
Istilah demokrasi belum ada pada masa
permulaan Islam. Namun sudah ada jauh sebelum lahir agama Islam. Seorang ilmuwan
Romawi bernama Polybius. Dia lahir 200 SM, telah memperkenal siklus bentuk
negara. Salah satunya siklus demokrasi, yaitu sistem politik yang melibatkan
masyarakat dan memilih diantara mereka yang terbaik untuk memimpinya. Jadi sebelum
Islam datang, sudah ada imperium penguasa dunia yang telah memperkenalkan
sistem politik yang beragam waktu itu. jika membaca peradaban masa lalu, tanah
Arab sudah mengenalnya. Di dalam Al-Qur’an telah mencatat kisah Dzulqornain
yang digambarkan sebagai penguasa dunia pada masanya. Selain itu, tradisi
bangsa Arab berkelana dan berbisnis mempunyai akses luas konektivitas dari
berbagai negara dan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan sosial politik.
Adakah Nabi Muhammad mendapatkan pengaruh ilmu
politik dari negara-negara seperti Persia dan Romawi? Jawabanya spekulatif. Ayat-ayat
Al-Qur’an tidak menjelaskan secara utuh sejarah peradaban masa lalu. Tuhan memberikan
wahyu pada sisi moralitas tentang sebab akibat para pemimpin melanggar syariat,
tidak memperkenalkan sistem politik. Namun jika menelusuri mata rantai
peradaban manusia Arab kuno, ada benang merahnya. Keberanian Nabi melakukan
perjanjian lintas agama di Yasrib sangat out the box. Piagam Madinah
adalah Konstitusi sangat modern dan terbuka. Saya kira hari ini belum ada
pemimpin yang berani duduk bareng antara Islam, Yahudi, dan Nasrani merumuskan
Kontitusi Negara, selain nabi Muhammad s.a.w.
Jika hari ini ada seorang pemimpin atau calon pemimpin Islam melakukan
langkah-langkah politik model nabi, bisa dipastikan dihujat mati-matian. Dia
akan dianggap liberal dan merusak Islam. Sebaliknya, orang pengetahuan agama rendah
berbaju agama dalam berpolitik akan mudah dianggap sebagai orang yang religius
dan ditempatkan sebagai pejuang agama.
Saat ini sangat sulit menemukan titik temu ketiga
agama tersebut sebagaimana pada masa nabi. Selalu saja terjadi pro dan kontra
yang tidak bertepi. Seolah-olah Piagam Madinah tenggelam dalam diskusi politik
di ranah publik. Sejarah mencatat, lahir Madinah Munawarah disangga oleh tiga
agama besar; Islam, Nasrani dan Yahudi. Kini presepsi politik identitas terus
berkembang.Semakin menutup diri dari non-muslim terlihat semakin sholeh. Hal
sama terjadi pada kelompok minoritas non-muslim. Sarana prasarana publik pun
menjadi sasaran untuk ajang kampanye.
Nabi tidak pernah mengajarkan sistem
politik demokrasi secara formal. Dia adalah Rasulullah. Tugas utama nya
menyampaikan wahyu-wahyu Tuhan. Jika Piagam Madinah sebagai produk politik,
maka ia bisa menjadi model bentuk perilaku demokratisasi nabi saat itu. Artinya,
nabi tidak mungkin melepaskan firman-firman Allah dalam kehidupan. Tapi dia
juga tidak mungkin membiarkan sistem kehidupan berjalan tidak teratur.
Solusinya, Piagam Madinah mencantumkan pasal-pasal fleksibel, agar bisa
diterjemahkan atas dasar kebutuhan-kebutuhan dalam kehidupan bermasyarakat dan
berbangsa saat itu. Justru dengan pola ini, demokratisasi menjadi lebih hidup.
Perilaku pemimpin dan masyarakat menjadi sangat natural baik dalam hal
memberikan penghargaan ataupun dalam menggunakan fungsi kontrol politik dengan
melakukan kritik secara langsung orang yang dituju. Termasuk kepada Nabi. Ini
cermin dari demokrasi subtansional.
Nabi sangat demokratis. Dia bisa ditemui
oleh siapapun tanpa seperangkat aturan yang ribet dan melelahkan. Dia bisa
menyelesaikan persoalan agama saat berada di jalan, di masjid, bahkan di pasar.
Ketika terjadi perang Khandaq, Dia diskusi di tempat tersebut. Semua boleh
berbicara. Sahabat Salman mempunyai ide tentang pentingnya pembuatan Parit
untuk benteng pertahanan. Di antara beberapa pendapat, ide nya paling rasional.
Nabi menerima. Lalu bersama-sama membuat parit. Terbukti efektif mengalahkan
musuh.
Perilaku demokratis juga dipraktekan nabi
saat ada seorang sahabat mengkritik dengan sangat pedas. Dengan kata-kata
kasar, dia mangatakan kepada Nabi, “berlakulah adil”. Umar bin Khatab
mendengarnya. Dia sangat emosi. Dia sudah mau mengambil pedang dari sarung nya,
tapi nabi menahan. Setelah reda emosinya, nabi berkata, “Suatu masa akan datang
sebagian generasi Islam lahir dari nya yang keimanannya hanya sampai di
tenggorokan”.
Para sahabat juga sering mendapatkan
kritikan dari masyarakat. Mereka menerima kritikan tersebut. Umar bin Khatab
dikritik karena balik ke Madinah ketika di tengah perjalanan ada wabah penyakit.
Dia dianggap lari dari Ketentuan Tuhan. Umar menerima kritikanya dan menjawab,
“Saya lari dari ketentuan Tuhan dengan menjemput ketentuan lainya”.
Saat Ali bin Abi Thalib menjadi khatib, ada
seorang jamaah mengkritik nya. ali tetap menerima kritikan tersebut. Suatu
hari, Ubaidilah mengkritik dengan bahasa majaz. Katanya, “ Wahai khalifah,
mengapa Abu Bakar, Umar dan Utsman ditaati oleh rakyatnya, Padahal wilayahnya
mereka tidak lebih dari sejengkal yang kemudian meluas terus. Sedangkan saat
engkau meneruskan Utsman, rakyat tidak taat kepada mu?”.
Ali menjawab,”Rakyat Abu Bakar dan Umar adalah
orang-orang seperti diriku dan Utsman. Sedangkan rakyat ku hari ini adalah
orang-orang seperti dirimu!”.
Itu demokrasi subtansional. Kritik dibalas
dengan jawaban berkualitas. Dua-duanya berkualitas. Walaupun kadang sangat
pedas. Mereka tidak mau menyisipkan kritik dengan ejekan, hinaan dan hoax.
Bahkan saat masa nabi ada seorang sahabat mengejek atas hukuman yang dijatuhkan
kepada seseorang, nabi langsung marah dan berkata, “Dia telah dihukum, dan
taubatnya sudah diterima oleh Allah, sedangkan kamu harus menanggungjawab dosa
mu sampai besok dihadapan Allah”.
Demokrasi diformalkan oleh bangsa Barat
sebagai pilihan politik terbaik. Para pencetusnya terinspirasi dari ajaran Islam.
Geovani seorang tokoh humanisnya mengatakan bahwa bangsa barat harus berterima
kasih kepada islam atas nilai-nilai kebaikan yang telah ditularkan kepada
mereka. Tanpa adanya Islam, bangsa barat bisa menjadi bar-bar.
Nilai-nilai demokrasi dari barat sebenarnya
ingin menerapkan keindahan politik masa lalu. Tapi terlalu liberal. Nilai
tauhid hilang. Akibatnya, terlalu dibiarkan nilai-nilai kemanusiaan yang
kemudian menginspirasi materalisme, rasionalisme dan liberalisme. Liberalisme
adalah individualisme tanpa batas. Liberalisme adalah rasionalisme di atas
wahyu Tuhan. Disini rusaknya.
Nabi dan para sahabat nabi adalah bagian
dari kelompok “arifin. Mereka telah mengajarkan tentang makna kebebasan yang
bertanggung-jawab. Salah satu tanggung-jawab yaitu menjaga moralitas dalam
memberi hak-hak dan kewajiban berdemokrasi dengan tetap mengedepankan moralitas
ataupun akhlak.
Jika hari ini kita tidak bisa mengikut
langkah politik nabi dengan menyatukan tiga kekuatan agama dalam satu negara (
apalagi di Indonesia, sangat tidak mungkin. Ada sejarah suram hubungan ketiga
agama pada persoalan tanah Palestina), setidaknya kita bisa belajar dari akhlak
nya yang tidak pernah mencaci maki lawan politiknya. Apalagi menebar hoax dan
ujaran kebencian. Islam bukan sebatas formalitas agama dan nama di KTP, tapi
kombinasi perilaku, ucapan dan sikap baik secara tersurat dan tersirat dalam
lubuk hati. Dari nabi, kita belajar berdemokras secara subtansional, yaitu
mengutamakan akhlak al-karimah dalam segala ucapan dan perilaku dalam
berbagai aspek kehidupan.
Penulis : Imam Ghozali
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   95
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   214
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   206
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   220
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   239
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2977
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879