Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kaderisasi dan Kelangsungan Peradaban Manusia



Rabu , 10 Juli 2024



Telah dibaca :  287

Secara tabiat, manusia merupakan “al Insan madaniyu bitob'i” atau makhluk sosial atau juga makhluk secara naluri makhluk yang berperadaban. Naluri ini merupakan desain dari Alloh. Tanpa ada naluri tersebut, manusia akan hidup tanpa arah dan menjadi liar tak terkendali. Itu sebabnya implementasi tersebut dalam rangka mewujudkan sebagai Khalifah fil Ardhi.

Sebagai pembawa amanah Khalifah fil Ardhi, ada yang tidak boleh ditinggalkan yaitu kaderisasi manusia untuk mewujudkan kepemimpinan yang semakin baik. Sebab memang, tidak ada pemimpin yang sempurna ( kecuali hanya nabi Muhammad Saw), maka kaderisasi menjadi suatu keharusan dari setiap perjalanan peradaban manusia.

Kaderisasi adalah wajah peradaban asli watak manusia. Ibnu Khaldun bahkan menggunakan teori ashabiyyah yang sangat terkenal dalam kehidupan sosial-politik. Meskipun pada aspek tertentu, teori tersebut dikritik oleh sebagian ilmuwan barat yang dianggap bertentangan proses demokratisasi sebagai wujud ajaran kehidupan sosial politik yang paling bagus. Namun sejarah tidak bisa menutup fakta bahwa asyobiyyah dalam pengertian positif mampu menciptakan peradaban terbaik pada masa dulu. Bahkan Kanjeng nabi pernah mengatakan "Al aimatu min Qurays", pemimpin atau kepala negara berasal dari golongan Qurays.

Penulis tentu tidak menilai bahwa nabi sangat eklusif melihat persoalan etnis dan kehidupan sosial, sebab pada sisi lain ia juga mengatakan bahwa orang yang paling mulia disisi Alloh yaitu takwa nya, bahkan juga kanjeng nabi mengatakan bahwa baju terbaik adalah takwanya.

Titik diskusi tersebut di atas sebenarnya menekankan bahwa dalam wujud apapun kaderisasi,  apakah atas nama ashobiyyah, agama atau ideologi merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Ketika kaderisasi tidak segera dilakukan, maka masa depan peradaban manusia akan mengalami kemunduran sebagaimana pada masa jahiliyah.

Sebagai penutup Al-Qur’an dan Al-Hadist telah memberikan ajaran yang agung tentang pentingnya berorganisasi sebagai berikut:  Surat An-Nisa ayat 59: Taatilah Allah, Rasul dan Pemimpin di Antara Kamu. "Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu”. Hadist nabi Muhammad saw:” “Jika tiga orang bersafar, hendaknya salah seorang dari mereka menjadi amir (pemimpin)” (HR. Abu Daud).

Dari dua dasar tersebut penulis bisa memetik pelajaran bahwa berorganisasi bukan hanya sebatas naluri manusia yang selalu ingin hidup bersama, juga perintah secara tegas dari nash Al-Qur’an dan dawuh kanjeng Nabi Muhammad saw.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   93

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876