Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

352 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Perang Mulut para Penganut Ahli Kitab, Kenapa kita ikut-ikutan?



Minggu , 24 Mei 2026



Telah dibaca :  210

Kebiasaan konflik para penganut agama sudah ada sebelum Islam datang-penganut agama Yahudi dan Nasrani. Mereka saling menyalahkan dan masing-masing merasa paling benar. Hal yang sama juga orang-orang yang tidak beragama-ateisme- dan orang-orang musrik. Dengan beragam argumentasi, mereka saling serang satu sama lainnya. Jika hari ini, mungkin mereka akan beradu argument di berbagai platform media sosial, website dan lain-lain. Gambaran masa lalu telah terekam beragam kejadian masa sekarang. Sejarah terulang kembali dengan versi yang berbeda, tapi subtansinya sama.

Gambaran tersebut terekam dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 113 sebagai berikut:

وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ لَيْسَتِ النَّصٰرٰى عَلٰى شَيْءٍۖ وَّقَالَتِ النَّصٰرٰى لَيْسَتِ الْيَهُوْدُ عَلٰى شَيْءٍۙ وَّهُمْ يَتْلُوْنَ الْكِتٰبَۗ كَذٰلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ مِثْلَ قَوْلِهِمْۚ فَاللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ۝١١٣

Artinya:

Orang Yahudi berkata, “Orang Nasrani itu tidak menganut sesuatu (agama yang benar)” dan orang-orang Nasrani (juga) berkata, “Orang-orang Yahudi tidak menganut sesuatu (agama yang benar),” padahal mereka membaca Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak berilmu (musyrik Arab) berkata seperti ucapan mereka itu. Allah akan memberi putusan di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa (agama) yang mereka perselisihkan.

Baik kaum Yahudi dan Nasrani adalah sama-sama Ahlu Kitab. Perdebatan mereka bukan sebatas perdebatan oleh para penganutnya, juga oleh para tokoh-tokoh agama nya.

Orang musrik secara teologi jelas tidak sejalan dengan pemahaman akidahnya dengan kaum Ahli Kitab semakin bertambah menjadi sebagai supporter yang hanya melihat sisi negatifnya. Mereka lebih semangat lagi memprovokasi dan menambah runyam persoalan di antara dua golongan tersebut.

Tradisi saling menyalahkan bukan tradisi umat Islam. Saat umat Islam masih sedikit ataupun sudah banyak tetap menjaga tradisi provokasi yang tidak berfaidah. Nabi selalu mewanti-wanti agar umat Islam tidak terprovokasi di dalam perdebatan yang berujung perpecahan. Ini sangat bahaya dan melemahkan umat Islam itu sendiri.

Sayangnya, ketika Nabi Muhammad meninggal dunia mulai terjadi bibit-bibit perbedaan yang mengarah kepada perpecahan. Adu argumentasi antara kelompok Umar bin Khatab dan kelompok pendukung Ali bin Abi Thalib pasca kematian Nabi benar-benar menjadi cikal bakal perdebatan terbuka dan terus-menerus hingga saat sekarang ini.

Saat sekarang ini, bukan hanya kaum Yahudi dan Nasrani yang saling menjatuhkan antara masing-masing penganut nya, umat Islam pun demikian. Umat Islam telah terjebak pada argumentasi yang tidak produktif, saling menyalahkan, saling menjatuhkan dan saling memojokan satu dengan lainnya. Ironisnya, mereka sama-sama menggunakan kitab suci sebagai dasar argumentasinya. Berdebat, berkelahi dan perang menggunakan isu-isu agama. Sehingga semakin ruwet. Semua merasa paling benar dan yang lainnya salah.

Perasaan paling benar dan yang lain salah telah melemahkan kekuatan. Suatu bangsa yang dulu berjaya dan kemudian hancur bukan karena kemiskinan dan kurang ilmu pengetahuan. Negara seperti irak dan Libya Adalah negara yang pernah mengalami masa kejayaan sebagai negara yang sangat makmur dan Sejahtera rakyatnya. Semua itu tinggal kenangan. Kedua hancur disebabkan karena tumbuh perselisihan yang dihembuskan oleh bangsa barat. Perselisihan yang tidak terbendung. Akibatnya bangsa terpecah belah. Saat ini terjadi, maka hancurlah negara-negara tersebut.

Perselisihan seperti api. Pertama-tama kecil. Saat datang angin, Api pun merembet dari hal-hal yang sangat sepele yaitu daun dan ranting kecil yang kering. Meskipun dari hal-hal yang tidak terlihat ada manfaatnya, justru dari hal-hal sepele ini yang kemudian mampu membakar seluruh hutan kehidupan. Hutan yang hijau tiba-tiba berubah menjadi bara api yang sangat mengerikan.

Hari ini saya-dan anda- adalah hamba-hamba Allah sebagai khalifah di dunia. Punya tupoksi yang berbeda, tapi punya tujuan sama yaitu sama-sama mengagungkan asma Allah dalam setiap perjalanan hidup kita. Tentu sangat ironis jika mengagungkan asma Allah dengan menghina atau merendahkan makhluk-makhluknya. Ini jelas logika yang sangat jomplang.

Kita sama-sama sedang berjalan mencari ridha Allah melalui pekerjaan. Berbagai perbedaan adalah anugerah. Perbedaan adalah bagian cara kontrol diri untuk menuju suatu perbaikan-perbaikan yang lebih sempurna. Jika kita berjalan pada visi misi yang sama dalam rangka membangun kemuliaan, maka kita tidak boleh tumbuh rasa benci terhadap perbedaan tersebut. Bahkan kalau bisa tidak boleh benci kepada orang-orang yang mungkin menyakiti kita. Sebab bagaimanapun, mereka adalah orang-orang yang berbeda hari ini dan bisa jadi suatu saat akan menjadi orang yang akan memberi petunjuk atau menyelematkan kita di masa yang tepat.

Allah selalu menghadirkan segala sesuatu -baik menyenangkan atau tidak menyenangkan-selalu ada hikmah nya. Dan hikmah tersebut adalah kebaikan untuk kita semua.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   82

Materialisme Atas Nama Tuhan
28 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   129

Dari Kurban Jasmaniah Menuju Kejayaan Ruhaniah
27 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   220

Perseteruan Ahli Dzikir dan Kelompok Penghancur Masjid
25 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   265

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3256