Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kekasih Allah di Pinggir Jalan



Selasa , 09 Desember 2025



Telah dibaca :  464

Malam itu saya mengikuti pengajian. Orang menyebutnya Tabligh Akbar, yaitu pengajian di atas standar. Seperti kata Allahu Akbar, artinya Allah Maha Besar. Tabligh Akbar mungkin artinya penyampaian materi pengajian yang sangat besar jumlahnya. Kuota jumbo. Maka pengajian harus memenuhi standar bahasa dan bagaimanapun caranya harus bisa mencapai kata “akbar” pada pengajian malam itu.

Saya hadir di pengajian tersebut sebagai manusia biasa. Ingin duduk sebagaimana kebanyakan jama’ah. Tapi Allah menempatkan duduk dengan orang-orang besar. Itu rekayasa Allah, bukan dari manusia. Itu yang saya rasakan. Kadang hidup itu lucu. Seperti Abu Nawas. Tidak punya susah, tidak sopan tapi dianggap orang hebat. Kadang juga di tempatkan seperti ulama yang ‘alim, yang weruh sa’durunge winarah-tahu sebelum dikasih tahu. Kadang juga seperti tukang parkir yang disuruh mengeluarkan honda seorang pembeli di depan Indomaret. Kadang di bentak orang gila sambil ngomong sangat keras kepada ku,”dasar kamu gila!”, katanya melotot kepada ku. Saya jadi bingung siapa yang gila, saya atau dia yang gila atau memang dua-dua nya sedang gila.

Di era sekarang ini saya kira kata “gila” sudah tidak lagi sesuatu yang tabu. Sudah mafhum. Coba saja kalimat berikut ini, “gila wanita”, “gila jabatan”, “gila pujian”, “gila harta”, “gila pangkat”. Saking mafhum nya, seolah-olah sebanyak “gila” tersebut di atas tidak lagi dianggap gila. Mungkin semua sudah sama-sama gila. Perilakunya, “nggilani”.

Saya -entah orang lain-yang berada dipanggung bagi orang lain melihatku bagian kelompok manusia yang mulia. Sebab panggung memang di desain untuk manusia-manusia mulia. Standarnya pun sama-sama di mafhumi oleh khalayak umum: pejabat, tokoh masyarakat, ulama, dan orang-orang hebat. Karena desain berfikirnya seperti itu, Maka sampai detik ini konstitusi tidak tertulis yang hidup di masyarakat menganggap orang mulia ukuran standarisasi seperti tersebut di atas.

Namun nun jauh di sana dipinggir jalan, ada hamba-hamba Allah yang sudah mengurangi pemahaman standarisasi kebanyakan manusia. Ia sudah mulai “ngaji” kehidupan. Bukan orang lain yang dilihatnya tapi diri sendiri. Bukan persoalan orang lain yang dibahas, tapi persoalan diri sendiri. Bukan ibadah orang lain yang dibahas, tapi ibadah dirinya sendiri. Pendek kata, hamba-hamba Allah tersebut ingin memperbaiki diri sendiri, sehingga dianggap oleh sebagian orang dianggap gila atau orang yang nulayani adat. Adate menungso. Khariqul ‘adat.

“Tidak ikut pengajian mas?” tanya seseorang jamaah yang berbaju putih sangat rapi.

“Mboten mas, kulo jualan mawon” kata seorang penjual dengan rambut acak-acakan dan baju kaos sudah lusuh.

Ketika sebagian jamaah mentertawakan dirinya-penjual yang lusuh tadi-, Sang Penjual tidak sempat membalas ejekan tadi. Benar-benar tidak sempat dan tidak punya waktu. Baginya waktu adalah uang. Uang adalah istri dan anak. Baginya merawat istri dan anak adalah kewajiban tertinggi setelah kewajiban menyembah kepada Sang Pencipta. dan kewajiban menyembah kepada-Nya adalah tujuan hidup nya.

Saya jadi teringat sebuah syair kaum sufi begini:

Aku kaum yang tersesat di padang gersang,

Ada pula yang tersesat di padang cintanya,

Mereka fana, kemudian fana, lalu fana,

Lantas mereka kekal dengan kekal dan kedekatan Tuhannya.

Jangan-jangan sang penjual yang tidak mitayani tadi adalah orang yang tersesat di padang yang gersang. Dia melihat dunia seisinya, pengajian akbar dan ribuan manusia yang berkumpul di lapangan laksana tumpukan-tumpukan barang-barang rongsokan yang sangat meletihkan. Dia sedang merintih membutuhkan air kasih sayang dari-Nya. Ia terus mencari kakikat diri. Naluri terus dipertajam, dan lambat laun ia mungkin sudah mulai menikmati sumber mata air kehidupan yang berada di lubuk paling dalam. Ia merasakan nikmat kesunyian dalam keramaian, keindahan dalam kerusakan.

Sang penjual tadi mungkin tidak ada ilmu yang nyantol pada pengajian malam itu. Ia terlalu fokus jualan. Bisa jadi ia terlihat bodoh. Tapi jangan-jangan fana dalam kebodohan telah menyebabkan kekalnya ilmu pengetahuan sebab kedekatan dengan Tuhan nya. Ketidakinginan untuk ngaji dan lebih fokus jualan bisa jadi kesadaran diri akan tugasnya. Saat keduanya bertemu pada diri sang penjual tersebut, maka ia sebenarnya telah mendapatkan ilmu pengetahuan yang melimpah ruah, yaitu ilmu yang mengantarkan semakin mencintai Allah melalui wasilah memperbaiki kebutuhan keluarga nya. Saya kira orang-orang seperti ini bagian dari kekasih Allah swt. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   110

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872