Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Haruskah Marah kepada Seekor Nyamuk?



Selasa , 21 Mei 2024



Telah dibaca :  673

انَّ اللّٰهَ لَا يَسْتَحْيٖٓ اَنْ يَّضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَاۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْۚ وَاَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًاۘ يُضِلُّ بِهٖ كَثِيْرًا وَّيَهْدِيْ بِهٖ كَثِيْرًاۗ وَمَا يُضِلُّ بِهٖٓ اِلَّا الْفٰسِقِيْنَۙ ۝٢

Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil daripada itu. Adapun orang-orang yang beriman mengetahui bahwa itu kebenaran dari Tuhannya. Akan tetapi, orang-orang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?” Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang disesatkan-Nya. Dengan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Namun, tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu, selain orang-orang fasik.

Saat ini sering disebut zaman modern. Semakin modern, manusia semakin membutuhkan suatu keahlian spesifik agar bisa mengisi ruang-ruang pekerjaan semakin kompetitif. Gejala tersebut sudah semakin terasa. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 7,86 juta warga Indonesia masuk kategori pengangguran. Data tersebut menunjukan penurunan jika dibandingkan dari angka tahun 2022 sebesar 8,5 juta orang. Meskipun mengalami penurunan, adanya pertambahan penduduk akan semakin meningkat persaingan para pekerjaan pada masa  mendatang.  Sekarang ini, persaingan di dunia kerja yang sangat fenomenal di negara Cina. Data Statistik Nasional Cina mencapai 21,3% di bulan Juni 2023. Bahkan Prof. Zhang Dandan dari Universitas Peking memperkirakan pengangguran mencapai 46,5%. Padahal pada tahun 2028, pengangguran di Negeri Panda hanya sebesar 10%.

Itu data statistik. Penulis kurang membidangi hitungan angka-angka yang terlalu "njlimet". Entah benar entah tidak. Jangankan memikirkan data statistik, memikirkan Mbah Bejo tidak bisa beli Rokok Gudang Garam Merah ikut pusing. Mbah Bejo yang lagi tidak bejo juga pusing karena melihat kelaku saya yang selalu mengambil satu batang-satu batang rokoknya saat ngobrol bareng.

Penulis mencoba berselancar masa lalu dan mencoba menelusuri lorong-lorong peradaban dunia ini sebelum memasuki masa modern. Buku Sejarah telah mencatat persaingan untuk mempertahankan kehidupan. Berbeda waktu periodesasi, namun mempunyai semangat sama berupa keinginan agar bisa eksis dan memenangkan persaingan.

Pada era 1987 an, penulis sudah terbiasa melihat pemandangan kehidupan orang kaya dan orang miskin di Pedesaan. Orang kaya waktu itu senantiasa diidentikan pada banyak sawah dan ladang. Orang miskin saat itu adalah kelompok yang hanya sebatas punya rumah sederhana yang dindingnya terbuat dari kayu/bambu dan atapnya masih banyak dari daun kelapa (bleketepe-jawa) dan lantainya beralaskan tanah. Mereka mempunyai sawah tapi tidak luas,namun lebih banyak tidak mempunyai sawah dan menjadi pekerja atau buruh di sawah-sawah orang kaya.

Penulis melihat pemandangan pedesaan yang masih alami. Saat pagi hari, para petani menutup kepalanya dengan tudung,  bercelana lusuh membawa cangkul. Kulit tubuhnya seperti punggung dan tangan  terlihat mengkilat karena terbiasa tidak menggunakan baju ketika mencangkul di sawah. Mereka membawa "Bekal" saat istirahat di Tegalan (daratan di tengah Sawah) biasanya air putih dan lintingan (rokok dibuat sendiri, bahan bakunya tembakau, cengkeh kering, klembak, dan kemenyan). Saat istirahat sekitar jam 10.00. Tuan Rumah kadang mengantar nasi gurih (nasi lemak), lauknya tempe goreng, tahu goreng atau ikan asin.

Bagi anak-anak sepertiku dulu tidak merasakan sebuah keindahan, tapi kehidupan  di desa terasa sangat menderita. Panas terik matahari di tengah-tengah sawah, rambut merah, kulit hitam bersisik dan mengkilat serta tubuhnya bau tanah sawah dan tidak hilang-hilang sampai ketika kami berangkat ke sekolah. Mencari uang untuk jajan sangat susah. Penghasilan sebagai buruh tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup. Rata-rata temanku tidak bisa melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi. Rata-rata anak-anak desa hanya mengenyam pendidikan sampai pada tingkat SLTP, masih sedikit yang SLTA dan nyaris tidak ada yang melanjutkan ke Perguruan tinggi. selesai tamat SLTP, ada yang langsung menikah, kerja menjadi petani, berdagang, merantau ke kota atau ikut program transmigrasi yang dicanangkan oleh Soeharto.

Ketika melihat film atau video tentang kehidupan desa terasa ingin hidup di sana selamanya. Pemandangan hamparan sawah yang luas, burung-burung bangau warna putih berterbangan kesana-kemari, serta burung camar bergelantungan pada daun-daun pohon kelapa sepanjang pinggir tegalan sawah. Saat sore hati, mereka pulang ke rumah, dan matahari terlihat akan bersembunyi di antara gunung-gunung yang membentuk semacam lukisan di ufuk bagian barat. Suasana yang tenang tersebut menyimpan suatu penderitaan yang tidak terekam oleh masyarakat perkotaan.

Masyarakat perkotaan hanya melihat fisik suasana pedesaan dan tidak bisa merasakan denyut nadi  penderitaannya. Para sutradara mengabadikan kehidupan desa yang tenang melalui film-film. Para pelukis mengabadikan keindahan rumah reot terbuat dari kayu dan bambu serta hamparan sawah yang tanaman padi sudah mulai menguning sungguh membangkitkan semangat ingin hidup selamanya di kampung. Benarkah demikian realita hidup di kampung?

Sebagaimana masyarakat perkotaan, masyarakat pedesaan juga hanya sebatas melihat kulit kehidupan masyarakat kota. mereka takjub saat melihat lampu-lampu berjejer di jalan-jalan raya, jalan tol, mall, gedung, hotel dan perkantoran serta papan iklan produk yang menghiasi jalan-jalan raya. Padahal, saat mengerti lebih mendalam, akan menemukan kompleksitas luarbiasa seperti polusi udara, terbatasnya fasilitas air bersih, perumahan kumuh, penggusuran perumahan, perkelahian antar kelompok gang motor, penculikan, perampokan, jaringan sindikat dan lain-lain. Masyarakat perkotaan ingin mempunyai suasana yang dianggap tenang dan damai sebagaimana suasana di pedesaan. Semuanya mempunyai keinginan rasa bahagia dan damai pada masyarakat yang berbeda tempat dan geografis.

Sebenarnya ada pola sama baik hidup di perkotaan maupun di pedesaan, yaitu persaingan senantiasa terjadi dan akan terus terjadi sepanjang sejarah. Siapa yang berani menghadapi persoalan dan mempunyai kemampuan kuat untuk menundukan persoalan tersebut sebagai jalan terbuka menjadi pemenang dalam persaingan.

Maka, ketika penulis membaca potongan ayat, “Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil daripada itu”, ada pesan tersembunyi yang sangat besar makna untuk meraih prestasi. Nyamuk yang sering menjengkelkan saat kita tidur dan kadang terbangun anak-anak akibat gigitannya, ada Pelajaran yang bisa diambil yaitu keberanian nyamuk dalam mengambil resiko. Ia memperjuangkan kehidupnya dan berani menghadapi kematiaanya saat berada di dekat manusia. Ia mencari setetes darah manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup dan berani menghadapi kematian nya. 

Subhanallah, Tuhan telah menghadirkan makhluk yang bernama nyamuk yang sering membuat kita terusik saat tidur. Namun darinya kita bisa mengambil pelajaran bahwa persaingan hidup bukan hanya sebatas pada persoalan perubahan zaman, tapi pada kesiapan untuk menghadapi hal tersebut. Selain itu, nyamuk yang menyebalkan tersebut ternyata telah membawa berkah dalam kemajuan peradaban manusia. Salah satu bukti karena nyamuk, telah berdiri pabrik obat nyamuk yang merekrut puluhan ribu karyawan, dan tenaga ahli, telah menggerakan UKM, telah menghasilkan tenaga ahli, spesialis dan telah melahirkan professor-profesor nyamuk.

Dari sini penulis bisa mengambil pelajaran bahwa tidak ada yang tidak berguna ciptaan tuhan untuk peradaban manusia. Semua ada manfaat dan kemaslahatan untuk masa depan manusia. Berani berbuat, siap mengambil resiko dan terus bekerja memperbaiki diri serta mengharapkan pertolongan Allah menjadi jalan untuk meraih kesuksesan.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Belajar Menyadari: Kekasih Mu, Belum Tentu Jodoh Mu
24 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   173

Hikmah di Balik Kisah Asmara
15 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   179

Ketika Ayah Berpoligami
13 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   148

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1152

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   734

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14341


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6059


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5497


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4435