
Kalian pasti mendengar doa iftitah bukan?
Doa yang selalu dibaca saat melaksanakan sholat, ketika sebelum membaca surat
al-fatehah pada raka’at pertama. Untuk lebih jelasnya, ini bacaan doa iftitah
dalam hadist di Musnad Ahmad ibn Hanbal [764]:
عَنْ عَلِى بْنِ اَبِى طَالِبٍ رَضِىَ اللهُ
عَنْهَ اَنَّ النّبِىَّ صلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ اِذَا اسْتفْتَحَ
الصَّلَاةَ يَكْبَرُ وَيَقُوْلُ: وَجَهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَوَاتِ
وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ اِنَّ صَلَاتِى
وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى للّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لَا شَرِىْكَ لَهُ
وَبِذَلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ (مسند احمد بن حنبل)
Artinya:
Diriwayatkan dari Sayyidina Ali RA, bahwa sesungguhnya
Rasulullah S.A.W ketika memulai sholat, beliau bertakbir untuk sholat. Lalu beliau
membaca(doa yang artinya), “Aku hadapkan wajahku pada dzat yang menciptakan
langit dan bumi dalam keadaan berserah diri, ibadahku, hidupku dan matiku
(hanya) untuk Allah Sang Penguasa Alam Semesta. Tak ada sekutu bagi-Nya. Dari
itulah aku disuruh(untuk mentauhidkan-Nya) dan aku termasuk orang-orang yang
berserah diri”(Musnad Ahmad bin Hanbal, [764]).
Ada hadist dalam Musnad Ahmad ibn Hanbal[3499]:
“Dari Ibn ‘Umar Ia berkata, “Ketika kamu sholat
bersama Rasulullah S.A.W tiba-tiba ada seorang laki-laki membaca allahu
akbar kabira wal hamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukratan wa ashila”. Mendengar
doa ini Rasulullah S.A.W bertanya,”Siapa yang membaca doa tersebut?” Seorang
laki-laki menjawab,”Saya Wahai Rasulullah S.A.W”. Rasulullah S.A.W kemudian
bersabda, “Saya kagum pada doa yang dibaca karena pintu langit terbuka sebab do’a
tersebut”. Ibn ‘Umar R.A berkata, “Sejak saya mendengar sabda Rasulullah S.A.W itulah,
aku tidak pernah meninggalkan doa tersebut” (Musnad Ahmad bin Hambal, [3499]).
Para sahabat-sahabat ku, semoga aktivitas kita
senantiasa mendapatkan keberkahan dan keridhaan dari Allah S.W.T, Amin.
Jika kita memperhatikan salah satu bacaan dalam sholat
tersebut di atas, maka saya bisa membayangkan sahabat nabi telah memahami
konsep hidup sebagai “sangkan paraning dumadi”, tentang siapa hakikat
manusia, dan akan kemana kehidupan akan berlanjut dan kepada siapa manusia akan
kembali.
Bacaan doa iftitah yang dibaca oleh sabahat nabi. Kemudian “dilanggengkan” setiap sholat lima waktu oleh Ibnu ‘Umar dan mayoritas muslim di Dunia, bukan
sebatas bacaan kosong tanpa makna. Doa tersebut adalah kumpulan mahabah atau
syair percintaan tingkat tinggi. Jika jurus Pencak Silat, ini Jurus Tingkat
Dewa. Jika dianalogikan sebuah wadah, ada empat wadah. Satu wadah warna hijau,
kedua merah, ketiga putih, keempat biru. Wadah satu isinya sholat. Wadah kedua
isinya ibadah. Wadah ketiga isinya hidup di dunia. Wadah keempat adalah akhir
kehidupan. Semua wadah beda isinya tapi satu tujuan, satu rasa, satu cinta.
Gambaran sederhana, saya akan menggambarkan kisah Abu
Nawas di bawah ini. begini ceritanya.
“Suatu hari, Abu Nawas mengadakan pesta pernikahan
dirinya. Pesta nya sederhana. Semua teman-teman dekatnya diundang ke rumah nya.
Penasaran ingin mengetahui istri nya. Karena Abu Nawas lucu, bisa jadi wajah
istrinya pun tidak jauh berbeda. Kata orang, jika wajah suami-istri agak
mirip-mirip, maka jarang “cek-cok”, tapi jika wajah suami-istri tidak
mirip, sering terjadi “cek-cok”. Itu gosip saja. anggap angin lalu. Jika
toh memang kenyataan begitu, anggap saja karena kebetulan.hhhh.
Para sahabatnya masuk rumah. Abu Nawas dan
istri duduk berdampingan di pelaminan. Semua yang hadir saling berpandangan. Ada
yang bisik-bisik, tertawa terkekeh-kekeh, ada juga yang tidak mampu menahan
guyonan teman sebelah nya. Sehingga harus keluar sebentar karena tidak kuat
menahan lelucon. Bagaimana tidak tertawa, Abu Nawas tampan dan berkulit putih
mancung, istrinya (mohon maaf) hidung nya besar dan matanya lebar serta berkulit hitam. Ini yang
membuat suasana jadi ramai. Abu Nawas diam saja. Hanya senyum yang selalu
diberikan kepada istri dan kawan-kawannya. Baginya, "dunia milik berdua".
Ma’lumlah, pengantin suka tampil stand
up comedi, teman nya pun pelawak. Bukan begitu?.
Waktu bertambah siang. Udara mulai panas. Para tamu
mulai terasa haus. Tidak beberapa lama, prasmanan sudah siap. Abu Nawas mempersilahkan teman-teman menyantap hidangan. Hanya yang sedikit janggal, bentuk makanan dan jenisnya
sama. Tapi warna nya berbeda. Semua penasaran. Mereka pun menyicipi satu-satu
yang berbeda warna. Tapi semua rasanya sama, Berbeda warna.
Ada teman yang suka banyol pun bertanya kepada
abu nawas tentang hidangan yang dianggap out the box.
“Wahai Abu Nawas, apa maksud kamu menghidangkan
makanan. Semua sama rasa nya. Hanya beda warna nya. apa karena kamu belum
gajian atau memang tidak punya biaya sama sekali untuk acara ini” tanya kawan
nya yang sering duet ketika duduk di Pasar.
“Itulah kehidupan. Pasangan suami-istri
adalah laksana hidangan. Berbeda warna, tapi rasanya sama” Jawab Abu Nawas tersenyum
sambil mencubit lengan istri nya. Semua diam berfikir. Tapi tiba-tiba mereka
tertawa terbahak-bahak setelah paham maksud dari Abu Nawas.
“Dasar Abu Nawas, istrinya pun bisa menjadi inspirasi
intelektual” kelakar salah satu temannya.
Sahabat-sahabat ku yang mulia,
Para pembaca artikel ini tentu mempunyai beragam
status sosial. Ada yang masih sekolah, mahasiswa, ada yang drop out, masih
jomblo, kena bentak istri. Masih pengangguran. Sudah ada pekerjaan, jadi PNS, pengusaha,
dosen, rektor, ulama, kiai, pejabat dan lain-lain. Semua adalah warna
kehidupan. Ini sudah sunatullah. Tidak bisa dihapus dari muka bumi. Sehebat apapun
pemimpin, tidak bisa menghilangkan kemiskinan. Mengurangi bisa. Kemiskinan adalah
cara orang kaya bisa berzakat. Orang miskin menolong orang kaya menerima
zakatnya.
Apalagi sekarang,
ada orang kaya berjiwa miskin, dan orang miskin berjiwa kaya. Ada juga orang
miskin berlagak kaya. Semua serba ada di dunia.
Kita bisa menjadi orang yang bersyukur atau kufur. Apapun
kondisi saat ini. Tidak peduli siapapun. Semua sama. Banyak orang yang hidup
nya berkecukupan kufur nikmat. Merasa dirinya belum punya apa-apa. Akhirnya harus
mencari apa-apa dengan model apa saja. fakta. Hal yang sama juga dengan
orang-orang yang sering disebut fuqoro masaakini.
Ternyata ending dari segala perilaku
kita sama; syukur dan kufur. Kedua nya telah digariskan bawaih dalam doa
iftitah tentang konsep hidup. apapun kondisi kita saat sekarang ini, formula
hidup belajar disederhanakan sebagai berikut: kita lahir, ibadah, bekerja,
punya istri, anak, keturunan dan jabatan. Semua itu akan kembali kepada Sang
Pencipta Alam Semesta yaitu Allah S.W.T.
Doa iftitah mengajari kepada kita, mbok yo
hidup harus mempunyai prinsip yang jelas. Ngongo yo ngono, nanging ojo ngono.
Hidup boleh berlaku apa saja. Tapi perlaku itu bisa dipertanggungjawabkan di
hadapan-Nya. Jika kita bisa senang hidup di dunia ini, buatlah program agar
bisa senang di hadapan-Nya. Jika hari ini belum merasa senang, jadikan hati cahaya
mahabah kepada-Nya. Agar cahaya barokah “mluber” dari seluruh penjuru
mata angin. Sebab Tuhan selalu memperhatikan kekasih-kekasih-Nya saat orang
lain ( bisa jadi) tidak mengetahui bahwa dirinya adalah kekasih-Nya. Salah satu
formula menjadi kekasih Allah yaitu mengamalkan konsep hidup doa iftitah, “Sesungguhnya
sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Sang Penguasa Alam
Semesta.”
Selatpanjang, 27 Agustus 2023
Penulis : Imam Ghozali
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   329
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   186
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2976
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879