
Hasal Basri merupakan ulama
al-‘alamin dan auliya’ as-sholihin. Di antara tradisi beliau ketika
selesai menutup majelis ta’lim nya, dia selalu membaca doa sebagai berikut:
Ya Allah…!
Bersihkanlah hati kami dari sombong, nifak, riya’, sum’ah dan dari ragu pada
agamamu. Ya Allah...!, tetapkanlah hati kami pada agama Mu jadikanlah agama
kami, agama yang kuat.
Penulis melihat keagungan yang
sangat luarbiasa pada dirinya. Para ulama pada masa hidupnya dan sesudahnya
telah menempatkan dirinya sebagai ulama segala macam ilmu, ‘abid yang sholeh
dan orator yang sangat faseh lidahnya, postur tubuh yang indah serta wajah yang
tampan. Kesempurnaan ada pada dirinya. Kekempurnaannya semakin lengkap atas
sikap tawadhu yang ia terapkan. Hal ini tergambar pada doa yang ia panjatkan
setiap waktu saat mengisi majlis ta’limnya.
Hasan Basri telah mendapat qalbu
bercahaya dengan ilmu, iman dan amal. Mahabah sangat dalam kepada Allah dan Rasul-Nya.
Laksana sebuah ruang, seluruh cahaya telah menyinarinya, sehingga tidak ada
kegelapan sebesar dzarrah (atom). Namun dia terus-menerus menundukan
wajah dan merendahkan qalbu di hadapan-Nya dimana ia berada. Ia tidak merasakan
mempunyai apa-apa pada dirinya saat derajat keulamaan dan kewaliaannya diangkat
oleh Allah begitu tinggi. Ia merasakan hanya “sebuah debu” yang dihempas
dan akan hilang ditelan masa. Itu sebabnya tidak pantas sekali pada dirinya
sombong, nifak, riya’, sum’ah atas segala asesoris yang melekat pada dirinya.
Sikap tersebut menunjukan kecerdasan
intelektual dan spiritual Hasan Basri luarbiasa dan konsisten dalam menjalankan
perintah-perintah-Nya. Berikut salah satu bukti konsistenn yang terekam melalui
ucapanya:
Wahai anak-anak
adam !, jangalah engkau mencari keridhaan orang melalui murka Allah, dan
janganlah engkau taat kepada seseorang pada maksiat Allah, dan janganlah engkau
menuju seseorang atas karunia Allah, dan janganlah engkau menyalahkan orang
lain karena engkau tidak mendapatkan pemberian Allah.
Kalimat tersebut merupakan pelajaran
berharga. Saat sebagian manusia sangat mengharapkan pujian dari seseorang dan
melupakan Tuhan dengan mengharapkan sedikit kenikmatan dari manusia tersebut,
maka pada saat itu mereka akan mengalami suatu penderitaan dan ada sisi pada
dirinya ketidaknyamanan dan ketidaktenangan dalam hidupnya. Penderitaan, tidak
nyaman, dan tidak tenang karena mereka bersandar kepada yang seharusnya tidak
menjadi tempat untuk berandar yaitu manusia. Padahal, orang yang dijadikan
tempat bersandar sama-sama manusia yang pada dirinya mempunyai potensi
“berubah-rubah”atas sikap dan keputusannya. Maka, Hasan Basri mengajarkan
tentang sandaran hidup yang paling membahagiakan adalah kepada Allah swt.
Ada juga sebagian orang bersandar
atas kelebihan pada dirinya sendiri. Ada sedikit ilmu dan pengakuan dari
masyarakat yang kemudian disebut dengan beragam istilah seperti pejabat negara,
ulama, direktur, kepala cabang, ASN, dosen dan sebagainya. Kadang kita terjebak
pada hal-hal tersebut, lalu menganggap orang lain tidak pantas untuk
mendapatkan hal tersebut. Lalu muncul penyakit hati yang secara pelan-pelan
tapi pasti telah merusak segala amal kebaikan dan menjadi dirinya termasuk
golongan-golongan manusia yang rugi.
Beragam potensi sejenis itu masih
banyak lagi. Itu adalah fenomena yang bisa terjadi pada manusia dalam beragam status
dan level dalam kehidupan sosial. Kenikmatan dunia yang telah dirasakan selama
hidup ini atau yang masih dibayangkan dalam angan-angan dalam suatu kontestasi
sering melahirkan harapan-harapan optimisme yang begitu besar, juga pada saat
sama juga muncul suatu kedengkian
terselubung dan ketidakikhlasan dirinya ketika kenikmatan tersebut jatuh kepada
orang lain. Laksana Qabil dan Habil. Keduanya adalah manusia terhormat, namun
strategi dan konsep pengambilan putusan yang telah membedakan derajat keagungan
menjadi berbeda.
Itu sebabnya, melalui tulisan sederhana ini, penulis mengajak kepada diri sendiri dan para pembaca, mari senantiasa memohon kepada Allah secara tulus agar pada diri kita tidak ada penyakit sombong, ujub, riya’, sum’ah dan sejenisnya. Tujuannya hanya satu agar dalam ibadah dan berbuat serta amal sholeh lainnya benar-benar hanya mengharapkan ridha Allah swt.
Sebagai penutup penulis teringat syi’ir
Abu Nawas sebagai jalan untuk mengenal hakikat diri sendiri;
Wahai Tuhanku, aku bukanlah ahli
surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim
Maka berilah aku taubat (ampunan)
dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar
Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka
berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan
Umurku ini setiap hari berkurang,
sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya
Wahai, Tuhanku, hambaMu yang berbuat
dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon
kepadaMu
Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah
yang berhak mengampuni,
Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi
aku mengharap selain kepada Engkau?
Penulis : Imam Ghozali
Belajar Menyadari: Kekasih Mu, Belum Tentu Jodoh Mu
24 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   173
Hikmah di Balik Kisah Asmara
15 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   179
Ketika Ayah Berpoligami
13 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   148
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1152
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   734
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14341
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6059
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5499
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4673
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4435