Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Haji dan Kenikmatan yang Terlupakan



Senin , 24 Juni 2024



Telah dibaca :  362

 

يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَوْفُوْا بِعَهْدِيْٓ اُوْفِ بِعَهْدِكُمْۚ وَاِيَّايَ فَارْهَبُوْنِ ۝٤٠

Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu. Hanya kepada-Ku hendaknya kamu takut.

 

Setiap musim haji selalu saja penulis disuguhkan kisah orang-orang terpinggirkan bisa menunaikan ibadah haji ke Baitullah ( meskipun secara pribadi kurang setuju penyebutan tersebut, terkesan diskriminatif, tapi dalam  kajian sosial, istilah-istilah tersebut sering digunakan untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok terpinggirkan oleh regulasi, politik dan persaingan hidup yang sangat keras dan ekstrem). Namun tekad yang sangat kuat dan kerinduan mendalam, orang-orang terpinggirkan tersebut bisa pergi haji. Sungguh ia mendapatkan kenikmatan spiritual sangat berarti dalam kehidupannya.

Para jamaah haji yang berlatar belakang sebagai penjual bubur ayam, es cendol, tukang ngarit dan sejenisnya melalui perjuangan sangat Panjang. Ia menjadi sangat membekas dalam hidupnya. Bisa-bisa perjalanan tersebut adalah kenikmatan tertinggi baginya. Tentu berbeda bagi orang-orang yang sudah “kurugan” kenikmatan yang melimpah, kesannya mungkin tidak senikmat apa yang dirasakan oleh kelompok pinggiran.

Apakah kenikmatan tersebut menjadi lebih mendekatkan diri kepada Allah atau malah sebaliknya?. Mari kita menengok sejarah masa lalu tentang Bani Israil.

Kisah Bani Israil pada masa lalu menunjukan kepada ku bahwa perjalanan sejarah mereka telah terdokumentasi dalam arsip kitab suci tentang sikap nya ketika mendapat kenikmatan. Diantara kenikmatan tersebut antara lain; Allah telah menyelamatkan dari kejaran raja dan tentara fir’aun, mampu membelah laut, mendapat naungan awan dan dari mereka juga lahir para nabi dan rasul yang tidak dimiliki oleh keturunan genetika selainnya. Allah benar-benar telah melimpahkan kenikmatan yang sangat besar kepada bani israil dan melebihkannya dari selainnya.

Kenapa pada permulaan mereka bersyukur, namun lama kelamaan kufur? Kenapa saat mereka mendapatkan kenikmatan yang melimpah tiba-tiba lupa kepada Sang Pencipta? Apakah dunia telah menutup pintu hatinya sehingga kenikmatan yang agung tersebut hilang dari hatinya?

Saat masih kecil, dulu penulis telah membaca kisah tokoh-tokoh Bani Israil. Salah satunya adalah qarun. Dikisahkan dalam buku tersebut, Qarun sebenarnya bagian dari orang sholeh. Ia berdoa dan memohon kepada nabi musa agar mendoakannya untuk menjadi hartawan. Doa nya pun dikabulkan oleh Allah swt. Qarun benar-benar menjadi hartawan.

Saat sudah menjadi hartawan, Qarun merasakan kenikmatan dunia lebih mengasikan daripada kenikmatan iman yang dulu pernah dirasakan saat masih fuqara masakin. Dulu saat masih baju hanya sehelai di baju, dan konon kadang harus bergantian dengan istrinya. Ketika ia keluar rumah, istri nya di dalam. Ketika istrinya keluar rumah, ia pun di dalam rumah. Saat masih serba terbatas ekonominya, kedua pasangan tersebut sangat menikmati tamasya sepiritual di lautan ketauhidan yang sangat menggetarkan hati.

Namun alam semesta yang bersifat dhohir ini telah membuat dirinya terkadang lapar, haus, kulit mengelupas akibat panas atau dingin ekstrem di padang pasir, dan ejekan dari tetangga-tetangga yang membuat istrinya tidak bisa menahan emosi dan amarahnya. Atas dasar berbagai persoalan tersebut, ia memohon kepada nabi musa untuk mendoakannya. Tujuannya hanya satu, yaitu untuk membranding dirinya agar tidak direndahkan terus oleh tetangga dan ibadah kepada Allah semakin nikmat.

Namun tidaklah demikian, dunia ternyata sangat liar sebagaimana nafsu yang ada pada dirinya. Dunia laksana kuda hutan yang sangat sulit ditundukan, saat ia sudah dalam ikatan, kuda tersebut diam. Namun dalam diamnya kuda tersebut akan bertingkah sekehendaknya, sehingga membuat sang pemilik kelimpungan untuk menjinakkanya. Bahkan terkadang sang pemilik sudah mencoba menungganginya malah terpental dari atas kuda, jatuh dan tulang patah.

Itu Gambaran sederhana tentang dunia yang kita miliki. Nabi musa pernah mengatakan hal tersebut kepada Qarun. Namun ia merasa mempunyai kemampuan dengan pertimbangan dirinya telah mendalami kitab suci taurat sangat baik, bahkan ia termasuk dari tiga orang (selain Nabi Musa dan Harun) yang mendapat keberkahan memahami kitab taurat dengan baik. Namun Qarun gagal memahaminya dalam realita kehidupan. Pemahaman agama yang ia punya tidak berbanding lurus dengan realita hidup yang ia hadapi.

Qarun nyata dalam Sejarah. Ia hadir sebagai metafor dalam kehidupan sejarah. Anda dan saya adalah bagian dari dinamika sejarah yang tidak bisa mengatakan bahwa kami adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan mengendalikan hawa nafsu, lalu menganggap orang lain tidak sebaik pemahaman tentang hakikat suatu kebenaran.

Qarun tidak bisa disematkan kepada orang lain. Allah menghadirkannya dalam lintasan Sejarah sebagai media belajar agar manusia senantiasa berhati-hati terhadap “wolak-waliknya” hati yang sebenarnya tidak bisa dideteksi oleh panca indera manusia. Hanya Allah dan pelaku nya yang mengetahui hakikat dari semua kejadian yang terjadi pada manusia.

Manusia dalam ajaran Islam dinisbatkan sebagai orang dalam perjalanan. Kita tidak mengetahui seperti apa finisnya. Seperti kisah dua orang pelari antara Si-A dan Si-B. Semua penonton dengan perhitungan ilmiah menilai bahwa si-A akan menjadi pemenangnya. Sebab si-B Ketika berlari mengalami cedera, sehingga ia pincang dalam kompetisi tersebut. Namun dalam perjalanan berikutnya, para penonton dibuat kaget. Si-A mendekat si-B dan membimbingnya sampai ke finis. Saat Si-B sampai ke finis, sorak-sorai penonton menggema sangat luarbiasa. Semua melakukan “standing applaus”. Ternyata keduanya menjadi pemenang, Si-B mendapatkan juara satu karena pertama sampai finis, dan Si-A menjadi pemenang kehidupan karena ia telah membantu menjadi sukesi kemenangan si-b. wajah Si-A sangat ceria laksana sinar Mentari sangat indah menyambut datangnya pagi hari. Ia tidak merasa kalah dan dia pun tidak merasa telah berjasa atas kerjanya. Ia hanya menjalankan perintah Tuhan untuk senantiasa melakukan terbaik untuk sesama manusia.

Pada saat tertentu kita bisa jadi seperti Si-A yang hadir sebagai cahaya kehidupan yang senantiasa menebar kebaikan tanpa perlu menyebut kebaikannya. Pada saat lain waktu, kita bisa berada pada posisi Si-B yang keberhasilan kita bagian dari keberkahan tangan-tangan yang terlihat ataupun dari campur tangan dari sang pencipta. Sebab dalam kontek tauhid, tidak ada selembar rambut yang jatuh tanpa izin dari kekuasaan-Nya. Semua sudah dalam desain-Nya, namun realita kehidupan, Allah memberi keluasan untuk melakukan inovasi dan strategi untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Sedangkan hasil, semua dikembalikan kepada-nya.

Lalu Dimana letak Qarun dalam kekinian?. Sangat sulit penulis untuk mengatakan seseorang atau kelompok tertentu bagian dari watak-watak Qarun. Sebab Bahasa al-qur’an dan bahasa manusia berbeda. Allah mengatakan kepada Qarun sebagai pembelajaran bagian dari otoritas kekuasaan-Nya kepada manusia, sedangkan diri kita melihat Qarun sebenarnya sebagai jalan untuk mengenal diri sendiri, bukan menjustifikasi diri kepada orang lain.

Mengapa demikian? Sebab saya, anda dan semua manusia di dunia ini masih dalam perjalanan menuju akhir suatu tujuan. Ilmu matematika kehidupan sangat sulit untuk mendapatkan kebenaran kesimpulan sejati. Perjalanan panjang hidup manusia penuh dengan lika-liku yang terkadang sangat dramatis. Namun lagi-lagi, perjalanan hidup kita bukan kita sendiri yang menentukan hasil akhirnya. Semua Keputusan ada pada Sang Pencipta. Kita kadang hanya ditunjukan kulitnya saja, dan Tuhan merahasiakan isi Nya. Semua ini dilakukan Tuhan agar kita senantiasa berprasangka baik kepada sesama manusia. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

???? Sending a transaction from unknown user. Assu

7dvihv

   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876