
Garis tangan manusia adalah hak priogratif Allah Sang Pemilik alam
semesta dan tidak satupun makhluk dapat merekayasanya. Kekuatan do`a maupun
amaliyah makhluk merupakan sebuah ikhtiar yang harus dilakukan seraya menjadi
tanda kesyukuran karena telah diberikan kekuatan baik fisik maupun akal.
Berapa banyak profesi manusia di jagat raya ini, dari berbagai
macam jabatan yang dimiliki pada tataran sosial yang tentunya tidak hanya ditentukan
oleh titel yang diraih tapi juga ada sebab-sebab lannya. Begitu pula
kejayaan,kemuliaan yang dimilikii manusia tidak dapat dipastikan oleh satu
sebab saja melainkan ditentukan oleh Sang Pengatur hakiki.
Jika masing-masing orang dapat menuliskan pengalaman yang
dialaminya, tentulah masing-masing memiliki jalan cerita yang berbeda-beda.
Walaupun ada kesamaan pastinya tidak pada alur yang sama persis, setidaknya
terjadi pada peristiwa,tempat maupun sebab yang berbeda. Itulah yang disebut
skenario Allah yang melebihi dari sutradara-sutradara dari golongan manusia.
Seakan dapat dikatakan bahwa setiap manusia telah ditentukan skenario
masing-masing.
Keinginanku menggoreskan tulisan ini, ketika saya melakukan sebuah
perjalanan yang menjadi rutinitas dan tugas menjadi bagian dari salah satu
profesi yang tentunya merupakan ketentuan dan ketetapan takdir dari Pencipta.
Dalam salah satu perjalanan pulang dan pergi dengan mengendarai mobil dinas
yang ketepatan menjadi fasilitas yang diberikan institusi kepada saya, banyak
fenomena yang menjadi renungan dan pemikiran pada benak ini, dan sesekali
menjadi tema/topik pembicaraan bersama kawan-kawan seprofesi yang ketepatan
melakukan perjalanan yang sama.
Sambil menunggu antrian roro Air Putih Bengkalis-Sei Selari Bukit
Batu, di bawah teriknya matahari kala itu yang dirasa cukup lama dan tak tau
sebab pastinya karena seakan setiap hari masalahnya kadang berbeda-beda. Sambil
duduk di dalam mobil saya perhatikan lalu lalang manusia sambil menunggu
antrian, melihat berbagai penampilan mereka saya menyimpulkan banyak sekali
profesi mereka yang kepatan waktu itu sama-sama melakukan perjalanan. Terlihat
dari raut wajah mereka ada yang sambil mengobrol satu sama lain dan sesekali
diringi dengan tawaan terbahak maupun senyuman. Ada juga yang serius karena
berjalan kaki yang diikuti anggota keluarganya dengan sambil menggendong anak
dalam suasana terik, terlihat agak begitu kesulitan dan harus berjuang melawan
keriuhan berjebalan arus penumpang. Ada juga pengendara roda dua, baik sendiri
maupun berboncengan bahkan ada yang melebihi angkutan karena harus membawa
istri dan dua atau tida anak belum lagi ditambah dengan barang bawaan yang
disangkut ataupun dijinjin istrinya sambil memegangi anaknya.
Pandangan mataku sesekali juga mengarah pada sopir-sopir truk besar
yang harus bersabar mengikuti antrian, terlihat mereka sambi; menghilangkan
kejenuhan keluar berkumpul bersama kawan-kawan sopir lainya sambil menyisingkan
baju kaos ke arah atas ataupun melepaskannya hingga terlihat postur tubuh
mereka yang terlihat kuat dan kekar, mungkin disebabkan latihan fisik atau olah
raga yang tidak secara langsung seiring dengan rutinitas pekerjaan yang
dilakukannya. Begitu pula pandanganku tertuju pada penjual asongan minuman dan
camilan baik laki-laki, perempuan yang dengan gesitnya mereka menjajakan
keliling dagangannya.
Yang jelas mereka semua bersamaan melakukan sebuah perjalanan
dengan alasan dan tujuan yang berbeda-beda. Dari penampilan masing-masing
terlihat juga dari latar belakang ekonomi yang berbeda-beda pula. Begitulah
kehidupan masyarakat dan terjadi interaksi satu sama lainya dan pastinya mereka
juga memiliki rizki yang berbeda pula.
Ada juga dalam suasana hiruk pikuk antrian roro tersebut, banyak
terlihat bapak-bapak yang mengais rizki lewat jasa ojek roda dua maupun bentor
yang dimilikinya yang dulunya saya kenali mereka mencari rizki dengan jasa
becak dayung kaki. Dengan berkat keyakinnanya mereka juga masih dapat merasakan
kehidupan sekarang dengan menggunakan fasilitas yang sedikit mudah dengan tidak
lagi mendayung kaki.
Satu jam lebih kami mengikuti antrian tunggu penyeberangan, sambil
merebahkan badan pada kursi sopir mobil, saya berfikir akan takdir ataupun
nasib manusia pastilah merupakan ketapan Allah. Semua diberi rizki sesuai
dengan jatah atau porsi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing makhluk,
yang pasti semua dicukupi tergantung dengan tekat dan jerih payah maupun
ikhtiar yang kita lakukan yang tentunya disikapi dengan keberanian menjalaninya
dan banyak-banyak bersyukur.
Karena lamanya antrian itu dan melihat pengais rizki pedagang
asongan juga jasa bentor dan ojek, saya juga sampai terfikir masa lalu
terutamanya feetback masa lajang yang dulunya bukan siapa-siapa dan tak punya
apa-apa. Bermodalkan keyakinan,kepasrahan kepada Sang Pencipta dan ikhtiar,
Alhamdulillah janji Allah dalam surat al-Insyirah (6) Inna ma`al `usri
yusro, Fa inna ma`al `u`sri yusro (
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan), yang intinya bahwa setelah
kesulitan, pasti akan datang kemudahan. Sebagaimana Prof.Quraish Shihab
menekankan bahwa ayat ini bukanlah hanya janji belaka, namun merupakan sebuah
pernyataan tentang sunnatullah (ketetapan Allah) bahwa kesulitan dan kemudahan
selalu berdampingan dalam kehidupan. Sikap menghadapi kehidupan juga sebagaimana
penjelasan Gus Bahauddin bahwa kita harus memiliki sifat keberanian (pede) dan
membuang rasa ketakutan karena itu sangat berbahaya. Keyakinan dan keberanian
harus didasari bahwa kekuatan langit itu pasti ada, la khoufun wa la
yahzanun.
Pelajaran sangat berharga, dapat kita petik bahwa apapun profesi
/pekerjaan kita merupakan sebuah ikhtiar yang wajib dihadapi dan dilalui.
Jangan pernah takut dengan kehidupan karena hakekat hidup ada yang mengatur dan
menentukan, Dialah Sang Khaliq penguasa alam semesta. Jangan pernah bersedih ketika
ditimpa kekurangan, karena sesungguhnya Allah Maha Rahman dan Rahim kepada
seluruh hambanya Dia pasti yang mencukupkan. Jangan pernah bersedih jika
profesi/pekerjaan dianggap rendah oleh manusia karena derajat tinggi di hadapan
Allah hanyalah taqwa, Jangan pernah bersedih tidak berpangkat dan tidak
memiliki jabatan karena Allah tidak pernah melihat tubuh/jasadmu maupun pakaian
ataupun kedudukanmu, namun hati yang tulus/bersih itulah yang lebih bernilai.
Penulis : Dr.Edi Purnomo,MA
Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   208
Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   227
Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   303
Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   149
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3861
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3518
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258