Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

352 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Doa Untuk Saudaraku Yang Terkena Musibah



Jumat , 28 November 2025



Telah dibaca :  482

Jam menunjukan pukul 17.50, saya menutup file draf buku “biografi ulama” yang harus masuk ke penerbit pada pertengahan bulan desember. Belum selesai menulis nya. Tapi tangan gatel ingin mengungkapkan isi hati tentang situasi jagat raya yang sudah tua. Musibah kemanusiaan akibat bencana alam yang terjadi di berbagai negara. Saya baru saja mendapatkan data dari media online Kompas. Banjir telah melumpuhkan negara di Asia Tenggara-Indonesia, Thailand, Malaysia. Saya juga melihat kabar dari media online, media sosial dan media elektronik, Ada jalan gunung meletus, Jalan Tol ambruk, banjir di berbagai daerah hampir menenggelamkan rumah, angin puting beliung telah merobohkan pohon-pohon di pinggir jalan, papan iklan, dan rumah-rumah penduduk.

Beberapa hari lalu hujan sangat lebat. Hujan di malam hari disertai angin kencang dan petir sangat keras dan membuat dada berdebar kencang. Terdengar keras terasa dekat sekali jarak seperti persis di atas atap rumah. Istri dan anak-anak ketakutan. Saya pun terkadang ada perasaan sama. Namun saya selalu mengajak kepada istri dan anak-anak untuk wiridan dan membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. 

video bencana alam seolah-olah tanpa jeda. Ada video berupa putaran angin sangat kuat berwarna putih disertai campuran air hujan. Ada juga video pohon-pohon tumbang, mobil dan kendaraan  hanyut terbawa banjir, dan kuatnya angin menyapu semuanya tanpa ampun.

Anda mungkin melihat semua itu dengan kengerian yang sangat tinggi, tapi tidak sampai pada kesedihan hati yang mendalam. Mungkin karena anda atau kita belum pernah merasakan nasib seperti mereka. Jadi semua kejadian tersebut hanya sebatas angin lalu saja.

Jika kita belajar sedikit meresapi kejadian tersebut, mungkin kita bisa sedikit mempunyai empati atau ikut larut dalam kesedihan. Saat kita melihat rumah tenggelam oleh banjir bandang dan rusak diterjang angin putting beliung, bisa jadi di antara mereka belum lunas pinjam uang di Bank untuk membuat rumah atau pinjam ke teman atau saudara nya yang setiap hari nya selalu ditanya kapan mengembalikan pinjaman tersebut.

Bisa jadi, mobil-mobil dan kendaraan lain yang terendam adalah mobil listrik yang harga nya ratusan juta dan masih kredit di Bank. Bisa jadi, kebun-kebun dan usaha-usaha lain hampir saja panen tiba-tiba terendam semua dan busuk tidak bisa dipanen. Rugi hingga ratusan bahkan milyaran rupiah.

Banjir dan bencana yang terlihat di depan mata membuat hati kita seolah-olah ikut larut dalam kesedihan. Kesedihan mereka juga kesedihan kita.

Namun,……..

Kita juga berfikir secara realistis: “Kenapa ada bencana alam terjadi?”

Apakah karena pelaku para pejabat yang tidak amanah?

Apakah pelaku ulama yang sudah kehilangan rasa takut kepada Tuhan dan lebih takut kepada makhluk?

Apakah para penegak hukum yang sudah tidak lagi melihat apakah hukum itu tegak, bengkok, atau tidak ada lagi?

Apakah para suami yang sudah tidak lagi menyayangi istrinya atau istri yang sudah tidak patuh kepada suaminya?

Apakah orang tua yang sudah tidak lagi menjadi suri tauladan dan anak-anak sudah tidak lagi berbakti kepada orang tua?

Apakah kita semua yang setiap hari mengumbar maksiat, hati keras dan selalu bertengkar tidak kunjung reda. Apakah kita yang hanya sibuk mencari kesalahan orang lain sedangkan diri sendiri tidak melihat kesalahan diri sendiri?

Apakah kita semua yang telah mengumbar maksiat di media sosial dan kemudian ditonton oleh ribuan atau bahkan jutaan anak-anak hingga kemudian mereka ikut-ikutan maksiat akibat ulah kita?

Bisa jadi bencana karena kelaku kita yang lupa terhadap perintah-perintah Nya. Bisa jadi kita sudah kehilangan kasih sayang dalam hati. Bisa jadi hati kita keras sekali menerima kebenaran. Lalu Tuhan mendatangkan bencana agar kita menyadari kekeliruan kita.

Mari kita beristighfar kepada Allah dan mengakui segala dosa dan kerasnya hati kita untuk menerima pelajaran-pelajaran, nasehat-nasehat dan teguran-teguran dari Allah.

Tulisan ini ditutup dengan doa bermunajat kepada Allah SWT:

"Ya Allah anugerahkan kelembutan hati kami untuk bisa menerima petunjuk dari-Mu. Ampuni dosa-dosa kami. Terima amal kami.Jadikan segala bencana menjadi jalan kebaikan dan jalan diangkat derajat kemuliaan saudara-saudara kami dihadapan-MU. Amin."



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   208

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   176

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   228

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   303

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   149

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13818


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3266