
Setelah Allah memberikan data-data tipuan
dari Ahlu Kitab -Yahudi dan Nashara- tentang kesenangan duniawi, maka Allah
mencoba memberi pemahaman kepada umat Islam bahwa Allah akan memberi keputusan -
“فَاللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ “- bahwa argument-argument mereka akan rontok saat
berjumpa dengan-Nya di Hari Kiamat.
Tipuan-tipuan janji-janji kesenangan dunia
menyebabkan sebagian umat Islam lebih suka berharap mendapatkan daripada
berharap untuk memberi. Semangat yang tumbuh pada dirinya bukan lagi “anfa’ahum
li nash”-memberi manfaat kepada orang lain- tapi lebih senang mendapatkan
sesuatu dari orang lain. suntikan-suntikan perhiasan dunia yang demikian
menyebabkan sebagian umat Islam lemah untuk berkarya, bekerja dan membangun
prestasi atas dasar nilai-nilai ketuhanan.
Allah SWT memperkuatkan tentang eksistensi
dunia seisinya adalah milik Allah SWT, bukan milik manusia. Jika manusia
mengklaim bahwa apa yang ada pada dirnya adalah miliknya, itu adalah tipuan
yang sering tidak kita sadari. Padahal semua yang kita dapatkan bersifat fana
dan akan ditinggalkan oleh pemiliknya. Hanya Allah yang menguasai seluruh alam
seisinya saat semua makhluk meninggal dunia.
Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an
Q.S. Al-Baqarah ayat 115 sebagai berikut:
وَلِلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ
فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
١١٥
Artinya:
Hanya milik Allah timur dan barat. Ke mana pun kamu menghadap, di
sanalah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.
Kita sering berharap dan berhayal ingin
sukses dengan bergelimang harta dan kekuasaan. Nafsu kita berkata bahwa dengan cara
tersebut, hidup kita akan bahagia. Sebab ukuran kebahagiaan yang dihembuskan
oleh nafsu kita sebatas pada kesenangan dunia -yang sebenarnya semua akan
ditinggalkan.
Allah dengan sangat perhatian mengajarkan
kepada kita bahwa apa yang kita punya semata-mata milik Allah. Itu sebabnya, kita
diajarkan oleh-Nya untuk mengikhlaskan diri sebagian titipan yang ada pada diri
kita untuk diberikan kepada orang lain sebagai wujud rasa syukur dan kepasrahan
kita kepada-Nya. Salah satunya melalui ibadah kurban.
Sangat sulit bagi sebagian orang untuk
mengeluarkan sebagian rezeki. Ada rasa serba kekurangan. Ada rasa pada
nafsu bahwa kita belum mampu
melaksanakan ibadah kurban. Perasaan ini yang menyebabkan kita lebih senang
mendapatkan daging kurban daripada memberikan melalui ikut serta berkurban.
Ketika kita biasanya mendapatkan daging kurban,lalu tahun ini tidak
mendapatkan, ada perasaan sedih.
Kita sebenarnya punya sifat pengorbanan setipis tisu seperti tipis
nya keikhlasan kita menerima realita kehidupan.
Perlu ada
latihan tentang makna hakikat kurban agar kita punya tradisi bahwa "tangan
diatas lebih mulia daripada tangan dibawah”. Tidak mudah, tapi latihan ini
sangat penting untuk membiasakan cara berfikir kita bahwa berkurban atau
membantu orang lain yang lebih membutuhkan merupakan kenikmatan yang sangat
indah.
Kesadaran ini
jalan untuk mengikis jiwa dan mental kita sebagai jiwa yang selalu berbuat baik
setiap hari. Sehingga kita tidak berfikir lagi -terlalu dominan- selalu
ketergantungan pada bantuan orang lain, tetapi kita semakin progresif untuk
terus memperbaiki diri agar bisa memberi manfaat kepada orang lain.
Alloh telah
menghadirkan para Nabi dan Rasul yang hidupnya seperti matahari. Tidak ada
secuil waktu yang tidak bermanfaat. Akal pikirannya selalu berfikir konstruktif
menyelesaikan pelbagai persoalan. Tenaganya untuk ibadah,berjuang dan
berdakwah. Hartanya senantiasa menetes kepada orang orang yang sangat
membutuhkan.
Kontruksi
berfikir dan berkarya demikian merupakan bagian dari esensi mutaqin,yaitu
kemampuan memberikan seluruh hidupnya mengabdi kepada-Nya.
Menempatkan diri
sebagai orang mutaqin seperti itu masih terasa sulit. Perlu terus latihan. Dan orang-orang
yang terus latihan pola hidup seperti tersebut di atas lah yang akan
mendapatkan kemenangan. Sebab, orang jenis ini terlalu melimpah energi positif
untuk terus berkarya, yang kemudian hari nama nya akan selalu dikenang sebagai orang-orang
yang membawa perubahan peradaban di tengah-tengah masyarakat. Itulah makna idul
adha sebagai jalan menuju kesuksesan ruhaniah.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   82
Kesuksesan di Antara Ujian, Keterbatasan dan Konsisten Terus Berkarya
30 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   140
Materialisme Atas Nama Tuhan
28 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   129
Perseteruan Ahli Dzikir dan Kelompok Penghancur Masjid
25 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   265
Perang Mulut para Penganut Ahli Kitab, Kenapa kita ikut-ikutan?
24 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   210
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4866
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3857
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3513
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3255