Avatar

Dr.Edi Purnomo,MA

Penulis Kolom

4 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

KEIKHLASAN DAN KEBENARAN



Selasa , 18 November 2025



Telah dibaca :  90

Ibadah itu bukan hanya gerakan badan ataupun olah gerak anggota tubuh, namun apa yang dirasa oleh hati manusia, jika hatimu tulus, Allah maha tau walaupun tidak diceritakan ataupun disyiarkan. Kita selalunya memohon atau meminta kepada Allah sebagai Dzat yang Maha pemberi, tetapi selalunya juga lupa untuk berterima kasih kepada-Nya dengan selalu mengucapkan syukur atas apa yang diberikan, dilapangkan,dimudahkan dari beberapa kesulitan, bencana, maupun terentaskannya dari segudang masalah yang dirasakan atau dialami.

Makna ibadah hakekatnya sebuah cara untuk selalu mengingat dan bersyukur kepada dzat yang maha memberi dan mengatur. Intinya dalam beribadah itu bukan hitungan lamanya kita melaksanakan shalat tetapi seberapa ikhlas ketika kita menghadap Allah karena menyadari sebagai hamba-Nya yang seharusnya menyerahkan segala hal baik shalat, amal ibadah, hidup dan mati hanya untuk Allah. Berpuasa bukanlah hitungan tuntasnya menahan lapar dan  dahaga seharian penuh melainkan seberapa ikhlas kita menjalaninya dengan niat menjalani perintah sesuai dengan tujuan dilaksanakannya baik untuk kebutuhan pribadi (meningkatkan ketaqwaan) juga tujuan lainnya yang berkenaan dengan muamalah.begitu halnya Infaq, shadaqoah itu bukanlah berapa banyak yang kita berikan kepada orang lain yang membutuhkan tetapi seberapa besar keikhlasanmu dalam memberi dengan tanpa pamrih dan tidak mengiringinya dengan cacian maupun ucapan, perbuatan yang sengaja dilakukan dengan dalih menyakiti ataupun riya` terhadap sesama. Ibadah Haji ke baitullah yang juga salah satu rukun islam bagi orang yang mampu menunaikannya maupun yang berkesempatan melaksanakannya tidaklah diukur dengan berapa kali kita mampu menunaikannya namun seberapa ikhlas kita melaksanakannya atas dasar perintah Allah dengan tanpa merasa lebih dibandingkan orang yang tidak mampu ataupun hanya merasa kelebihan harta lalu membungkus keinginan/niat jalan-jalan dengan tanpa melihat masyarakat sekelilingnya yang masih sangat membutuhkan uluran tangan bantuan untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Bagi orang yang memahami keikhlasan, hidup ini tidak hanya disukuri karena diberi kemudahan oleh Allah namun memiliki keyakinan bahwa setiap kesusahan pasti ada pepadang (jw) yakni penuntun jalan kemudahan ataupun pertolongan Allah. Orang yang selalu ikhlas menerima kenyataan ataupun taqdir Allah akan lebih mudah dalam menjalaninya dengan tanpa keluh kesah dan bersedih. Mencintai sesama itu bukanlah sebuah pilihan tetapi merupakan kewajiban bagi setiap manusia.

Pergalan sesama manusia selalunya dihadapkan pada sebuah dinamika. Nuansa politik maupun budaya yang berkembang dalam suatu sejarah manusia pada suatu bangsa, sering kali kita mendengar  seseorang mempertahankan kebenaran yang dinyakininya, begitu juga manusia lainya menganggap kebenaran yang dinyakininya adalah benar menurut mereka sehingga Kadangkala kita mendengar istilah  ungkapan kebenaran melawan kebenaran atau orang benar bermusuhan dengan orang benar, yaitu orang /satu kelompok yang mempertahankan kebenaranya berbenturan dengan orang lain/kelompok lain yang juga mempertahankan kebenaran. Pertentangan antara orang-orang/kelompok yang sama-sama mempertahankan kebenaran yang dinyakini masing-masing ini semestinya kita cari jawabanya kenapa kebenaran bisa mempertengkarkan sesama manusia.

Walaupun tidak dianggap sebuah jawaban yang paling benar atas pertentangan kebenaran vs kebenaran sebagaimana uraian di atas bahwa kebenaran tidaklah harus dibawa keluar dari diri kita, tetapi jika kita keluar dari diri kita, seharusnya yang kita bawa bukan kebenaran tetapi yang kita bawa adalah kebaikan, keindahan, kemuliaan, kemashlahatan maupun upaya-upaya agar kita nyaman satu sama lainnya baik dengan orang-orang sekitar ataupun lingkungan kita sehingga dapat memunculkan kebijakan dan kearifan.

Dari permasalahan tersebut kita dapatkan sebuah analogi dalam sebuah bisnis di toko bahwa kebenaran letaknya bagian depannya, namun saat ini beberapa toko menjadikan tampilan depan sebagai display  utama dan menurut masing-masing pemilik merasa benar dan paling baik ataupun antara warung lontong satu dengan lainnya sama-sama menjajakan menu yang sama namun masing-masing merasa racikan bumbu mereka yang paling benar, jika hal sedemikian yang terjadi antara mereka tidak akan pernah selesai dengan seluruh peretengkaran, permusuhan, persaingan, kebencian bahkan saling dendam apalagi mereka saling menyombongkan kebenaran/kebaikan yang dimilikinya. Begitu halnya antara manusia satu dengan lainnya apabila masing-masing menyombongkan kebenaran/kebaikan masing-masing hanyalah akan melahirkan sebuah kebenaran yang subjektif. Jika mereka mau melihat kebenaran/kebaikan kelompok lainnya, pastilah akan ada timbul demokrasi dan saling menghargai. Dari situlah kemudian muncul kebersamaan dan tidak saling menyerang. Kesepakatan bersama merupakan  tindakan yang memperhatikan kebenaran orang banyak yang harusnya ditempuh bersama yang mungkin akan dapat menyingkap rahasia Allah yang telah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku dengan berbagai watak dan ragam pemikiran. Bukankah Allah telah berfirman “Kebenaran datangnya dari diri-Ku” (اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ ) QS. 2,147, manusia hanya mendapat imbasnya dan hanya mampu menafsirkanya, namun dengan penafsiran kebenaran itu kita harus berhati-hati karena penafsiran kebenaran satu dengan lain bisa berbeda-beda dan kita tidak bisa saling mengklaim kebenaran masing-masing dan tidak perlu mempertengkarkannya namun kita harus berusaha membuat satu dengan lainnya nyaman, aman, saling menggembirakan, tidak saling menista harga diri dan bahkan tidak saling membunuh hanya karena mempertahankan kebenaran yang dinyakininya.

Sungguh menjadi pelajaran yang sangat berharga ketika penulis mendapati sebuah channel youtube seorang budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun) bertutur terhadap keberagaman keyakinan tafsiran kebenaran bahwa seharusnya kita berhenti mencari apalagi kemudian menuding, membenci dan berkeinginan memusnahkan siapa yang salah, karena bagi mereka yang di tuduh salah, kita yang salah maka yang terbaik sekarang kita mulai belajar mencari apa yang salah dan apa yang benar, yang salah itu bisa saja pada kita dan bisa jadi dari mereka begitu juga hal kebenaran, artinya kita mencari apanya bukan siapanya. Karena selaku sesama makhluk Allah kita wajib menerima semuanya. Jika kita tetap mempertengkarkan siapa yang salah dan siapa yang benar, yang terjadi bukan pembuktian mengenai kebenaran namun yang terjadi adalah kalah menang secara kekuatan. Perlu diketahui bahwa kalah menang secara kekuatan itu sebenarnya adalah suatu tataran yang paling rendah antara manusia karena manusia sejatinya diciptakan bukan mengalahkan orang lain, hidup ini tidak untuk mengalahkan siapa-siapa karena semua agama maupun nilai relegius yang didapati mausia hakekatnya adalah “ hidup adalah mengalahkan diri sendiri, sebagaimana ungkapan pepatah “  أشد الجهاد جهاد الهوى ** وما اكرم المرء إلا التقى   (Jihat yang besar/sebenarnya adalah jihat melawan hawa nafsu, dan kehormatan seseorang terletak pada ketaqwaannya).

Hidup bukanlah sebuah perlombaan untuk saling mengalahkan dan memenangkan tetapi hidup merupakan ajang tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan :

َتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

 “dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya” (QS. Al Maidah;2)

Lebih lanjut “Cak Nun” berpesan , janganlah hidup di tataran kalah dan menang tapi jadikanlah hidup di tataran berlomba untuk saling mengamankan, menyamankan, menyumbang kearifan dan kebijaksanaan satu sama lain agar output dari diri kita masing-masing bisa menyusun keruwetan, kesukaran, dan beban menjadi keseimbangan bersama dan keseimbangan sosial. Jadikan cara berfikir, kecintaan, hubungan antara hati dan fikiran , hubungan antara individu dan masyarakat selaras dan seimbang.  

Allahu Alamu….



Penulis : Dr.Edi Purnomo,MA


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   208

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   227

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   303

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   149

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258