
يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ
الَّتِيْٓ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَوْفُوْا بِعَهْدِيْٓ اُوْفِ بِعَهْدِكُمْۚ
وَاِيَّايَ فَارْهَبُوْنِ ٤٠
Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang
telah Aku berikan kepadamu dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi
janji-Ku kepadamu. Hanya kepada-Ku hendaknya kamu takut.
Setiap musim haji selalu saja penulis
disuguhkan kisah orang-orang terpinggirkan bisa menunaikan ibadah haji ke Baitullah
( meskipun secara pribadi kurang setuju penyebutan tersebut, terkesan diskriminatif,
tapi dalam kajian sosial, istilah-istilah
tersebut sering digunakan untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok
terpinggirkan oleh regulasi, politik dan persaingan hidup yang sangat keras dan
ekstrem). Namun tekad yang sangat kuat dan kerinduan mendalam, orang-orang
terpinggirkan tersebut bisa pergi haji. Sungguh ia mendapatkan kenikmatan
spiritual sangat berarti dalam kehidupannya.
Para jamaah haji yang berlatar belakang
sebagai penjual bubur ayam, es cendol, tukang ngarit dan sejenisnya melalui
perjuangan sangat Panjang. Ia menjadi sangat membekas dalam hidupnya. Bisa-bisa
perjalanan tersebut adalah kenikmatan tertinggi baginya. Tentu berbeda bagi
orang-orang yang sudah “kurugan” kenikmatan yang melimpah, kesannya
mungkin tidak senikmat apa yang dirasakan oleh kelompok pinggiran.
Apakah kenikmatan tersebut menjadi lebih
mendekatkan diri kepada Allah atau malah sebaliknya?. Mari kita menengok
sejarah masa lalu tentang Bani Israil.
Kisah Bani Israil pada masa lalu menunjukan
kepada ku bahwa perjalanan sejarah mereka telah terdokumentasi dalam arsip
kitab suci tentang sikap nya ketika mendapat kenikmatan. Diantara kenikmatan
tersebut antara lain; Allah telah menyelamatkan dari kejaran raja dan tentara
fir’aun, mampu membelah laut, mendapat naungan awan dan dari mereka juga lahir
para nabi dan rasul yang tidak dimiliki oleh keturunan genetika selainnya.
Allah benar-benar telah melimpahkan kenikmatan yang sangat besar kepada bani
israil dan melebihkannya dari selainnya.
Kenapa pada permulaan mereka bersyukur,
namun lama kelamaan kufur? Kenapa saat mereka mendapatkan kenikmatan yang
melimpah tiba-tiba lupa kepada Sang Pencipta? Apakah dunia telah menutup pintu
hatinya sehingga kenikmatan yang agung tersebut hilang dari hatinya?
Saat masih kecil, dulu penulis telah
membaca kisah tokoh-tokoh Bani Israil. Salah satunya adalah qarun. Dikisahkan
dalam buku tersebut, Qarun sebenarnya bagian dari orang sholeh. Ia berdoa dan
memohon kepada nabi musa agar mendoakannya untuk menjadi hartawan. Doa nya pun
dikabulkan oleh Allah swt. Qarun benar-benar menjadi hartawan.
Saat sudah menjadi hartawan, Qarun
merasakan kenikmatan dunia lebih mengasikan daripada kenikmatan iman yang dulu
pernah dirasakan saat masih fuqara masakin. Dulu saat masih baju hanya sehelai
di baju, dan konon kadang harus bergantian dengan istrinya. Ketika ia keluar
rumah, istri nya di dalam. Ketika istrinya keluar rumah, ia pun di dalam rumah.
Saat masih serba terbatas ekonominya, kedua pasangan tersebut sangat menikmati
tamasya sepiritual di lautan ketauhidan yang sangat menggetarkan hati.
Namun alam semesta yang bersifat dhohir ini
telah membuat dirinya terkadang lapar, haus, kulit mengelupas akibat panas atau
dingin ekstrem di padang pasir, dan ejekan dari tetangga-tetangga yang membuat
istrinya tidak bisa menahan emosi dan amarahnya. Atas dasar berbagai persoalan
tersebut, ia memohon kepada nabi musa untuk mendoakannya. Tujuannya hanya satu,
yaitu untuk membranding dirinya agar tidak direndahkan terus oleh
tetangga dan ibadah kepada Allah semakin nikmat.
Namun tidaklah demikian, dunia ternyata
sangat liar sebagaimana nafsu yang ada pada dirinya. Dunia laksana kuda hutan
yang sangat sulit ditundukan, saat ia sudah dalam ikatan, kuda tersebut diam.
Namun dalam diamnya kuda tersebut akan bertingkah sekehendaknya, sehingga
membuat sang pemilik kelimpungan untuk menjinakkanya. Bahkan terkadang
sang pemilik sudah mencoba menungganginya malah terpental dari atas kuda, jatuh
dan tulang patah.
Itu Gambaran sederhana tentang dunia yang
kita miliki. Nabi musa pernah mengatakan hal tersebut kepada Qarun. Namun ia
merasa mempunyai kemampuan dengan pertimbangan dirinya telah mendalami kitab
suci taurat sangat baik, bahkan ia termasuk dari tiga orang (selain Nabi Musa
dan Harun) yang mendapat keberkahan memahami kitab taurat dengan baik. Namun Qarun
gagal memahaminya dalam realita kehidupan. Pemahaman agama yang ia punya tidak
berbanding lurus dengan realita hidup yang ia hadapi.
Qarun nyata dalam Sejarah. Ia hadir sebagai
metafor dalam kehidupan sejarah. Anda dan saya adalah bagian dari dinamika sejarah
yang tidak bisa mengatakan bahwa kami adalah orang-orang yang mempunyai
kemampuan mengendalikan hawa nafsu, lalu menganggap orang lain tidak sebaik
pemahaman tentang hakikat suatu kebenaran.
Qarun tidak bisa disematkan kepada orang
lain. Allah menghadirkannya dalam lintasan Sejarah sebagai media belajar agar
manusia senantiasa berhati-hati terhadap “wolak-waliknya” hati yang
sebenarnya tidak bisa dideteksi oleh panca indera manusia. Hanya Allah dan
pelaku nya yang mengetahui hakikat dari semua kejadian yang terjadi pada
manusia.
Manusia dalam ajaran Islam dinisbatkan
sebagai orang dalam perjalanan. Kita tidak mengetahui seperti apa finisnya.
Seperti kisah dua orang pelari antara Si-A dan Si-B. Semua penonton dengan
perhitungan ilmiah menilai bahwa si-A akan menjadi pemenangnya. Sebab si-B
Ketika berlari mengalami cedera, sehingga ia pincang dalam kompetisi tersebut.
Namun dalam perjalanan berikutnya, para penonton dibuat kaget. Si-A mendekat si-B
dan membimbingnya sampai ke finis. Saat Si-B sampai ke finis, sorak-sorai
penonton menggema sangat luarbiasa. Semua melakukan “standing applaus”. Ternyata
keduanya menjadi pemenang, Si-B mendapatkan juara satu karena pertama sampai
finis, dan Si-A menjadi pemenang kehidupan karena ia telah membantu menjadi
sukesi kemenangan si-b. wajah Si-A sangat ceria laksana sinar Mentari sangat
indah menyambut datangnya pagi hari. Ia tidak merasa kalah dan dia pun tidak
merasa telah berjasa atas kerjanya. Ia hanya menjalankan perintah Tuhan untuk
senantiasa melakukan terbaik untuk sesama manusia.
Pada saat tertentu kita bisa jadi seperti Si-A
yang hadir sebagai cahaya kehidupan yang senantiasa menebar kebaikan tanpa
perlu menyebut kebaikannya. Pada saat lain waktu, kita bisa berada pada posisi Si-B
yang keberhasilan kita bagian dari keberkahan tangan-tangan yang terlihat
ataupun dari campur tangan dari sang pencipta. Sebab dalam kontek tauhid, tidak
ada selembar rambut yang jatuh tanpa izin dari kekuasaan-Nya. Semua sudah dalam
desain-Nya, namun realita kehidupan, Allah memberi keluasan untuk melakukan
inovasi dan strategi untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Sedangkan hasil,
semua dikembalikan kepada-nya.
Lalu Dimana letak Qarun dalam kekinian?.
Sangat sulit penulis untuk mengatakan seseorang atau kelompok tertentu bagian
dari watak-watak Qarun. Sebab Bahasa al-qur’an dan bahasa manusia berbeda.
Allah mengatakan kepada Qarun sebagai pembelajaran bagian dari otoritas
kekuasaan-Nya kepada manusia, sedangkan diri kita melihat Qarun sebenarnya
sebagai jalan untuk mengenal diri sendiri, bukan menjustifikasi diri kepada
orang lain.
Mengapa demikian? Sebab saya, anda dan
semua manusia di dunia ini masih dalam perjalanan menuju akhir suatu tujuan.
Ilmu matematika kehidupan sangat sulit untuk mendapatkan kebenaran kesimpulan
sejati. Perjalanan panjang hidup manusia penuh dengan lika-liku yang terkadang
sangat dramatis. Namun lagi-lagi, perjalanan hidup kita bukan kita sendiri yang
menentukan hasil akhirnya. Semua Keputusan ada pada Sang Pencipta. Kita kadang
hanya ditunjukan kulitnya saja, dan Tuhan merahasiakan isi Nya. Semua ini
dilakukan Tuhan agar kita senantiasa berprasangka baik kepada sesama manusia.
Penulis : Imam Ghozali
???? Sending a transaction from unknown user. Assu
7dvihv
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876