Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Jalan Sunyi dan Senyap: Antara Dendam dan Harapan untuk Bersatu



Senin , 30 Juni 2025



Telah dibaca :  626

Saat gencatan senjata perang Iran-Israel, bencana kemanusiaan pun kembali terjadi di Palestina. Tentara Israel menyerang penduduk Gaza. Sekitar 86 orang meninggal dunia -berita-berita media online punya versi beragam jumlah nya.

Siapa yang bisa menolong mereka. Siapa yang bisa menghentikan kekejaman tentara Israel. Apakah negara-negara muslim di dunia. Apakah negara-negara non-muslim di dunia. Apakah bangsa-bangsa di dunia membiarkan negara Israel melakukan pemusnahan bangsa Palestina dengan peperangan dan embargo bantuan?.

Jangan-jangan pola genosida tanpa henti bangsa Palestina akan  hilang di muka bumi. Setiap hari meninggal dunia, sedangkan pertumbuhan penduduk mulai melambat. Kematian begitu cepat  Sedangkan seruan dan kutukan umat Islam sampai detik ini belum mampu menghentikan kejahatan kemanusiaan di tanah kelahiran para nabi tersebut.

Biro Pusat Statistik Palestina atau Palestinian Central Bureau of Statistics (PCBS) merilis laporan yang menyebutkan bahwa populasi Gaza telah berkurang sangat dratis akibat perang. Genosida terus berlangsung di tempat kelahiran para nabi. Apakah Palestina akan tercatat sebagai negara yang hilang di peta dunia. Apakah akan datang suatu masa, bangsa Palestina hanya tinggal cerita yang akan terus terkubur dalam perjalanan sejarah manusia?.

Penulis artikel ini mengajak bergeser dari pembahasan persoalan Palestina-Israel menuju pada persoalan sunni -kata lain dari ahlusunnah wal jama’ah dan syi’ah. Dalam konteks sejarah modern saat sistem kekaisaran atau kekhalifahan runtuh semua negara menganut sistem negara bangsa (nation state). Setiap negara sudah memperpendek akses pembangunan. Mereka mempunyai otoritas membangun negara masing-masing  untuk kesejahteraan bangsa nya. Setiap negara juga mempunyai otoritas untuk bersekutu dengan negara-negara lain yang disukainya tanpa memperdulikan lagi siapa kawan dan lawan.

pada era modern saat ini, negara-negara sunni nyaris mempunyai hubungan baik dengan negara-negara barat dan timur -kapitalis dan sosialis. Negara-negara sunni seperti Turki, Arab Saudi, Malaysia, Indonesia dan negara-negara Islam sunni lain nyaris mempunyai hubungan baik dengan negara-negara yang secara ideologi sangat bertentangan dengan ajaran Islam.  Mereka bisa tersenyum dan tertawa dalam perbedaan.

Hubungan baik ini muncul karena kondisi Sumber Daya Manusia (SDM) masih sangat tertinggal jauh dari negara-negara kaum kapitalis dan sosial seperti Rusia, AS, Inggris, Jerman dan negara-negara sejenisnya. Kualitas SDM yang berkualitas menghasilkan kekuatan ilmu pengetahuan, politik dan ekonomi. Nyaris seluruh negara-negara sunni tidak bisa melawan kebijakan negara-negara tersebut. Semua tunduk kepada kaum kapitalis dan sosialis .

Fakta tersebut bisa dilihat dari ketidakmampuan menghentikan kejahatan genosida di Palestina. Suara-suara para pemimpin dan masyarakat negara Islam dianggap angin lalu. Bahkan seluruh umat muslim sedunia ingin memasukan bantuan ke Gaza mengalami kesulitan yang sangat luarbiasa. Ada penghalang yang sangat ditakuti yaitu berdiri tegak tentara-tentara Israel di Gaza.

Negara dan masyarakat Islam sunni lebih memilih jalan senyap menghadapi kekuatan raksasa bangsa barat dan Israel. Pola diplomasi sampai detik ini belum bisa menghentikan genosida di Palestina. Pola diplomasi juga belum mampu membuka jalan lebar bantuan internasional masuk ke kota dan perkampungan di Palestina. Semua bersama-sama, gotong-royong mambantu kebutuhan hidup masyarakat Palestina.  sampai detik ini, gotong royong umat Islam di dunia  -dalam bentuk bantuan logistik -sebagai satu-satunya jalan yang sangat memberi kemanfaatan bagi bangsa Palestina. 

Sebagian negara dan masyarakat sunni juga melangkah di jalan senyap dengan terus membuat jurang pemisah pada persoalan sunni dan syi’ah. Bagai minyak dan air yang tidak bisa disatukan kembali. Seolah-olah persoalan Palestina adalah persoalan sunni, dan tidak perlu kaum syi’ah ikut campur tangan masalah tersebut. Seolah-olah umat Islam sunni tidak membutuhkan bantuan dari Islam syi’ah. Meskipun korban berjatuhan tiap hari di Palestina dan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali kutukan-kutukan yang nyaring di media sosial. Egoisme sebagian kaum sunni begitu kuat bagai tembok raksasa yang tidak bisa menerima realita kejahatan kemanusiaan yang sangat menyedihkan di hadapan kita semua.

Sebagian negara dan masyarakat sunni terus melangkah di jalan senyap. Mereka tidak segan-segan bekerjasama dengan bangsa barat untuk menghancurkan negara dan masyarakat muslim syi’ah. Konsekuensinya, justru yang jadi korban negara Palestina sendiri dan negara-negara muslim itu sendiri. Ketergantungan terhadap adidaya bangsa barat membuat negara-negara muslim beradaulat secara regulasi tapi terjajah secara subtansi. Sumber Daya Alam (SDA) dan asset-aset penting dikuasi oleh bangsa barat. Bangsa adi daya tersebut telah melakukan imperialisme melalui remote-remote kebijakan dan kekuasan di ruang-ruang ber-AC. Duduk manis sambil menghisap seluruh SDA yang ada di negara-negara muslim.

Di sisi lain, kaum syi’ah terus merambah jalan sunyi. Negara Iran -yang dulu pernah jadi boneka AS pada Mohammad Reza Pahlavi -terus berbenah diri. Sejak tahun 1979, negara barat sangat bernafsu menyerang dan menghancurkan Iran melalui embargo politik dan ekonomi. Masyarakat Iran menderita berkepanjangan. Perut tidak terisi makanan. Perang dan embargo negara AS telah membuat bangsa iran menderita. Mereka tidak mengeluh. Mereka tidak membuat video propaganda tentang kemiskinan dan kelaparan. Mereka sangat menjaga kewibawaan dan harga diri. Mereka bangkit dalam keterpurukan. Mereka terus belajar menjadikan ilmu pengetahuan sebagai senjata yang sangat ampuh untuk melawan imperialisme barat dan keangkuhan negara Israel. hanya dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi, negara Iran mampu menjadi kekuatan muslim dunia.

Dan terbukti, jalan sunyi pemerintah Iran telah menempatkan negara tersebut menjadi negara terbaik nomor satu di antara negara-negara Islam di dunia dalam bidang teknologi dan terbanyak universitas Islam mengalahkan negara-negara muslim lainnya. Negara Iran juga satu-satu negara Islam yang berdiri tegar di medan pertempuran melawan Israel dan Palestina. Meskipun sebagian masyarakat sunni mencibir keberanian negara Iran, tapi tidak sedikit para penguasa sunni seperti -seperti Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim -mengecam dan mengutuk keras-keras atas arogansi negara Israeil.

Iran sudah tidak lagi mempersoalkan perbedaan sunni dan syi’ah yang memang sudah tidak bisa dihindari. Pemerintah Iran telah menggeser pemikiran ideologi klasik yang melelahkan menuju ideologi tauhid yang melahirkan inovasi-inovasi peradaban. Pemerintah Iran telah meninggalkan perdebatan masa lalu yang kelam. Negara mullah ini telah terus menyiapkan diri sebagai Imam Mahdi untuk negara-negara muslim lain dalam upaya melawan hegemoni bangsa barat dan Israel di negara-negara muslim. Dengan kepercayaan yang sangat luarbiasa, Iran tampil sebagai kekuatan baru umat Islam.

Walhasil, negara sunni saya kira akan tetap sunni dan tidak akan berubah syi’ah. Sebagaimana syi’ah akan tetap syi’ah. Dua pemahaman yang lahir dari keyakinan atas teks-teks sakral yang diyakini kebenarannya. Paham sunni dan syi’ah juga sebagaimana ideologi-ideologi lain yang hidup di belahan dunia. Jika sunni bisa bekerjasama dengan bangsa yang berideologi kapitalis dan sosialis, apakah tidak bisa bekerjasama dengan syi’ah. Padahal keduanya ada titik pertemuan yang nyata.

Penulis menilai saat ini sudah seharusnya mengurangi perdebatan sunni-syi’ah yang terlihat over dosis. Saatnya kita sama-sama memikirkan dan bekerjasama menyelamatkan Palestina dan negara-negara muslim lain dari bencana kemanusiaan. Sebab menyelamatkan bencana kemanusiaan hakikatnya telah mewujudkan tujuan syariat Islam itu sendiri dalam kontek peradaban. Dan mewujudkan maqashid syariah tersebut membutuhkan kebersamaan tanpa perlu memandang lagi latarbelakang agama dan ideologi.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875