Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kedahsyatan Hadist tentang Niat



Rabu , 13 September 2023



Telah dibaca :  1097

Apa itu niat? Seberapa penting kedudukan niat? Bagaimana kedudukan niat dalam pandangan agama? apa rahasia yang bisa diambil dari hadist tentang niat?

Masih ada lagi pertanyaan-pertanyaan tentang niat. Sebagian para ilmuwan dan para pengkaji agama Islam sudah sangat mahfum. Namun sebagian lagi masih ada beberapa pertanyaan yang mengganjal tentang persoalan niat. Hal ini berangkat dari berbagai pengetahuan yang didapat berbeda-beda. Dan tulisan ini juga memberikan sedikit tentang hal-hal yang berkaitan dengan niat.

Saat saya masih kecil, ada buku fasholatan atau tatacara tentang sholat. Ketika belajar di Pesantren, literatur-literatur kitab fiqh klasik juga membahas bab tersendiri tentang niat. Begitu juga hadist-hadist nabi telah menulis tentang urgensi dan kedudukanya dalam ibadah dan muamalah (aktivitas sosial). Dari sini saya terinspirasi untuk menulis tentang persoalan niat.

Hadist Tentang Niat

عن امير المؤمنين ابي حفص عمر بن الخطاب رضى الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: انما الاعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوي فمن كانت هجرته الي الله ورسوله فهجرته الي الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها او امراة ينكحها فهجرته الي ما هاجر اليه

Artinya:

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafs, Umar Bin Khatab R.A. berkata: saya pernah mendengar Rasulullah S.A.W bersabda: Sesungguhnya, amalan-amalan itu tergantung kepada niat, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai yang diniatkannya. Maka, barangsiapa niat hijrahnya diterima Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya diterima oleh Allah dan Rasul-nya; barangiapa yang niat hijrahnya untuk dunia yang akan diperolehnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu pun akan sampai kepada apa yang diniatkannya.

Hadist nabi Muhammad s.a.w:

سالت جبريل عليه السلام عن الاحلاص. ما هو. فقال جبريل عليه السلام. سالت رب العزة تبارك وتعالي عن الاخلاص. ما هو. فقال رب العزة تبارك وتعالي: الاخلاص سر من سري او دعته قلب من احببت من عبادي

 Artinya:

Saya (nabi) bertanya kepada jibril tentang makna ikhlas. Apakah ikhlas itu? aku (Jibril) telah menanyakan hal ini kepada tuhan, dan dia menjawab: ikhlas itu merupakan salah satu rahasiaku, yang aku tempatkan di hati hamba-hamba-ku yang aku cintai.

aihaqi; 

hadist nabi Muhammad s.a.w:

طوبي للمخلصين الذين اذا حضروا لم يعرفوا واذا غابوا لم يفتقدوا اولئك مصابيح الهدي تنجلي بهم كل فتنة ظلماء

Artinya:

Duhai betapa bahagia orang yang mempunyai hati ikhlas. Mereka ketika hadir, tidak dikenal. Ketika pergi dicari kesana-kemari. Mereka adalah cahaya yang menerangi jalan. Melalui mereka, terlihat menjadi terang segala fitnah orang-orang dzalim.

Dari hadist tersebut di atas, ada beberapa pelajaran penting yang bisa diambil antara lain:

Pertama, urgensi ikhlas dalam beribadah dan bermuamalah.

Sering kita mendengar kata ikhlas. Bahkan bisa jadi setiap waktu telah mendengar ucapan tersebut. lalu bahasa yang ditangkap dari berbagai sumber, ikhlas berarti melakukan suatu perbuatan hanya mengharapkan ridha Allah s.w.t.

Dzunnun Al-Misri mendefinisikan ikhlas bisa dilihat dari beberapa tanda yaitu: Jika ia menganggap pujian dan celaan sama saja, jika ia melupakan pekerjaan baiknya kepada orang lain, dan jika ia lupa hak kerja baiknya untuk memperoleh pahala di Akherat. Imam Al-Ghozali mengatakan ikhlas adalah apa yang ada dalam tujuan amal murni untuk mendekatkan diri kepada Allah s.w.t.

Definisi tersebut menggambarkan ciri khas orang-orang yang ikhlas bisa dilihat dari tujuan ibadah dan amal sholeh Nya hanya semata-mata mencari ridha Allah s.w.t. sepi ing pamrih, rame ing gawe. Tidak punya tujuan ingin dipuji, disanjung dan dianggap orang hebat. Pada dirinya sudah ada balance emosional dan spiritual ketika ada “cacian” dan “sanjungan”. Semua terasa sama. Disanjung tidak terbang, di hina tidak tumbang.

Perilaku Ikhlas tidak terlihat dari sikap dan perilaku seseorang. Keberagaman sikap dan perilaku pelaku kebaikan adalah perilaku sebagai wujud hubungan sosial antara sesama manusia. Ada tataran etika yang harus melakukan suatu sikap bahasa tubuh dan wujud-wujud perilaku. Satu sisi, kadang ada orang yang berusaha menutup nya dengan sikap dan/atau perbuatan tidak santun dengan wujud-wujud yang bertentangan dengan aturan nilai-nilai kebajikan. Maka kita tidak bisa serta merta menilai kualitas ketidakikhlasan orang lain akibat dari perilaku nya. Begitu juga sebaliknya. Sebab perilaku ikhlas adalah perilaku hati. Setiap orang mempunyai cara untuk menutup nya dengan cara nya masing-masing.

Kedua, memperjelas tujuan dari pekerjaan

Hadist niat mempunyai fungsi yang sangat baik yaitu memperjelas status pekerjaan yang kita lakukan. Ada kalanya memperjelas dengan keputusan hati yang tidak ditampakan dalam wujud ucapan, tapi langsung eksekusi dikerjakan dengan penuh keseriusan. Ada kalanya membutuhkan ucapan-ucapan penguat hati dan menyakinkan kepada orang-orang disekitarnya bahwa apa yang kita pilih adalah pilihan-pilihan yang tepat. sehingga mereka menyetujui pilihan-pilihan tersebut dan menyadari segala konsekuensinya.

Ada seorang siswa baru saja lulus tingkat SLTA. Dia kesulitan memutuskan untuk melanjutkan kuliah; negeri atau swasta, dalam negeri atau luar negeri, jurusan agama atau umum. Ketika orang tua nya atau teman-teman dekatnya bertanya tentang hal tersebut, jawaban yang keluar dari mulutnya;” saya bingung”.

Apalagi saat teman-teman dekatnya memberikan berbagai referensi pendidikan dan berbagai prospek kelulusan. Semakin banyak masukan, semakin sulit untuk memutuskan yang terbaik baginya. Akhirnya dia pun harus memutuskan dengan penuh keyakinan tentang apa yang harus diputuskan.

Hal yang sama juga dalam berbagai aktivitas lainya. Keberanian memutuskan suatu hal yang penting adalah suatu keharusan. Keberanian ini mempunyai energi yang sangat kuat untuk mempercepat capaian-capaian yang dicita-citakan.

Bagaimana dengan ibadah. Apakah membutuhkan niat untuk memperjelaskan status ibadah; wajib atau sunah? Dalam konteks ini, status ibadah sangat membutuhkan kejelasan niat sebagai wujud spesifikasi ibadah. Sehingga segala rangkaian ibadah menjadi jelas statusnya tanpa keraguan. Itu sebabnya, para ulama menterjemah urgensi nya dengan lafadz-lafadz tertentu sangat membantu untuk memperkuat kualitas ibadah tersebut.

Contoh niat dalam sholat. Madzhab Syafi’i membedakan niat menjadi tiga. Pertama, niat sholat fardhu harus memperjelas spesifikasi niatnya untuk membedakan status sholat antara sholat wajib dan sunnah; Kedua, menyatakan kehendak (al-qashdu), yaitu kehendak melaksanakan suatu perbuatan dengan cara menyatakan kehendak melaksanakan sholat, supaya ia dapat dibedakan dari jenis perbuatan-perbuatan yang lain. Ketiga, menyatakan dengan jelas jenis sholat fardhu yang dilakukan dengan keinginan melakukan sholat tersebut.

Berikut ini contoh-contoh niat sholat fardhu:

Niat Sholat Subuh:

أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْح رَكَعتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَا

Artinya:

Saya berniat sholat fardhu subuh dua raka’at menghadap kiblat pada waktunya karena Allah ta’ala.

Niat Sholat Dhuhur:

اُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى

Artinya:

Saya berniat sholat fardhu dhuhur empat raka’at menghadap kiblat pada waktunya karena Allah ta’ala.

Niat Sholat Ashar:

أُصَلِّى فَرْضَ العَصْرِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى

Artinya:

Saya berniat sholat fardhu ‘ashr empat raka’at menghadap kiblat pada waktunya karena Allah ta’ala.

Niat Sholat Maghrib:

أُصَلِّى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى

Artinya:

Saya berniat sholat fardhu maghrib tiga raka’at menghadap kiblat pada waktunya karena Allah ta’ala.

Niat Sholat Isya:

أُصَلِّى فَرْضَ العِشَاء ِأَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى

Artinya:

Saya berniat sholat fardhu Isya empat raka’at menghadap kiblat pada waktunya karena Allah ta’ala.

Ketiga, memperjelas orientasi hidup.

Apa tujuan hidup kita? bagaimana cara menjalankan? Apakah sudah sesuai prosedur yang benar? Berbagai contoh pertanyaan tersebut sebenarnya untuk menyederhanakan bahwa hidup mempunyai suatu tujuan akhir yang ingin dicapai. Sebab tujuan hidup adalah sebuah kurikulum yang berisi berbagai aturan atau regulasi, cara melaksanakan dan capaian-capaian. Jika hidup telah menggunakan kurikulum yang benar menurutnya, maka perilakunya akan mendukung kurikulum tersebut untuk mencapai suatu tujuan. Sesederhana apapun suatu kurikulum kehidupan, tetap menjadi penting. Sebab ia panduan. Laksana sebuah tongkat untuk menjaga agar diri tidak terjatuh atau paling sederhana bisa untuk sandaran dan membantu agar jalan bisa sampai pada tujuan.

Orientasi kehidupan bagi seorang muslim adalah mendapatkan Ridha Allah S.W.T. untuk mencapai status tersebut, Allah memberikan kurikulum dalam Al-Qur’an dan hadist. lalu dijelaskan isi kurikulum tersebut oleh ulama melalui ijma dan qiyas. Dari keempat kitab panduan hidup ini, maka membantu umat Islam untuk mencapai tujuan-tujuan hidup yang diinginkan yaitu mencapai derajat yang agung di sisi-Nya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   325

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   186

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879