Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Hijrah Setengah Hati



Senin , 08 Juli 2024



Telah dibaca :  543

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan tamu kehormatan dari para ilmuwan antara lain Prof Fitra Lestari, Dr. Rahmat, dan Dr. Ibnu. Mereka adalah tamu dari dua perguruan tinggi ternama di kota Pekanbaru; Prof Fitra dari UIN Sultan Syarif Kasim Riau, sedang Dr. Rahmat dan Dr. Ibnu dari Universitas Riau. Mereka usianya masih di bawah 40-an tahun, tapi semangat melakukan beragam inovasi penelitian luarbiasa. Pantas saja, di usia yang relatif muda tersebut, karya-karya nya sudah banyak diakui di dunia internasional.

Mungkin karena sering melakukan penelitian, berpengaruh kepada wajah. Prof Fitra Lestari saat sekarang ini berumur kurang-lebih 39 tahun. Tapi saya perhatikan jenggotnya sudah memutih cukup banyak. Maka dalam pertemuan tersebut saya ngledek ke Dr. Rahmat dan Dr. Ibnu, “Kalian jangan cepat jadi guru besar, nanti cepat tua seperti Prof Fitra”. Semua yang hadir pun tertawa mendengar guyonanku.

Para pendidik seperti Prof Fitra dan teman-teman adalah tenaga-tenaga muda yang sangat dibutuhkan untuk kemajuan dunia pendidikan. Meskpun terkadang dalam dunia nyata saat sekarang ini, para pendidik tidak bisa meninggalkan kewajibannya dalam memperbaiki persoalan administrasi yang terkadang membuat pusing, tapi naluri sebagai seorang ilmuwan, murabi, muadib dan mu’alim tidak boleh hilang dalam sanubari seorang dosen. Sebab tugas dosen adalah warisan kenabian sangat mulia sebagai wujud hadist nabi,”Sebaik-baik manusia yaitu yang umurnya panjang dan memberi konstribusi positif kepada Masyarakat”.

Administrasi Pendidikan memang sudah berbeda jauh dari sebelumnya. Lahirnya era digitalisasi sebagai jawaban agar pergerakan positif semakin baik, tapi dalam kenyataannya menimbulkan persoalan-persoalan dilematik dikemudian hari. Pertama para pendidik sebagian besar para pendidik adalah produk sarjana masih menganut pola lama dengan model kuliah tatap muka. Pola seperti ini merupakan pola yang paling efektif untuk menghasilkan peserta didik atau para sarjana yang tidak hanya menyerap ilmu pengetahuan, tapi bisa menimba ilmu akhlak secara langsung kepada pendidiknya. Proses Pendidikan seperti ini karena berlandaskan kepada tafsir  filsafat pendidikan Islam yang membutuhkan interaksi langsung dan filsafat Pendidikan bangsa Indonesia yang terangkum dalam kalimat, “ing ngarso sung tulodo, ing madia mangun karso, tut wuri handayani”. Ketika terjadi pergeseran ke arah digitalisasi pendidikan, maka ada bagian-bagian filsafat pendidikan Islam dan kearifan lokal hilang. Sehingga ada kekosongan ruhaniah peserta didik dari nilai-nilai Pendidikan. Sampai hari ini, belum ada yang menjawab siapa yang bertanggungjawab untuk memperbaiki kekosongan ruhaniah tersebut, apakah pengambil kebijakan yang telah membuat sistem Pendidikan, pelaksana kebijakan seperti sekolah dan perguruan tinggi, atau orang tua yang sudah pusing memikirkan kebutuhan hidupnya?. Wallahu a’lam.

Kedua, perubahan kebijakan sangat cepat telah menguras energi cukup besar yang dirasakan oleh para pendidik. Sebab proses digitalisasi menimbulkan persoalan psikologi mendalam yang sangat terasa bagi sekolah, peserta didik dan wali murid. Mereka seolah-olah harus bisa memahami pemikiran nya sama dengan para perancang kurikulum yang lahir dari dunia yang sudah mapan. Akibatnya regulasi para pengambil kebijakan yang sangat jenius justru telah membuat persoalan baru yang cukup serius bagi kelangsungan generasi Indonesia di masa mendatang. Mereka akan menjadi korban dari ganasnya arus informasi yang telah disediakan oleh internet. Jika terjadi korban, saya yakin para perancang kurikulum belum siap mengantisipasinya. Bahkan bisa jadi dengan dalih administrasi, mereka bisa mengatakan demikian, “Kenakalan bukan bagian kami, itu bagian lembaga lain”. Bagi saya hal itu wajar, sebab memang dunia digitalisasi adalah dunia baru yang memungkinkan orang  hadir sebagai pahlawan, tapi pada sisi lain lain justru sebagai pecundang. Sudah beberapa korban akibat adanya digitalisasi, bahkan sudah jutaan korban akibat ulah orang-orang yang tidak bertanggungjawab mulai dari persoalan perceraian keluarga, kenakalan anak remaja, judi online, mafia pendidikan, dan crime cyber lainnya. Semua adalah produk apa yang disebut internet. Ia Bagai pisau bermata dua.

Ada suatu cerita, anak ku yang masih duduk di kelas 5 SD minta belikan HP android. Katanya, ada tugas dari guru nya mengerjakan soal-soal yang dikirim melalui WA grup. Secara spintas memang tidak ada persoalan, saya pun membelikannya. Penuls hanya bisa membayangkan bagaimana seorang anak ketika sudah merasa nikmat memegang android. Jangankan anak-anak, orang yang sudah beranjak dewasa pun terpedaya akalnya oleh benda tersebut. Bahkan dalam hasil penelitian (lupa namanya), masyarakat Indonesia adalah satu-satunya masyarakat yang kecanduan HP android. Wajar jika sekarang bangsa ini kecanduan judi online Tingkat pertama di dunia dengan populasi masyarakat muslim terbesar juga di dunia.

Dari sini saja penulis bisa membayangkan, bahwa dampak anak-anak berkenalan dengan HP android lebih besar madharatnya daripada manfaatnya. Terutama sekali madharat yang langsung bisa dirasakan adalah: anak-anak susah diatur dan mudah melawan terhadap perintah orang tuanya, malas mengerjakan tugas sekolah, malas makan dan sejenisnya.

Jika kondisi seperti ini diteruskan maka penulis bisa membayangkan output generasi masa depan Indonesia. Memang, era digitalisasi tidak bisa dihindarinya, tapi perlindungan terhadap keselamatan juga harus disediakan sebaik-baiknya.

Apakah perlindungan tersebut sudah ada dan bagaimana bentuknya, penulis tidak akan menjawab. Sebab judul tulisan ini “Hijrah Setengah Hati”, silahkan penulis lainnya melengkapi “setengah hati yang hilang” agar dunia digital benar-benar sepenuh hati ramah terhadap dunia pendidikan.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Haul Mbah Subari; Ulama dan Penulis Rintisan
19 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   115

Menyalakan Obor Tradisi Ulama-Sebuah Pengantar
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   247

Lail Al-Qadr : Menggali Ruh Peradaban Islam
08 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   115

Alarm Depresi Remaja Australia, Peringatan bagi Indonesia !
17 Desember 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   309

Mutiara Untuk Anak-Anakku
25 November 2025   Oleh : Dr.Edi Purnomo,MA   153

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876