
Pada tanggal 23 Juli 2025, saya bertemu
teman-teman dari berbagai perguruan tinggi membahas peluang-peluang kerjasama
luar negeri. Ketemu cukup banyak teman-teman dari berbagai perguruan tinggi.
Ada dosen yang sangat humble seperti Mas Baginda dari UIN Bukitinggi, ada Mas
Rahman Arifin dari IAIN Curup dan masih banyak lagi. Mereka masih muda-muda.
Tapi pikirannya sangat bagus, konstruktif dan solutif. Tujuan sebenarnya sama,
yaitu menciptakan perguruan tinggi unggul. Tentu makna nya luas, bukan sebatas
formalitas dengan dibuktikan ijazah dari prodi dan institusi unggul, juga
terpenting kualitas SDM unggul dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.
Sebagian masyarakat Indonesia kelihatannya
masih demam ijazah. Bahkan hingga kini isu yang masih trending soal
ijazah Jokowi. Gara-gara satu ijazah Jokowi, masyarakat terbelah: fanatik
Jokowi, pembenci Jokowi, dan tidak fanatik, juga tidak benci Jokowi. Semua
punya alasannya.
Saya secara pribadi orang yang sedang
belajar tidak fanatik kepada para pemimpin, kepala negara atau pun para tokoh
politik. Alasannya sederhana, kemampuan ku melihat mereka secara utuh belum
mampu. Ma’lum wong cilik. Ilmu pun masih sedikit. Itu sebabnya kehadiran
para pemimpin negara, partai politik atau apa saja sebagai media belajar untuk
mengambil kebaikan dan mengubur hal-hal yang tidak baik.
Sampai detik ini saya tidak pernah ikut
kegaduhan persoalan ijazah Jokowi. Sederhana saja. Pertama, saya bukan Hakim,
Polisi dan Jaksa. Jadi tidak ada otoritas untuk menilai ijazah tersebut asli,
palsu atau aspal-asli tapi palsu. Kedua, saya berpandangan bahwa jika
saya ikut terbawa arus bahwa ijazah Jokowi asli, berarti sudah jatuh pada
penyakit su’udzan -berburuk sangka -kepada nya. Ketiga, persoalan
isu ijazah palsu bagiku lebih bersifat politis daripada akademis. Meskipun
dengan balutan narasi atas nama filsafat, kajian ilmiah dan tetek bengek, tetap
ujung-ujungnya lari ke produk politik tertentu. Karena produk politik, saya
tidak tahu siapa yang menabur anginya, dan siapa yang mendapatkan badainya. Keempat,
saya belajar untuk tidak mengurusi terlalu dalam hal-hal yang belum pasti
terjadi terhadap pribadi seseorang. Ma’lum lah, urusan ku terlalu banyak jadi
tidak sempat mengurusi orang lain. Kelima, saya belajar untuk tidak
mempunyai rasa benci kepada siapapun, termasuk kepada orang yang membenci ku.
tentu referensi nya dari orang tua ku -terutama
ayah ku semasa hidupnya - sering mendapatkan fitnah dan caci maki dari
orang-orang yang tidak menyukainya. Ayah ku tetap tenang. Seperti tidak ada
kejadian sama sekali. rutinitas berjalan seperti biasa, pagi hingga sore
-kadang malam juga -menerima tamu dari berbagai daerah atau tetangga sendiri,
malam hari sholat tahajud, membaca sholawat dan kadang minta dibuatkan nasi
goreng ke ibu ku.
Ketidak ikutan saya dalam kegaduhan ijazah
Jokowi karena belajar dari sejarah. Dalam Kitab Hilyatul Awliyah diceritakan
tentang Ali bin Abi Thalib kalah di persidangan oleh orang Yahudi. Hakim nya Syuraih.
Sang hakim percaya 100 persen apa yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib benar
adanya. Bahkan jika di datangkan 100 orang untuk menjadi saksi kejujuran Ali bin
Abi Thalib, Semua akan mengatakan kejujurannya.
Hakim Syuraih mendasarkan bukan pada
kejujuran Ali bin Abi Thalib, tapi pada fakta persidangan. Ali menghadirkan dua
orang saksi Qanbar dan Hasan yang masih anak-anak. Hakim Syuraih menerima
persaksian Qanbar, tapi tidak menerima hasan karena ia masih anak-anak, jadi
tidak diterima. Sebab syarat saksi harus baligh dan berakal. Sedangkan hasan
masih anak-anak.
Ali tetap ngotot dengan membacakan Hadist
Nabi bahwa Hasan dan Husain adalah Ahli Surga. Menurut Ali sangat ironis sekali
persaksian Ahli Surga tidak bisa diterima.
Hakim Syuraih tetap ngotot. Dalam
persidangan bukan status seseorang yang menjadi acuan, tetapi
persyaratan-persyaratan hukum yang menentukan benar atau tidaknya persaksian
tersebut.
Ali menerima keputusan pengadilan. Ia tahu,
bahwa fakta persidangan tidak bisa menghadirkan dua orang saksi yang
dipersyaratakan oleh syariat. Meskipun kesaksian keduanya akan membela nya,
tapi pembelaan saksi di bawah umur belum bisa diterima dalam syariat Islam. Akhirnya
Baju Besi tetap milik orang Yahudi.
Proses persidangan Ijazah Jokowi terus
berjalan. Akan ada putusan pengadilan apakah ijazah itu asli atau palsu. Saya tidak
tahu, apakah hasil keputusan pengadilan bisa diterima oleh semua pihak
sebagaimana keputusan pengadilan hakim Syuraih terhadap Baju Besi Ali bin Abi
Thalib, atau sebaliknya muncul gejolak baru dari keputusan pengadilan. Semua serba
mungkin.
Jika kasus tersebut murni persoalan hukum, keputusan
pengadilan tidak menimbulkan gejolak yang besar. Bisa tutup buku. Namun jika
persoalan ijazah karena lahir dari kusak-kusuk politik, bisa ditebak
akan terus melebar hingga pada pilpres 2029.
Siapa yang untung? Tentu saja tokoh yang
bisa mengemas kasus tersebut sebagai panggung politik. Pasca reformasi telah
memberi pembelajaran bahwa para tokoh politik sukses mencuri simpati masyarakat
yang akan menjadi pemimpin negara ini. Apakah benar. Mari kita saksikan
bersama-sama.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13559
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876