Avatar

Dr.Edi Purnomo,MA

Penulis Kolom

4 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Garis Tangan Manusia



Selasa , 29 Juli 2025



Telah dibaca :  251

Garis tangan manusia adalah hak priogratif Allah Sang Pemilik alam semesta dan tidak satupun makhluk dapat merekayasanya. Kekuatan do`a maupun amaliyah makhluk merupakan sebuah ikhtiar yang harus dilakukan seraya menjadi tanda kesyukuran karena telah diberikan kekuatan baik fisik maupun akal.

Berapa banyak profesi manusia di jagat raya ini, dari berbagai macam jabatan yang dimiliki pada tataran sosial yang tentunya tidak hanya ditentukan oleh titel yang diraih tapi juga ada sebab-sebab lannya. Begitu pula kejayaan,kemuliaan yang dimilikii manusia tidak dapat dipastikan oleh satu sebab saja melainkan ditentukan oleh Sang Pengatur hakiki.

Jika masing-masing orang dapat menuliskan pengalaman yang dialaminya, tentulah masing-masing memiliki jalan cerita yang berbeda-beda. Walaupun ada kesamaan pastinya tidak pada alur yang sama persis, setidaknya terjadi pada peristiwa,tempat maupun sebab yang berbeda. Itulah yang disebut skenario Allah yang melebihi dari sutradara-sutradara dari golongan manusia. Seakan dapat dikatakan bahwa setiap manusia telah ditentukan skenario masing-masing.

Keinginanku menggoreskan tulisan ini, ketika saya melakukan sebuah perjalanan yang menjadi rutinitas dan tugas menjadi bagian dari salah satu profesi yang tentunya merupakan ketentuan dan ketetapan takdir dari Pencipta. Dalam salah satu perjalanan pulang dan pergi dengan mengendarai mobil dinas yang ketepatan menjadi fasilitas yang diberikan institusi kepada saya, banyak fenomena yang menjadi renungan dan pemikiran pada benak ini, dan sesekali menjadi tema/topik pembicaraan bersama kawan-kawan seprofesi yang ketepatan melakukan perjalanan yang sama.

Sambil menunggu antrian roro Air Putih Bengkalis-Sei Selari Bukit Batu, di bawah teriknya matahari kala itu yang dirasa cukup lama dan tak tau sebab pastinya karena seakan setiap hari masalahnya kadang berbeda-beda. Sambil duduk di dalam mobil saya perhatikan lalu lalang manusia sambil menunggu antrian, melihat berbagai penampilan mereka saya menyimpulkan banyak sekali profesi mereka yang kepatan waktu itu sama-sama melakukan perjalanan. Terlihat dari raut wajah mereka ada yang sambil mengobrol satu sama lain dan sesekali diringi dengan tawaan terbahak maupun senyuman. Ada juga yang serius karena berjalan kaki yang diikuti anggota keluarganya dengan sambil menggendong anak dalam suasana terik, terlihat agak begitu kesulitan dan harus berjuang melawan keriuhan berjebalan arus penumpang. Ada juga pengendara roda dua, baik sendiri maupun berboncengan bahkan ada yang melebihi angkutan karena harus membawa istri dan dua atau tida anak belum lagi ditambah dengan barang bawaan yang disangkut ataupun dijinjin istrinya sambil memegangi anaknya.

Pandangan mataku sesekali juga mengarah pada sopir-sopir truk besar yang harus bersabar mengikuti antrian, terlihat mereka sambi; menghilangkan kejenuhan keluar berkumpul bersama kawan-kawan sopir lainya sambil menyisingkan baju kaos ke arah atas ataupun melepaskannya hingga terlihat postur tubuh mereka yang terlihat kuat dan kekar, mungkin disebabkan latihan fisik atau olah raga yang tidak secara langsung seiring dengan rutinitas pekerjaan yang dilakukannya. Begitu pula pandanganku tertuju pada penjual asongan minuman dan camilan baik laki-laki, perempuan yang dengan gesitnya mereka menjajakan keliling dagangannya.

Yang jelas mereka semua bersamaan melakukan sebuah perjalanan dengan alasan dan tujuan yang berbeda-beda. Dari penampilan masing-masing terlihat juga dari latar belakang ekonomi yang berbeda-beda pula. Begitulah kehidupan masyarakat dan terjadi interaksi satu sama lainya dan pastinya mereka juga memiliki rizki yang berbeda pula.

Ada juga dalam suasana hiruk pikuk antrian roro tersebut, banyak terlihat bapak-bapak yang mengais rizki lewat jasa ojek roda dua maupun bentor yang dimilikinya yang dulunya saya kenali mereka mencari rizki dengan jasa becak dayung kaki. Dengan berkat keyakinnanya mereka juga masih dapat merasakan kehidupan sekarang dengan menggunakan fasilitas yang sedikit mudah dengan tidak lagi mendayung kaki.

Satu jam lebih kami mengikuti antrian tunggu penyeberangan, sambil merebahkan badan pada kursi sopir mobil, saya berfikir akan takdir ataupun nasib manusia pastilah merupakan ketapan Allah. Semua diberi rizki sesuai dengan jatah atau porsi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing makhluk, yang pasti semua dicukupi tergantung dengan tekat dan jerih payah maupun ikhtiar yang kita lakukan yang tentunya disikapi dengan keberanian menjalaninya dan banyak-banyak bersyukur.

Karena lamanya antrian itu dan melihat pengais rizki pedagang asongan juga jasa bentor dan ojek, saya juga sampai terfikir masa lalu terutamanya feetback masa lajang yang dulunya bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa. Bermodalkan keyakinan,kepasrahan kepada Sang Pencipta dan ikhtiar, Alhamdulillah janji Allah dalam surat al-Insyirah (6) Inna ma`al `usri yusro, Fa inna ma`al `u`sri yusro  ( Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan), yang intinya bahwa setelah kesulitan, pasti akan datang kemudahan. Sebagaimana Prof.Quraish Shihab menekankan bahwa ayat ini bukanlah hanya janji belaka, namun merupakan sebuah pernyataan tentang sunnatullah (ketetapan Allah) bahwa kesulitan dan kemudahan selalu berdampingan dalam kehidupan. Sikap menghadapi kehidupan juga sebagaimana penjelasan Gus Bahauddin bahwa kita harus memiliki sifat keberanian (pede) dan membuang rasa ketakutan karena itu sangat berbahaya. Keyakinan dan keberanian harus didasari bahwa kekuatan langit itu pasti ada, la khoufun wa la yahzanun.

Pelajaran sangat berharga, dapat kita petik bahwa apapun profesi /pekerjaan kita merupakan sebuah ikhtiar yang wajib dihadapi dan dilalui. Jangan pernah takut dengan kehidupan karena hakekat hidup ada yang mengatur dan menentukan, Dialah Sang Khaliq penguasa alam semesta. Jangan pernah bersedih ketika ditimpa kekurangan, karena sesungguhnya Allah Maha Rahman dan Rahim kepada seluruh hambanya Dia pasti yang mencukupkan. Jangan pernah bersedih jika profesi/pekerjaan dianggap rendah oleh manusia karena derajat tinggi di hadapan Allah hanyalah taqwa, Jangan pernah bersedih tidak berpangkat dan tidak memiliki jabatan karena Allah tidak pernah melihat tubuh/jasadmu maupun pakaian ataupun kedudukanmu, namun hati yang tulus/bersih itulah yang lebih bernilai.



Penulis : Dr.Edi Purnomo,MA


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   208

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   227

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   303

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   149

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258