
Bagi sebagian umat Islam, isu Sunni dan
Syi’ah harga mati. Seolah-olah penentu kebenaran dan penentu Surga dan Neraka.
Kebenaran, kesalahan, Surga dan Neraka benar-benar sudah diambil alih kedua
belah pihak. Kunci Surga -miftahul Jannah- adalah kalimat “ لا اله الا الله“ , siapa saja yang
mengucapkan tersebut masuk kedalam nya, kini malah dibatasi oleh tembok
ideologi yang sangat kuat dan kokoh. Kedua kelompok gontok-gontokan
hingga sekarang. Para pendukungnya saling serang, saling caci dan saling
tertawa ketika jadi korban perang.
Media Sosial dan media sejenisnya
benar-benar mencerminkan sentiment mendarah daging kedua pendukung tersebut.
Keduanya saling serang dan saling hujat.
Sebagian kaum Sunni tertawa terbahak-bahak ketika
kaum Syi’ah pemimpin tertinggi Iran meninggal dunia. Mereka tertawa puas dengan
membuat narasi yang sangat aneh dan lucu”: Yahudi dan Syi’ah adalah Iblis”.
Hal sama juga sebagian pendukung syi’ah.
Narasinya sama, Ketika Iran menyerang serta merta pendukungnya pun berkomentar
: “Musuh Allah dan kroni-kroninya modiaar !!”.
Bagi umat Islam, berbicara soal Islam Sunni
dan Syi’ah adalah berbicara puncak kebenaran. Bagi kaum Yahudi, berbicara Sunni
dan Syi’ah adalah bentuk konspirasi politik untuk mengadu domba umat Islam agar
bisa menguasai sumber-sumber ekonomi negara-negara Arab. Terutama minyak tanah.
Bagi Yahudi, perang ideologi di internal umat Islam merupakan keberkahan. Saling
gontok-gontokan antara Sunni dan Syi’ah adalah keuntungan tanpa perlu
mengeluarkan modal besar. Yahudi paham bahwa isu ini sebenarnya hanya “recehan”
tapi mendatangkan keuntungan luarbiasa. Sebagian umat Islam tidak menyadari hal
tersebut hingga saat sekarang ini. Bagi Sebagian umat Islam, perbedaan ideologi
jauh lebih mengerikan daripada kehilangan suatu negara. Ironis.
Konspirasi politik dan terus menerus
menyerang umat Islam sudah sejak awal perkembangan Islam sejak pada masa Nabi
Muhammad SAW. Umat Islam waktu itu masih satu dalam kepemimpinannya. Itu saja
sudah berani menentang kebenaran agama dan kebijakan politik pemerintah Islam.
Allah SWT telah berfirman sebagai berikut:
قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيْلَ فَاِنَّهٗ نَزَّلَهٗ عَلٰى
قَلْبِكَ بِاِذْنِ اللّٰهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَّبُشْرٰى
لِلْمُؤْمِنِيْنَ ٩٧
Artinya:
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapa yang
menjadi musuh Jibril?” Padahal, dialah yang telah menurunkan (Al-Qur’an) ke
dalam hatimu dengan izin Allah sebagai pembenaran terhadap apa (kitab-kitab)
yang terdahulu, dan petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman.”
مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّلّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَرُسُلِهٖ وَجِبْرِيْلَ
وَمِيْكٰىلَ فَاِنَّ اللّٰهَ عَدُوٌّ لِّلْكٰفِرِيْنَ ٩٨
Artinya:
Siapa yang menjadi musuh Allah,
malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril, dan Mikail, sesungguhnya Allah
adalah musuh orang-orang kafir.
Ayat tersebut menunjukan bahwa status
sebagian Kaum Yahudi sebenarnya sudah kafir. Mereka yang menentang kerasulan
Nabi, menentang firman-firman Allah, melawan kebijakan pemerintahan Nabi
Muhammad dan memanipulasi ayat-ayat Allah dalam Kitab Taurat serta menganggap
diri mereka sebagai anak Tuhan sudah cukup kuat Allah menempatkan “فَاِنَّ اللّٰهَ عَدُوٌّ لِّلْكٰفِرِيْنَ “- Allah musuh orang
kafir.
Bagi Yahudi, tidak ada istilah Sunni dan Syi’ah
dalam Islam. Apapun namanya, tetap menjadi musuhnya. Fokus dalam pikirannya
adalah minyak tanah dan kekayaan alam. Mereka berlindung atas nama agama,
meskipun sebenarnya menentang ajaran agama sendiri. Seperti kasus kelompok Kaum
Yahudi menyembah Patung Anak Sapi terbuat dari Emas.
Keberanian sebagian Kaum Yahudi menjadikan Patung
Anak Sapi terbuat dari Emas adalah realita rasional, bahwa orientasi agama dan
politik adalah kekuasaan dan kekayaan. Mereka tahu, bahwa Nabi Musa yang
menyelamatkan dari kejaran Raja Fir’aun. Tapi mereka tidak mau mengikuti pola
hidup dengan kesederhanaan yang diwariskan oleh Nabi Musa dan para Nabi nenek
moyang mereka. Nafsu syahwat meninginkan kekuasaan dan kekayaan yang membuat
mereka secara terang-terangan menentang aturan Tuhan dan membunuh para
nabi-nabi pada masa dahulu, membunuh saudara dan membunuh orang-orang yang
menentangnya.
Logika sangat sederhana sekali. Jika semua
dilawan -aturan Tuhan, aturan Nabi-Nabi Kaum Yahudi, dan aturan Nabi Muhammad-
apalagi hanya sekelas umat Islam yang tidak mempunyai kekuatan teknologi
perang. Sangat mudah sekali menghancurkan kekuatan Islam dengan isu-isu
sektarian-Sunni dan Syi’ah. Dengan isu murahan ini, kekuatan Islam hancur
lebur. Persis seperti buih di lautan.
Sekali lagi Yahudi tidak mengenal istilah Islam
Sunni dan Syi’ah. Siapapun yang melawannya, pasti dihajar.
Presiden Moammar Khadafi-Libya Melawan AS,
Inggris dan Israel dalam upaya melaksanakan kedaulatan dalam negeri, lalu AS
dan sekutunya menghancurkan Libya pada tahun 2011. Presiden Sadam Husain -Irak-
melawan AS. Tujuan sama yaitu mengurangi hegemoni barat di Irak. Lagi-lagi
dihancurkan oleh AS dan Inggris tahun 2003.
Tahun 2026 Donald Trump, Netanyahu
mempunyai pola sama yaitu mengajak sekutunya menghancurkan Iran. Yang sudah terang-terangan
adalah Inggris. Ini pola lama. Perang keroyokan.
Hari ini di Timur Tengah sudah tidak ada
lagi yang menentang AS. Semua telah menjadi sekutunya. Negara Irak dan Libya
sudah menjadi negara lemah. Semua sudah ada dalam kendali negara AS dan Israel.
Setelah Negara-Negara Sunni sudah hancur,
kini tinggal Negara Syi’ah yaitu Iran. Jika Negara Mulloh ini hancur, otomatis
kekuatan Islam sudah benar-benar hancur. Jika Iran menang, maka arah politik
Islam ada secercah harapan berdiri tegak bersanding dengan negara-negara barat.
Negara-negara Timur Tengah memang sangat
seksi bagi Negara Barat. Di situ ada sumber minyak bumi yang sangat melimpah.
Pada sisi lain ini menjadi berkah, namun pada sisi lain gara-gara minyak bumi
juga terjadi pertikaian antara sesama umat Islam. Ketika sesama negara-negara
Islam bertikai, maka negara barat senyum-senyum sambil memegang cerutu. Sebab
bisnis senjata menjadi laris manis.
Sungguh jualan Sunni dan Syi’ah strategi
cerdas Kaum Yahudi menghancurkan umat Nabi Muhammad SAW. Bisakah umat Islam
melawan kaum yahudi dengan cara cerdas dengan mengikrarkan diri sama-sama sebagai
“ummatan wahidah” dalam perbedaan ideologi? Wallahu a’lam.
Penulis : Imam Ghozali
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   323
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   79
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   95
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   126
Kisah Kaum Yahudi Meninggalkan Kalimat Tauhid
06 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   233
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13547
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3559
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2937
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870