
اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ.
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ
ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ
“Merekalah yang mendapat
petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Sesungguhnya orang-orang yang
kufur itu sama saja bagi mereka, apakah engkau (Nabi Muhammad) beri peringatan
atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman”.
Tulisan ke delapan ini adalah
sambungan dari beberapa tulisan beberapa waktu lalu yang banyak memfokuskan ada
suasana Idul Fitri dan Bulan Syawal. Kini penulis mencoba melihat kembali
suasana kehidupan yang sangat dinamis dan terus terjadi persaingan baik secara
terang terangan maupun secara sembunyi sembunyi. Kedua jenis persaingan mempunyai
tujuan untuk mendapat kemulyaan (muflihuun).
Agama adalah petunjuk bagi orang orang
bertakwa. Penulis kadang memahami ketika ada orang yang disebut mutaqin
adalah orang-orang yang secara perilaku merupakan orang-orang yang terjaga dari
segala maksiat, tidak mau menyakiti diri sendiri (apalagi orang lain), taat
beribadah dan senantiasa selalu melahirkan prestasi-prestasi unggul (amalun
sholihun). Penulis sering mendengar para khatib dan penceramah menyampaikan
uraian ayat-ayat Al-Qur’an terbayang dalam benak ku: “Betapa mulia nya dia
bisa menyampaikan pesan-pesan agung kepada umat manusia”. Hati kecilku
kadang berkata juga: “Sungguh para pendakwah, penceramah adalah orang-orang
pilihan yang telah mencapai level mutaqin”. Saat melihat diri sendiri, saya
terkadang malu betapa sangat jauh dari kesempurnaan lesan yang fasih, perilaku
yang pantas menjadi suri tauladan dan betapa jauh dari kata “amalun
sholihun”.
Benarkah makna mutaqin
sedemikian sempurna sehingga para pendosa tidak disebut mutaqin. Benarkah
mutaqin hanya untuk orang orang tergolong darah biru, para ilmuwan dan
ara ahli ibadah saja. Jika ia berapa prosentase orang-orang yang masuk kelompok
darah biru, kaum bangsawan dan ilmuwan jika dibandingkan dengan rakyat biasa? Ternyata
tidaklah demikian. Tuhan telah meletakan status takwa kepada siapapun yang
menghendakinya.
Ketika anda membaca kitab Al-Hikam
Syeikh Athailah akan menemukan bahwa orang-orang mutaqin adalah orang yang
mempunyai kejernihan tauhid yang baik. Jika anda membaca kitab Ihya ‘Ulumudin al-Ghozali
akan menemukan bahwa tauhid, tasawuf dan akhlak harus menyatu dalam gerak
langkah kehidupan sehari-hari. Kedua buku ini seolah-olah membentuk manusia
asing di tengah keramaian manusia yang super aktif dengan segala aktivitasnya. Seolah-olah
mereka adalah manusia yang terpinggirkan dari hiruk-pikuk manusia. Bahkan kadang
diartikan sudah tidak peduli lagi dengan kehidupan dunia dan segala aktivitas
yang ada. Hidup seolah-olah cukup beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah
swt. Ketika anda membaca Al-Muqadimah Ibnu Khaldun akan menemukan kisah pada
diri nya dan kekuasaan pada masa nya yang penuh intrik dan tipu muslihat serta
saling menjatuhkan baik dari internal negaranya maupun dari unsur eksternal. Sang
Penulis kitab ini juga ikut menjadi bagian orang-orang yang telah melakukan
segala kegiatan politik kekuasaan dengan cara-cara yang tidak semestinya ia
lakukan. Ia menyadarinya, bahwa resiko dalam mewujudkan eksistensi kekuasaan
memang tidak sesederhana teori para ilmuwan dan ulama yang tidak lepas dari
dinamika yang sangat memilukan. Perjalanan politik kekuasaan sejati sebenarnya
terletak pada kitab Ibnu Khaldun bukan pada kitab Al-Ahkam Sulthaniyah
Al-Mawardi, Al-Hikam Athailah, Almadinah Alfadilah Al-Farabi atau Ihya
‘Ulumuddin al-Ghozali. Kitab-kitab agung karya para ulama tersebut telah
mengajarkan etika seorang ulama dan umaro atas dasar-dasar ajaran Islam. Namun,
Ibnu Khaldun membuktikan secara realistis bahwa perjalanan politik kekuasaan
mempunyai nilai-nilai tersendiri yang terkadang membutuhkan tafsir-tafsir ulang
dalam mengartikan persoalan moral, etika atau akhlak dalam kehidupan bernegara,
berbangsa dan bermasyarakat.
Penulis tentu saja akan melihat dua
perspektif yang berbeda saat melihat para orang-orang sholihin. Pada perspektif
religiusitas, mereka adalah hamba-hamba allah yang senantiasa mengabdi
kepada-nya. Kita bisa membaca kisah mereka dalam ayat al-qur’an dan hadist nabi
tentang pola kehidupan nya. Lihat bagaimana para sahabat nabi menghabiskan
malam untuk bermunajat kepada allah. Di antara mereka ada yang menangis
tersedu-sedu karena mengenang dosa-dosa nya dan besar ampunan-Nya. Ada seorang sahabat
nabi yang baru saja menjalankan aqad nikah dan belum melalui indahnya malam
pertama, dengan cepat-cepat mengambil senjata dan pergi berjihad fi sabilillah.
Ada juga seorang sahabat nabi yang sedang menikmati makanan kurma, lalu
menghentikan makan dan bersegera menuju ke medan pertempuran. Sungguh suatu
kisah yang sangat sulit ditemukan dalam sejarah kesetiaan seorang penganut
agama dan mahabah kepada pimpinannya, yaitu rasulullah saw.
Perspektif tersebut akan menemukan
hidup mereka sangat sempurna. Dan memang demikian kesempurnaan pada masa nya. Mereka
mempunyai pandangan yang natural menterjemahkan firman dan hadist-hadist nabi Muhammad
saw. Itu sebabnya, kanjeng nabi tersenyum ketika melihat para sahabat yang
telah melaksanakan perintah-perintahnya dengan tulus ikhlas.
Namun pada perspektif sosial-politik
nabi juga pernah menangis tersedu-sedu. Pada suatu waktu, Sang Nabi yang sangat
mulia ini terus mencium pipi cucu nya Hasan-Husain. Sang Rasul mencium bukan
dengan senyuman, tapi dengan tangisan. Sebab Allah telah memperlihatkan
sebagian dari rahasia kehidupannya tentang suatu peristiwa-peristiwa pahit yang
menyakitkan hatinya, anak nya dan cucu-cucunya. Namun, peristiwa tersebut
memang harus terjadi dan harus tabah menerima kejadian tersebut. Dan kejadian
itu adalah peristiwa Padang Karbala. Cucu Rasulullah meninggal dengan mengenaskan.
Penulis sebagaimana anda boleh
berontak hatinya dan menggugat peristiwa ini sebagai suatu hal yang sangat
menyakitkan dan jauh dari makna muflihun sebagaimana yang ada dalam Al-Qur’an. Namun perjalanan sejarah peradaban Islam memang
tidak bisa menghidar dari perjalanan yang berliku, terjal, mendaki, menurun dan
kadang melukai telapak kaki hingga keluar darah segar. Sakit, sangat sakit
sekali. Perjalanan panjang yang kadang tidak menyediakan obat merah, kain
pembalut kulit dan sejenisnya. Luka nya terkadang sangat menyiksa dalam
perjalanan, tapi itu semua memang harus dilalui sebagai episode kehidupan untuk
mencapai suatu tujuan hidup.
Itu adalah fakta sejarah. Ketika kita
hanya merujuk kisah Ibnu Khaldun terkadang hati bisa gonjang hatinya meletakan
makna mutaqin yang sempurna. Tuhan pun menghadirkan para ilmuwan yang sekaligus
‘arifin melihat dengan kebersihan hati. Ulama ini mengajarkan bahwa semua
kehidupan sudah ditulis oleh Allah dan sudah mendapatkan tempat mereka
masing-masing. Perdebatan, pertikaian bahkan peperangan dan saling bunuh
membunuh adalah syariat kehidupan dan akan mendapatkan putusan-putusan
aturan-aturan kehidupan. Itulah syariat yang memutuskan segala persoalan yang
bisa dilihat dari kasat mata kita.
Allah tidak selalu memutuskan
persoalan yang terlihat secara kasat mata dengan putusan sebagaimana yang kita
lihat. Tuhan meletakan hakikat hubungan kita yang sejati pada “qulubuhum”.
Itu sebabnya, ketika nabi meng-qishas seorang sahabat karena melakukan suatu
kesalahan dan sebagian sahabat mengejek nya, maka Rasulullah marah. Menurutnya,
orang yang dihukum atas kesalahannya hakikatnya telah diampuni dosa-dosa nya
dan ia bisa menjadi mulia dalam pandangan Allah swt.
Dalam kasat mata kita melihat
pertikaian dari dulu sampai sekarang tidak juga berhenti. Perdebatan politik
tentang siapa yang pantas menjadi pemimpin dari dulu sampai sekarang terus saja
terjadi dan saling mengklaim pihaknya yang paling mendekati syariat-syariat Islam.
Saling klaim akan terus terjadi dan ini bagian dari ijtihad politik. Nabi
mengatakan bahwa setiap jihad umatnya senantiasa mendapatkan pahala, benar
dapat pahala dua dan salah dapat pahala satu.
Kini bangsa Indonesia telah memutuskan
ijtihad politik berbeda-beda. Para ulama telah memberikan ijtihad masing-masing
dan memutuskan dengan argumentasi syariat yang diyakini sebagai kebenaran. Keputusan-keputusan
ijtihad yang kemudian diikuti proses politik melahirkan pemimpin baru yaitu Prabowo
Subianto Dan Gibran Rakabuming Raka menjadi presiden-wakil presiden 2024-2029. Keputusan
ijtihad politik memang tidak ada yang bisa menyenangkan semua pihak sejak Islam
bersentuhan dengan persoalan politik di awal perkembangannya. Namun demikian, Tuhan
senantiasa melihat semua umatnya sebagai orang-orang yang beruntung dalam
dimensi yang lebih luas baik dunia maupun akherat. Bisa saja di dunia
bertengkar tentang benar dan salah menilai suatu persoalan tertentu. Meskipun demikian,
umat Rasululah akan menjadi kekasih Allah dan Rasul-Nya di akherat. Sebab mereka
mempunyai mutiara dalam hati nya berupa kecintaan yang agung kepada Allah dan
Rasul-Nya.
Berbeda orang-orang yang tidak
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka senantiasa mengalami kegelapan
meskipun dalam kehidupan yang penuh dengan cahaya peradaban semu di dunia. Mereka
itu hidup menderita selamanya di akherat kelak.
Penulis : Imam Ghozali
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876