
Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan tamu
kehormatan dari para ilmuwan antara lain Prof Fitra Lestari, Dr. Rahmat, dan
Dr. Ibnu. Mereka adalah tamu dari dua perguruan tinggi ternama di kota Pekanbaru;
Prof Fitra dari UIN Sultan Syarif Kasim Riau, sedang Dr. Rahmat dan Dr. Ibnu dari
Universitas Riau. Mereka usianya masih di bawah 40-an tahun, tapi semangat
melakukan beragam inovasi penelitian luarbiasa. Pantas saja, di usia yang relatif
muda tersebut, karya-karya nya sudah banyak diakui di dunia internasional.
Mungkin karena sering melakukan penelitian,
berpengaruh kepada wajah. Prof Fitra Lestari saat sekarang ini berumur kurang-lebih
39 tahun. Tapi saya perhatikan jenggotnya sudah memutih cukup banyak. Maka dalam
pertemuan tersebut saya ngledek ke Dr. Rahmat dan Dr. Ibnu, “Kalian
jangan cepat jadi guru besar, nanti cepat tua seperti Prof Fitra”. Semua yang
hadir pun tertawa mendengar guyonanku.
Para pendidik seperti Prof Fitra dan
teman-teman adalah tenaga-tenaga muda yang sangat dibutuhkan untuk kemajuan
dunia pendidikan. Meskpun terkadang dalam dunia nyata saat sekarang ini, para
pendidik tidak bisa meninggalkan kewajibannya dalam memperbaiki persoalan
administrasi yang terkadang membuat pusing, tapi naluri sebagai seorang
ilmuwan, murabi, muadib dan mu’alim tidak boleh hilang dalam sanubari seorang
dosen. Sebab tugas dosen adalah warisan kenabian sangat mulia sebagai wujud
hadist nabi,”Sebaik-baik manusia yaitu yang umurnya panjang dan memberi
konstribusi positif kepada Masyarakat”.
Administrasi Pendidikan memang sudah
berbeda jauh dari sebelumnya. Lahirnya era digitalisasi sebagai jawaban agar
pergerakan positif semakin baik, tapi dalam kenyataannya menimbulkan
persoalan-persoalan dilematik dikemudian hari. Pertama para pendidik sebagian besar
para pendidik adalah produk sarjana masih menganut pola lama dengan model kuliah
tatap muka. Pola seperti ini merupakan pola yang paling efektif untuk
menghasilkan peserta didik atau para sarjana yang tidak hanya menyerap ilmu
pengetahuan, tapi bisa menimba ilmu akhlak secara langsung kepada pendidiknya. Proses
Pendidikan seperti ini karena berlandaskan kepada tafsir filsafat pendidikan Islam yang membutuhkan
interaksi langsung dan filsafat Pendidikan bangsa Indonesia yang terangkum
dalam kalimat, “ing ngarso sung tulodo, ing madia mangun karso, tut wuri
handayani”. Ketika terjadi pergeseran ke arah digitalisasi pendidikan, maka
ada bagian-bagian filsafat pendidikan Islam dan kearifan lokal hilang. Sehingga
ada kekosongan ruhaniah peserta didik dari nilai-nilai Pendidikan. Sampai hari
ini, belum ada yang menjawab siapa yang bertanggungjawab untuk memperbaiki kekosongan
ruhaniah tersebut, apakah pengambil kebijakan yang telah membuat sistem Pendidikan,
pelaksana kebijakan seperti sekolah dan perguruan tinggi, atau orang tua yang
sudah pusing memikirkan kebutuhan hidupnya?. Wallahu a’lam.
Kedua, perubahan kebijakan sangat cepat
telah menguras energi cukup besar yang dirasakan oleh para pendidik. Sebab proses
digitalisasi menimbulkan persoalan psikologi mendalam yang sangat terasa bagi
sekolah, peserta didik dan wali murid. Mereka seolah-olah harus bisa memahami
pemikiran nya sama dengan para perancang kurikulum yang lahir dari dunia yang
sudah mapan. Akibatnya regulasi para pengambil kebijakan yang sangat jenius
justru telah membuat persoalan baru yang cukup serius bagi kelangsungan
generasi Indonesia di masa mendatang. Mereka akan menjadi korban dari ganasnya
arus informasi yang telah disediakan oleh internet. Jika terjadi korban, saya
yakin para perancang kurikulum belum siap mengantisipasinya. Bahkan bisa jadi dengan
dalih administrasi, mereka bisa mengatakan demikian, “Kenakalan bukan bagian
kami, itu bagian lembaga lain”. Bagi saya hal itu wajar, sebab memang dunia
digitalisasi adalah dunia baru yang memungkinkan orang hadir sebagai pahlawan, tapi pada sisi lain
lain justru sebagai pecundang. Sudah beberapa korban akibat adanya
digitalisasi, bahkan sudah jutaan korban akibat ulah orang-orang yang tidak
bertanggungjawab mulai dari persoalan perceraian keluarga, kenakalan anak
remaja, judi online, mafia pendidikan, dan crime cyber lainnya. Semua adalah
produk apa yang disebut internet. Ia Bagai pisau bermata dua.
Ada suatu cerita, anak ku yang masih duduk
di kelas 5 SD minta belikan HP android. Katanya, ada tugas dari guru nya
mengerjakan soal-soal yang dikirim melalui WA grup. Secara spintas memang tidak
ada persoalan, saya pun membelikannya. Penuls hanya bisa membayangkan bagaimana
seorang anak ketika sudah merasa nikmat memegang android. Jangankan anak-anak,
orang yang sudah beranjak dewasa pun terpedaya akalnya oleh benda tersebut. Bahkan
dalam hasil penelitian (lupa namanya), masyarakat Indonesia adalah satu-satunya
masyarakat yang kecanduan HP android. Wajar jika sekarang bangsa ini kecanduan
judi online Tingkat pertama di dunia dengan populasi masyarakat muslim terbesar
juga di dunia.
Dari sini saja penulis bisa membayangkan,
bahwa dampak anak-anak berkenalan dengan HP android lebih besar madharatnya daripada
manfaatnya. Terutama sekali madharat yang langsung bisa dirasakan adalah:
anak-anak susah diatur dan mudah melawan terhadap perintah orang tuanya, malas
mengerjakan tugas sekolah, malas makan dan sejenisnya.
Jika kondisi seperti ini diteruskan maka penulis
bisa membayangkan output generasi masa depan Indonesia. Memang, era digitalisasi
tidak bisa dihindarinya, tapi perlindungan terhadap keselamatan juga harus
disediakan sebaik-baiknya.
Apakah perlindungan tersebut sudah ada dan
bagaimana bentuknya, penulis tidak akan menjawab. Sebab judul tulisan ini “Hijrah
Setengah Hati”, silahkan penulis lainnya melengkapi “setengah hati yang
hilang” agar dunia digital benar-benar sepenuh hati ramah terhadap dunia pendidikan.
Penulis : Imam Ghozali
Haul Mbah Subari; Ulama dan Penulis Rintisan
19 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   115
Menyalakan Obor Tradisi Ulama-Sebuah Pengantar
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   247
Lail Al-Qadr : Menggali Ruh Peradaban Islam
08 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   115
Alarm Depresi Remaja Australia, Peringatan bagi Indonesia !
17 Desember 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   309
Mutiara Untuk Anak-Anakku
25 November 2025   Oleh : Dr.Edi Purnomo,MA   153
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876