
Sekitar jam 10.30 saya cek out dari Hotel
Virtue Haris Harmoni. Mas Ramadhan sudah menunggu di pinggir jalan dekat Sepeda
Ontel. Setelah saya lihat, sepeda ini berfungsi untuk jualan minuman sachet. Sangat
kumplit. Dia berdiri di dekat penjual minuman tadi. Mas ramadhan dulu pernah menjadi siswa saya
saat masih menjadi guru di Aliyah Al-Khairiyah Sidomulyo. Kini sudah bergelar doktor
pendidikan. Meskipun sudah mencapai pendidikan tertinggi, masih belum berminat
menjadi dosen. Sibuk bisnis. Ketika saya tanya alasanya, katanya “ Supaya tidak
berharap betul terhadap gaji dosen ketika sudah punya usaha sendiri”. Jawaban
cerdas. Mirip-mirip dawuh almarhum Mbah Maimun Zuber. Ma’lum lah, Romadhan adalah
santri di salah satu pesantren Nurul Iman di Parung Bogor. Dulu Gus Dur suka
datang ke Pesantren ini. Bisa jadi, Jiwa kemandirian dan keikhlasan telah
membentuk karakter nya berkah bimbingan pengasuh pesantrennya dan efek ekor
dari keikhlasan Gus Dur. Walahu a’lam.
“Kita
naik Grab mas” kata ku kepada nya.
Dia pun segera mencet aplikasi nya. Sekitar
7 menit, mobil sudah datang. Kami naik mobil. Hari ini jalan tidak begitu
padat. Mungkin karena 17 Agustus warga Jakarta banyak yang liburan. Tetap macet.
Tapi tidak separah waktu berangkat atau pulang kerja. Saya duduk sambil
memandang kota Jakarta. Udara terlihat kurang baik. Bangunan sangat Padat,
penuh dengan gedung pencakar langit, rumah-rumah warga, ada yang mewah dan kumuh.
Dilihat dari atas seperti susunan kubus dan mainan anak-anak. Tidak beraturan.
Mblarah dan terasa seperti kurang bersahabat. Ma’lum, ini Pusat Ibu Kota. Pusat
orang-orang sibuk memikirkan dirinya, keluarganya dan anak-anak nya. Kebutuhan
hidup yang tinggi telah mengikis rasa solidaritas dan empati. Semua seolah-olah
berubah menjadi berifat materi, hilang ruh spiritualitas.
“Gus, di Ibu Kota, semua bisa menjadi duit. Bahkan Pengurus Masjid pun
punya potensi besar terjadi transaksional saat datang muslim pesta demokrasi”
kata Mas Ramadhan yang suka memanggilku dengan kata “Gus”.
“Maksudnya?” tanya ku kepadanya.
“Ada seorang Pengurus Masjid bilang kepada
ku. Jika ada seorang calon legislatif ingin mengisi kultum atau ceramah
singkat, rembuganya permenit.” Katanya.
“Maksudnya?” saya kurang paham.
Mas Ramadhan memberi isyarat dengan
menyatukan jempol dan jari telunjuk. Sebagai simbol duit. Katanya, Pengurus
Masjid yang pernah ketemu dengan nya menceritakan bahwa orang-orang yang ingin
menjadi legislatif dan membutuhkan panggung di tempat ibadah, maka hitungan
biaya permenit dengan sekian rupiah. Dia tidak menyebut jumlahnya.
“Satu menit, wani piro?” katanya.
Saya kaget. Sebab selama hidup belum pernah
menjadi Pengurus Masjid. Saya hanya membayangkan bahwa pengurus masjid adalah
orang-orang muttaqin, ahli ibadah dan menjadi petunjuk umat ke siratal
mustaqim. Catatan harian Mas Ramadhan menjadi berpikir ulang. apakah masjid
sudah berganti status dari ukhuwah islamiyah menjadi ukhuwah fulusiyah.
Dari tempat muhasabah berubah menjadi mudhabbah. Dari tempat sakral
bercinta dengan Tuhan, menjadi tempat penyimpanan uang. Dari tempat ingin
bertemu dengan Sang Pencipta menjadi tempat untuk diskusi masalah Dunia.
Semakin banyak mengajukan pertanyaan, semakin
muncul banyak persoalan. Apakah adanya kasus-kasus intoleransi di tengah
masyarakat terjadi di tempat ibadah karena fenomena muncul tuhan-tuhan baru? Wallahu a’lam. Hanya Allah
dan Pengurus Masjid yang tahu.
Jam 11.30 sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Ini tempat yang multi
suku dan etnis. Demokratis. Semua manusia ada di sini. Ada dari dalam negeri,
ada juga dari luar negeri. Sliweran tidak karuan. Saya mengajak Mas Ramadhan makan
siang di Restoran. Duduk di kursi berhadap-hadapan. Sambil menunggu pesanan datang, saya melihat-lihat pelanggan. Di
sebelah samping kiri berjarak sekitar 7 meter ada wanita cantik mirip Amanda Manopo.
Kulit putih, rambut lurus dan badan berisi. Kelihatanya sangat asyik video call
dengan seseorang. Di depan saya, juga ada wanita cantik, berkulit putih dan memakai
kaos putih. Rambut lurus diikat ke belakang. Dia duduk di area Smoking Room. Mirip seperti artis
Gong Li yang super cantik pada masanya. Tangan nya memegang satu batang rokok Rokok Mild yang sudah menyala. jika dilihat dari cara menyedotnya, terlihat sangat menikmati nya. Dia
duduk seorang diri. Hanya ditemani secangkir kopi. Di samping saya, ada seorang
laki-laki. Berbadan besar, mancung dan tinggi. wajah nya mirip orang Turki atau
Tajikistan. Wajah nya bersih. Mulutnya komat-kamit. Bergerak terus. Setelah
saya lihat secara serius, kelihatanya dia sedang berdzikir kepada Allah s.w.t.
Selesai makan, saya mencari Mushola. Sholat
jamak-qashar dhuhur dan ‘asyar. Selesai sholat, saya duduk-duduk. Baru beberapa
menit duduk, lewat di depan ku seorang turis berambut pirang seperti rambut
jagung. Berbadan tinggi besar. Memakai kaos oblong dan celana jean.Sudah tua.
Minum aqua sambil berjalan, dan kaki seperti diseret-seret. Terasa berat untuk
berjalan.
Di belakang lagi, ada rombongan gadis. Memakai
jilbab, rapi, memakai kacamata, dan terlihat centil. Teman nya, lebih tua
darinya juga memakai jilbab. Kelihatanya lebih anggun.
Datang lagi, ada seorang wanita, berkulit
putih. Kaos warna hitam. Celana hitam pendek. Sekilas seperti menyatu antara
baju dan celana. Rambut panjang dibiarkan sedikit menutup muka karena sibuk
memencet tombol-tombol huruf di WA. Ada lagi, seorang cewek cantik berkulit
putih. Memakai baju warna kuning. Dia sangat enjoy. Masa bodoh dengan
sekitarnya. Bajunya tipis dan transparan. Model baju seperti terbalik, depan di
belakang, belakang di depan. Penampilan yang membuat laki-laki berimajinasi tidak karuan. Kecuali ketika sedang duduk bareng sama istrinya. Terlihat menjadi
sangat sholeh. Ternyata menjadi manusia sholeh harus dilatih dan dipaksa.
Orang kampung terkadang “gumunan” melihat aneka manusia di Ibu
Kota yang semua serba ada. Pemandangan yang beraneka ragam telah membuat dan
meraba secara serius seperti apa kualitas kita sebenarnya. Dorongan nafsu
berbeda-beda. Semua mengajak kepada angkara murka. Hanya nafsu mutmainah yang
mengajak kepada kebaikan. Lagi-lagi ini membutuhkan komitmen yang kuat.
Benarkah orang kampung gumunan?
Bisa jadi. Tapi komitmen untuk menghadirkan Tuhan bukan monopoli kelompok dan
geografis tertentu. Tuhan maha adil. Dia sangat mudah bisa hadir di
tempat-tempat umum dan kumuh serta dianggap banyak maksiat. Dia juga bisa tidak
berkenan menatap para ahli ruku dan ahli sujud sedang di kepala nya Tuhan tidak
disenggol sama sekali. Ibadah kadang menjadi kedok untuk membangun prestasi dan
prestise agar bisa terlihat sebagai orang yang suci dan pantas menjadi panutan.
Namun disisi lain, keserakahan duniawiyah telah didesain sedemikian rupa. Sehingga
masyarakat sangat sulit untuk menembus relung hati yang paling dalam. Sebab masyarakat
kadang tampil dengan bentuk keluguan dan kepercayaan atas para orang-orang sholeh
agar bisa membimbing hidup mereka.
Sayang nya, kini sangat sulit untuk
membedakan dimana Tuhan mendekat kepada hamba-hamba-Nya, apakah di tempat suci
atau di tempat-tempat umum seperti di Bandara. Dunia media sosial telah
berfungsi sebagai malaikat pencatat amal dan memberikan reward dan punishment. Hari
ini ada orang sholeh dipuji-puji, namun besok harinya dicaci maki akibat
perbuatan tidak terpuji. Hari ini ada orang gelandangan di jalan dipinggirkan
tanpa kemanusiaan, hari berikutnya dia menjadi seorang jutawan dan banyak
teman. Angin kehidupan sangat sulit ditebak,laksana pergeseran musim hujan dan
kemarau panjang.
Jika menuruti akal pikiran, hidup laksana
di Padang Mahsyar yang sangat luas. Semua berurusan dengan dirinya sendiri. Jika
memang bisa ditamsilkan, hidup saat ini adalah gambaran mini padang mahsyar
dunia. banyak yang pusing, stress dengan berbagai persoalan hidupnya. Semua mengalami
kebingungan laksana seseorang hanyut dalam arus sungai yang sangat deras. Dia membutuhkan
suatu pegangan agar bisa menyelamatkan jiwanya.
Dunia ada yang seperti Masjid, ada juga
seperti di Bandara. Kasih sayang Tuhan tidak bertempat. Kita harus melatih diri
untuk melihat kesempurnaan orang lain dalam ibadah dan amal sholeh, dan melatih
diri akan kurangnya mendekat kepada Sang Pencipta dan amal sholeh. Jika prinsip
hidup ini bisa diterapkan, saya merasa bahwa dunia yang penuh warna tidak
menjadi larut dalam kubangan kehinaan. Semua bisa mengendalikan diri ketika Tuhan
telah bersemayam dalam hati yang paling dalam. Semua akan berlomba-lomba
membangun tubuh yang kecil ini agar bisa memberi manfaat kepada sesama manusia
dan selamat di dunia dan akherat.
Penulis : Imam Ghozali
Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   116
Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146
Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214
Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291
Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2977
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879