Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

369 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Materialisme Atas Nama Tuhan



Kamis , 28 Mei 2026



Telah dibaca :  185

Propaganda bahwa dunia ini penuh kenikmatan tanpa batas -seolah olah hidup selamanya- oleh kaum ahlu kitab selalu saja disuntikan kepada kaum Muslimin. Propaganda bahwa sistem kehidupan lebih sempurna terus dihembuskan. Bahkan demi mencapai tujuan tersebut, mereka -kaum Yahudi dan Nasrani- melakukan kapitalisasi unsur ketuhanan sebagai bagian pentingnya paham materalisme yang didewa-dewakan.

Allah SWT telah memberitahukan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 115 sebagai berikut:

وَقَالُوا اتَّخَذَ اللّٰهُ وَلَدًاۙ سُبْحٰنَهٗۗ بَلْ لَّهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ كُلٌّ لَّهٗ قٰنِتُوْنَ ۝١

Artinya:

Mereka berkata, “Allah mengangkat anak.” Mahasuci Allah, bahkan milik-Nyalah apa yang di langit dan di bumi. Semua tunduk kepada-Nya.

Ayat tersebut turun karena ada kasus Kaum Yahudi menjadikan Uzair sebagai anak Tuhan, sedangkan Nasrani menjadikan Isa sebagai anak Tuhan. Pandangan tersebut sangat jelas bahwa apa yang mereka lakukan sebagai bentuk pelecehan terhadap prinsip tauhid bahwa Tuhan adalah Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakan.

Prinsip ketuhanan yang kekal akhirnya berlaku kepada anak-anak Tuhan. Kaum Yahudi dan Nasrani merasa bahwa mereka bagian dari keturunan Tuhan telah mengklaim dirinya bahwa pada dirinya mengalir darah Tuhan. Loginya tentu sangat ironis keturunan melakukan kesalahan jika seluruh kehidupan ini ciptaan Tuhan. Semua ciptaan Tuhan adalah untuk anak-anak-Nya. Itu sebabnya, kasih sayang Tuhan terhadap keturunan-Nya sungguh sangat besar.

Pola pikir tersebut menyebabkan kaum Yahudi dan Nasrani bebas melakukan apa saja ketika pada dirinya ada hak privilege tidak dipunyai oleh umat Islam. Bahkan menindas umat manusia merasa tanpa ada rasa dosa sedikitpun tidak lain lahir dari prinsip-prinsip materialisme pada sisi ketuhanan. Mereka menindas, membantai dan membunuh etnis masyarakat Palestina dan lain-lain adalah bagian dari privilege yang merasa diberi kewenangan mutlak sebagai anak Tuhan.

Ajaran Islam jelas membedakan batas pemisah antara Tuhan sebagai Khaliq dan manusia sebagai makhluk. Tuhan yang disembah adalah Allah, dan manusia sebagai hamba-Nya yang tunduk kepada seluruh perintah-perintah-Nya. Garis pemisah tersebut yang membuat umat Islam terus menyembah dan tunduk kepada-nya dengan segala konsekuensinya. Itu sebabnya, umat Islam tidak mempunyai kebebasan melakukan aktivitas. Selalu ada pertimbangan moral dan agama. mana yang boleh dan mana yang dilarang.  Yang boleh dikerjakan, yang larang ditinggalkan. Yang boleh mendapatkan surga, yang dilarang mendapatkan neraka. Ketika umat Islam melakukan perbuatan yang melanggar syariat, resiko nya ia akan mendapatkan siksa.

Dari sini jelas, bahwa ada Islam sangat tidak menerima materialisme. Ketika seseorang melakukan segala kegiatan dalam upaya memperbaiki kualitas diri lepas dari niat mencari ridha Allah-beribadah kepada-Nya- maka sudah mulai ada unsur-unsur kebendaan yang mulai muncul dan kualitas keikhlasan mulai kurang.

Ini berbeda dengan kaum Yahudi dan Nasrani. Mereka telah menghilangkan esensi kesakralan Tuhan. Ketika Uzair dan Nabi Isa dijadikan sebagai anak Tuhan, maka mereka telah menempatkan Tuhan sebagai bagian unsur keduniaan. Ada unsur-unsur pada diri Tuhan yang bisa dijangkau oleh manusia. Sebab pada diri kaum Yahudi dan Nasrani ada darah mengalir dari Tuhan. Ia menjadi penggerak untuk melakukan segala aktivitas. Resikonya, jika manusia melakukan kesalahan, maka batas aturan Tuhan dan manusia menjadi sangat absurd. Tuhan benar-benar menjadi bagian dari unsur-unsur material yang kemudian menjadi pendorong mereka untuk melakukan segala aktivitas untuk mencapai tujuan-tujuan kejayaan di dunia. Mereka bisa melakukan apa saja tanpa ada hambatan-hambatan bayang-bayang ancaman Tuhan.

Jelas pandangan tersebut sangat bertolak belakang dengan pandangan Islam yang tetap mempertahankan kesucian Tuhan.

Hanya saja, karena konsistensi menjaga kesucian Tuhan, sering sebagian umat Islam mempersempit makna tersebut sebagai jalan menghasingkan diri dan tidak mau berkarya sebagai jalan mengagungkan syi’ar Islam.

Padahal, jika benar-benar berpegang teguh pada prinsip tauhid, umat Islam bisa menjadi umat yang unggul. Sebab pada dirinya ada energi ilahiyah yang menjadi penggerak utama sebagai jalan untuk mengabdi kepada-Nya. Buah nya, yaitu umat Islam menjadi hamba Allah sebuah status tertinggi yang diperoleh oleh manusia. Maknanya, manusia tetap manusia yang berhasil mempersembahkan seluruh energi kehidupann, aktivitas dan ibadah secara totalitas hanya untuk Allah SWT.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Musafir Di Persimpangan Jalan
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   66

Cinta ku jatuh di Depan Multazam
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   78

Ketika Musim Semi Tiba
06 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   173

Ketika Cinta Bertasbih
04 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   226

Islam dan Muslim
03 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   291

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14032


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5074


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      4907


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3725