
Malam itu saya mengikuti pengajian. Orang menyebutnya
Tabligh Akbar, yaitu pengajian di atas standar. Seperti kata Allahu Akbar,
artinya Allah Maha Besar. Tabligh Akbar mungkin artinya penyampaian materi pengajian
yang sangat besar jumlahnya. Kuota jumbo. Maka pengajian harus memenuhi standar
bahasa dan bagaimanapun caranya harus bisa mencapai kata “akbar” pada pengajian
malam itu.
Saya hadir di pengajian tersebut sebagai
manusia biasa. Ingin duduk sebagaimana kebanyakan jama’ah. Tapi Allah menempatkan
duduk dengan orang-orang besar. Itu rekayasa Allah, bukan dari manusia. Itu
yang saya rasakan. Kadang hidup itu lucu. Seperti Abu Nawas. Tidak punya susah,
tidak sopan tapi dianggap orang hebat. Kadang juga di tempatkan seperti ulama
yang ‘alim, yang weruh sa’durunge winarah-tahu sebelum dikasih tahu. Kadang juga
seperti tukang parkir yang disuruh mengeluarkan honda seorang pembeli di depan Indomaret.
Kadang di bentak orang gila sambil ngomong sangat keras kepada ku,”dasar kamu
gila!”, katanya melotot kepada ku. Saya jadi bingung siapa yang gila, saya
atau dia yang gila atau memang dua-dua nya sedang gila.
Di era sekarang ini saya kira kata “gila”
sudah tidak lagi sesuatu yang tabu. Sudah mafhum. Coba saja kalimat berikut
ini, “gila wanita”, “gila jabatan”, “gila pujian”, “gila harta”, “gila pangkat”.
Saking mafhum nya, seolah-olah sebanyak “gila” tersebut di atas tidak lagi dianggap
gila. Mungkin semua sudah sama-sama gila. Perilakunya, “nggilani”.
Saya -entah orang lain-yang berada
dipanggung bagi orang lain melihatku bagian kelompok manusia yang mulia. Sebab
panggung memang di desain untuk manusia-manusia mulia. Standarnya pun sama-sama
di mafhumi oleh khalayak umum: pejabat, tokoh masyarakat, ulama, dan
orang-orang hebat. Karena desain berfikirnya seperti itu, Maka sampai detik ini
konstitusi tidak tertulis yang hidup di masyarakat menganggap orang mulia
ukuran standarisasi seperti tersebut di atas.
Namun nun jauh di sana dipinggir jalan, ada
hamba-hamba Allah yang sudah mengurangi pemahaman standarisasi kebanyakan
manusia. Ia sudah mulai “ngaji” kehidupan. Bukan orang lain yang dilihatnya
tapi diri sendiri. Bukan persoalan orang lain yang dibahas, tapi persoalan diri
sendiri. Bukan ibadah orang lain yang dibahas, tapi ibadah dirinya sendiri. Pendek
kata, hamba-hamba Allah tersebut ingin memperbaiki diri sendiri, sehingga
dianggap oleh sebagian orang dianggap gila atau orang yang nulayani adat. Adate
menungso. Khariqul ‘adat.
“Tidak ikut pengajian mas?” tanya seseorang jamaah yang berbaju putih
sangat rapi.
“Mboten mas, kulo jualan mawon” kata seorang penjual dengan rambut acak-acakan
dan baju kaos sudah lusuh.
Ketika sebagian jamaah mentertawakan
dirinya-penjual yang lusuh tadi-, Sang Penjual tidak sempat membalas ejekan
tadi. Benar-benar tidak sempat dan tidak punya waktu. Baginya waktu adalah
uang. Uang adalah istri dan anak. Baginya merawat istri dan anak adalah
kewajiban tertinggi setelah kewajiban menyembah kepada Sang Pencipta. dan
kewajiban menyembah kepada-Nya adalah tujuan hidup nya.
Saya jadi teringat sebuah syair kaum sufi
begini:
Aku kaum yang tersesat di padang gersang,
Ada pula yang tersesat di padang cintanya,
Mereka fana, kemudian fana, lalu fana,
Lantas mereka kekal dengan kekal dan
kedekatan Tuhannya.
Jangan-jangan sang penjual yang tidak mitayani
tadi adalah orang yang tersesat di padang yang gersang. Dia melihat dunia
seisinya, pengajian akbar dan ribuan manusia yang berkumpul di lapangan laksana
tumpukan-tumpukan barang-barang rongsokan yang sangat meletihkan. Dia sedang
merintih membutuhkan air kasih sayang dari-Nya. Ia terus mencari kakikat diri. Naluri
terus dipertajam, dan lambat laun ia mungkin sudah mulai menikmati sumber mata
air kehidupan yang berada di lubuk paling dalam. Ia merasakan nikmat kesunyian
dalam keramaian, keindahan dalam kerusakan.
Sang penjual tadi mungkin tidak ada ilmu
yang nyantol pada pengajian malam itu. Ia terlalu fokus jualan. Bisa jadi ia
terlihat bodoh. Tapi jangan-jangan fana dalam kebodohan telah menyebabkan
kekalnya ilmu pengetahuan sebab kedekatan dengan Tuhan nya. Ketidakinginan
untuk ngaji dan lebih fokus jualan bisa jadi kesadaran diri akan tugasnya. Saat
keduanya bertemu pada diri sang penjual tersebut, maka ia sebenarnya telah
mendapatkan ilmu pengetahuan yang melimpah ruah, yaitu ilmu yang mengantarkan
semakin mencintai Allah melalui wasilah memperbaiki kebutuhan keluarga nya. Saya
kira orang-orang seperti ini bagian dari kekasih Allah swt.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   110
Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146
Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214
Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291
Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872