Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

352 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Dari Kurban Jasmaniah Menuju Kejayaan Ruhaniah



Rabu , 27 Mei 2026



Telah dibaca :  219

Setelah Allah memberikan data-data tipuan dari Ahlu Kitab -Yahudi dan Nashara- tentang kesenangan duniawi, maka Allah mencoba memberi pemahaman kepada umat Islam bahwa Allah akan memberi keputusan - “فَاللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ “- bahwa argument-argument mereka akan rontok saat berjumpa dengan-Nya di Hari Kiamat.

Tipuan-tipuan janji-janji kesenangan dunia menyebabkan sebagian umat Islam lebih suka berharap mendapatkan daripada berharap untuk memberi. Semangat yang tumbuh pada dirinya bukan lagi “anfa’ahum li nash”-memberi manfaat kepada orang lain- tapi lebih senang mendapatkan sesuatu dari orang lain. suntikan-suntikan perhiasan dunia yang demikian menyebabkan sebagian umat Islam lemah untuk berkarya, bekerja dan membangun prestasi atas dasar nilai-nilai ketuhanan.

Allah SWT memperkuatkan tentang eksistensi dunia seisinya adalah milik Allah SWT, bukan milik manusia. Jika manusia mengklaim bahwa apa yang ada pada dirnya adalah miliknya, itu adalah tipuan yang sering tidak kita sadari. Padahal semua yang kita dapatkan bersifat fana dan akan ditinggalkan oleh pemiliknya. Hanya Allah yang menguasai seluruh alam seisinya saat semua makhluk meninggal dunia.

Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an Q.S. Al-Baqarah ayat 115 sebagai berikut:

وَلِلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ۝١١٥

Artinya:

Hanya milik Allah timur dan barat. Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.

Kita sering berharap dan berhayal ingin sukses dengan bergelimang harta dan kekuasaan. Nafsu kita berkata bahwa dengan cara tersebut, hidup kita akan bahagia. Sebab ukuran kebahagiaan yang dihembuskan oleh nafsu kita sebatas pada kesenangan dunia -yang sebenarnya semua akan ditinggalkan.

Allah dengan sangat perhatian mengajarkan kepada kita bahwa apa yang kita punya semata-mata milik Allah. Itu sebabnya, kita diajarkan oleh-Nya untuk mengikhlaskan diri sebagian titipan yang ada pada diri kita untuk diberikan kepada orang lain sebagai wujud rasa syukur dan kepasrahan kita kepada-Nya. Salah satunya melalui ibadah kurban.

Sangat sulit bagi sebagian orang untuk mengeluarkan sebagian rezeki. Ada rasa serba kekurangan. Ada rasa pada nafsu  bahwa kita belum mampu melaksanakan ibadah kurban. Perasaan ini yang menyebabkan kita lebih senang mendapatkan daging kurban daripada memberikan melalui ikut serta berkurban. Ketika kita biasanya mendapatkan daging kurban,lalu tahun ini tidak mendapatkan, ada perasaan sedih.

Kita sebenarnya punya sifat pengorbanan setipis tisu seperti tipis nya keikhlasan kita menerima realita kehidupan.

Perlu ada latihan tentang makna hakikat kurban agar kita punya tradisi bahwa "tangan diatas lebih mulia daripada tangan dibawah”. Tidak mudah, tapi latihan ini sangat penting untuk membiasakan cara berfikir kita bahwa berkurban atau membantu orang lain yang lebih membutuhkan merupakan kenikmatan yang sangat indah.

Kesadaran ini jalan untuk mengikis jiwa dan mental kita sebagai jiwa yang selalu berbuat baik setiap hari. Sehingga kita tidak berfikir lagi -terlalu dominan- selalu ketergantungan pada bantuan orang lain, tetapi kita semakin progresif untuk terus memperbaiki diri agar bisa memberi manfaat kepada orang lain.

Alloh telah menghadirkan para Nabi dan Rasul yang hidupnya seperti matahari. Tidak ada secuil waktu yang tidak bermanfaat. Akal pikirannya selalu berfikir konstruktif menyelesaikan pelbagai persoalan. Tenaganya untuk ibadah,berjuang dan berdakwah. Hartanya senantiasa menetes kepada orang orang yang sangat membutuhkan.

Kontruksi berfikir dan berkarya demikian merupakan bagian dari esensi mutaqin,yaitu kemampuan memberikan seluruh hidupnya mengabdi kepada-Nya.

Menempatkan diri sebagai orang mutaqin seperti itu masih terasa sulit. Perlu terus latihan. Dan orang-orang yang terus latihan pola hidup seperti tersebut di atas lah yang akan mendapatkan kemenangan. Sebab, orang jenis ini terlalu melimpah energi positif untuk terus berkarya, yang kemudian hari nama nya akan selalu dikenang sebagai orang-orang yang membawa perubahan peradaban di tengah-tengah masyarakat. Itulah makna idul adha sebagai jalan menuju kesuksesan ruhaniah.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   82

Materialisme Atas Nama Tuhan
28 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   129

Perseteruan Ahli Dzikir dan Kelompok Penghancur Masjid
25 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   265

Perang Mulut para Penganut Ahli Kitab, Kenapa kita ikut-ikutan?
24 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   210

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4866


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3255