
Kesibukan saling menyalahkan dan membuka
aib di sebagian kalangan Ahlu Kitab pada masa nabi adalah wujud egoisme diri
yang merasa golongan mereka yang paling benar. Padahal mereka sama-sama mengerti
bahwa agama para Nabi dan rasul adalah agama yang mempunyai satu rumpun yaitu
sama-sama berasal dari ajaran tauhid Nabi Ibrahim AS yang sering disebut
sebagai millata Ibrahima hanifa.
Pertengkaran di antara mereka bukan sebatas
pertengkaran sederhana. Namun pertengkaran yang berujung pada pengrusakan dan
perkelahian atau peperangan. Ketika mereka disinggung tentang ketidakbenaran
ajarannya, mereka pun marah dan berani mengorbankan jiwa nya. hal yang sama
juga dilakukan oleh orang-orang musyrikin di Mekah. Ketika sesembahan mereka
merasa dianggap tidak benar, maka mereka pun melawannya.
Perlawanan mereka bukan karena umat Islam
melakukan kekerasan fisik. Mereka melakukan perlawanan karena mengalami
kekalahan logika berkaitan tentang dasar-dasar ketuhanan. Ketika ajaran Islam
semakin mendapatkan pengikut dan semakin luas kekuasaannya, Mereka mulai
khawatir akan eksistensinya -bukan persoalan keyakinan atau agama mereka saja,
tetapi berkaitan dengan kehidupan yang lebih luas dalam bidang ekonomi dan
kekuasaan. Hal ini yang sebenarnya membuat mereka marah dan berusaha merobohkan
Masjid.
Allah SWT telah berfirman dalam Q.S.
Al-Baqarah ayat 114 sebagai berikut:
وَمَنْ
اَظْلَمُ مِمَّنْ مَّنَعَ مَسٰجِدَ اللّٰهِ اَنْ يُّذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهٗ
وَسَعٰى فِيْ خَرَابِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ مَا كَانَ لَهُمْ اَنْ يَّدْخُلُوْهَآ
اِلَّا خَاۤىِٕفِيْنَ ەۗ لَهُمْ فِى الدُّنْيَا خِزْيٌ وَّلَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ
عَذَابٌ عَظِيْمٌ ١١٤
Artinya:
Siapakah yang
lebih zalim daripada orang yang melarang masjid-masjid Allah digunakan sebagai
tempat berzikir di dalamnya dan berusaha merobohkannya? Mereka itu tidak pantas
memasukinya, kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka mendapat kehinaan
di dunia dan mendapat azab yang berat di akhirat.
Ayat ini
berbicara tentang kasus kaum musyrikin mekah melarang Nabi Muhammad masuk ke
dalam masjid al-haram. Allah telah memfokuskan obyek persoalan, bahwa tempat
ibadah seperti masjid adalah tempat untuk mendekatkan diri kepada-nya, tidak
ada maksud lainnya.
Kaum musryikin
tidak hanya melihat pada sisi ritual, tapi ada motif-motif ekonomi, kehormatan
dan kemuliaan. Saat mereka menjadi penguasa di mekah dan mereka sebagai tokoh
agama, aliran ekonomi merembes pada pundi-pundi kekayaan mereka sehingga
menjadi kelompok elit yang sangat dihormati masyarakat Arab jahiliyah.
Ketika berhala-berhala
hancur dan pengaruh para tokoh agama mereka mulai berkurang, salah satu yang
dilakukan yaitu ingin mengembalikan kekuasaan mereka pada masa-masa sebelum
datang agama Islam.
Maka ayat
tersebut memperkuat tentang orientasi masjid yang diinginkan oleh Allah yaitu
sebagai jalan mempertemukan Allah dengan hamba-hamba-Nya. Masjid benar-benar
murni untuk mengabdi kepada-Nya, bukan mengabdi selain-Nya. Sebab dengan jalan
tersebut, provokasi yang dilakukan bisa hadapi dengan keteguhan iman.
Jika persoalan
tersebut dibawa pada isu-isu saat sekarang ini pada persoalan yang sudah mafhum,
yaitu Masjid Al-Aqsha. Kenapa Tentara Israel sangat kejam sekali kepada umat Islam.
Salah satu unsur yaitu persoalan ekonomi. Jika Masjid Aqsha dalam kekuasaannya,
maka ia bisa menjadi sumber pendapatan dengan memberlakukan masjid tersebut
sebagai wisata religius untuk seluruh umat Islam di seluruh penjuru dunia. Itu sebabnya,
menguasai Masjid Al-Aqsha berarti menguasai Palestina, menguasai Palestina
berarti menguasi sebagain ritual agama Islam. Sebab umat Islam tidak mungkin
melupakan masjid aqsha dari hati nya.
Jika persoalan
tersebut di bawa lebih luas lagi pada konflik iran vs as dan israel, maka akan
menemukan benang merah yang sangat menggelitik yang mungkin tidak pernah
terpikirkan oleh kita, yaitu: iran menginginkan mekah-masjid haram- dan Madinah-masjid
Nabawi- di Kelola oleh umat Islam dunia.
Terlihat lucu,
tapi nyata. Kedekatan Arab Saudi dengan AS dalam berbagai bidang baik ekonomi, pendidikan
dan pertahanan telah membuat Arab dalam dekapan Paman Sam. Jutaan manusia
menyetor uang di sana. Beribadah dan berdzikir kepada Allah SWT.
Bagi umat Islam
tidak ada persoalan tersebut. Mereka niat ibadah karena Allah SWT. Namun bagi
kaum yahudi justru jauh berfikirnya. Menguasai simpul-simpul ekonomi umat Islam
berarti menguasai mereka dalam beragam sektor kehidupan. Dan fakta ini nyata
dan tidak terbantahkan.
Jadi filosofis
ayat tersebut dalam isu-isu saat sekarang ini semakin nyata, bahwa ada
orang-orang yang memang murni beribadah kepada Allah, ada juga yang ingin
merobohkan fungsi masjid sebagai tempat dzikir kepada Allah SWT. Salah satu
yang merobohkan masjid tersebut jangan-jangan mereka yang sering pergi haji dan
umrah tetapi hatinya tidak ada kehadiran Tuhan, dan hanya merasakan keindahan
dunia semata. Atau bisa jadi mereka pergi ke masjid sebatas sebagai tempat
curhat kepada Allah, bukan benar-benar merasakan lezatnya berjumpa dengan-Nya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   81
Kesuksesan di Antara Ujian, Keterbatasan dan Konsisten Terus Berkarya
30 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   139
Materialisme Atas Nama Tuhan
28 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   129
Dari Kurban Jasmaniah Menuju Kejayaan Ruhaniah
27 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   219
Perang Mulut para Penganut Ahli Kitab, Kenapa kita ikut-ikutan?
24 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   210
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4866
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3857
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3513
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3255