
Saat masih di tingkat SLTA dan sudah masuk
kelas 3 Aliyah, saya mempunyai cita-cita sangat tinggi dan mulia. Mungkin anak-anak
seusia ku pun demikian. Semua mempunyai keinginan yang tinggi, mulia dan
bahagia. Ada keinginan menjadi pejabat, pengusaha, pegawai dan lain-lain. Saat
saya berjalan-jalan melihat Mobil, terasa dalam benak saya pun berfikir “Betapa
enaknya orang tersebut. Punya mobil mewah, anak nya cantik-cantik, ganteng, dan
selalu kemana-mana bisa keliling Dunia dengan mobil mewah nya.” Saat saya
melihat para Pegawai Bank yang rapi, rambut melipis, yang wanitanya kulit
putih, hidung mancung, pakai jilbab, tubuh langsing, saya pun terasa ingin
seperti mereka. Rasanya bahagia sekali jika saya bisa menjadi mereka.” Saat saya
melihat para Pegawai di Kantor, yang memakai seragam dinas, seolah-olah mereka
pun bahagia. Hidup serba kecukupan, nikmat dan duitnya banyak. Berangkat pagi
baju bersih rapi, pulang kantor pun tetap rapi.” Saya waktu itu ingin sekali
seperti itu. Seolah-olah hidup saat ini apalagi kalau melihat orang tua yang
kerjanya biasa-biasa saja, seolah-olah dalam perasaan saya mereka terlalu
kampungan, kurang modern dan tidak bahagia. Seolah-olah hidup model orang tua
saya menyedihkan. Sedih sekali. Saya ingin sekali membantu orang tua, membantu
adik ketika saya sudah sukses di kemudian hari.
Saat saya melihat para mahasiswa berkunjung
ke sekolah saya, apalagi mereka yang sedang KKN adalah mahasiswa dari Perguruan
Tinggi bonafit, batin saya ingin sekali kuliah di tempat tersebut. Saya punya
pikiran, bahwa sekolah di tempat-tempat bonafit tersebut adalah jalan untuk
bisa sukses dan bisa membahagiakan orang tua dan adik-adiknya.
Setelah berjalannya waktu, dan semakin tahu
betapa kehidupan tidak seindah apa yang saya pikirkan, lama-lama kelamaan saya
menyadari bahwa cita-cita besar saya tidak sebanding dengan kemampuan saya
sendiri. Ternyata di luar sana, persaingan hidup sangat keras. Saat saya ingin
kuliah tanpa dibiayai oleh orang tua, dan saya bekerja sekuat tenaga di Yogyakarta,
ternyata hasil kerja keras saya hanya cukup untuk makan, dan tidak cukup untuk
membayar spp dan beli buku kuliah. Namun saya tetap berpendirian, saya harus
kuliah dengan biaya sendiri. Saya terus bekerja dan mengumpulkan duit. Dua tahun
saya terus bekerja. Namun selama dua tahun, duit pun tidak juga bisa
dikumpulkan. Akhirnya saya pun putus asa. Selama hidup, mungkin saya tidak bisa
kuliah dengan biaya sendiri. Persaingan hidup dalam dunia realita tidak seindah
angan-angan kosong saat saya masih di bangku SLTA.
Saya pun putar haluan. Gagal kuliah,
kemudian pergi ke Pesantren. Belajar agama. Lagi-lagi Tuhan pun masih menguji
dengan berbagai ujian yang menurut ku sangat berat; sakit tipus selama 6 bulan,
sakit kudis selama bertahun-tahun dan ironisnya lagi orang tua tidak pernah
mengirim biaya untuk hidup di Pesantren. Saya sering menangis. Betapa berat
hidup ini. Saya pun pasrah kepada Allah dan terus berdoa agar saya diberi
kesehatan dan bisa mendapatkan sesuap makanan untuk menyambung hidup di Pesantren.
Itu doa sederhana. Saya sudah lupa pikiran saya untuk menjadi seorang pebisnis,
lupa sebagai pegawai yang baju nya mlipis dan baunya harum dan lupa
tentang cita-cita punya mobil mewah dan sebagainya.
Saya pun harus berfikir realitas. Di Pesantren
saya harus bekerja dan ngaji. Malam ngaji, pagi bekerja di Sawah; mencakul,
daut. Jika saat musim menanam padi telah selesai, saya pun mencari pekerjaan
lain agar bisa mendapatkan satu piring nasi. Saya pun keliling desa ke desa
mencari pekerjaan. Alhamdulillah, saya menemukan pekerjaan di rumah seorang
janda tua [sekitar umur 65 tahun]. Janda ini ahli ibadah, rajin Sholat Duha dan
membaca Al-Qur’an. Tugas ku di rumah tersebut; mengisi bak mandi dan bak tempat
wudhu, serta mencuci piring. Ketika sudah siang hari sekitar pukul 11.30 wib,
saya pulang ke pondok dengan membawa rantang yang berisi nasi campur ubi godog,
dan sayur santan daun ubi campur jantung pisang. Saya senangnya bukan main,
hari ini bisa makan. Walaupun kaki saya harus menahan panas akibat terik
matahari. Jarak ke pondok cukup jauh. Perjalanan waktu memakan hampir satu jam.
Berjalan tanpa alas kaki. Jika pulang ke pondok jam 11.30, perkiraan sampai
sekitar pukul 12.30.
Pada akhir tahun 1999 saya pulang dari Pesantren
Darussalam Jawa Timur. Pulang liburan. Itupun disuruh pulang bapak. Saya tidak
tahu kenapa harus pulang. Kata Kiai Syarbini [almarhum], bahwa ada sesuatu yang
sangat penting. Akhirnya saya pun harus pinjam duit ke teman-teman agar bisa
beli tiket untuk pulang ke Jawa Tengah. Ketika sampai di rumah, saya Tanya sama
ibu tentang ‘hal yang dianggap sangat penting”. Kata ibu bahwa ada teman-teman
ayah yang mempunyai anak perempuan. Dan mereka meminta ayah untuk menjalin
persaudaraan dengan menjodohkan saya dengan anak-anak mereka. Maksudnya ayah
memberi pilihan dari anak gadis teman-teman ayah untuk calon istri saya.
Saya kaget. Saya pun bilang dengan ibu,
bahwa saya belum siap untuk menikah. Ibu pun senyum dan tidak mempersoalkan. Akhirnya
saya pun disuruh oleh ayah untuk jalan-jalan ke Sumatera agar tahu dunia luar,
dan jangan hanya wawasanya sebatas di jawa saja. Saya pun nurut dan ikut kiai
sarbini [murid ayah saya] pergi ke Riau.
Saya pergi ke Riau, dan dimanapun berada, kesukaan
saya tidak ketinggalan yaitu membaca. Hobbi ini tetap saya lakukan saat saya
masih di Aliyah kelas dua,dilanjutkan di Pesantren yang selalu dihabiskan di
perpustakaan dan juga ketika di riau. Saya terus menulis dan tulisan saya kirim
ke Media Massa seperti Riau Pos, Metro Riau dan Haluan Riau. Dari kebiasaan
menulis ini, saya pun mendapatkan masukan. Saya pun terus menulis dan membuat
buku. Saya jual hasil karya saya. Akhirnya dari sini saya semakin bisa memahami
bahwa sukses tidak harus berdasi, punya mobil mewah dan punya perusahaan. Sukses
sejati adalah ketika kita mengenal kemampuan diri sendiri dan selalu berbuat
baik dengan kepada orang lain sesuai dengan kemampuannya. Tuhan telah mengukur
manfaat setiap hambanya sesuati dengan kapatas; ada kapasita seseorang seperti
matahari, rembulan, bintang, listrik, petromak, dan lilin. Saya mungkin sebatas
lilin dan tidak mau memaksakan diri ingin seperti bintang apalagi rembulan atau
matahari. Bukan sebaik-baik orang yang mampu memberi manfaat kepada orang lain?
Saya terus membaca. Dari sini saya pun
semakin terbuka. Terutama saat saya membaca biografi seorang Dahlan Iskan pemilik
Jawa Pos. tahun 2000-an, saya terus mengikuti tulisan nya dan membaca biografinya.
Seorang bos Media Massa Nasional, tamatan dari pesantren dan hanya lulus dari
sekolah Aliyah tapi bisa menjadi orang yang sukses seperti itu. Bahkan pada
saat SBY menjadi presiden, dia salah satu menteri yang paling sukses di
zamanya. Dahlan Iskan yang pernah kuliah Jurusan Tarbiyah jarak jauh, itu hanya
bertahan dua semester. Setelah itu, dia sibuk mengasah kemampuan sebagai
seorang penulis dan wartawan. Dia tidak tamat kuliah, tapi tidak putus asa. Terus
menerus menambah wawasan. Kemampuan bahasa asing terus diasah. Kemampuan menulis
pun terus ditingkatkan. Dan yang tidak dilupakan, dia pun terus menjalin relasi
dengan berbagai kalangan. Akhirnya, dia pun menjadi orang yang masuk jajaran
manusia sukses di Indonesia. Kekayaannya konon tidak habis untuk tujuh turunan.
Saya belajar darinya. Saya pelan-pelan
menerima kenyataan dan terus memperbaiki kualitas diri. Saya bekerja keras dan
terus belajar. Saat ada kesempatan kuliah jarak jauh ilmu hukum, saya pun ikut
kuliah. Saat itu umur sudah masuk 30 tahun. Usia yang sudah cukup tua bagi
seorang mahasiswa S1. Saya tidak minder. Tidak peduli dengan omongan dari
siapapun. Saya terus belajar dan belajar. Alhamdulillah, pada tahun 2015, saya
mampu menyelesaikan kuliah program doktor dengan biaya mandiri hasil dari kerja
keras dan tidak lupa adanya terbangun relasi berbagai kawan yang telah sukses
lebih dahulu. Sekarang saya bisa duduk bareng dengan orang-orang yang mempunyai
lulusan dari universitas hebat-hebat tanpa perlu minder lagi. Ternyata yang
membuat kita hebat bukan universitasnya, tapi diri kita sendiri yang
mengusahakan menjadi hebat. Universitas sebatas salah satu factor pendukung
saja.
Akhirnya saya menyadari bahwa untuk mengubah
orang lain yang perlu dilakukan adalah mengubah diri sendiri lebih dahulu. Terlalu
tinggi cita-cita tanpa dibarengi dengan kemampuan diri justu akan menyakiti
diri sendiri. Belajar terus menerus dan memperbaiki kualitas mental, emosional
dan keahlian adalah jalan untuk menjadi diri sendiri semakin lebih baik.
Penulis : Imam Ghozali
Haul Mbah Subari; Ulama dan Penulis Rintisan
19 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   179
Menyalakan Obor Tradisi Ulama-Sebuah Pengantar
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   247
Lail Al-Qadr : Menggali Ruh Peradaban Islam
08 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   116
Alarm Depresi Remaja Australia, Peringatan bagi Indonesia !
17 Desember 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   309
Mutiara Untuk Anak-Anakku
25 November 2025   Oleh : Dr.Edi Purnomo,MA   154
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2988
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884