Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ibrahim, Tauhid dan Konflik



Jumat , 06 Juni 2025



Telah dibaca :  567

Dalam Islam, Ibrahim merupakan Nabi dan Rasul yang sering disebut “Bapak Tauhid”. Sejak kecil ia telah mempunyai komitmen kuat memberantas segala hal-hal yang berpotensi menjadi pesaing Allah. Ia melakukan penghancuran terhadap berhala-berhala yang dijadikan sesembahan oleh Raja Namrud dan pengikut-pengikutnya. Tentu saja perbuatannya membuat Raja Namrud marah. Dengan segala kekuatan, Namrud menangkap Nabi Ibrahim dan membakar hidup-hidup. Hukuman disaksikan oleh penguasa dan masyarakat. Mereka senang. Pembakaran Ibrahim sebagai simbol kekuatan dan kemenangan penguasa. Raja Namrud seolah-oleh telah berjasa menyelamatkan masyarakat dan menjaga stabilitas nasional.

Mereka kaget luarbiasa. Api yang dianggap mampu membunuh Ibrahim tidak mempunyai pengaruh sama sekali. saat kayu bakar telah menjadi abu, Ibrahim tetap selamat dan tidak mengalami luka-luka.

Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Anbiya ayat 68-69 sebagai berikut:

قَالُوْا حَرِّقُوْهُ وَانْصُرُوْٓا اٰلِهَتَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ ۝٦٨

قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَۙ ۝٦٩

Artinya:

Mereka berkata, “Bakarlah dia (Ibrahim) dan bantulah tuhan-tuhan kamu jika kamu benar-benar hendak berbuat.”

Kami (Allah) berfirman, “Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim!”

Keteguhan Nabi Ibrahim mempertahankan keyakinan bertauhid sangat luarbiasa. ia rela mempertaruhkan jiwa dan raga nya demi mempertahankan keyakinan tentang ekistensi Allah sebagai sang pencipta tungga yang pantas disembah oleh umat manusia. prinsip keyakinan ini yang kemudian menjadi inti setiap agama yang datang setelah nya dalam membangun sistem keyakinan, ibadah, akhlak dan muamalah.

Keberhasilan nabi ibrahim meletakan keyakinan tauhid kepada umat manusia tidak serta merta membuat kesadaran generasi setelah nya untuk mengikuti sepenuh hati. sebagian dari generasi setelahnya menggunakan agama sebagai kekuatan politis. Ia tidak lagi menjadikan agama sebagai pemurnian tauhid. Ia mulai bergeser pada keakuan egoisme sempit dan kebenaran eklusif yang jauh dari esensi tauhid.

وَقَالُوْا كُوْنُوْا هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى تَهْتَدُوْاۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ اِبْرٰهٖمَ حَنِيْفًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ۝١٣٥

Artinya:

Mereka berkata, “Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah, “(Tidak.) Akan tetapi, (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus dan dia tidak termasuk orang-orang musyrik.”

Syeikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Munir menjelaskan tentang asbabul nuzul dari ayat tersebut yaitu berkenaan dengan para pemuka Yahudi di Madinah (Ka’ab bin Asyraf, Malik bin Shaif, dan Abu Yasir bin Akhthab) dan kaum Nasrani dari Najran. Mereka mendebat kaum Muslimin dalam soal agama. Masing-masing pihak mengklaim bahwa diri mereka lebih berhak atas agama Allah daripada pihak yang lain.   Kaum Yahudi berkata, “Nabi kami, Musa, adalah nabi terbaik; kitab kami, Taurat, adalah kitab terbaik, dan agama kami adalah agama terbaik.” Mereka mengingkari Nabi Isa, Injil, Nabi Muhammad SAW, dan Al-Qur'an.

Tafsir tersebut membuka tabir bahwa tidak semua kaum Yahudi dan Nasrani pada saat itu mempunyai pandangan jernih tentang visi dari tauhid dari nenek moyangnya yaitu nabi ibrahim. Padahal seluruh agama mempunyai pandangan tauhid sama yaitu mengesakan Allah SWT. Namun pada sebagian pengikutnya merasa bahwa kehadiran agama Islam sebagai saingan bersifat politis dan saling mengklaim sebagai satu-satunya agama yang paling benar dan satu-satunya agama yang paling direstui oleh Tuhan.

Penulis menilai bahwa landasan teologi eklusif dari ketiga agama besar jalur dari millata ibrahim tersebut menjadi pangkal pemicu ketegangan antar penganut agama dan kemudian merembet pada persoalan politik. Apalagi jika merujuk perjalanan sejarah, sebagian Kaum Yahudi pada masa para Nabi seperti Yusuf, Musa dan Daud telah melakukan manipulasi ajaran agama mereka untuk sebagai motif kepentingan kelompok. Seperti kasus Samiri pada masa Nabi Musa. Juga kasus-kasus pembunuhan kepada para Nabi oleh Bani Israel pada masa lalu. Ini menunjukan bahwa agama sejak dulu telah dijadikan alat untuk kepentingan politik dan kekuasaan.

Penyebab konflik selain persoalan eklusifitas agama, juga akibat adanya fanatisme terhadap keturunan. Kaum Yahudi merasa bahwa ia sebagai bangsa/kaum terpilih (the choosen people). Mereka merasa mempunyai status lebih tinggi sebagai anak Tuhan. Status tersebut sebagai Hak Istimewa (privilege) yang mempunyai otoritas sebagai wakil Tuhan di dunia. Maka melawan mereka berarti melawan hukum-hukum Tuhan. Bagi mereka menghancurkan musuh-musuh mereka merupakan suatu kewajiban dalam menjaga konstisusi sebagai the choosen people.

Titik pertemuan tersebut justru terjadi di daerah Nabi Ibrahim berada yaitu di Palestina. Wilayah ini dari dulu hingga sekarang ini menjadi konflik yang berlatarbelakang persoalan agama, politik dan juga fanatisme keturunan. Bahkan terkadang dalam berbagai kasus, fanatisme keturunan bisa mengalahkan stasus agama dan politik. Kedua unsur tersebut bisa dijadikan alat untuk melegitimasi status privilege seseorang dengan melakukan manipulasi-manipulasi mengatasnamakan ajaran agama dan politik.

Itu sebabnya, kenapa orang Yahudi tidak bisa menerima Islam secara apa adanya. Salah satu penyebabnya karena persoalan garis keturunan. Kaum Yahudi merasa bahwa Siti Sarah jauh lebih mulia karena lahir dari keluarga terhormat dan mempunyai garis keturunan yang mulia. Sedangkan agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad berasal dari garis keturunan Nabi Ismail. Secara genetika, sama satu ayah tapi beda ibu. Ismail lahir dari Siti Hajar. Ia merupakan seorang gadis sholehah hadiah dari Raja saat Nabi Ibrahim berkunjung ke Kerajaan Mesir.

Bagi Kaum Yahudi, catatan garis keturunan tersebut sudah menunjukan kecacatan status seseorang. Bagi kaum yahudi, sehebat apapun seseorang ketika mempunyai garis keturunan tidak jelas, maka dianggap bagian dari catatan sejarah kurang baik.

Islam justru membangun kualitas seseorang bukan pada keturunan, tapi meletakan kualitas pada takwa nya. Penekanan takwa dalam ajaran Islam merupakan jalan untuk memberantas privilege atas nama keturunan. Semua sama dalam pandangan Allah, sama-sama mempunyai potensi untuk menjadi paling mulia disisi-Nya. Siapapun orangnya dan darimanapun asalnya.

Jika memang ini benar, bisa jadi sumber konflik jika diperas lagi bermuara pada pandangan status kemuliaan manusia. Jika yahudi status kemuliaan karena mengklaim sebagai anak Tuhan, sedangkan Islam menempatkan takwa sebagai status tertinggi dihadapan-Nya. Dua pandangan agama berbeda dan akan terus melahirkan perbedaan pandangan politik sepanjang masa pada tiga agama besar: Yahudi, Nasrani dan Islam. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874