
Ibadah
itu bukan hanya gerakan badan ataupun olah gerak anggota tubuh, namun apa yang
dirasa oleh hati manusia, jika hatimu tulus, Allah maha tau walaupun tidak
diceritakan ataupun disyiarkan. Kita selalunya memohon atau meminta kepada
Allah sebagai Dzat yang Maha pemberi, tetapi selalunya juga lupa untuk
berterima kasih kepada-Nya dengan selalu mengucapkan syukur atas apa yang diberikan,
dilapangkan,dimudahkan dari beberapa kesulitan, bencana, maupun terentaskannya
dari segudang masalah yang dirasakan atau dialami.
Makna
ibadah hakekatnya sebuah cara untuk selalu mengingat dan bersyukur kepada dzat
yang maha memberi dan mengatur. Intinya dalam beribadah itu bukan hitungan
lamanya kita melaksanakan shalat tetapi seberapa ikhlas ketika kita menghadap
Allah karena menyadari sebagai hamba-Nya yang seharusnya menyerahkan segala hal
baik shalat, amal ibadah, hidup dan mati hanya untuk Allah. Berpuasa bukanlah
hitungan tuntasnya menahan lapar dan dahaga
seharian penuh melainkan seberapa ikhlas kita menjalaninya dengan niat menjalani
perintah sesuai dengan tujuan dilaksanakannya baik untuk kebutuhan pribadi
(meningkatkan ketaqwaan) juga tujuan lainnya yang berkenaan dengan muamalah.begitu
halnya Infaq, shadaqoah itu bukanlah berapa banyak yang kita berikan kepada
orang lain yang membutuhkan tetapi seberapa besar keikhlasanmu dalam memberi
dengan tanpa pamrih dan tidak mengiringinya dengan cacian maupun ucapan,
perbuatan yang sengaja dilakukan dengan dalih menyakiti ataupun riya` terhadap
sesama. Ibadah Haji ke baitullah yang juga salah satu rukun islam bagi orang
yang mampu menunaikannya maupun yang berkesempatan melaksanakannya tidaklah
diukur dengan berapa kali kita mampu menunaikannya namun seberapa ikhlas kita
melaksanakannya atas dasar perintah Allah dengan tanpa merasa lebih
dibandingkan orang yang tidak mampu ataupun hanya merasa kelebihan harta lalu
membungkus keinginan/niat jalan-jalan dengan tanpa melihat masyarakat
sekelilingnya yang masih sangat membutuhkan uluran tangan bantuan untuk
mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Bagi
orang yang memahami keikhlasan, hidup ini tidak hanya disukuri karena diberi
kemudahan oleh Allah namun memiliki keyakinan bahwa setiap kesusahan pasti ada
pepadang (jw) yakni penuntun jalan kemudahan ataupun pertolongan Allah. Orang
yang selalu ikhlas menerima kenyataan ataupun taqdir Allah akan lebih mudah
dalam menjalaninya dengan tanpa keluh kesah dan bersedih. Mencintai sesama itu
bukanlah sebuah pilihan tetapi merupakan kewajiban bagi setiap manusia.
Pergalan
sesama manusia selalunya dihadapkan pada sebuah dinamika. Nuansa politik maupun
budaya yang berkembang dalam suatu sejarah manusia pada suatu bangsa, sering
kali kita mendengar seseorang
mempertahankan kebenaran yang dinyakininya, begitu juga manusia lainya
menganggap kebenaran yang dinyakininya adalah benar menurut mereka sehingga
Kadangkala kita mendengar istilah ungkapan kebenaran melawan kebenaran atau
orang benar bermusuhan dengan orang benar, yaitu orang /satu kelompok yang
mempertahankan kebenaranya berbenturan dengan orang lain/kelompok lain yang
juga mempertahankan kebenaran. Pertentangan antara orang-orang/kelompok yang
sama-sama mempertahankan kebenaran yang dinyakini masing-masing ini semestinya
kita cari jawabanya kenapa kebenaran bisa mempertengkarkan sesama manusia.
Walaupun
tidak dianggap sebuah jawaban yang paling benar atas pertentangan kebenaran vs
kebenaran sebagaimana uraian di atas bahwa kebenaran tidaklah harus dibawa
keluar dari diri kita, tetapi jika kita keluar dari diri kita, seharusnya yang
kita bawa bukan kebenaran tetapi yang kita bawa adalah kebaikan, keindahan,
kemuliaan, kemashlahatan maupun upaya-upaya agar kita nyaman satu sama lainnya
baik dengan orang-orang sekitar ataupun lingkungan kita sehingga dapat
memunculkan kebijakan dan kearifan.
Dari permasalahan tersebut kita dapatkan sebuah analogi dalam
sebuah bisnis di toko bahwa kebenaran letaknya bagian depannya, namun saat ini
beberapa toko menjadikan tampilan depan sebagai display utama dan menurut masing-masing pemilik merasa
benar dan paling baik ataupun antara warung lontong satu dengan lainnya
sama-sama menjajakan menu yang sama namun masing-masing merasa racikan bumbu
mereka yang paling benar, jika hal sedemikian yang terjadi antara mereka tidak
akan pernah selesai dengan seluruh peretengkaran, permusuhan, persaingan,
kebencian bahkan saling dendam apalagi mereka saling menyombongkan
kebenaran/kebaikan yang dimilikinya. Begitu halnya antara manusia satu dengan
lainnya apabila masing-masing menyombongkan kebenaran/kebaikan masing-masing
hanyalah akan melahirkan sebuah kebenaran yang subjektif. Jika mereka mau
melihat kebenaran/kebaikan kelompok lainnya, pastilah akan ada timbul demokrasi
dan saling menghargai. Dari situlah kemudian muncul kebersamaan dan tidak
saling menyerang. Kesepakatan bersama merupakan
tindakan yang memperhatikan kebenaran orang banyak yang harusnya
ditempuh bersama yang mungkin akan dapat menyingkap rahasia Allah yang telah
menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku dengan berbagai watak dan
ragam pemikiran. Bukankah Allah telah berfirman “Kebenaran datangnya dari
diri-Ku” (اَلْحَقُّ
مِنْ رَّبِّكَ ) QS. 2,147, manusia hanya mendapat imbasnya dan hanya mampu
menafsirkanya, namun dengan penafsiran kebenaran itu kita harus berhati-hati
karena penafsiran kebenaran satu dengan lain bisa berbeda-beda dan kita tidak
bisa saling mengklaim kebenaran masing-masing dan tidak perlu
mempertengkarkannya namun kita harus berusaha membuat satu dengan lainnya
nyaman, aman, saling menggembirakan, tidak saling menista harga diri dan bahkan
tidak saling membunuh hanya karena mempertahankan kebenaran yang dinyakininya.
Sungguh menjadi pelajaran yang sangat berharga ketika penulis
mendapati sebuah channel youtube seorang budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun)
bertutur terhadap keberagaman keyakinan tafsiran kebenaran bahwa seharusnya
kita berhenti mencari apalagi kemudian menuding, membenci dan berkeinginan
memusnahkan siapa yang salah, karena bagi mereka yang di tuduh salah, kita yang
salah maka yang terbaik sekarang kita mulai belajar mencari apa yang salah dan
apa yang benar, yang salah itu bisa saja pada kita dan bisa jadi dari mereka
begitu juga hal kebenaran, artinya kita mencari apanya bukan siapanya. Karena
selaku sesama makhluk Allah kita wajib menerima semuanya. Jika kita tetap
mempertengkarkan siapa yang salah dan siapa yang benar, yang terjadi bukan
pembuktian mengenai kebenaran namun yang terjadi adalah kalah menang secara
kekuatan. Perlu diketahui bahwa kalah menang secara kekuatan itu sebenarnya
adalah suatu tataran yang paling rendah antara manusia karena manusia sejatinya
diciptakan bukan mengalahkan orang lain, hidup ini tidak untuk mengalahkan
siapa-siapa karena semua agama maupun nilai relegius yang didapati mausia
hakekatnya adalah “ hidup adalah mengalahkan diri sendiri, sebagaimana ungkapan
pepatah “ أشد الجهاد جهاد الهوى ** وما اكرم المرء إلا التقى (Jihat yang besar/sebenarnya adalah jihat
melawan hawa nafsu, dan kehormatan seseorang terletak pada ketaqwaannya).
Hidup bukanlah sebuah perlombaan untuk saling mengalahkan dan
memenangkan tetapi hidup merupakan ajang tolong menolong dalam kebaikan dan
ketaqwaan :
َتَعَاوَنُوا۟
عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ
وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
“dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat
siksaan-Nya” (QS. Al Maidah;2)
Lebih lanjut “Cak Nun” berpesan , janganlah hidup di tataran kalah
dan menang tapi jadikanlah hidup di tataran berlomba untuk saling mengamankan,
menyamankan, menyumbang kearifan dan kebijaksanaan satu sama lain agar output
dari diri kita masing-masing bisa menyusun keruwetan, kesukaran, dan beban
menjadi keseimbangan bersama dan keseimbangan sosial. Jadikan cara berfikir,
kecintaan, hubungan antara hati dan fikiran , hubungan antara individu dan
masyarakat selaras dan seimbang.
Allahu Alamu….
Penulis : Dr.Edi Purnomo,MA
Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   208
Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   227
Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   303
Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   149
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3861
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3518
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258