
Kebiasaan konflik para penganut agama sudah
ada sebelum Islam datang-penganut agama Yahudi dan Nasrani. Mereka saling
menyalahkan dan masing-masing merasa paling benar. Hal yang sama juga
orang-orang yang tidak beragama-ateisme- dan orang-orang musrik. Dengan beragam
argumentasi, mereka saling serang satu sama lainnya. Jika hari ini, mungkin
mereka akan beradu argument di berbagai platform media sosial, website dan lain-lain.
Gambaran masa lalu telah terekam beragam kejadian masa sekarang. Sejarah terulang
kembali dengan versi yang berbeda, tapi subtansinya sama.
Gambaran tersebut terekam dalam Q.S.
Al-Baqarah ayat 113 sebagai berikut:
وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ لَيْسَتِ النَّصٰرٰى
عَلٰى شَيْءٍۖ وَّقَالَتِ النَّصٰرٰى لَيْسَتِ الْيَهُوْدُ عَلٰى شَيْءٍۙ وَّهُمْ
يَتْلُوْنَ الْكِتٰبَۗ كَذٰلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ مِثْلَ
قَوْلِهِمْۚ فَاللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كَانُوْا
فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ١١٣
Artinya:
Orang Yahudi berkata, “Orang Nasrani itu tidak menganut sesuatu
(agama yang benar)” dan orang-orang Nasrani (juga) berkata, “Orang-orang Yahudi
tidak menganut sesuatu (agama yang benar),” padahal mereka membaca Kitab.
Demikian pula orang-orang yang tidak berilmu (musyrik Arab) berkata seperti
ucapan mereka itu. Allah akan memberi putusan di antara mereka pada hari Kiamat
tentang apa (agama) yang mereka perselisihkan.
Baik kaum Yahudi dan Nasrani adalah sama-sama
Ahlu Kitab. Perdebatan mereka bukan sebatas perdebatan oleh para penganutnya,
juga oleh para tokoh-tokoh agama nya.
Orang musrik secara teologi jelas tidak
sejalan dengan pemahaman akidahnya dengan kaum Ahli Kitab semakin bertambah
menjadi sebagai supporter yang hanya melihat sisi negatifnya. Mereka
lebih semangat lagi memprovokasi dan menambah runyam persoalan di antara
dua golongan tersebut.
Tradisi saling menyalahkan bukan tradisi
umat Islam. Saat umat Islam masih sedikit ataupun sudah banyak tetap menjaga
tradisi provokasi yang tidak berfaidah. Nabi selalu mewanti-wanti agar
umat Islam tidak terprovokasi di dalam perdebatan yang berujung perpecahan. Ini
sangat bahaya dan melemahkan umat Islam itu sendiri.
Sayangnya, ketika Nabi Muhammad meninggal
dunia mulai terjadi bibit-bibit perbedaan yang mengarah kepada perpecahan. Adu argumentasi
antara kelompok Umar bin Khatab dan kelompok pendukung Ali bin Abi Thalib pasca
kematian Nabi benar-benar menjadi cikal bakal perdebatan terbuka dan
terus-menerus hingga saat sekarang ini.
Saat sekarang ini, bukan hanya kaum Yahudi
dan Nasrani yang saling menjatuhkan antara masing-masing penganut nya, umat Islam
pun demikian. Umat Islam telah terjebak pada argumentasi yang tidak produktif,
saling menyalahkan, saling menjatuhkan dan saling memojokan satu dengan
lainnya. Ironisnya, mereka sama-sama menggunakan kitab suci sebagai dasar
argumentasinya. Berdebat, berkelahi dan perang menggunakan isu-isu agama. Sehingga
semakin ruwet. Semua merasa paling benar dan yang lainnya salah.
Perasaan paling benar dan yang lain salah
telah melemahkan kekuatan. Suatu bangsa yang dulu berjaya dan kemudian hancur
bukan karena kemiskinan dan kurang ilmu pengetahuan. Negara seperti irak dan Libya
Adalah negara yang pernah mengalami masa kejayaan sebagai negara yang sangat makmur
dan Sejahtera rakyatnya. Semua itu tinggal kenangan. Kedua hancur disebabkan
karena tumbuh perselisihan yang dihembuskan oleh bangsa barat. Perselisihan yang
tidak terbendung. Akibatnya bangsa terpecah belah. Saat ini terjadi, maka hancurlah
negara-negara tersebut.
Perselisihan seperti api. Pertama-tama
kecil. Saat datang angin, Api pun merembet dari hal-hal yang sangat sepele
yaitu daun dan ranting kecil yang kering. Meskipun dari hal-hal yang tidak
terlihat ada manfaatnya, justru dari hal-hal sepele ini yang kemudian mampu
membakar seluruh hutan kehidupan. Hutan yang hijau tiba-tiba berubah menjadi
bara api yang sangat mengerikan.
Hari ini saya-dan anda- adalah hamba-hamba Allah
sebagai khalifah di dunia. Punya tupoksi yang berbeda, tapi punya tujuan sama
yaitu sama-sama mengagungkan asma Allah dalam setiap perjalanan hidup kita. Tentu
sangat ironis jika mengagungkan asma Allah dengan menghina atau merendahkan
makhluk-makhluknya. Ini jelas logika yang sangat jomplang.
Kita sama-sama sedang berjalan mencari ridha
Allah melalui pekerjaan. Berbagai perbedaan adalah anugerah. Perbedaan adalah bagian
cara kontrol diri untuk menuju suatu perbaikan-perbaikan yang lebih sempurna. Jika
kita berjalan pada visi misi yang sama dalam rangka membangun kemuliaan, maka
kita tidak boleh tumbuh rasa benci terhadap perbedaan tersebut. Bahkan kalau
bisa tidak boleh benci kepada orang-orang yang mungkin menyakiti kita. Sebab bagaimanapun,
mereka adalah orang-orang yang berbeda hari ini dan bisa jadi suatu saat akan
menjadi orang yang akan memberi petunjuk atau menyelematkan kita di masa yang
tepat.
Allah selalu menghadirkan segala sesuatu
-baik menyenangkan atau tidak menyenangkan-selalu ada hikmah nya. Dan hikmah
tersebut adalah kebaikan untuk kita semua.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   82
Kesuksesan di Antara Ujian, Keterbatasan dan Konsisten Terus Berkarya
30 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   140
Materialisme Atas Nama Tuhan
28 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   129
Dari Kurban Jasmaniah Menuju Kejayaan Ruhaniah
27 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   220
Perseteruan Ahli Dzikir dan Kelompok Penghancur Masjid
25 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   265
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3858
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3515
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3256