Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru



Jumat , 10 April 2026



Telah dibaca :  323

Naluri manusia selalu ingin hidup damai. Tidak ada perang, tidak ada perkelahian, tidak ada kebencian satu dengan lain. Setiap masyarakat, bangsa dan negara menginginkan untuk mewujudkan kedamaian agar tercipta kebahagiaan hakiki di dunia.

Naluri manusia juga ada keinginan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti sandang, pangan dan papan. Keinginan yang tidak hanya standar kebutuhan dasar saja. Watak manusia selalu merasa tidak puas. Meskipun sudah mempunyai sebidang ladang kurma, maka ingin membeli lagi. Sudah mempunyai dua hektar kebun sawit, ingin membeli lagi hingga harus pinjam uang di bank. Sudah mempunyai istri satu, ingin bertambah lagi hingga kadang harus menipu istri pertama. Begitu seterusnya. Ekspetasi manusia sangat tinggi. Dari sini, mulai muncul naluri yang sebenarnya “suci” jebol oleh nafsu-nafsu ingin menindas orang lain demi memenuhi kebutuhannya.

Naluri manusia hakikatnya ingin damai. Penulis bisa melihat betapa antusias manusia di permukaan bumi saat sekarang ini untuk mewujudkan keinginan tersebut. Perang Iran vs AS dan Israel sangat melelahkan. Ada bayang-bayang ancaman peradaban yang sangat mengerikan. Masyarakat biasa ingin hidup damai dan tenang menjalankan aktivitas sehari-hari. Apalagi masyarakat yang negara nya terlibat langsung dengan peperangan. Mereka stress dan mengalami goncangan jiwa. Demonstrasi besar-besaran di AS, Israel merupakan perlawanan serius dari hati nurani masyarakat dunia. Apa artinya jika ada negara, jika ada bangsa tapi hidup penuh dengan ketakutan. Tidak bisa tidur karena ada bayang-bayang rudal menghuncam rumah-rumah nya, atau bunker-bunkernya.

Namun naluri masyarakat biasa tidak sama dengan nafsu para pemimpinnya. Donald Trump dan Netanyahu adalah tipe manusia yang lebih mendahulukan memenuhi kebutuhan mereka daripada tangisan masyarakat dan jeritan anak-anak kecil yang tidak berdosa. Terjadilah pertarungan hebat antara keinginan hidup damai dan keinginan syahwat untuk menjadi penguasa tunggal di dunia.

Walhasil, AS dan Israel sedikit melunak. Mereka ingin melakukan gencatan senjata dengan Iran. Ketiga negara sepakat. Semua masyarakat dunia pun menyambut dengan suka cita. Ada secercah harapan perdamaian di tengah kepulan asap mesiu, dan reruntuhan Gedung-Gedung Sekolah dan Rumah Sakit.

Penulis senang mendengarnya. Tapi ragu komitmen terhadap pemimpin AS dan Israel. Dua pemimpin yang secara geneologis mengalir darah Bani Israel. Suatu etnis yang sepanjang Sejarah selalu melakukan ingkar janji terhadap apa yang mereka ucapkan. Mereka begitu mudah bicara perdamaian. Mereka juga begitu mudah menyerang bangsa lain atas nama perdamaian. Mereka sudah biasa bermain kata-kata yang sering bertolak belakang dengan apa yang diucapkannya. Mereka telah menuruti nafsu dan bisikan-bisikan setan sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Baqarah ayat 102 sebagai berikut:

وَاتَّبَعُوْا مَا تَتْلُوا الشَّيٰطِيْنُ عَلٰى مُلْكِ سُلَيْمٰنَۚ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمٰنُ وَلٰكِنَّ الشَّيٰطِيْنَ كَفَرُوْا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَآ اُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوْتَ وَمَارُوْتَۗ وَمَا يُعَلِّمٰنِ مِنْ اَحَدٍ حَتّٰى يَقُوْلَآ اِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْۗ فَيَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُوْنَ بِهٖ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهٖۗ وَمَا هُمْ بِضَاۤرِّيْنَ بِهٖ مِنْ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِۗ وَيَتَعَلَّمُوْنَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْۗ وَلَقَدْ عَلِمُوْا لَمَنِ اشْتَرٰىهُ مَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍۗ وَلَبِئْسَ مَاشَرَوْا بِهٖٓ اَنْفُسَهُمْۗ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ ۝١٠٢

Artinya:

Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa Kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kufur, tetapi setan-setan itulah yang kufur. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia, yaitu Harut dan Marut. Padahal, keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanyalah fitnah (cobaan bagimu) oleh sebab itu janganlah kufur!” Maka, mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan (sihir)-nya, kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Sungguh, mereka benar-benar sudah mengetahui bahwa siapa yang membeli (menggunakan sihir) itu niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Sungguh, buruk sekali perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir jika mereka mengetahui(-nya).

Ayat tersebut terlihat betapa bisikan setan yang menyebabkan mereka kufur atas segala nikmat Tuhan. Mereka telah diberikan oleh Allah berupa kenikmatan kecerdasan akalnya, kehebatan bisnisnya, dan keahlian dalam bidang teknologi. Mereka juga telah diberikan anugerah hamba-hamba yang mulia dari para nabi dan rasul dari golongan mereka. Namun sayangnya, mereka lebih senang menjauhi pola hidup Islami dan memilih hidup yang bebas tanpa aturan dan hanya menuruti nafsu belaka.

Kaum Bani Israel tidak peduli dimanapun mereka berada. Meskipun mereka dalam cengkraman kekuasaan negara lain, mereka akan terus berusaha melakukan tipu daya agar kekuasaan tersebut bisa hancur. Mereka akan terus melakukan gerakan-gerakan politik sehingga negara tersebut akan selalu tidak tenang. Tujuannya yaitu mereka ingin mengambil alih kekuasaan dan menjadi penguasa.

Contoh kecil, saat kaum Bani Israel telah hidup tenang di masa pemerintahan Nabi Muhammad SAW, mereka pun diam-diam melakukan konsolidasi dan memprovokasi untuk melakukan kudeta terhadap pemerintahannya. Rencana tersebut ketahuan oleh Nabi Muhammad. Lalu ia mengusirnya dari Madinah.

Kini kaum Bani Israel sudah mempunyai negara sendiri dan mempunyai negara sekutu yang sangat kuat. Mereka sudah bebas melakukan apa saja. Termasuk perang dan genjatan senjata.

Kita saat sekarang ini sama-sama melihat drama baru dalam Perang Iran vs AS dan Israel. Apakah genjatan senjata sebagai tanda berakhir perang atau taktik baru untuk Menyusun kekuatan untuk menuruti hawa nafsu mereka. Kita masih sama-sama “wait and see”. Tentu saja, penulis berharap semoga Allah memberikan jalan terbaik terhadap kondisi politik global yang tidak menentu. Begitu mudah bagi Allah memberikan jawaban. Termasuk jawaban kondisi dunia saat sekarang ini. Tentu saja Allah telah dan akan memberikan jawaban terbaik untuk umat manusia.

 

 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   79

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   95

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   126

Kisah Kaum Yahudi Meninggalkan Kalimat Tauhid
06 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   233

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13548


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870