
Sejak tahun lalu saya kesasar gara-gara
memakai Google Maps, sampai hari ini saya sanksi menggunakan nya. Bayangkan,
minta jalan yang mulus dan cepat, Google Maps malah memberi arah daerah
pesawahan di salah satu daerah di Jawa Timur.
Hari ini terulang lagi, mencari rumah Ustadzah
Ervina yang ketemu malah rumah suku asli. Banyak anjing pula. Google Maps
yang suara persis suara perempuan masih saja mengeluarkan suara memberi arah: “dua
kilo meter ke kiri”. Padahal jalan ke kiri mentok. Kata orang Jawa Timur: “jiaancukk
!!!”.
Untung supirnya punya kesabaran tingkat dewa.
Setelah tawaf beberapa kali, akhirnya ketemu juga.
Seharusnya kaum perempuan komplain ke
perusaan google. Seharusnya jangan menggunakan suara perempuan. Itu melecehkan
sekali. Masa sih, seharusnya arah ke utara, Google Maps ngomong ke
selatan. Memangnya watak kaum perempuan seperti itu?. Suka seperti itu?. Inkonsisten?
Wallahu a’lam. Saya tidak berani menjawab. Tentara aja saya lihat di Tik
Tok takut sama istrinya, apalagi saya. Katanya sih “ras terkuat” di planet
bumi. Entah apa nya yang kuat.
Mungkin saja suara perempuan bisa menggoda
dan mampu menghipnotis kesadaran akal. Itu alasan perusahaan google. Kenyataan
begitu. Suara perempuan memang sangat menggoda. Itu sebab nya hari ini banyak
sekali laki-laki ikut-ikutan suara perempuan. Tapi bukan malah menarik, justru
jadi bahan tertawaan.
Sebenarnya ada Google Maps bisa juga
mengganti suara perempuan dengan suara laki-laki. Tapi harus laki-laki dari Jawa
bahasa nya pakai bahasa halus. Itu dijamin lebih lembut. Atau paling tidak sebanding
suara perempuan: “ngapunten, arah tengen, tesih 2 kilo meter malih”. Jangan
bahasa Batak. Kasihan supirnya tambah stress.
Lhoo apa hubungan Google Maps dengan Ijazah
?. Berikut ini penjelasan hasil perenungan yang kurang mendalam. Jadi, saya harap
anda tidak perlu serius menanggapi. Santai saja. Supaya hasilnya serius.
Google Maps dan Ijazah hampir sama, yaitu
sebagai penunjuk kebenaran. Bedanya, google maps sedikit cerewet karena ada
suaranya, sedangkan Ijazah itu sunyi seperti keheningan di malam hari. Karena
sunyi, respon manusia terhadap Ijazah itu juga kadang bersifat insidental, dan
menimbulkan getar. Tapi karena di malam hari, sekecil apapun suara sangat mudah
menggema kemana-mana. Itu sebabnya ketika anda ingin belajar “olah batin”,
dianjurkan di malam hari. Sebab suasana alam yang tenang mampu mempercepat
pencapaian kesadaran diri dan kedekatan diri dengan Sang Hyang Widhi atau Allah
SWT. Jangan olah batin di pasar, anda pasti gagal, kecuali anda sudah masuk
maqam laa roiba fiih.
Hanya saja di era modern, kesakralan Ijazah
sangat di formalkan sekali. Ini yang menimbulkan responsif masyarakat sangat
mudah terjadi dan beragam. Bahkan terkadang sudah melupakan nilai-nilai
moralitas.
Berbeda dengan Ijazah yang diberikan oleh
para ulama dulu berupa amalan-amalan tertentu, terutama berkaitan dengan ijazah
“beninge ati”. Seperti saat saya di pesantren, diberi saya diberi ijazah
puasa empat puluh hari agar bisa menghapalkan Kitab Al-Fiyah Ibn Malik dan
memahaminya. Saya amalkan. Berkah nya, saya dulu hapal hingga sampai pada
sastranya, ‘uqudul juman [tapi sekarang sudah lupa, sudah banyak
pikiran].
Pada tahun 2015 saat masih menjadi guru
MDA, saya sudah lulus Program Doktor di UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Sebagian
orang terkagum-kagum. Sebagian sinis, sebagian lagi tidak suka mendengar berita
tersebut. Saya tidak peduli. Sebab saya kuliah hanya karena perintah guru ku
untuk terus belajar. Apakah itu berguna atau tidak, wallahu a’lam. Saya
baru tahu itu berguna, setelah saya bertemu dengan Prof. Samsul Nizar Ketua
STAIN Bengkalis pada masa nya. Dan mulai akhir 2017 saya menjadi dosen STAIN
Bengkalis.
Bisakah persoalan Ijazah itu
disederhanakan?. Jika anda ragu dengan ijazah ku waktu SD, coba temui ku. Saya
pasti akan membuatkan kopi spesial, sambil ngobrol santai. Lalu saya amblkan
ijazah. Selesai. Anda dapat kopi, lihat ijazah ku, dan dapat pahala
silaturahim.
Saya kira itu budaya asli bangsa Indonesia.
Duduk dan berdialog. Itu musyawarah. Itupun kadang sudah musyawarah, membawa
hasil musyawarah ke luar sudah berbeda ceritanya, apalagi hanya berbicara di
emper-emper toko, di gardu siskamling atau di kedai kopi. Bisa, dipastikan
hasil musyawarah berubah menjadi gosip. Digosok semakin sip.
Tentu semua kembali kepada masing-masing individu.
Semua punya maqasid sendiri-sendiri. Hanya saja saya berfikir, apakah energi
kita dihabiskan untuk terus membahas seperti itu saat tetangga-tetangga kita
sudah siap-siap tinggal landas. Apakah kita akan tetap pada landasan semula. Pancet.
Berjalan ditempat sambil “ngompreng” terus masing-masing merasa tidak
bersalah?.
Sebagai penutup tulisan ini saya ingat
suatu penggalan hadist yang berbunyi: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah
dan Hari Akhir, bicaralah yang berkualitas kalau tidak bisa maka diam”. Dan juga
pada hadist lain: “Sebaik-baik manusia yaitu orang yang mampu memberi manfaat
kepada orang lain”.
Dua hadist tersebut memberi energi besar
untuk meningkatkan kualitas diri untuk sedikit demi sedikit tidak menoleh terus
ke belakang dan sudah saatnya untuk belajar menatap masa depan. Sebab hidup
sebenarnya bukan sebatas kenangan, tapi hari ini untuk persiapan masa datang.
Penulis : Imam Ghozali
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   212
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   236
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872