
Secara tabiat, manusia merupakan “al
Insan madaniyu bitob'i” atau makhluk sosial atau juga makhluk secara naluri
makhluk yang berperadaban. Naluri ini merupakan desain dari Alloh. Tanpa ada
naluri tersebut, manusia akan hidup tanpa arah dan menjadi liar tak terkendali.
Itu sebabnya implementasi tersebut dalam rangka mewujudkan sebagai Khalifah fil
Ardhi.
Sebagai pembawa amanah Khalifah fil Ardhi,
ada yang tidak boleh ditinggalkan yaitu kaderisasi manusia untuk mewujudkan
kepemimpinan yang semakin baik. Sebab memang, tidak ada pemimpin yang sempurna
( kecuali hanya nabi Muhammad Saw), maka kaderisasi menjadi suatu keharusan
dari setiap perjalanan peradaban manusia.
Kaderisasi adalah wajah peradaban asli
watak manusia. Ibnu Khaldun bahkan menggunakan teori ashabiyyah yang sangat
terkenal dalam kehidupan sosial-politik. Meskipun pada aspek tertentu, teori
tersebut dikritik oleh sebagian ilmuwan barat yang dianggap bertentangan proses
demokratisasi sebagai wujud ajaran kehidupan sosial politik yang paling bagus.
Namun sejarah tidak bisa menutup fakta bahwa asyobiyyah dalam pengertian
positif mampu menciptakan peradaban terbaik pada masa dulu. Bahkan Kanjeng nabi
pernah mengatakan "Al aimatu min Qurays", pemimpin atau kepala
negara berasal dari golongan Qurays.
Penulis tentu tidak menilai bahwa nabi
sangat eklusif melihat persoalan etnis dan kehidupan sosial, sebab pada sisi
lain ia juga mengatakan bahwa orang yang paling mulia disisi Alloh yaitu takwa
nya, bahkan juga kanjeng nabi mengatakan bahwa baju terbaik adalah takwanya.
Titik diskusi tersebut di atas sebenarnya
menekankan bahwa dalam wujud apapun kaderisasi,
apakah atas nama ashobiyyah, agama atau ideologi merupakan suatu
kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Ketika kaderisasi tidak segera dilakukan,
maka masa depan peradaban manusia akan mengalami kemunduran sebagaimana pada
masa jahiliyah.
Sebagai penutup Al-Qur’an dan Al-Hadist telah
memberikan ajaran yang agung tentang pentingnya berorganisasi sebagai
berikut: Surat An-Nisa ayat 59: Taatilah
Allah, Rasul dan Pemimpin di Antara Kamu. "Wahai orang-orang yang beriman!
Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang
kekuasaan) di antara kamu”. Hadist nabi Muhammad saw:” “Jika tiga orang
bersafar, hendaknya salah seorang dari mereka menjadi amir (pemimpin)” (HR. Abu
Daud).
Dari dua dasar tersebut penulis bisa memetik pelajaran bahwa
berorganisasi bukan hanya sebatas naluri manusia yang selalu ingin hidup
bersama, juga perintah secara tegas dari nash Al-Qur’an dan dawuh kanjeng Nabi Muhammad
saw.
Penulis : Imam Ghozali
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   93
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876