
Setelah sholat subuh, saya mendapatkan
suguhan sebuah berita dari media sosial tentang pertumbuhan ekonomi negara Irak dan Iran. Saat ini keduanya mempunyai
pertumbuhan ekonomi yang agak sedikit jomplang. Irak masih berjalan di tempat,
sedangkan Iran sudah berjalan-jalan. Kemajuan ekonomi negara Iran memang
luarbiasa. Ia bisa eksis di tengah perekonomian dunia yang sedang bermasalah.
Jika mengacu kepada sejarah, dua negara
yang pada masa lalu terjadi perang bertahun-tahun yaitu Irak-Iran, yaitu
1980-1988, selama 8 tahun. Irak mendapatkan bantuan AS. Iran babak belur. Irak
dinyatakan sebagai pemenang perang. Meskipun dua-dua nya juga babak belur
akibat perang. “Menang jadi abu, kalah jadi arang”.
Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1990
terjadi perang Irak-Kuwait. AS yang dulunya sekutu Irak, berpaling muka. Ia
mendekati Kuwait, laksana gadis jelita yang sangat seksi sekali. Sebab ada
ladang minyak yang sangat melimpah. irak kalah perang. Ini juga yang
menyebabkan dendam irak kepada AS tak kunjung padam. Meletus lagi perang Irak-AS
tahun 2003. AS benar-benar membumihanguskan negara Irak. Ini berujung atas
kematian presiden Irak Sadam Husein.
Sebagaimana Irak, dunia internasional yang
didalangi oleh AS juga sangat bermusuhan dengan Iran. Sejak tahun 1950 hingga
sekarang. Negara mullah ini sangat sering mendapatkan embargo ekonomi dari
barat. Sederetan kisah mengerikan tentang kematian Jenderal Iran oleh AS sering
terjadi menghiasi berita internasional. Iran benar-benar sengaja dilumpuhkan
dari segala aspek oleh AS.
Apa yang terjadi? Iran tetap tegar.
Meminjam istilah Soekarno, Iran satu-satu nya negara muslim di dunia yang mampu
melawan AS dan mampu “berdikari”secara ekonomi dan teknologi. Tidak ada
satupun negara muslim yang dibantai oleh AS tetap bertahan. Rata-rata ekonomi
nya ambruk. Salah satunya negara Irak. Hingga kini, Irak selalu meminta bantuan
investor untuk bisa membangun ekonomi yang sudah porak-poranda.
Iran berbeda cara mengatasi kesulitan
ekonomi dan keterbatasan teknologi. Ia melakukan beragam inovasi kemandirian di
bidang ekonomi, memperkuat pertumbuhan ekonomi internal dan terus melakukan
inovasi-inovasi di bidang teknologi. Dua keberhasilan ini yang menyebabkan
negara Iran terus mengalami kemajuan yang sangat pesat. Negara tersebut sudah
tidak lagi ketergantungan pada belas kasihan dari AS. Tentu saja, negara yang
sudah merdeka dari bayang-bayang AS adalah Cina. Negara tersebut secara terang-terangan
melawan kebijakan ekonomi AS yang dianggap merugikan negara tirai bambu tersebut.
Baik Cina maupun Iran adalah contoh negara-negara
yang sangat tinggi menanamkan kesadaran nasional bagi masyarakat negara
tersebut. Kekuatan ideologi negara telah mengikat kesadaran kolektif bangsa
untuk membela marwah nya sebagai bangsa dan negara yang mempunyai harga diri
tinggi dan akan terus mewujudkan nya dalam realita kehidupan. dan ini berhasil.
Kedua negara dalam kondisi ekonomi berbeda telah menginspirasi banyak negara
termasuk Indonesia.
Tentu saja, masyarakat Indonesia mempunyai
nilai-nilai luhur untuk mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa sebagaimana
yang terekam dalam pembukaan UUD 1945. Jika benar-benar diwujudkan, seberat
apapun kondisinya, secara pelan tapi pasti Indonesia bisa berdikari sebagaimana
cita-cita para pendiri bangsa.
Semua itu tergantung kepada semua komponen,
baik pemimpin atau pun masyarakat yang dipimpinnya. Dan peringatan Hari
Kesadaran Nasional merupakan sentilan kita bersama agar benar-benar sadar atas
segala kekurangan dan memperbaiki kekurangan tersebut dalam upaya mewujudkan
cita-cita nasional menjadi bangsa dan negara adil, sejahtera dan bermartabat. Salah
satu langkah kecil dan mempunyai pengaruh besar terhadap kualitas kesadaran
bangsa sebenarnya kesadaran dimulai dari individual untuk terus berkarya bagi
bangsa dan negara Indonesia.
Penulis : Imam Ghozali
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   212
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   236
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872