atau demokrasi kebablasan dengan “Non” yang mengkritik, ‘jeplak asal ngomong’
tanpa aturan moralitas? Kita mempunyai pilihan-pilihan sesuai selera kita.
Wallahu a’lam.
Penulis : Imam Ghozali
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   95
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   216
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   206
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   220
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   239
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13569
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4567
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3582
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2989
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884