Avatar

Dr.Edi Purnomo,MA

Penulis Kolom

4 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Janji Penduduk Langit



Senin , 28 Juli 2025



Telah dibaca :  434

Allah menciptakan para MalaikatNya dari cahaya diberikan tugas masing-masing, Malaikat adalah salah satu makhluk gaib yang tidak memerlukan apapun. Mereka menghabisakan waktu siang dan malam hanya untuk mengabdi kepada Allah SWT . Berikut adalah 10 malaikat beserta tugasnya yang umum diketahui dalam Islam: (1) Malaikat Jibril: Bertugas menyampaikan wahyu dari Allah SWT kepada para nabi dan rasul. (2) Malaikat Mikail: Bertugas mengatur rezeki, hujan, angin, dan tumbuh-tumbuhan. (3) Malaikat Israfil: Bertugas meniup sangkakala pada hari kiamat.. (4) Malaikat Izrail (Malaikat Maut): Bertugas mencabut nyawa makhluk hidup. (5) Malaikat Munkar: Bertugas menanyai orang yang meninggal di alam kubur (alam barzah). (6) Malaikat Nakir: Bertugas menanyai orang yang meninggal di alam kubur (alam barzah), bersama Malaikat Munkar. (7) Malaikat Raqib: Bertugas mencatat amal baik manusia. (8) Malaikat Atid: Bertugas mencatat amal buruk manusia. (9) Malaikat Malik: Bertugas menjaga pintu neraka. (10) Malaikat Ridwan: Bertugas menjaga pintu surga. 

Sifat utama para Malaikat adalah memiliki ketaatan mutlak kepada Allah, tidak memiliki hawa nafsu, selalu bertasbih, dan mampu berubah wujud sesuai kehendak Allah. sifat-sifat malaikat yang dimaksudkan adalah tentang ketaatan dan kedisiplinan, mampu mengendalikan diri dari perilaku negatif, memiliki rasa tanggung jawab, menyucikan pujian kepada Allah SWT, selalu mengajak kepada kebajikan, serta selalu berzikir dan mengagungkan Allah SWT.

Sebagai hamba yang beriman, tentunya kita tidak boleh meragukan pekerjaan ataupun tugas yang Allah berikat kepada para penduduk langit. Janganlah pernah meragukan bahwa mereka lalai dalam tugas-tugasnya.

Sering kali manusia terkadang lupa bahwa setiap apa yang perbuat pasti tidak ada yang luput dari pencatatan baik amal baik maupun yang buruk. Malaikat Raqib dan Atid pasti sudah mencatatnya dalam catatan kebaikan maupun kebururukan dan itulah yang akan dilaporkan dan dipertanggungjawabkan di sisi Allah SWT.

“Laa Takhof” (Jangan takut) hilangnya nilai amal ; amal yang telah kita ukir yang mengarah kepada kebaikan, manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain pastilah terdokumen rapi dalam catatannya (Raqib). Begitu pula, kita tidak akan pernah bisa mengelak pada hari pembalasan nanti bahwa kita akan mengingkari perbuatan buruk atau tercela yang telah kita perbuat di dunia ini, pastinya tidak luput dari catatan hambanya yang setia (Atid).

Berbuatlah sebanyak mungkin kebaikan-kebaikan, terutamanya dalam melaksanakan kewajiban seorang hamba kepada Allah, begitu pula amal-amal shalah lainnya sebagai bukti akan ketaatan kepadaNya, Ingat “Fa man ya`mal mistqala dzarrotin khairayyaroh, wa man ya`mal mistqala dzarrotin Syarraoiyaroh” (az-Zalzalah :7,8). Perbuatan kebaikan walaupun sebiji “zarrah” pasti akan dibalas kebaikan oleh Allah dengan berlipat-lipat.

Tapi Ingat ; Amal-amal kebaikan yang telah kita perbuat sekali lalu bisa terhapus pahalanya jika ada iringan umpatan atau mengungkit dan riya. Seperti Orang yang mengungkit kebaikan yang pernah dilakukan dikhawatirkan ada rasa ingin dipuji sebagai orang yang dermawan, baik hati, dan suka menolong pada orang tersebut. Padahal, kebaikan itu seharusnya dilakukan atas dasar semata-mata karena Allah SWT. Firman Allah ; Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, lalu batu itu diguyur hujan lebat sehingga tinggallah (batu) itu licin kembali. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum kafir ( Al-Baqarah : 264).

Mengungkit-ungkit pemberian ataupun jasa yang telah kita berikan kepada orang lain maupun kepada apa saja merupakan salah satu bentuk penyakit lisan seperti seseorang mengatakan kepada temannya, “Bukankah dulu aku yang telah memenuhi kebutuhanmu saat kamu kesusahan, mengapa sekarang melupakanku?” atau kalimat-kalimat semacam itu. Adapun Perbuatan yang tidak melakukan demikian dengan meninggalkan dan tidak mengungkit-ungkit merupakan sebuah konsekwensi dari kepemilikan keimanan padanya.

Pada ayat 262 Surat Al-Baqarah ditegaskan bahwa Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Amal yang kita perbuat merupakan ladang pahala yang pastinya tercatat dan sampai kepada Allah jika kita tidak melakukan penghapusan dengan mengugkit ataupun menceritakan kebaikan-kebaikan itu kepada orang lain dengan niat sombong atau agar kita dipuji atas perbuatan-perbuatan baik tersebut. nillai pahala kebaikan tersebut akan menjadi naungan di hari akhir kelak sebagaimana Sabda Rasulullah SAW. dalam hadits “Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: "Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah SWT dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya. Di antaranya, seorang yang mengeluarkan suatu sedekah, tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya" (Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Menabur kebaikan dengan berbuat baik kepada orang lain maupun masyarakat baik individu maupun suatu kelompok harus kita pertahankan nilai pahalanya.biarkanlah Allah yang menilainya walaupun yang kita bantu tidak pernah menghargai pemberian tersebut ataupun tidak memberikan balasan yang serupa dan melupakan sesuatu yang kita bantu apalagi mungkin mengecilkan dan merendahkan pemberian bantuan kita, namun “Laa Tahzan” (jangan bersedih) walaupun kta tidak menerima balasan dari makhluk di bumi karena nilai pahala kita tetap tercatat utuh dan pasti ada balasan di sisi Allah dengan balasan yang setimpal, jangan pernah sebalinya kita sendiri yang menghapusnya.

Tidakkan kita yakin bahwa Allah SWT berfirman dalam surat Al An'am ayat 160, “Artinya: "Siapa yang berbuat kebaikan, dia akan mendapat balasan sepuluh kali lipatnya. Siapa yang berbuat keburukan, dia tidak akan diberi balasan melainkan yang seimbang dengannya. Mereka (sedikit pun) tidak dizalimi (dirugikan)."

Yakinlah bahwa kebaikan perlakukan kita yang dibarengi dengan pengorbanan harta akan menjadi sedekah jariyah yang tentu pahalanya juga berlipat ganda, sebagaimana Firman Allah surat Al-Baqarah ayat 261 yang artinya “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Semoga kita semua menjadi orang yang beruntung, dan jangan sampai nilai-nilai pahala yang sudah tercatat oleh penduduk langit hangus dan terhapus akibat perbuatan dan sikap kita sendiri. Jangan pernah meragukan penduduk langit, karena mereka selain mencatat kebaikan juga senantiasa bermohon kebaikan atas perbuatan baik yang kita lakukan.



Penulis : Dr.Edi Purnomo,MA


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   208

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   227

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   303

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   149

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258