
Propaganda bahwa dunia ini penuh kenikmatan
tanpa batas -seolah olah hidup selamanya- oleh kaum ahlu kitab selalu saja
disuntikan kepada kaum Muslimin. Propaganda bahwa sistem kehidupan lebih sempurna
terus dihembuskan. Bahkan demi mencapai tujuan tersebut, mereka -kaum Yahudi
dan Nasrani- melakukan kapitalisasi unsur ketuhanan sebagai bagian pentingnya
paham materalisme yang didewa-dewakan.
Allah SWT telah memberitahukan dalam Q.S.
Al-Baqarah ayat 115 sebagai berikut:
وَقَالُوا اتَّخَذَ اللّٰهُ وَلَدًاۙ سُبْحٰنَهٗۗ بَلْ لَّهٗ مَا فِى
السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ كُلٌّ لَّهٗ قٰنِتُوْنَ ١
Artinya:
Mereka berkata, “Allah mengangkat anak.”
Mahasuci Allah, bahkan milik-Nyalah apa yang di langit dan di bumi. Semua
tunduk kepada-Nya.
Ayat tersebut turun karena ada kasus Kaum
Yahudi menjadikan Uzair sebagai anak Tuhan, sedangkan Nasrani menjadikan Isa
sebagai anak Tuhan. Pandangan tersebut sangat jelas bahwa apa yang mereka
lakukan sebagai bentuk pelecehan terhadap prinsip tauhid bahwa Tuhan adalah Maha
Esa, tidak beranak dan tidak diperanakan.
Prinsip ketuhanan yang kekal akhirnya berlaku kepada anak-anak Tuhan. Kaum Yahudi dan Nasrani merasa bahwa mereka bagian dari keturunan Tuhan telah mengklaim dirinya bahwa pada dirinya mengalir darah Tuhan. Loginya tentu sangat ironis keturunan melakukan kesalahan jika seluruh kehidupan ini ciptaan Tuhan. Semua ciptaan Tuhan adalah untuk anak-anak-Nya. Itu sebabnya, kasih sayang Tuhan terhadap keturunan-Nya sungguh sangat besar.
Pola pikir tersebut menyebabkan kaum Yahudi
dan Nasrani bebas melakukan apa saja ketika pada dirinya ada hak privilege
tidak dipunyai oleh umat Islam. Bahkan menindas umat manusia merasa tanpa ada
rasa dosa sedikitpun tidak lain lahir dari prinsip-prinsip materialisme pada
sisi ketuhanan. Mereka menindas, membantai dan membunuh etnis masyarakat Palestina
dan lain-lain adalah bagian dari privilege yang merasa diberi kewenangan
mutlak sebagai anak Tuhan.
Ajaran Islam jelas membedakan batas pemisah
antara Tuhan sebagai Khaliq dan manusia sebagai makhluk. Tuhan yang disembah adalah
Allah, dan manusia sebagai hamba-Nya yang tunduk kepada seluruh perintah-perintah-Nya.
Garis pemisah tersebut yang membuat umat Islam terus menyembah dan tunduk
kepada-nya dengan segala konsekuensinya. Itu sebabnya, umat Islam tidak
mempunyai kebebasan melakukan aktivitas. Selalu ada pertimbangan moral dan
agama. mana yang boleh dan mana yang dilarang. Yang boleh dikerjakan, yang larang
ditinggalkan. Yang boleh mendapatkan surga, yang dilarang mendapatkan neraka. Ketika
umat Islam melakukan perbuatan yang melanggar syariat, resiko nya ia akan
mendapatkan siksa.
Dari sini jelas, bahwa ada Islam sangat
tidak menerima materialisme. Ketika seseorang melakukan segala kegiatan
dalam upaya memperbaiki kualitas diri lepas dari niat mencari ridha Allah-beribadah
kepada-Nya- maka sudah mulai ada unsur-unsur kebendaan yang mulai muncul dan kualitas
keikhlasan mulai kurang.
Ini berbeda dengan kaum Yahudi dan Nasrani.
Mereka telah menghilangkan esensi kesakralan Tuhan. Ketika Uzair dan Nabi Isa dijadikan
sebagai anak Tuhan, maka mereka telah menempatkan Tuhan sebagai bagian unsur
keduniaan. Ada unsur-unsur pada diri Tuhan yang bisa dijangkau oleh manusia. Sebab
pada diri kaum Yahudi dan Nasrani ada darah mengalir dari Tuhan. Ia menjadi
penggerak untuk melakukan segala aktivitas. Resikonya, jika manusia melakukan
kesalahan, maka batas aturan Tuhan dan manusia menjadi sangat absurd. Tuhan
benar-benar menjadi bagian dari unsur-unsur material yang kemudian menjadi
pendorong mereka untuk melakukan segala aktivitas untuk mencapai tujuan-tujuan
kejayaan di dunia. Mereka bisa melakukan apa saja tanpa ada hambatan-hambatan
bayang-bayang ancaman Tuhan.
Jelas pandangan tersebut sangat bertolak
belakang dengan pandangan Islam yang tetap mempertahankan kesucian Tuhan.
Hanya saja, karena konsistensi menjaga
kesucian Tuhan, sering sebagian umat Islam mempersempit makna tersebut sebagai
jalan menghasingkan diri dan tidak mau berkarya sebagai jalan mengagungkan syi’ar
Islam.
Padahal, jika benar-benar berpegang teguh
pada prinsip tauhid, umat Islam bisa menjadi umat yang unggul. Sebab pada
dirinya ada energi ilahiyah yang menjadi penggerak utama sebagai jalan untuk
mengabdi kepada-Nya. Buah nya, yaitu umat Islam menjadi hamba Allah sebuah
status tertinggi yang diperoleh oleh manusia. Maknanya, manusia tetap manusia yang
berhasil mempersembahkan seluruh energi kehidupann, aktivitas dan ibadah secara
totalitas hanya untuk Allah SWT.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   81
Kesuksesan di Antara Ujian, Keterbatasan dan Konsisten Terus Berkarya
30 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   139
Dari Kurban Jasmaniah Menuju Kejayaan Ruhaniah
27 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   219
Perseteruan Ahli Dzikir dan Kelompok Penghancur Masjid
25 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   264
Perang Mulut para Penganut Ahli Kitab, Kenapa kita ikut-ikutan?
24 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   210
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4866
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3857
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3513
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3255