Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Dzikir Bersama Wanita Seksi di Bandara Soekarno-Hatta



Sabtu , 19 Agustus 2023



Telah dibaca :  978

Sekitar jam 10.30 saya cek out dari Hotel Virtue Haris Harmoni. Mas Ramadhan sudah menunggu di pinggir jalan dekat Sepeda Ontel. Setelah saya lihat, sepeda ini berfungsi untuk jualan minuman sachet. Sangat kumplit. Dia berdiri di dekat penjual minuman tadi.  Mas ramadhan dulu pernah menjadi siswa saya saat masih menjadi guru di Aliyah Al-Khairiyah Sidomulyo. Kini sudah bergelar doktor pendidikan. Meskipun sudah mencapai pendidikan tertinggi, masih belum berminat menjadi dosen. Sibuk bisnis. Ketika saya tanya alasanya, katanya “ Supaya tidak berharap betul terhadap gaji dosen ketika sudah punya usaha sendiri”. Jawaban cerdas. Mirip-mirip dawuh almarhum Mbah Maimun Zuber. Ma’lum lah, Romadhan adalah santri di salah satu pesantren Nurul Iman di Parung Bogor. Dulu Gus Dur suka datang ke Pesantren ini. Bisa jadi, Jiwa kemandirian dan keikhlasan telah membentuk karakter nya berkah bimbingan pengasuh pesantrennya dan efek ekor dari keikhlasan Gus Dur. Walahu a’lam.

 “Kita naik Grab mas” kata ku kepada nya.

Dia pun segera mencet aplikasi nya. Sekitar 7 menit, mobil sudah datang. Kami naik mobil. Hari ini jalan tidak begitu padat. Mungkin karena 17 Agustus warga Jakarta banyak yang liburan. Tetap macet. Tapi tidak separah waktu berangkat atau pulang kerja. Saya duduk sambil memandang kota Jakarta. Udara terlihat kurang baik. Bangunan sangat Padat, penuh dengan gedung pencakar langit, rumah-rumah warga, ada yang mewah dan kumuh. Dilihat dari atas seperti susunan kubus dan mainan anak-anak. Tidak beraturan. Mblarah dan terasa seperti kurang bersahabat. Ma’lum, ini Pusat Ibu Kota. Pusat orang-orang sibuk memikirkan dirinya, keluarganya dan anak-anak nya. Kebutuhan hidup yang tinggi telah mengikis rasa solidaritas dan empati. Semua seolah-olah berubah menjadi berifat materi, hilang ruh spiritualitas.

“Gus, di Ibu Kota, semua bisa menjadi duit. Bahkan Pengurus Masjid pun punya potensi besar terjadi transaksional saat datang muslim pesta demokrasi” kata Mas Ramadhan yang suka memanggilku dengan kata “Gus”.

“Maksudnya?” tanya ku kepadanya.

“Ada seorang Pengurus Masjid bilang kepada ku. Jika ada seorang calon legislatif ingin mengisi kultum atau ceramah singkat, rembuganya permenit.” Katanya.

“Maksudnya?” saya kurang paham.

Mas Ramadhan memberi isyarat dengan menyatukan jempol dan jari telunjuk. Sebagai simbol duit. Katanya, Pengurus Masjid yang pernah ketemu dengan nya menceritakan bahwa orang-orang yang ingin menjadi legislatif  dan membutuhkan panggung di tempat ibadah, maka hitungan biaya permenit dengan sekian rupiah. Dia tidak menyebut jumlahnya.

“Satu menit, wani piro?” katanya.

Saya kaget. Sebab selama hidup belum pernah menjadi Pengurus Masjid. Saya hanya membayangkan bahwa pengurus masjid adalah orang-orang muttaqin, ahli ibadah dan menjadi petunjuk umat ke siratal mustaqim. Catatan harian Mas Ramadhan menjadi berpikir ulang. apakah masjid sudah berganti status dari ukhuwah islamiyah menjadi ukhuwah fulusiyah. Dari tempat muhasabah berubah menjadi mudhabbah. Dari tempat sakral bercinta dengan Tuhan, menjadi tempat penyimpanan uang. Dari tempat ingin bertemu dengan Sang Pencipta menjadi tempat untuk diskusi masalah Dunia.

Semakin banyak mengajukan pertanyaan, semakin muncul banyak persoalan. Apakah adanya kasus-kasus intoleransi di tengah masyarakat terjadi di tempat ibadah karena fenomena muncul  tuhan-tuhan baru? Wallahu a’lam. Hanya Allah dan Pengurus Masjid yang tahu.

Jam 11.30 sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Ini tempat yang multi suku dan etnis. Demokratis. Semua manusia ada di sini. Ada dari dalam negeri, ada juga dari luar negeri. Sliweran tidak karuan. Saya mengajak Mas Ramadhan makan siang di Restoran. Duduk di kursi berhadap-hadapan. Sambil menunggu pesanan datang, saya melihat-lihat pelanggan. Di sebelah samping kiri berjarak sekitar 7  meter ada wanita cantik mirip Amanda Manopo. Kulit putih, rambut lurus dan badan berisi. Kelihatanya sangat asyik video call dengan seseorang. Di depan saya, juga ada wanita cantik, berkulit putih dan memakai kaos putih. Rambut lurus diikat ke belakang. Dia duduk di area Smoking Room. Mirip seperti artis Gong Li yang super cantik pada masanya. Tangan nya memegang satu batang rokok Rokok Mild yang sudah menyala. jika dilihat dari cara menyedotnya, terlihat sangat menikmati nya. Dia duduk seorang diri. Hanya ditemani secangkir kopi. Di samping saya, ada seorang laki-laki. Berbadan besar, mancung dan tinggi. wajah nya mirip orang Turki atau Tajikistan. Wajah nya bersih. Mulutnya komat-kamit. Bergerak terus. Setelah saya lihat secara serius, kelihatanya dia sedang berdzikir kepada Allah s.w.t.

Selesai makan, saya mencari Mushola. Sholat jamak-qashar dhuhur dan ‘asyar. Selesai sholat, saya duduk-duduk. Baru beberapa menit duduk, lewat di depan ku seorang turis berambut pirang seperti rambut jagung. Berbadan tinggi besar. Memakai kaos oblong dan celana jean.Sudah tua. Minum aqua sambil berjalan, dan kaki seperti diseret-seret. Terasa berat untuk berjalan.

Di belakang lagi, ada rombongan gadis. Memakai jilbab, rapi, memakai kacamata, dan terlihat centil. Teman nya, lebih tua darinya juga memakai jilbab. Kelihatanya lebih anggun.

Datang lagi, ada seorang wanita, berkulit putih. Kaos warna hitam. Celana hitam pendek. Sekilas seperti menyatu antara baju dan celana. Rambut panjang dibiarkan sedikit menutup muka karena sibuk memencet tombol-tombol huruf di WA. Ada lagi, seorang cewek cantik berkulit putih. Memakai baju warna kuning. Dia sangat enjoy. Masa bodoh dengan sekitarnya. Bajunya tipis dan transparan. Model baju seperti terbalik, depan di belakang, belakang di depan. Penampilan yang  membuat laki-laki berimajinasi tidak karuan.  Kecuali ketika sedang duduk bareng sama istrinya. Terlihat menjadi sangat sholeh. Ternyata menjadi manusia sholeh harus dilatih dan dipaksa.

Orang kampung terkadang “gumunan” melihat aneka manusia di Ibu Kota yang semua serba ada. Pemandangan yang beraneka ragam telah membuat dan meraba secara serius seperti apa kualitas kita sebenarnya. Dorongan nafsu berbeda-beda. Semua mengajak kepada angkara murka. Hanya nafsu mutmainah yang mengajak kepada kebaikan. Lagi-lagi ini membutuhkan komitmen yang kuat.

Benarkah  orang kampung gumunan? Bisa jadi. Tapi komitmen untuk menghadirkan Tuhan bukan monopoli kelompok dan geografis tertentu. Tuhan maha adil. Dia sangat mudah bisa hadir di tempat-tempat umum dan kumuh serta dianggap banyak maksiat. Dia juga bisa tidak berkenan menatap para ahli ruku dan ahli sujud sedang di kepala nya Tuhan tidak disenggol sama sekali. Ibadah kadang menjadi kedok untuk membangun prestasi dan prestise agar bisa terlihat sebagai orang yang suci dan pantas menjadi panutan. Namun disisi lain, keserakahan duniawiyah telah didesain sedemikian rupa. Sehingga masyarakat sangat sulit untuk menembus relung hati yang paling dalam. Sebab masyarakat kadang tampil dengan bentuk keluguan dan kepercayaan atas para orang-orang sholeh agar bisa membimbing hidup mereka.

Sayang nya, kini sangat sulit untuk membedakan dimana Tuhan mendekat kepada hamba-hamba-Nya, apakah di tempat suci atau di tempat-tempat umum seperti di Bandara. Dunia media sosial telah berfungsi sebagai malaikat pencatat amal dan memberikan reward dan punishment. Hari ini ada orang sholeh dipuji-puji, namun besok harinya dicaci maki akibat perbuatan tidak terpuji. Hari ini ada orang gelandangan di jalan dipinggirkan tanpa kemanusiaan, hari berikutnya dia menjadi seorang jutawan dan banyak teman. Angin kehidupan sangat sulit ditebak,laksana pergeseran musim hujan dan kemarau panjang.

Jika menuruti akal pikiran, hidup laksana di Padang Mahsyar yang sangat luas. Semua berurusan dengan dirinya sendiri. Jika memang bisa ditamsilkan, hidup saat ini adalah gambaran mini padang mahsyar dunia. banyak yang pusing, stress dengan berbagai persoalan hidupnya. Semua mengalami kebingungan laksana seseorang hanyut dalam arus sungai yang sangat deras. Dia membutuhkan suatu pegangan agar bisa menyelamatkan jiwanya.

Dunia ada yang seperti Masjid, ada juga seperti di Bandara. Kasih sayang Tuhan tidak bertempat. Kita harus melatih diri untuk melihat kesempurnaan orang lain dalam ibadah dan amal sholeh, dan melatih diri akan kurangnya mendekat kepada Sang Pencipta dan amal sholeh. Jika prinsip hidup ini bisa diterapkan, saya merasa bahwa dunia yang penuh warna tidak menjadi larut dalam kubangan kehinaan. Semua bisa mengendalikan diri ketika Tuhan telah bersemayam dalam hati yang paling dalam. Semua akan berlomba-lomba membangun tubuh yang kecil ini agar bisa memberi manfaat kepada sesama manusia dan selamat di dunia dan akherat.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   116

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879