Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Jalan Membebaskan Diri dari Penyakit Akut yang Mematikan



Sabtu , 04 Mei 2024



Telah dibaca :  408

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya dan mereka mendapat azab yang sangat pedih karena mereka selalu berdusta”.

Ilmu medis telah membuat daftar penyakit-penyakit yang membahayakan jiwa manusia dari dulu sampai saat sekarang ini. Kita pernah mendengar penyakit TBC (tuberculosis). Penyakit ini menempati urutan ke-13 penyebab kematian manusia. Pada tahun 2022 diperkirakan ada 10,6 juta orang terkena penyakit tersebut di seluruh dunia. Penyakit ini menyerang pada usia produktif yaitu 45 tahun sampai pada 54 tahun. Ironisnya, usia tersebut adalah usia produktif yang menyerang penduduk Indonesia. Bahkan menjadi pengindap penyakit terbesar nomor dua setelah India.

Penyakit yang mematikan lagi yaitu HIV/AIDS. Penyakit ini tergolong baru, tetapi mempunyai potensi mematikan sangat besar. Korban jiwa yang paling besar di Afrika Selatan (7,1 juta), Nigeria (3,2 juta), dan India (2,1 juta). Negara Indonesia tidak termasuk kategori besar, tapi potensi penyebaran penyakit tersebut sangat terbuka sejalan semakin marak pergaulan bebas di segala kalangan usia produktif. Pada tahun 2022 sekitar 22.331 orang terkena HIV. Bisa jadi trend penularan dan perkembangan penyakit tersebut dari tahun 2023 dan 2024 meningkat, jika dilihat pola pergaulan bebas sudah begitu marak saat sekarang ini.

Selain HIV ada juga penyakit yang cukup mengancam jiwa manusia yaitu stroke. Penyakit ini menjadi penyakit pembunuh nomor satu di Indonesia. estimasi kemampuan hidup bagi orang yang telah terkena stroke berkisar pada 1,8 tahun sampai pada 5,7 tahun.

Islam tidak hanya memperkenalkan tentang penyakit yang bersifat jasmaniah, tetapi juga ruhaniah. Keduanya bisa saja tidak ada hubungan nya. Meskipun terkadang pada sisi tertentu bisa saling keterkaitan. Seperti orang yang selalu hasud atau dengki. Ketika otak dan pikirannya tidak kuat menyangga sifat-sifat tersebut akan mempengaruhi pada penurunan daya tahan tubuh. Begitu sebaliknya, ketika seseorang mempunyai hati yang bersih dari penyakit penyakit hati, hidup semakin damai dan tenang. Kehidupan damai dan tenang lahir dari jiwa yang tenang. Hal ini sangat membantu peredaran darah dan sirkulasi bernafas menjadi normal. Sehingga potensi sehat jasmaninya semakin besar.

Nabi Muhammad saw bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. رواه البخاري ومسل


“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging tersebut buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim).

Para ulama mengartikan hadist tersebut bukan sebatas daging semata, tapi sebagai tempat pusatnya keimanan dan keikhlasan amal sholeh. Gus Mus mengatakan, qalbun itu bukan dari alam syahadah tetapi dari alam ghaib. Ia bersandar pada hati secara fisik itu, tetapi bukan yang dilihat itu. Qalbun itu raja, ia bisa mengenal Allah dan sifat-sifat keindahan alam semesta ini dikenali qalbu.

Dari definisi tersebut berarti qalbun dalam arti jasad dan qalbun dalam arti maknawi sebagaimana dikatakan Gus Mus tadi, sama-sama mempunyai potensi sakit. Qalbun dalam bentuk segumpal darah disebut Liver. Tokoh-Tokoh Indonesia yang pernah ganti liver yaitu Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Dahlan Iskan. Sayangnya, Cak Nur gagal ganti liver dan meninggalkan dunia, sedangkan Dahlan Islam berhasil. Secara kedokteran, jika orang terkena penyakit ini, bisa merubah warna kulit menjadi semakin hitam. Cak Nur dan Dahlan Iskan pun begitu. Tapi sekarang Dahlan Iskan kembali normal dalam aktivitasnya dan juga kulitnya.

Berkaitan dengan penyakit liver, saya membaca buku Dahlan Iskan yang berjudul “Ganti Hati”. Buku tersebut pernah best seller pada masanya. Salah satu yang sangat menarik adalah kesiapan nya untuk operasi. Sambil menunggu jadwal operasi, ia masih menyempatkan kursus bahasa mandarin di rumah sakit tersebut. Ketika sudah saatnya operasi dan diterangkan resiko kegagalannya dan juga menceritakan banyak pasien yang gagal ganti liver dan kemudian meninggal dunia, Dahlan Iskan dengan senyum ikhlas mengatakan dengan tegas dan mantap :”Saya Siap Ganti Hati”.

Salah satu yang menyebabkan Dahlan Iskan mempunyai sandaran kuat dalam menghadapi ujian yang maha berat termasuk menghadapi kematian saat itu (jika gagal bisa dipastikan meninggal dunia), adalah berkah amalan tarikat syatariyah. Tarekat ini telah mengajarkan hidup “sumeleh”, yaitu suatu hidup yang mengajarkan asal-usul manusia dari dan akan kembali kepada-Nya. Itu sebabnya, menjalani hidup semata-mata ikhlas mencari ridha-nya secara totalitas.

Berangkat dari kisah di atas tersebut, bahwa orang yang mempunyai kesehatan qalbun maknawi sangat membantu sekali menciptakan kesehatan pada qalbun jasmani (liver). Orang yang mempunyai qalbun maknawi atau qalbun salim adalah orang-orang yang hatinya bersemanyam keagungan Allah dan kecintaan kepada Rasulullah saw. Hati nya bersinar dan tidak ada lagi debu-debu kotoran seperti dengki, takabur dan sejenisnya. Sehingga hidup nya selalu bahagia, senantiasa menebarkan kedamaian dan selalu berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi khalayak ramai.

Namun saat qalbun maknawi nya sudah gelap, maka seisi dunia pun menjadi gelap. Meskipun hidup di tengah-tengah cahaya lampu. Ia sudah tidak mengenal etika, sopan santun dan welas asih. Semua yang dilakukan hanya untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Itu sebabnya, muncul pada diri nya permusuhan-permusuhan, yang sebenarnya ia sedang memusuhi diri nya sendiri. Sebab memusuhi orang lain bagi hati yang kotor sebenarnya sedang memusuhi dirinya sendiri tapi ia tidak menyadarinya. Maka, tidak ada kemenangan sama sekali. Menang dan kalah bagi hati yang gelap sama-sama tempatnya di Api Neraka. Semoga kita terhindar dari penyakit akut yang sangat mematikan.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876