
Jam menunjukan pukul 17.50, saya menutup
file draf buku “biografi ulama” yang harus masuk ke penerbit pada pertengahan
bulan desember. Belum selesai menulis nya. Tapi tangan gatel ingin mengungkapkan isi hati tentang situasi jagat raya yang sudah tua. Musibah kemanusiaan akibat bencana alam yang terjadi di berbagai negara. Saya
baru saja mendapatkan data dari media online Kompas. Banjir telah melumpuhkan negara
di Asia Tenggara-Indonesia, Thailand, Malaysia. Saya juga melihat kabar dari
media online, media sosial dan media elektronik, Ada jalan gunung meletus, Jalan Tol ambruk, banjir di berbagai daerah hampir
menenggelamkan rumah, angin puting beliung telah merobohkan pohon-pohon di
pinggir jalan, papan iklan, dan rumah-rumah penduduk.
Beberapa hari lalu hujan sangat lebat. Hujan
di malam hari disertai angin kencang dan petir sangat keras dan membuat dada
berdebar kencang. Terdengar keras terasa dekat sekali jarak seperti persis di
atas atap rumah. Istri dan anak-anak ketakutan. Saya pun terkadang ada perasaan
sama. Namun saya selalu mengajak kepada istri dan anak-anak untuk wiridan dan
membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
video bencana alam seolah-olah tanpa jeda. Ada video berupa putaran angin sangat kuat berwarna putih disertai campuran air
hujan. Ada juga video pohon-pohon tumbang, mobil dan kendaraan hanyut terbawa banjir, dan kuatnya
angin menyapu semuanya tanpa ampun.
Anda mungkin melihat semua itu dengan
kengerian yang sangat tinggi, tapi tidak sampai pada kesedihan hati yang
mendalam. Mungkin karena anda atau kita belum pernah merasakan nasib seperti mereka. Jadi
semua kejadian tersebut hanya sebatas angin lalu saja.
Jika kita belajar sedikit meresapi kejadian
tersebut, mungkin kita bisa sedikit mempunyai empati atau ikut larut dalam
kesedihan. Saat kita melihat rumah tenggelam oleh banjir bandang dan rusak
diterjang angin putting beliung, bisa jadi di antara mereka belum lunas pinjam
uang di Bank untuk membuat rumah atau pinjam ke teman atau saudara nya yang
setiap hari nya selalu ditanya kapan mengembalikan pinjaman tersebut.
Bisa jadi, mobil-mobil dan kendaraan lain
yang terendam adalah mobil listrik yang harga nya ratusan juta dan masih kredit
di Bank. Bisa jadi, kebun-kebun dan usaha-usaha lain hampir saja panen
tiba-tiba terendam semua dan busuk tidak bisa dipanen. Rugi hingga ratusan
bahkan milyaran rupiah.
Banjir dan bencana yang terlihat di depan
mata membuat hati kita seolah-olah ikut larut dalam kesedihan. Kesedihan mereka
juga kesedihan kita.
Namun,……..
Kita juga berfikir secara realistis: “Kenapa
ada bencana alam terjadi?”
Apakah karena pelaku para pejabat yang
tidak amanah?
Apakah pelaku ulama yang sudah kehilangan
rasa takut kepada Tuhan dan lebih takut kepada makhluk?
Apakah para penegak hukum yang sudah tidak
lagi melihat apakah hukum itu tegak, bengkok, atau tidak ada lagi?
Apakah para suami yang sudah tidak lagi
menyayangi istrinya atau istri yang sudah tidak patuh kepada suaminya?
Apakah orang tua yang sudah tidak lagi
menjadi suri tauladan dan anak-anak sudah tidak lagi berbakti kepada orang tua?
Apakah kita semua yang setiap hari
mengumbar maksiat, hati keras dan selalu bertengkar tidak kunjung reda. Apakah kita
yang hanya sibuk mencari kesalahan orang lain sedangkan diri sendiri tidak melihat
kesalahan diri sendiri?
Apakah kita semua yang telah mengumbar
maksiat di media sosial dan kemudian ditonton oleh ribuan atau bahkan jutaan
anak-anak hingga kemudian mereka ikut-ikutan maksiat akibat ulah kita?
Bisa jadi bencana karena kelaku kita yang lupa
terhadap perintah-perintah Nya. Bisa jadi kita sudah kehilangan kasih sayang
dalam hati. Bisa jadi hati kita keras sekali menerima kebenaran. Lalu Tuhan mendatangkan
bencana agar kita menyadari kekeliruan kita.
Mari kita beristighfar kepada Allah dan mengakui segala dosa dan kerasnya hati kita untuk menerima pelajaran-pelajaran, nasehat-nasehat dan teguran-teguran dari Allah.
Tulisan ini ditutup dengan doa bermunajat kepada Allah SWT:
"Ya Allah anugerahkan kelembutan hati kami untuk bisa menerima petunjuk dari-Mu. Ampuni dosa-dosa kami. Terima amal kami.Jadikan segala bencana menjadi jalan kebaikan dan jalan diangkat derajat kemuliaan saudara-saudara kami dihadapan-MU. Amin."
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   208
Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   176
Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   228
Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   303
Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   149
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13818
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3863
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3518
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3266