
K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah
meninggal dunia 15 tahun lalu. Tapi pemikiran politiknya masih saya ingat.
Tidak semua, sebagian. Antara lain: pertama, politikus sejati tidak punya
dendam; kedua, orientasi politik tidak sebatas kekuasaan tetapi memanusiakan
manusia.
Bisakah dalam pilkada pemikiran ini
praktekan? Jawabanya: bisa, agak bisa dan tidak bisa sama sekali. Semua
tergantung kepada kedalaman para calon dan timses memaknai keduanya dalam
konteks ke-universalan makna. Jika tidak, kebaikan dan memanusiakan manusia
hanya sebatas temporar, musiman dan sektoral.
Bagi sebagian orang pilkada merupakan
kesempatan untuk berkarir dalam kekuasaan. Ironisnya, seolah-olah semua orang
sudah perfikir seperti itu. Setiap bertemu dan ngobrol, jawaban yang sangat
familiar: Semua hanya sebatas kekuasaan”.
Filosofis pilkada sebenarnya mulia: agar
masyarakat melek politik. Makna politik yang diinginkan dari pangkal makna
“polis”, negara kota. Arab menterjemahkan “madani”, “tamadun” yang
ibnu Khaldun mendefinisikan “al-insan madaniatu bitab’i”, manusia secara naluri
mempunyai peradaban.
Jadi hubungan “politik”, “pilkada” dan
“peradaban” tidak bisa dipisahkan. Semua sebenarnya mulai dari input-proses-dan
output bahan bakunya keagungan dan kemulyaan berupa “persaudaraan” dan
“kemanusiaan”.
Apakah mungkin dalam politik melahirkan
persaudaraan universal sebagaimana yang dicita-citakan oleh Gus Dur?. Tergantung
modal dasar pada diri pelakunya. Jika modal dasar persaudaraan lebih dominan,
maka peluang pemimpin dalam memanusiakan manusia semakin terbuka lebar. Tapi
jika modal dasarnya kecil dan hanya bernafsu untuk mencari kekuasaan semata,
maka bisa dipastikan pilkada hanya sebatas “piala bergilir”, dengan indikasi
perilaku tidak sehat seperti rebutan, sikut-sikutan, fitnah, penebar hoax dan
dendam tidak berkesudahan.
Ketika andy loya bertanya kepada Gus Dur,
“Apa Gus Dur sudah memaafkan dan melupakan para politikus yang menyakiti dan
menghianati anda?”. Gus Dur menjawab sangat filosofis;” memaafkan iya, lupa
tidak”. Artinya kenangan pahit dalam politik masa lalu sangat suli dilupakan
bagi pelaku sejarah. Tetapi dalam proses perjalanan politik, perlu ada proses
rekonsiliasi dengan membuka kemaafan. Sebab proses politik merupakan aktivitas
sosial yang selalu bergerak dinamis dan saling ketergantungan dan membutuhkan
komunikasi pada saat tertentu. Maka wajar, jika dulu mempunyai perbedaan
pandangan sangat tajam, tiba-tiba bisa duduk bareng dan mempunyai pandangan politik
yang sama. Begitu juga sebaliknya.
Pilkada, Kritik, dan Memanusiakan Manusia
Pilkada sebagian dari aktivitas manusia
dalam wujud politik. Persinggungan kepentingan sangat kental sekali. Sebagai
kegiatan politik, persaingan sangat terasa. Ia berbeda dengan persaingan
perebutan kekuasaan pada kepengurusan ormas atau paguyuban. Meskipun paradigma
berfikir ormas mulai sedikit bergeser dan terkadang terjadi kontestasi kurang
sehat, tapi hingga saat sekarang ini masih ada “unggah-ungguh”sebagian
anggotanya. Berbeda dengan persaingan politik praktis. Gesekan dan
ciptratan-cipratan nya terasa panas dan menyebar kemana-mana. Hal ini juga
sering berdampak pada hal-hal negative yang merusak hubungan sosial, sistem
hukum, keamanan, dan sistem administrasi secara luas.
Bagi orang umum seperti saya hanya bisa
melihat fenomena dampak politik di media sosial. Setiap hari selalu menyajikan
berita politik dengan beragam wujud. Saling serang, saling “saur manuk”,
laksana dua supporter bertemu di suatu tempat. Jika tidak diatur dengan baik,
maka pertemuan dua kubu pada satu kerumunan sangat membahayakan sekali.
Catatan-catatan seperti ini telah terjadi pada masa lalu. Sekali lagi sangat
mengerikan. Rasa kemanusiaan hilang. Hanya kekuasaan yang ada dalam benak para
kontestan.
Penulis lagi-lagi teringat saat ratusan
ribu anggota banser “siap mati” membela Gus Dur saat para politisi dan
demonstran lainnya menginginkan nya “lengser keprabon”. Gus Dur melarang
ratusan ribu banser turun di jalanan. Ia mengatakan kurang lebih begini:
“kekuasaan tidak perlu dibela mati-matian sehingga harus mengorbankan nyawa”.
Saat berhasil meredam para
santri-santrinya, Gus Dur keluar dari Istana dengan sangat santai. Ia hanya
memakai kaos oblong dan celana pendek sebagai simbol bahwa saat dia menjabat
presiden tidak membawa apa-apa maka keluar dari istana pun tidak membawa
apa-apa. Gus Gur mengajarkan bahwa yang terpenting dari kekuasaan sebenarnya
memanusiakan manusia. Terbukti, turunnya Gus Dur dari kursi kepresidenan tidak
melahirkan konflik. Proses politik tetap berlangsung terus dan dinamika sangat
dinamis hingga sangat terasa sampai pada level pilkada saat sekarang ini.
Pilkada sebenarnya ajang strategi untuk
memperbaiki sistem politik, administrasi dan kebijakan yang berdampak positif
kepada masyarakat. Perbaikan sistem politik secara formatif sudah ada. Persyaratan
menjadi calon kepala daerah sudah longgar. Dan dampak komunikasi kepada partai
politik pun semakin cair dan tidak kaku sebagaimana sebelumnya. Perbaiki administrasi
juga harus diperhatikan oleh calon terpilih nanti agar komunikasi berjalan
dengan tupoksi yang benar dan bisa memperbaiki efesiensi perjalanan pemerintah
ke depan. Jika keduanya bisa diperbaiki, harapannya berdampak positif kepada
masyarakat. Tentu ada persyaratan-persyaratan lainnya yang sudah diterangkan dalam
buku-buku yang berkaitan dengan hal tersebut sudah cukup banyak ditulis oleh
para praktisi, pakar dan ilmuwan.
Sayangnya semua cita-cita tersebut sering
tidak dibarengi subtansi dari ruhaniah politik yaitu memanusiakan manusia. Politik
sebagai perwujudan nilai-nilai zoon politicon seharusnya berorientasi kepada
cara untuk melayani, membimbing dan mengabdi kepada masyarakat. Siapapun yang
jadi pemimpin daerah di masa mendatang, tugas terpenting adalah mengangkat
derajat manusia di tempat yang tepat. Salah satu tindakan kecil yang bisa
dilakukan nya untuk cita-cita tersebut yaitu mengurangi jarak hubungan antara
kepala daerah dengan masyarakatnya.
Penulis : Imam Ghozali
???? We send a transaction from our company. Verif
4f1f7q
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875