Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

847 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian



Selasa , 10 Februari 2026



Telah dibaca :  67

Perdebatan Nabi Muhammad dan Kaum Yahudi berkisar persoalan-persoalan agama. Kedua-duanya sama-sama menyampaikan argumentasi. Hujah kaum yahudi selalu kalah. Tapi tidak merasa kalah. Kalah dan salah tapi “ngeyel” merasa benar dan menang. Bahkan Ketika Nabi Muhammad menggunakan data-data kebenaran Kitab Taurat, mereka tidak menerima kebenaran tersebut. Mereka yakin dan bersumpah apa yang mereka lakukan benar dan akan mendapatkan tempat yang mulia di sisi Tuhan, yaitu surga. Realitanya, Ketika Nabi Muhammad menantang kebenaran tersebut mereka tidak berani dengan memberi berbagai alasan. Ini yang dijelaskan oleh Allah pada ayat 94 sebagai berikut:

قُلْ اِنْ كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْاٰخِرَةُ عِنْدَ اللّٰهِ خَالِصَةً مِّنْ دُوْنِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ۝٩٤

Artinya:

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika negeri akhirat di sisi Allah khusus untukmu, bukan untuk orang lain, mintalah kematian jika kamu orang-orang benar.”

Ayat tersebut mengingatkan pada peperangan-peperangan terjadi pada masa nabi Muhammad saw dengan orang kafir. Kaum yahudi selalu mencari posisi aman. Mereka bermain dua kaki. Ketika terlihat posisi nabi dalam keadaan lemah dan diperkirakan kalah dalam peperangan, mereka akan menampakan wajah aslinya yaitu menyerang dan berkomplotan dengan musuh Islam.

Pada Tafsir Al-Baghawi menjelaskan tentang sifat dari kaum yahudi, yaitu kesukaan meminta genjatan senjata saat mereka terdesak dalam peperangan. Nabi memahaminya bahwa mereka mempunyai tipu muslihat sangat luarbiasa. Perang adalah politik. Politik adalah tipuan-tipuan yang tidak mengenal kebenaran. Sebab orientasi akhir dari politik Adalah kemenangan bukan kebenaran. Itu sebabnya, Allah telah memperingatkan kepada Nabi Muhammad tentang tipu daya mereka yang terlihat indah dan rasional paparan alasannya tapi sebenarnya mempunyai tujuan untuk kepentingan mereka dan berusaha sekuat tenaga agar Nabi Muhammad dan umat Islam mengikuti keinginan mereka.

Saat ini penulis seolah-olah merasakan tontonan permainan politik internasional. Dunia ini tidak kurang alat kelengkapan untuk menciptakan perdamaian. Ada LBB, PBB dan lain-lain. Lembaga-lembaga internasionanl dibuat oleh bangsa-bangsa di dunia tujuannya menciptakan perdamaian. Ironis memang, semakin banyak lembaga perdamaian justru semakin hari selalu saja terjadi peperangan, pembantaian dan kejahatan kemanusiaan.

Penulis  saat sekarang ini seolah-olah melihat betapa rumitnya politik AS dan Israel-secara kuantitas masyarakat terbanyak kaum yahudi di dunia -untuk melakukan tipu daya politik. Sikap politik mereka persis seperti pada masa nabi, Ketika terdesak mereka melakukan negosiasi. Tapi saat merasa kuat, mereka tidak segan-segan melakukan peperangan. Ini yang terjadi pada masa lalu saat as menghancurkan irak dan Libya. Dua negara Islam yang masyarakatnya sangat makmur berubah menderita dan terlantar hingga saat sekarang ini. Pola nya sama yaitu mencari titik kelemahan kedua negara tersebut. Salah satunya yaitu dengan menggunakan pendekatan intelejen internasional -seperti Mossad dan CIA-untuk mengacak-ngacak dalam negeri.

Kini AS dan Israel menekan Iran dari segala penjur mata angin. Kerusuhan dari dalam negeri telah dilakukan. Tapi gagal. Kini kedua negara tersebut terus melakukan berbagai strategi politik untuk menghancurkan negara para mullah tersebut. Kelihatannya, negara Iran sudah paham pola politik negara tersebut. Selain karena SDM dan teknologi tempur Iran sudah cukup mapan untuk mengimbangi senjata kedua senjata tersebut. Sang pemimpin tertinggi Iran telah menutup pintu kerjasama yang merugikannya. Lebih mati dalam peperangan daripada negara diserahkan kepada AS dan Israel.

Ini merupakan prinsip spiritual yang sangat kuat atas keyakinan kebenaran yang diperjuangkan oleh Pemerintah Iran. Bagi mereka mati balasannya surga. Kelebihan ini yang menyebabkan bangsa Iran tangguh. Kelebihan ini pula yang tidak dipunyai oleh pasukan AS dan Israel. Meskipun keduanya kuat secara teknologi, tapi mereka kelompok manusia yang sangat takut terhadap kematian. Itu sebabnya kedua pemerintah tersebut selalu mencari jalan untuk menghancurkan negara iran dengan meminjam kekuatan negara lain. Istilah orang tua dulu-nabok nyilih tangan”.

Meskipun demikian, penulis melihat ada sisi positif yang bisa diambil dari negara-negara tersebut baik AS, Israel maupun Iran. Kita bisa belajar dari AS dan Israel yang sangat serius menggarap peradaban dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sangat baik. Kita juga belajar dari Iran tentang pentingnya kekuatan tauhid sebagai sandaran hidup. Jika dua kekuatan ini ada pada umat Islam, saya kira peradaban Islam akan kembali bangkit seperti pada masa dulu.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   43

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   96

Kisah Kaum Yahudi Meninggalkan Kalimat Tauhid
06 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   186

Keimanan Yang Tersandera
03 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   227

Iri Dengki Kaum Yahudi
31 Januari 2026   Oleh : Imam Ghozali   192

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046


Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355