Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Di Bawah Cahaya Keagungan Tuhan



Kamis , 25 April 2024



Telah dibaca :  721

اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ.


اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

“Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Sesungguhnya orang-orang yang kufur itu sama saja bagi mereka, apakah engkau (Nabi Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman”.

Tulisan ke delapan ini adalah sambungan dari beberapa tulisan beberapa waktu lalu yang banyak memfokuskan ada suasana Idul Fitri dan Bulan Syawal. Kini penulis mencoba melihat kembali suasana kehidupan yang sangat dinamis dan terus terjadi persaingan baik secara terang terangan maupun secara sembunyi sembunyi. Kedua jenis persaingan mempunyai tujuan untuk mendapat kemulyaan (muflihuun).

Agama adalah petunjuk bagi orang orang bertakwa. Penulis kadang memahami ketika ada orang yang disebut mutaqin adalah orang-orang yang secara perilaku merupakan orang-orang yang terjaga dari segala maksiat, tidak mau menyakiti diri sendiri (apalagi orang lain), taat beribadah dan senantiasa selalu melahirkan prestasi-prestasi unggul (amalun sholihun). Penulis sering mendengar para khatib dan penceramah menyampaikan uraian ayat-ayat Al-Qur’an terbayang dalam benak ku: “Betapa mulia nya dia bisa menyampaikan pesan-pesan agung kepada umat manusia”. Hati kecilku kadang berkata juga: “Sungguh para pendakwah, penceramah adalah orang-orang pilihan yang telah mencapai level mutaqin”. Saat melihat diri sendiri, saya terkadang malu betapa sangat jauh dari kesempurnaan lesan yang fasih, perilaku yang pantas menjadi suri tauladan dan betapa jauh dari kata “amalun sholihun”.

Benarkah makna mutaqin sedemikian sempurna sehingga para pendosa tidak disebut mutaqin. Benarkah mutaqin hanya untuk orang orang tergolong darah biru, para ilmuwan dan ara ahli ibadah saja. Jika ia berapa prosentase orang-orang yang masuk kelompok darah biru, kaum bangsawan dan ilmuwan jika dibandingkan dengan rakyat biasa? Ternyata tidaklah demikian. Tuhan telah meletakan status takwa kepada siapapun yang menghendakinya.

Ketika anda membaca kitab Al-Hikam Syeikh Athailah akan menemukan bahwa orang-orang mutaqin adalah orang yang mempunyai kejernihan tauhid yang baik. Jika anda membaca kitab Ihya ‘Ulumudin al-Ghozali akan menemukan bahwa tauhid, tasawuf dan akhlak harus menyatu dalam gerak langkah kehidupan sehari-hari. Kedua buku ini seolah-olah membentuk manusia asing di tengah keramaian manusia yang super aktif dengan segala aktivitasnya. Seolah-olah mereka adalah manusia yang terpinggirkan dari hiruk-pikuk manusia. Bahkan kadang diartikan sudah tidak peduli lagi dengan kehidupan dunia dan segala aktivitas yang ada. Hidup seolah-olah cukup beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Ketika anda membaca Al-Muqadimah Ibnu Khaldun akan menemukan kisah pada diri nya dan kekuasaan pada masa nya yang penuh intrik dan tipu muslihat serta saling menjatuhkan baik dari internal negaranya maupun dari unsur eksternal. Sang Penulis kitab ini juga ikut menjadi bagian orang-orang yang telah melakukan segala kegiatan politik kekuasaan dengan cara-cara yang tidak semestinya ia lakukan. Ia menyadarinya, bahwa resiko dalam mewujudkan eksistensi kekuasaan memang tidak sesederhana teori para ilmuwan dan ulama yang tidak lepas dari dinamika yang sangat memilukan. Perjalanan politik kekuasaan sejati sebenarnya terletak pada kitab Ibnu Khaldun bukan pada kitab Al-Ahkam Sulthaniyah Al-Mawardi, Al-Hikam Athailah, Almadinah Alfadilah Al-Farabi atau Ihya ‘Ulumuddin al-Ghozali. Kitab-kitab agung karya para ulama tersebut telah mengajarkan etika seorang ulama dan umaro atas dasar-dasar ajaran Islam. Namun, Ibnu Khaldun membuktikan secara realistis bahwa perjalanan politik kekuasaan mempunyai nilai-nilai tersendiri yang terkadang membutuhkan tafsir-tafsir ulang dalam mengartikan persoalan moral, etika atau akhlak dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat.

Penulis tentu saja akan melihat dua perspektif yang berbeda saat melihat para orang-orang sholihin. Pada perspektif religiusitas, mereka adalah hamba-hamba allah yang senantiasa mengabdi kepada-nya. Kita bisa membaca kisah mereka dalam ayat al-qur’an dan hadist nabi tentang pola kehidupan nya. Lihat bagaimana para sahabat nabi menghabiskan malam untuk bermunajat kepada allah. Di antara mereka ada yang menangis tersedu-sedu karena mengenang dosa-dosa nya dan besar ampunan-Nya. Ada seorang sahabat nabi yang baru saja menjalankan aqad nikah dan belum melalui indahnya malam pertama, dengan cepat-cepat mengambil senjata dan pergi berjihad fi sabilillah. Ada juga seorang sahabat nabi yang sedang menikmati makanan kurma, lalu menghentikan makan dan bersegera menuju ke medan pertempuran. Sungguh suatu kisah yang sangat sulit ditemukan dalam sejarah kesetiaan seorang penganut agama dan mahabah kepada pimpinannya, yaitu rasulullah saw.

Perspektif tersebut akan menemukan hidup mereka sangat sempurna. Dan memang demikian kesempurnaan pada masa nya. Mereka mempunyai pandangan yang natural menterjemahkan firman dan hadist-hadist nabi Muhammad saw. Itu sebabnya, kanjeng nabi tersenyum ketika melihat para sahabat yang telah melaksanakan perintah-perintahnya dengan tulus ikhlas.

Namun pada perspektif sosial-politik nabi juga pernah menangis tersedu-sedu. Pada suatu waktu, Sang Nabi yang sangat mulia ini terus mencium pipi cucu nya Hasan-Husain. Sang Rasul mencium bukan dengan senyuman, tapi dengan tangisan. Sebab Allah telah memperlihatkan sebagian dari rahasia kehidupannya tentang suatu peristiwa-peristiwa pahit yang menyakitkan hatinya, anak nya dan cucu-cucunya. Namun, peristiwa tersebut memang harus terjadi dan harus tabah menerima kejadian tersebut. Dan kejadian itu adalah peristiwa Padang Karbala. Cucu Rasulullah meninggal dengan mengenaskan.

Penulis sebagaimana anda boleh berontak hatinya dan menggugat peristiwa ini sebagai suatu hal yang sangat menyakitkan dan jauh dari makna muflihun sebagaimana yang ada dalam Al-Qur’an.  Namun perjalanan sejarah peradaban Islam memang tidak bisa menghidar dari perjalanan yang berliku, terjal, mendaki, menurun dan kadang melukai telapak kaki hingga keluar darah segar. Sakit, sangat sakit sekali. Perjalanan panjang yang kadang tidak menyediakan obat merah, kain pembalut kulit dan sejenisnya. Luka nya terkadang sangat menyiksa dalam perjalanan, tapi itu semua memang harus dilalui sebagai episode kehidupan untuk mencapai suatu tujuan hidup.

Itu adalah fakta sejarah. Ketika kita hanya merujuk kisah Ibnu Khaldun terkadang hati bisa gonjang hatinya meletakan makna mutaqin yang sempurna. Tuhan pun menghadirkan para ilmuwan yang sekaligus ‘arifin melihat dengan kebersihan hati. Ulama ini mengajarkan bahwa semua kehidupan sudah ditulis oleh Allah dan sudah mendapatkan tempat mereka masing-masing. Perdebatan, pertikaian bahkan peperangan dan saling bunuh membunuh adalah syariat kehidupan dan akan mendapatkan putusan-putusan aturan-aturan kehidupan. Itulah syariat yang memutuskan segala persoalan yang bisa dilihat dari kasat mata kita.

Allah tidak selalu memutuskan persoalan yang terlihat secara kasat mata dengan putusan sebagaimana yang kita lihat. Tuhan meletakan hakikat hubungan kita yang sejati pada “qulubuhum”. Itu sebabnya, ketika nabi meng-qishas seorang sahabat karena melakukan suatu kesalahan dan sebagian sahabat mengejek nya, maka Rasulullah marah. Menurutnya, orang yang dihukum atas kesalahannya hakikatnya telah diampuni dosa-dosa nya dan ia bisa menjadi mulia dalam pandangan Allah swt.

Dalam kasat mata kita melihat pertikaian dari dulu sampai sekarang tidak juga berhenti. Perdebatan politik tentang siapa yang pantas menjadi pemimpin dari dulu sampai sekarang terus saja terjadi dan saling mengklaim pihaknya yang paling mendekati syariat-syariat Islam. Saling klaim akan terus terjadi dan ini bagian dari ijtihad politik. Nabi mengatakan bahwa setiap jihad umatnya senantiasa mendapatkan pahala, benar dapat pahala dua dan salah dapat pahala satu.

Kini bangsa Indonesia telah memutuskan ijtihad politik berbeda-beda. Para ulama telah memberikan ijtihad masing-masing dan memutuskan dengan argumentasi syariat yang diyakini sebagai kebenaran. Keputusan-keputusan ijtihad yang kemudian diikuti proses politik melahirkan pemimpin baru yaitu Prabowo Subianto Dan Gibran Rakabuming Raka menjadi presiden-wakil presiden 2024-2029. Keputusan ijtihad politik memang tidak ada yang bisa menyenangkan semua pihak sejak Islam bersentuhan dengan persoalan politik di awal perkembangannya. Namun demikian, Tuhan senantiasa melihat semua umatnya sebagai orang-orang yang beruntung dalam dimensi yang lebih luas baik dunia maupun akherat. Bisa saja di dunia bertengkar tentang benar dan salah menilai suatu persoalan tertentu. Meskipun demikian, umat Rasululah akan menjadi kekasih Allah dan Rasul-Nya di akherat. Sebab mereka mempunyai mutiara dalam hati nya berupa kecintaan yang agung kepada Allah dan Rasul-Nya.

Berbeda orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka senantiasa mengalami kegelapan meskipun dalam kehidupan yang penuh dengan cahaya peradaban semu di dunia. Mereka itu hidup menderita selamanya di akherat kelak.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876