
وَاِذْ قُلْنَا ادْخُلُوْا هٰذِهِ الْقَرْيَةَ
فَكُلُوْا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَّادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا
وَّقُوْلُوْا حِطَّةٌ نَّغْفِرْ لَكُمْ خَطٰيٰكُمْۗ وَسَنَزِيْدُ الْمُحْسِنِيْنَ
٥
(Ingatlah)
ketika Kami berfirman, “Masuklah ke negeri ini (Baitulmaqdis). Lalu, makanlah
dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. Masukilah pintu
gerbangnya sambil membungkuk dan katakanlah, ‘Bebaskanlah kami (dari dosa-dosa
kami),’ niscaya Kami mengampuni kesalahan-kesalahanmu. Kami akan menambah
(karunia) kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Ada sebuah kisah
menarik dari Siprus BCal sebagai berikut:
Pada tahun 1892, di
Universitas Standford seorang mahasiswa berjuang untuk membayar uang kuliah.
Dia seorang yatim piatu, dan tidak tahu kemana harus mencari uang. dia punya
ide. Bersama seorang teman ia memutuskan untuk mengadakan konser musik di Kampus
untuk menggalang dana untuk biaya Pendidikan mereka.
Mereka mendatangi
pianis hebat Ignacy J. Paderewski. Manajernya menuntut biaya $2000 untuk
recital piano. Kesepakatan tercapai dan mereka mulai bekerja untuk membuat
konser sukses.
Hari besar tiba.
Tapi sayangnya, mereka tidak berhasil menjual tiket yang diharapkan. Total
terjual hanya $1600. Kecewa, mereka pergi ke Pederewski dan menjelaskan masalah
mereka. Mereka memberinya $1600 seluruhnya, ditambah cek senilai $400. Mereka
berjanji ceknya bisa diuangkan secepatnya.
“Tidak,” kata
Paderewski.”Saya tidak dapat menerimanya”. Dia merobek cek, mengembalikan $1600
dan memberi tahu kedua anak laki-laki itu:”Inilah $ 1600.” Silahkan dikurangi
biaya apa pun yang telah kalian keluarkan. Simpan uang yang dibutuhkan untuk
biaya kuliah.” Anak-anak itu terkejut, dan berterima kasih banyak kepadanya.
Itu adalah tindakan kecil kebaikan. Tapi itu jelas menandai Paderewski sebagai
orang hebat.
Mengapa dia harus
membantu dua orang yang bahkan tidak dia kenal?..Kita semua menemukan situasi
seperti ini dalam hidup. Dan kebanyak dari kita hanya berfikir” Jika saya
membantu mereka, apa yang akan terjadi padaku?”. Tapi orang-orang hebat
berfikir, “Jika saya tidak membantu mereka, apa yang akan terjadi pada
mereka?”. Mereka tidak melakukannya mengharapkan sesuatu sebagai imbalan.
Mereka melakukannya karena mereka merasa itu hal yang benar untuk dilakukan.
Pederewski kemudian
menjadi perdana Menteri Polandia dan ketika perang dunia pecah, Polandia jatuh.
Ada lebih dari 1,5 juta orang kelaparan di negaranya, dan tidak ada uang untuk
memberi penduduk makan. Paderewski tidak tahu kemana harus meminta bantuan. Dia
menghubungi kementiran terkait guna minta bantuan ke AS. Dia mdnengar ada
seorang pria Bernama Herbert Hoover yang kemudian menjadi presiden AS. Hoover
setuju untuk membantu dan dengan cepat mengirimkan bantuan makanan untuk
memberi makan orang-orang Polandia yang kelaparan. Sebuah bencana bisa
dihindari. Paderewski merasa lega.
Dia memutuskan
untuk pergi ke AS untuk bertemu Hoover dan berterima kasih secara pribadi
kepadanya. Ketika Paderewski mulai berterima kasih kepada Hoover atas
bantuannya tersebut, Hoover dengan cepat mengatakan, “Anda seharusnya tidak
berterima kasih kepada saya pak perdana Menteri. Anda mungkin tak ingat ini,
tetapi beberapa tahun yang lalu, anda membantu dua mahasiswa muda saat kuliah.
Aku salah satu dari mereka”.
Dalam hidup kita
sering menemukan suatu keindahan cerita dan pengalaman spiritual yang menjadi
bagian khasanah kehidupan. Kita sering tidak menyadari bahwa hidup adalah
sebuah siklus yang akan kembali ke pangkalnya. Ketika kita berbuat baik kepada
orang lain, maka kebaikan akan kembali kepada diri kita sendiri. Begitu juga
sebaliknya, Ketika kita berbuat tidak baik, suatu saat ia akan menghampirinya
dengan ketidakbaikan dalam wujud yang beragam.
Allah telah
berfirman, “Barangsiapa yang berbuat baik meskipun sekecil atom akan
mendapatkan balasan yang lebih baik. Barangsiapa yang berbuat tidak baik, maka
ia pun akan mendapatkan balasan dari ketidakbaikan tersebut”.
Nabi pun
mengatakan, “Barangsiapa berbuat baik, hakikatnya berbuat baik untuk dirinya
sendiri”.
Kadang kita pada
titik tertentu merasa “ndongkol” karena tidak dihargai hasil karyanya
atau malah merasa hanya sebatas dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu yang ada
kepentingan, lalu kita seolah-olah dicampakan begitu saja, sebenarnya itu
adalah bagian dari episode kehidupan yang akan terus berjalan dan akan kebaikan
akan kembali kepada pemiliknya.
Itu rumus Tuhan
yang menciptakan. Tuhan akan membalas kebaikan kita dengan cara-cara terbaik
yang mungkin kita tidak menyadari balasan tersebut. Namun setelah berjalannya
waktu, kita mulai menyadari bahwa balasan-balasan kebaikan yang telah kita
lakukan pada waktu tertentu yang telah diabaikan oleh orang banyak, kini Kembali
dalam bentuk kenikmatan-kenikmatan begitu besar; bisa anak-anak kita sukses,
keluarga sehat, pikiran tenang dan menginspirasi, keluarga sakinah mawaddah
warrohmah, tidak terjerat hukum dan nama kita harum di Tengah-tengah
Masyarakat. Nama baik di tengah masyarakat adalah harta yang terindah.
Ada sebuah hadist
yang diceritakan oleh Abdullah ibn Umar, Kanjeng Nabi bersabda: “Dulu ada
tiga pemuda terjebak dalam gua. Mereka telah berusaha sekuat tenaga untuk
membuka batu yang menutup pintu gua. Namun dicoba beberapa kali tidak berhasil
dibuka. Salah satu di antara mereka memberi saran: “Mungkin kita pernah berbuat
baik pada masa lalu, mari kita memohon kepada Allah dengan tawasul kebaikan
yang telah kita lakukan, semoga kita bisa keluar dari gua. Ketiga nya pun berdoa,
berkah kebaikan yang pernah mereka lalukan, maka batu yang menutup pintu gua
pun bisa digeser, dan pintu terbuka”.
Sungguh tidak akan
rugi orang-orang yang telah menanam kebaikan. Meskipun manusia tidak menyebut
kebaikan tersebut, tapi penduduk langit telah mencatat sebagai bagian
perjalanan Sejarah keindahan hidup kita.
Seandainya ada
orang mentertawakan, mengejek atau menghina, bahkan sengaja ingin menjatuhkan,
kita harus melihat dari sisi positif bahwa semua itu sebenarnya pupuk kehidupan
yang akan menyuburkan pohon kehidupan semakin tumbuh tinggi dengan ranting yang
banyak dan daun-daun yang lebat. Saat sudah tinggi, maka orang-orang ramai
berdatangan ingin berteduh di bawah nya dan mereka bisa memetik buahnya yang
manis.
Teruskan bekarya dan menebar kebaikan mumpung Tuhan masih memberi fasilitas tanpa batas kepada kita. Berbahagialah, bahwa karya mu adalah untuk-Nya dan digunakan manfaat untuk peradaban manusia.
Bengkalis,28 Juni 2028
Penulis : Imam Ghozali
Saifunnajar
Saya sudah baca, sungguh menggugah
???? Notification- You got a transfer NoIK59. GET
vwbjvi
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876