
Apa itu niat? Seberapa penting kedudukan
niat? Bagaimana kedudukan niat dalam pandangan agama? apa rahasia yang bisa
diambil dari hadist tentang niat?
Masih ada lagi pertanyaan-pertanyaan
tentang niat. Sebagian para ilmuwan dan para pengkaji agama Islam sudah sangat
mahfum. Namun sebagian lagi masih ada beberapa pertanyaan yang mengganjal
tentang persoalan niat. Hal ini berangkat dari berbagai pengetahuan yang
didapat berbeda-beda. Dan tulisan ini juga memberikan sedikit tentang hal-hal
yang berkaitan dengan niat.
Saat saya masih kecil, ada buku fasholatan
atau tatacara tentang sholat. Ketika belajar di Pesantren, literatur-literatur
kitab fiqh klasik juga membahas bab tersendiri tentang niat. Begitu juga
hadist-hadist nabi telah menulis tentang urgensi dan kedudukanya dalam ibadah
dan muamalah (aktivitas sosial). Dari sini saya terinspirasi untuk menulis
tentang persoalan niat.
Hadist Tentang Niat
عن امير المؤمنين ابي حفص عمر بن الخطاب رضى الله عنه قال: سمعت رسول الله
صلى الله عليه وسلم يقول: انما الاعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوي فمن كانت
هجرته الي الله ورسوله فهجرته الي الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها او
امراة ينكحها فهجرته الي ما هاجر اليه
Artinya:
Dari Amirul Mukminin, Abu Hafs, Umar Bin
Khatab R.A. berkata: saya pernah mendengar Rasulullah S.A.W bersabda: Sesungguhnya,
amalan-amalan itu tergantung kepada niat, dan setiap orang akan mendapatkan
sesuai yang diniatkannya. Maka, barangsiapa niat hijrahnya diterima Allah dan
Rasul-Nya, maka hijrahnya diterima oleh Allah dan Rasul-nya; barangiapa yang
niat hijrahnya untuk dunia yang akan diperolehnya atau wanita yang akan
dinikahinya, maka hijrahnya itu pun akan sampai kepada apa yang diniatkannya.
Hadist nabi Muhammad s.a.w:
سالت جبريل عليه السلام عن الاحلاص. ما هو. فقال جبريل عليه السلام. سالت
رب العزة تبارك وتعالي عن الاخلاص. ما هو. فقال رب العزة تبارك وتعالي: الاخلاص سر
من سري او دعته قلب من احببت من عبادي
Artinya:
Saya (nabi) bertanya kepada jibril tentang
makna ikhlas. Apakah ikhlas itu? aku (Jibril) telah menanyakan hal ini kepada
tuhan, dan dia menjawab: ikhlas itu merupakan salah satu rahasiaku, yang aku
tempatkan di hati hamba-hamba-ku yang aku cintai.
aihaqi;
hadist nabi Muhammad s.a.w:
طوبي للمخلصين الذين اذا حضروا لم يعرفوا واذا غابوا لم يفتقدوا اولئك
مصابيح الهدي تنجلي بهم كل فتنة ظلماء
Artinya:
Duhai betapa bahagia orang yang mempunyai
hati ikhlas. Mereka ketika hadir, tidak dikenal. Ketika pergi dicari
kesana-kemari. Mereka adalah cahaya yang menerangi jalan. Melalui mereka,
terlihat menjadi terang segala fitnah orang-orang dzalim.
Dari hadist tersebut di atas, ada beberapa
pelajaran penting yang bisa diambil antara lain:
Pertama, urgensi ikhlas dalam beribadah dan
bermuamalah.
Sering kita mendengar kata ikhlas. Bahkan
bisa jadi setiap waktu telah mendengar ucapan tersebut. lalu bahasa yang
ditangkap dari berbagai sumber, ikhlas berarti melakukan suatu perbuatan hanya
mengharapkan ridha Allah s.w.t.
Dzunnun Al-Misri mendefinisikan ikhlas bisa
dilihat dari beberapa tanda yaitu: Jika ia menganggap pujian dan celaan sama
saja, jika ia melupakan pekerjaan baiknya kepada orang lain, dan jika ia lupa
hak kerja baiknya untuk memperoleh pahala di Akherat. Imam Al-Ghozali mengatakan
ikhlas adalah apa yang ada dalam tujuan amal murni untuk mendekatkan diri kepada
Allah s.w.t.
Definisi tersebut menggambarkan ciri khas
orang-orang yang ikhlas bisa dilihat dari tujuan ibadah dan amal sholeh Nya hanya
semata-mata mencari ridha Allah s.w.t. sepi ing pamrih, rame ing gawe.
Tidak punya tujuan ingin dipuji, disanjung dan dianggap orang hebat. Pada
dirinya sudah ada balance emosional dan spiritual ketika ada “cacian”
dan “sanjungan”. Semua terasa sama. Disanjung tidak terbang, di hina tidak
tumbang.
Perilaku Ikhlas tidak terlihat dari sikap
dan perilaku seseorang. Keberagaman sikap dan perilaku pelaku kebaikan adalah
perilaku sebagai wujud hubungan sosial antara sesama manusia. Ada tataran etika
yang harus melakukan suatu sikap bahasa tubuh dan wujud-wujud perilaku. Satu
sisi, kadang ada orang yang berusaha menutup nya dengan sikap dan/atau
perbuatan tidak santun dengan wujud-wujud yang bertentangan dengan aturan
nilai-nilai kebajikan. Maka kita tidak bisa serta merta menilai kualitas
ketidakikhlasan orang lain akibat dari perilaku nya. Begitu juga sebaliknya.
Sebab perilaku ikhlas adalah perilaku hati. Setiap orang mempunyai cara untuk
menutup nya dengan cara nya masing-masing.
Kedua, memperjelas tujuan dari pekerjaan
Hadist niat mempunyai fungsi yang sangat
baik yaitu memperjelas status pekerjaan yang kita lakukan. Ada kalanya
memperjelas dengan keputusan hati yang tidak ditampakan dalam wujud ucapan,
tapi langsung eksekusi dikerjakan dengan penuh keseriusan. Ada kalanya
membutuhkan ucapan-ucapan penguat hati dan menyakinkan kepada orang-orang
disekitarnya bahwa apa yang kita pilih adalah pilihan-pilihan yang tepat.
sehingga mereka menyetujui pilihan-pilihan tersebut dan menyadari segala
konsekuensinya.
Ada seorang siswa baru saja lulus tingkat SLTA.
Dia kesulitan memutuskan untuk melanjutkan kuliah; negeri atau swasta, dalam
negeri atau luar negeri, jurusan agama atau umum. Ketika orang tua nya atau
teman-teman dekatnya bertanya tentang hal tersebut, jawaban yang keluar dari
mulutnya;” saya bingung”.
Apalagi saat teman-teman dekatnya
memberikan berbagai referensi pendidikan dan berbagai prospek kelulusan. Semakin
banyak masukan, semakin sulit untuk memutuskan yang terbaik baginya. Akhirnya dia
pun harus memutuskan dengan penuh keyakinan tentang apa yang harus diputuskan.
Hal yang sama juga dalam berbagai aktivitas
lainya. Keberanian memutuskan suatu hal yang penting adalah suatu keharusan. Keberanian
ini mempunyai energi yang sangat kuat untuk mempercepat capaian-capaian yang
dicita-citakan.
Bagaimana dengan ibadah. Apakah membutuhkan
niat untuk memperjelaskan status ibadah; wajib atau sunah? Dalam konteks ini,
status ibadah sangat membutuhkan kejelasan niat sebagai wujud spesifikasi
ibadah. Sehingga segala rangkaian ibadah menjadi jelas statusnya tanpa
keraguan. Itu sebabnya, para ulama menterjemah urgensi nya dengan lafadz-lafadz
tertentu sangat membantu untuk memperkuat kualitas ibadah tersebut.
Contoh niat dalam sholat. Madzhab Syafi’i membedakan
niat menjadi tiga. Pertama, niat sholat fardhu harus memperjelas spesifikasi
niatnya untuk membedakan status sholat antara sholat wajib dan sunnah; Kedua,
menyatakan kehendak (al-qashdu), yaitu kehendak melaksanakan suatu perbuatan
dengan cara menyatakan kehendak melaksanakan sholat, supaya ia dapat dibedakan
dari jenis perbuatan-perbuatan yang lain. Ketiga, menyatakan dengan jelas jenis
sholat fardhu yang dilakukan dengan keinginan melakukan sholat tersebut.
Berikut ini contoh-contoh niat sholat
fardhu:
Niat Sholat Subuh:
أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْح رَكَعتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً
لله تَعَا
Artinya:
Saya berniat sholat fardhu subuh dua raka’at
menghadap kiblat pada waktunya karena Allah ta’ala.
Niat Sholat Dhuhur:
اُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ
أَدَاءً لله تَعَالَى
Artinya:
Saya berniat sholat fardhu dhuhur empat
raka’at menghadap kiblat pada waktunya karena Allah ta’ala.
Niat Sholat Ashar:
أُصَلِّى فَرْضَ العَصْرِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى
Artinya:
Saya berniat sholat fardhu ‘ashr empat raka’at
menghadap kiblat pada waktunya karena Allah ta’ala.
Niat Sholat
Maghrib:
أُصَلِّى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعاَتٍ
مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى
Artinya:
Saya berniat
sholat fardhu maghrib tiga raka’at menghadap kiblat pada waktunya karena Allah
ta’ala.
Niat Sholat
Isya:
أُصَلِّى فَرْضَ العِشَاء ِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ
مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى
Artinya:
Saya berniat
sholat fardhu Isya empat raka’at menghadap kiblat pada waktunya karena Allah ta’ala.
Ketiga, memperjelas orientasi hidup.
Apa tujuan hidup kita? bagaimana cara menjalankan? Apakah
sudah sesuai prosedur yang benar? Berbagai contoh pertanyaan tersebut
sebenarnya untuk menyederhanakan bahwa hidup mempunyai suatu tujuan akhir yang
ingin dicapai. Sebab tujuan hidup adalah sebuah kurikulum yang berisi berbagai
aturan atau regulasi, cara melaksanakan dan capaian-capaian. Jika hidup telah
menggunakan kurikulum yang benar menurutnya, maka perilakunya akan mendukung
kurikulum tersebut untuk mencapai suatu tujuan. Sesederhana apapun suatu
kurikulum kehidupan, tetap menjadi penting. Sebab ia panduan. Laksana sebuah
tongkat untuk menjaga agar diri tidak terjatuh atau paling sederhana bisa untuk
sandaran dan membantu agar jalan bisa sampai pada tujuan.
Orientasi kehidupan bagi seorang muslim adalah mendapatkan
Ridha Allah S.W.T. untuk mencapai status tersebut, Allah memberikan kurikulum
dalam Al-Qur’an dan hadist. lalu dijelaskan isi kurikulum tersebut oleh ulama
melalui ijma dan qiyas. Dari keempat kitab panduan hidup ini,
maka membantu umat Islam untuk mencapai tujuan-tujuan hidup yang diinginkan
yaitu mencapai derajat yang agung di sisi-Nya.
Penulis : Imam Ghozali
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   325
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   186
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2976
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879