Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Hari Kesadaran Nasional



Kamis , 17 April 2025



Telah dibaca :  415

Setelah sholat subuh, saya mendapatkan suguhan sebuah berita dari media sosial tentang pertumbuhan ekonomi negara Irak dan Iran. Saat ini keduanya mempunyai pertumbuhan ekonomi yang agak sedikit jomplang. Irak masih berjalan di tempat, sedangkan Iran sudah berjalan-jalan. Kemajuan ekonomi negara Iran memang luarbiasa. Ia bisa eksis di tengah perekonomian dunia yang sedang bermasalah.

Jika mengacu kepada sejarah, dua negara yang pada masa lalu terjadi perang bertahun-tahun yaitu Irak-Iran, yaitu 1980-1988, selama 8 tahun. Irak mendapatkan bantuan AS. Iran babak belur. Irak dinyatakan sebagai pemenang perang. Meskipun dua-dua nya juga babak belur akibat perang. “Menang jadi abu, kalah jadi arang”.

Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1990 terjadi perang Irak-Kuwait. AS yang dulunya sekutu Irak, berpaling muka. Ia mendekati Kuwait, laksana gadis jelita yang sangat seksi sekali. Sebab ada ladang minyak yang sangat melimpah. irak kalah perang. Ini juga yang menyebabkan dendam irak kepada AS tak kunjung padam. Meletus lagi perang Irak-AS tahun 2003. AS benar-benar membumihanguskan negara Irak. Ini berujung atas kematian presiden Irak Sadam Husein.

Sebagaimana Irak, dunia internasional yang didalangi oleh AS juga sangat bermusuhan dengan Iran. Sejak tahun 1950 hingga sekarang. Negara mullah ini sangat sering mendapatkan embargo ekonomi dari barat. Sederetan kisah mengerikan tentang kematian Jenderal Iran oleh AS sering terjadi menghiasi berita internasional. Iran benar-benar sengaja dilumpuhkan dari segala aspek oleh AS.

Apa yang terjadi? Iran tetap tegar. Meminjam istilah Soekarno, Iran satu-satu nya negara muslim di dunia yang mampu melawan AS dan mampu “berdikari”secara ekonomi dan teknologi. Tidak ada satupun negara muslim yang dibantai oleh AS tetap bertahan. Rata-rata ekonomi nya ambruk. Salah satunya negara Irak. Hingga kini, Irak selalu meminta bantuan investor untuk bisa membangun ekonomi yang sudah porak-poranda.

Iran berbeda cara mengatasi kesulitan ekonomi dan keterbatasan teknologi. Ia melakukan beragam inovasi kemandirian di bidang ekonomi, memperkuat pertumbuhan ekonomi internal dan terus melakukan inovasi-inovasi di bidang teknologi. Dua keberhasilan ini yang menyebabkan negara Iran terus mengalami kemajuan yang sangat pesat. Negara tersebut sudah tidak lagi ketergantungan pada belas kasihan dari AS. Tentu saja, negara yang sudah merdeka dari bayang-bayang AS adalah Cina. Negara tersebut secara terang-terangan melawan kebijakan ekonomi AS yang dianggap merugikan negara tirai bambu tersebut.

Baik Cina maupun Iran adalah contoh negara-negara yang sangat tinggi menanamkan kesadaran nasional bagi masyarakat negara tersebut. Kekuatan ideologi negara telah mengikat kesadaran kolektif bangsa untuk membela marwah nya sebagai bangsa dan negara yang mempunyai harga diri tinggi dan akan terus mewujudkan nya dalam realita kehidupan. dan ini berhasil. Kedua negara dalam kondisi ekonomi berbeda telah menginspirasi banyak negara termasuk Indonesia.

Tentu saja, masyarakat Indonesia mempunyai nilai-nilai luhur untuk mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa sebagaimana yang terekam dalam pembukaan UUD 1945. Jika benar-benar diwujudkan, seberat apapun kondisinya, secara pelan tapi pasti Indonesia bisa berdikari sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa.

Semua itu tergantung kepada semua komponen, baik pemimpin atau pun masyarakat yang dipimpinnya. Dan peringatan Hari Kesadaran Nasional merupakan sentilan kita bersama agar benar-benar sadar atas segala kekurangan dan memperbaiki kekurangan tersebut dalam upaya mewujudkan cita-cita nasional menjadi bangsa dan negara adil, sejahtera dan bermartabat. Salah satu langkah kecil dan mempunyai pengaruh besar terhadap kualitas kesadaran bangsa sebenarnya kesadaran dimulai dari individual untuk terus berkarya bagi bangsa dan negara Indonesia.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   212

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   236

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872