
Catatan harian ini untuk mengenang almarhum
Sahabat Shohib, Kader GP Ansor sebagai Ketua Kecamatan Rangsang Pesisir pada
Era Kiai Khosairi, M.Pd.I. saya mengenangnya sebagai orang yang sangat baik
sekali. Betul-betul membekas dalam ingatan saya. Wajahnya yang lembut, tampan
dan murah senyum serta sopan adalah tipikal orang yang cerdas, punya wawasan
luas dan mudah bergaul. Saya bertemu beberapa kali. Pertama kali saat
pembentukan Pengurus MWC NU Rangsang Pesisir di rumahnya Ustadz Muhahmmad
Rifai. Dia menjadi penyambut tamu. Saya lupa tahunnya, mungkin pertengahan
tahun 2018 atau 2019. Kedua saat mengikuti PKPNU di Siak. Yang ketiga, saat dia
berada di Rumah Sakit Umum Bengkalis.
Ketika ada informasi saat dia sakit, saya
pun lupa wajah nya. Saya menjenguknya bersama sahabat Chanifudin. Karena waktu
itu musim covid-19, ruangan nya ditutup. Hanya istri nya yang bisa jaga. Saya hanya
bisa menengok dari jauh. Saat dia melihatku, wajahnya mempunyai semangat yang
sangat tinggi. Senyum nya sulit dilupakan dalam benaku. Saya pun tersenyum.
namun hati saya menangis, ada perasaan sedih. Seolah-olah dalam hati mengatakan
bahwa senyum yang indah tersebut tidak akan ditemukan di kemudian hari. Dan ternyata
benar, selang beberapa hari saya mendengar kabar, bahwa dia tersenyum selamanya
berjumpa dengan sang kekasih teragung yaitu Allah s.w.t. saya menyakini,
sahabat shohib husunul khotimah. Amin.
Kembali kepada catatan pembentukan Pengurus
MWC NU Rangsang Pesisir. Saat itu sebenarnya bukan inisiatif saya. Ada kalimat
yang tidak enak masuk ditelingaku, yaitu dari Kiai Abdul Rauf, Abang dari Kiai Muhammad
Hozin. Dalam dialog bersama-sama kawan-kawan aktivis NU, dia berkata kurang
lebih begini: “Masa sih, yang menghidupkan kegiatan NU dan keliling ke
kecamatan-kecamatan hanya kiai doktor Imam, apa kita tidak mau mengambil
bagiannya.
Para aktivis NU pun berkumpul. Seperti biasa
model NU, kumpulnya pun santai tidak tegang; roko’an, minum kopi, dan
makan-makanan ringan iuran bareng-bareng. Saya ingat yang datang waktu itu
antara lain: Kiai Khosairi, Kiai Mardio Hasan, Kiai Mungidan Alhafidz, Kiai
Muhammad Shodiq, Kiai Abdul Rauf, Ustadz Muhammad Taufik, Sahabat Slamet dan
lain-lain.
Saya masih ingat saat datang ke Rangsang
Pesisir, yang dituju adalah rumah Muhammad Rifai. Konon ceritanya masih ada
saudara dari pak Kamislan Alahair. Kami sampaii sore hari menjelang maghrib. Seingat
saya waktu bulan puasa. Tuan rumah pak Muhammad Rifai telah menyiapkan
persiapan yang menurut saya sudah cukup sempurna. Ada makanan, ta’jilan dan minuman yang menurut ukuran saya sangat
istimewa dan mewah. Saya pribadi merasa malu atas sambutan luarbiasa. Muhammad
Rifai benar-benar telah menunjukan loyalitas terhadap NU dan berkorban dengan
kebesaran NU. Walaupun secara organisasi dia masih awam. Namun bagi saya,
kecintaan nya terhadap NU jauh melebihi dari para pengurus NU sendiri.
Acara pembentukan di Mushola. Undangan sangat
ramai. Sekitar ada 45 orang. Acaranya pun sederhana, ada sambutan dari sahabat Muhamamd
Rifai, Kiai Khosairi, dan termasuk saya memberikan tentang wawasan ke-NU-an
singkat. Doa seingat saya ditutup oleh Kiai Mungidan Alhafidz atau Kiai Mardio.
Tapi yang jelas waktu itu, Kiai Mardio Hasan belum dipanggil kiai keramat.
Saat itu ketua MWC NU terpilih adalah Muhammad Rifa’i. Dia meminta
waktu untuk melengkapi kepengurusan. Namun karena sama-sama ada kesibukan,
kepengurusan ini tertunda cukup lama. Akhirnya kami dipertemukan lagi saat Umroh
bersama pada tahun 2022. Jika dihitung dari pembentukan sekitar dua tahun lebih
enam bulan, kepengurusan MWC NU bisa terbentuk. Salah satu penyebabnya adalah
sulitnya mencari orang-orang yang benar-benar ngrumat NU. Ini sangat susah. Yang
minta jadi pengurus banyak, tapi yang militant sangat susah. Yang ingin menjadi
pengurus NU hanya untuk kepentingan diri sangat banyak, tapi yang ngurip-ngurip
NU dengan biaya sendiri sangat sulit. Itu sebabnya, perjuangan panjang Muhamma
Rifai akan senantiasa kami kenang sebagai pembuka jalan kepengerusan MWC NU di
Rangsang Pesisir.
Semoga keberkahan selalu menyertai nya dan
keluarga besarnya di dunia dan akherat. Amin.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   219
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   227
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   196
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   217
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   213
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14392
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6091
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5550
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4680
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4456