Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ijazah dan Google Maps



Rabu , 16 April 2025



Telah dibaca :  585

Sejak tahun lalu saya kesasar gara-gara memakai Google Maps, sampai hari ini saya sanksi menggunakan nya. Bayangkan, minta jalan yang mulus dan cepat, Google Maps malah memberi arah daerah pesawahan di salah satu daerah di Jawa Timur.

Hari ini terulang lagi, mencari rumah Ustadzah Ervina yang ketemu malah rumah suku asli. Banyak anjing pula. Google Maps yang suara persis suara perempuan masih saja mengeluarkan suara memberi arah: “dua kilo meter ke kiri”. Padahal jalan ke kiri mentok. Kata orang Jawa Timur: “jiaancukk !!!”.

Untung supirnya punya kesabaran tingkat dewa. Setelah tawaf beberapa kali, akhirnya ketemu juga.

Seharusnya kaum perempuan komplain ke perusaan google. Seharusnya jangan menggunakan suara perempuan. Itu melecehkan sekali. Masa sih, seharusnya arah ke utara, Google Maps ngomong ke selatan. Memangnya watak kaum perempuan seperti itu?. Suka seperti itu?. Inkonsisten? Wallahu a’lam. Saya tidak berani menjawab. Tentara aja saya lihat di Tik Tok takut sama istrinya, apalagi saya. Katanya sih “ras terkuat” di planet bumi. Entah apa nya yang kuat.

Mungkin saja suara perempuan bisa menggoda dan mampu menghipnotis kesadaran akal. Itu alasan perusahaan google. Kenyataan begitu. Suara perempuan memang sangat menggoda. Itu sebab nya hari ini banyak sekali laki-laki ikut-ikutan suara perempuan. Tapi bukan malah menarik, justru jadi bahan tertawaan.

Sebenarnya ada Google Maps bisa juga mengganti suara perempuan dengan suara laki-laki. Tapi harus laki-laki dari Jawa bahasa nya pakai bahasa halus. Itu dijamin lebih lembut. Atau paling tidak sebanding suara perempuan: “ngapunten, arah tengen, tesih 2 kilo meter malih”. Jangan bahasa Batak. Kasihan supirnya tambah stress.

Lhoo apa hubungan Google Maps dengan Ijazah ?. Berikut ini penjelasan hasil perenungan yang kurang mendalam. Jadi, saya harap anda tidak perlu serius menanggapi. Santai saja. Supaya hasilnya serius.

Google Maps dan Ijazah hampir sama, yaitu sebagai penunjuk kebenaran. Bedanya, google maps sedikit cerewet karena ada suaranya, sedangkan Ijazah itu sunyi seperti keheningan di malam hari. Karena sunyi, respon manusia terhadap Ijazah itu juga kadang bersifat insidental, dan menimbulkan getar. Tapi karena di malam hari, sekecil apapun suara sangat mudah menggema kemana-mana. Itu sebabnya ketika anda ingin belajar “olah batin”, dianjurkan di malam hari. Sebab suasana alam yang tenang mampu mempercepat pencapaian kesadaran diri dan kedekatan diri dengan Sang Hyang Widhi atau Allah SWT. Jangan olah batin di pasar, anda pasti gagal, kecuali anda sudah masuk maqam laa roiba fiih.

Hanya saja di era modern, kesakralan Ijazah sangat di formalkan sekali. Ini yang menimbulkan responsif masyarakat sangat mudah terjadi dan beragam. Bahkan terkadang sudah melupakan nilai-nilai moralitas.

Berbeda dengan Ijazah yang diberikan oleh para ulama dulu berupa amalan-amalan tertentu, terutama berkaitan dengan ijazah “beninge ati”. Seperti saat saya di pesantren, diberi saya diberi ijazah puasa empat puluh hari agar bisa menghapalkan Kitab Al-Fiyah Ibn Malik dan memahaminya. Saya amalkan. Berkah nya, saya dulu hapal hingga sampai pada sastranya, ‘uqudul juman [tapi sekarang sudah lupa, sudah banyak pikiran].

Pada tahun 2015 saat masih menjadi guru MDA, saya sudah lulus Program Doktor di UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Sebagian orang terkagum-kagum. Sebagian sinis, sebagian lagi tidak suka mendengar berita tersebut. Saya tidak peduli. Sebab saya kuliah hanya karena perintah guru ku untuk terus belajar. Apakah itu berguna atau tidak, wallahu a’lam. Saya baru tahu itu berguna, setelah saya bertemu dengan Prof. Samsul Nizar Ketua STAIN Bengkalis pada masa nya. Dan mulai akhir 2017 saya menjadi dosen STAIN Bengkalis.

Bisakah persoalan Ijazah itu disederhanakan?. Jika anda ragu dengan ijazah ku waktu SD, coba temui ku. Saya pasti akan membuatkan kopi spesial, sambil ngobrol santai. Lalu saya amblkan ijazah. Selesai. Anda dapat kopi, lihat ijazah ku, dan dapat pahala silaturahim.

Saya kira itu budaya asli bangsa Indonesia. Duduk dan berdialog. Itu musyawarah. Itupun kadang sudah musyawarah, membawa hasil musyawarah ke luar sudah berbeda ceritanya, apalagi hanya berbicara di emper-emper toko, di gardu siskamling atau di kedai kopi. Bisa, dipastikan hasil musyawarah berubah menjadi gosip. Digosok semakin sip.

Tentu semua kembali kepada masing-masing individu. Semua punya maqasid sendiri-sendiri. Hanya saja saya berfikir, apakah energi kita dihabiskan untuk terus membahas seperti itu saat tetangga-tetangga kita sudah siap-siap tinggal landas. Apakah kita akan tetap pada landasan semula. Pancet. Berjalan ditempat sambil “ngompreng” terus masing-masing merasa tidak bersalah?.

Sebagai penutup tulisan ini saya ingat suatu penggalan hadist yang berbunyi: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, bicaralah yang berkualitas kalau tidak bisa maka diam”. Dan juga pada hadist lain: “Sebaik-baik manusia yaitu orang yang mampu memberi manfaat kepada orang lain”.

Dua hadist tersebut memberi energi besar untuk meningkatkan kualitas diri untuk sedikit demi sedikit tidak menoleh terus ke belakang dan sudah saatnya untuk belajar menatap masa depan. Sebab hidup sebenarnya bukan sebatas kenangan, tapi  hari ini untuk persiapan masa datang. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   212

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   236

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872