Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Doa Hasan Basri dalam Memperkuat Pribadi yang Agung



Minggu , 24 Maret 2024



Telah dibaca :  848

Hasal Basri merupakan ulama al-‘alamin dan auliya’ as-sholihin. Di antara tradisi beliau ketika selesai menutup majelis ta’lim nya, dia selalu membaca doa sebagai berikut:

Ya Allah…! Bersihkanlah hati kami dari sombong, nifak, riya’, sum’ah dan dari ragu pada agamamu. Ya Allah...!, tetapkanlah hati kami pada agama Mu jadikanlah agama kami, agama yang kuat.

Penulis melihat keagungan yang sangat luarbiasa pada dirinya. Para ulama pada masa hidupnya dan sesudahnya telah menempatkan dirinya sebagai ulama segala macam ilmu, ‘abid yang sholeh dan orator yang sangat faseh lidahnya, postur tubuh yang indah serta wajah yang tampan. Kesempurnaan ada pada dirinya. Kekempurnaannya semakin lengkap atas sikap tawadhu yang ia terapkan. Hal ini tergambar pada doa yang ia panjatkan setiap waktu saat mengisi majlis ta’limnya.

Hasan Basri telah mendapat qalbu bercahaya dengan ilmu, iman dan amal. Mahabah sangat dalam kepada Allah dan Rasul-Nya. Laksana sebuah ruang, seluruh cahaya telah menyinarinya, sehingga tidak ada kegelapan sebesar dzarrah (atom). Namun dia terus-menerus menundukan wajah dan merendahkan qalbu di hadapan-Nya dimana ia berada. Ia tidak merasakan mempunyai apa-apa pada dirinya saat derajat keulamaan dan kewaliaannya diangkat oleh Allah begitu tinggi. Ia merasakan hanya “sebuah debu” yang dihempas dan akan hilang ditelan masa. Itu sebabnya tidak pantas sekali pada dirinya sombong, nifak, riya’, sum’ah atas segala asesoris yang melekat pada dirinya.

Sikap tersebut menunjukan kecerdasan intelektual dan spiritual Hasan Basri luarbiasa dan konsisten dalam menjalankan perintah-perintah-Nya. Berikut salah satu bukti konsistenn yang terekam melalui ucapanya:

Wahai anak-anak adam !, jangalah engkau mencari keridhaan orang melalui murka Allah, dan janganlah engkau taat kepada seseorang pada maksiat Allah, dan janganlah engkau menuju seseorang atas karunia Allah, dan janganlah engkau menyalahkan orang lain karena engkau tidak mendapatkan pemberian Allah.

Kalimat tersebut merupakan pelajaran berharga. Saat sebagian manusia sangat mengharapkan pujian dari seseorang dan melupakan Tuhan dengan mengharapkan sedikit kenikmatan dari manusia tersebut, maka pada saat itu mereka akan mengalami suatu penderitaan dan ada sisi pada dirinya ketidaknyamanan dan ketidaktenangan dalam hidupnya. Penderitaan, tidak nyaman, dan tidak tenang karena mereka bersandar kepada yang seharusnya tidak menjadi tempat untuk berandar yaitu manusia. Padahal, orang yang dijadikan tempat bersandar sama-sama manusia yang pada dirinya mempunyai potensi “berubah-rubah”atas sikap dan keputusannya. Maka, Hasan Basri mengajarkan tentang sandaran hidup yang paling membahagiakan adalah kepada Allah swt.

Ada juga sebagian orang bersandar atas kelebihan pada dirinya sendiri. Ada sedikit ilmu dan pengakuan dari masyarakat yang kemudian disebut dengan beragam istilah seperti pejabat negara, ulama, direktur, kepala cabang, ASN, dosen dan sebagainya. Kadang kita terjebak pada hal-hal tersebut, lalu menganggap orang lain tidak pantas untuk mendapatkan hal tersebut. Lalu muncul penyakit hati yang secara pelan-pelan tapi pasti telah merusak segala amal kebaikan dan menjadi dirinya termasuk golongan-golongan manusia yang rugi.

Beragam potensi sejenis itu masih banyak lagi. Itu adalah fenomena yang bisa terjadi pada manusia dalam beragam status dan level dalam kehidupan sosial. Kenikmatan dunia yang telah dirasakan selama hidup ini atau yang masih dibayangkan dalam angan-angan dalam suatu kontestasi sering melahirkan harapan-harapan optimisme yang begitu besar, juga pada saat sama juga  muncul suatu kedengkian terselubung dan ketidakikhlasan dirinya ketika kenikmatan tersebut jatuh kepada orang lain. Laksana Qabil dan Habil. Keduanya adalah manusia terhormat, namun strategi dan konsep pengambilan putusan yang telah membedakan derajat keagungan menjadi berbeda.

Itu sebabnya, melalui tulisan sederhana ini, penulis mengajak kepada diri sendiri dan para pembaca, mari senantiasa memohon  kepada Allah secara tulus agar pada diri kita tidak ada penyakit sombong, ujub, riya’, sum’ah dan sejenisnya. Tujuannya hanya satu agar dalam ibadah dan berbuat serta amal sholeh lainnya benar-benar hanya mengharapkan ridha Allah swt.

Sebagai penutup penulis teringat syi’ir Abu Nawas sebagai jalan untuk mengenal hakikat diri sendiri;

Wahai Tuhanku, aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim

Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar

Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan

Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya

Wahai, Tuhanku, hambaMu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepadaMu

Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni,

Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?




Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Belajar Menyadari: Kekasih Mu, Belum Tentu Jodoh Mu
24 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   173

Hikmah di Balik Kisah Asmara
15 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   179

Ketika Ayah Berpoligami
13 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   148

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1152

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   734

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14341


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6059


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5499


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4435