
Dalam Islam, Ibrahim merupakan Nabi dan Rasul
yang sering disebut “Bapak Tauhid”. Sejak kecil ia telah mempunyai komitmen
kuat memberantas segala hal-hal yang berpotensi menjadi pesaing Allah. Ia melakukan
penghancuran terhadap berhala-berhala yang dijadikan sesembahan oleh Raja
Namrud dan pengikut-pengikutnya. Tentu saja perbuatannya membuat Raja Namrud marah.
Dengan segala kekuatan, Namrud menangkap Nabi Ibrahim dan membakar hidup-hidup.
Hukuman disaksikan oleh penguasa dan masyarakat. Mereka senang. Pembakaran Ibrahim
sebagai simbol kekuatan dan kemenangan penguasa. Raja Namrud seolah-oleh telah
berjasa menyelamatkan masyarakat dan menjaga stabilitas nasional.
Mereka kaget luarbiasa. Api yang dianggap
mampu membunuh Ibrahim tidak mempunyai pengaruh sama sekali. saat kayu bakar
telah menjadi abu, Ibrahim tetap selamat dan tidak mengalami luka-luka.
Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Anbiya ayat
68-69 sebagai berikut:
قَالُوْا حَرِّقُوْهُ وَانْصُرُوْٓا اٰلِهَتَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ
٦٨
قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَۙ ٦٩
Artinya:
Mereka berkata, “Bakarlah dia (Ibrahim) dan
bantulah tuhan-tuhan kamu jika kamu benar-benar hendak berbuat.”
Kami (Allah) berfirman, “Wahai api, jadilah
dingin dan keselamatan bagi Ibrahim!”
Keteguhan Nabi Ibrahim mempertahankan keyakinan
bertauhid sangat luarbiasa. ia rela mempertaruhkan jiwa dan raga nya demi
mempertahankan keyakinan tentang ekistensi Allah sebagai sang pencipta tungga
yang pantas disembah oleh umat manusia. prinsip keyakinan ini yang kemudian
menjadi inti setiap agama yang datang setelah nya dalam membangun sistem keyakinan,
ibadah, akhlak dan muamalah.
Keberhasilan nabi ibrahim meletakan
keyakinan tauhid kepada umat manusia tidak serta merta membuat kesadaran
generasi setelah nya untuk mengikuti sepenuh hati. sebagian dari generasi
setelahnya menggunakan agama sebagai kekuatan politis. Ia tidak lagi menjadikan
agama sebagai pemurnian tauhid. Ia mulai bergeser pada keakuan egoisme sempit
dan kebenaran eklusif yang jauh dari esensi tauhid.
وَقَالُوْا كُوْنُوْا هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى تَهْتَدُوْاۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ
اِبْرٰهٖمَ حَنِيْفًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ١٣٥
Artinya:
Mereka berkata, “Jadilah kamu (penganut)
Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah, “(Tidak.)
Akan tetapi, (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus dan dia tidak termasuk
orang-orang musyrik.”
Syeikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Munir
menjelaskan tentang asbabul nuzul dari ayat tersebut yaitu berkenaan
dengan para pemuka Yahudi di Madinah (Ka’ab bin Asyraf, Malik bin Shaif, dan
Abu Yasir bin Akhthab) dan kaum Nasrani dari Najran. Mereka mendebat kaum
Muslimin dalam soal agama. Masing-masing pihak mengklaim bahwa diri mereka
lebih berhak atas agama Allah daripada pihak yang lain. Kaum Yahudi berkata, “Nabi kami, Musa,
adalah nabi terbaik; kitab kami, Taurat, adalah kitab terbaik, dan agama kami
adalah agama terbaik.” Mereka mengingkari Nabi Isa, Injil, Nabi Muhammad SAW,
dan Al-Qur'an.
Tafsir tersebut membuka tabir bahwa tidak
semua kaum Yahudi dan Nasrani pada saat itu mempunyai pandangan jernih tentang visi
dari tauhid dari nenek moyangnya yaitu nabi ibrahim. Padahal seluruh agama
mempunyai pandangan tauhid sama yaitu mengesakan Allah SWT. Namun pada sebagian
pengikutnya merasa bahwa kehadiran agama Islam sebagai saingan bersifat politis
dan saling mengklaim sebagai satu-satunya agama yang paling benar dan
satu-satunya agama yang paling direstui oleh Tuhan.
Penulis menilai bahwa landasan teologi eklusif
dari ketiga agama besar jalur dari millata ibrahim tersebut menjadi pangkal
pemicu ketegangan antar penganut agama dan kemudian merembet pada persoalan
politik. Apalagi jika merujuk perjalanan sejarah, sebagian Kaum Yahudi pada
masa para Nabi seperti Yusuf, Musa dan Daud telah melakukan manipulasi ajaran
agama mereka untuk sebagai motif kepentingan kelompok. Seperti kasus Samiri pada
masa Nabi Musa. Juga kasus-kasus pembunuhan kepada para Nabi oleh Bani Israel pada
masa lalu. Ini menunjukan bahwa agama sejak dulu telah dijadikan alat untuk
kepentingan politik dan kekuasaan.
Penyebab konflik selain persoalan eklusifitas
agama, juga akibat adanya fanatisme terhadap keturunan. Kaum Yahudi
merasa bahwa ia sebagai bangsa/kaum terpilih (the choosen people). Mereka
merasa mempunyai status lebih tinggi sebagai anak Tuhan. Status tersebut
sebagai Hak Istimewa (privilege) yang mempunyai otoritas sebagai wakil Tuhan
di dunia. Maka melawan mereka berarti melawan hukum-hukum Tuhan. Bagi mereka
menghancurkan musuh-musuh mereka merupakan suatu kewajiban dalam menjaga
konstisusi sebagai the choosen people.
Titik pertemuan tersebut justru terjadi di
daerah Nabi Ibrahim berada yaitu di Palestina. Wilayah ini dari dulu hingga
sekarang ini menjadi konflik yang berlatarbelakang persoalan agama, politik dan
juga fanatisme keturunan. Bahkan terkadang dalam berbagai kasus, fanatisme
keturunan bisa mengalahkan stasus agama dan politik. Kedua unsur tersebut bisa
dijadikan alat untuk melegitimasi status privilege seseorang dengan melakukan
manipulasi-manipulasi mengatasnamakan ajaran agama dan politik.
Itu sebabnya, kenapa orang Yahudi tidak
bisa menerima Islam secara apa adanya. Salah satu penyebabnya karena persoalan
garis keturunan. Kaum Yahudi merasa bahwa Siti Sarah jauh lebih mulia karena
lahir dari keluarga terhormat dan mempunyai garis keturunan yang mulia. Sedangkan
agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad berasal dari garis keturunan Nabi
Ismail. Secara genetika, sama satu ayah tapi beda ibu. Ismail lahir dari Siti
Hajar. Ia merupakan seorang gadis sholehah hadiah dari Raja saat Nabi Ibrahim berkunjung
ke Kerajaan Mesir.
Bagi Kaum Yahudi, catatan garis keturunan
tersebut sudah menunjukan kecacatan status seseorang. Bagi kaum yahudi, sehebat
apapun seseorang ketika mempunyai garis keturunan tidak jelas, maka dianggap bagian
dari catatan sejarah kurang baik.
Islam justru membangun kualitas seseorang
bukan pada keturunan, tapi meletakan kualitas pada takwa nya. Penekanan takwa dalam
ajaran Islam merupakan jalan untuk memberantas privilege atas nama
keturunan. Semua sama dalam pandangan Allah, sama-sama mempunyai potensi untuk
menjadi paling mulia disisi-Nya. Siapapun orangnya dan darimanapun asalnya.
Jika memang ini benar, bisa jadi sumber
konflik jika diperas lagi bermuara pada pandangan status kemuliaan manusia. Jika
yahudi status kemuliaan karena mengklaim sebagai anak Tuhan, sedangkan Islam menempatkan
takwa sebagai status tertinggi dihadapan-Nya. Dua pandangan agama berbeda dan
akan terus melahirkan perbedaan pandangan politik sepanjang masa pada tiga
agama besar: Yahudi, Nasrani dan Islam.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2945
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874