Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ketika Dunia Kehilangan Esensi Cinta



Minggu , 18 Januari 2026



Telah dibaca :  269

Melihat berita internasional beberapa hari ini, saya ber suudhon bahwa betapa “kemaruk nya” negara-negara besar-AS, China, dan Rusia-meng-kapling- wilayah negara-negara tertentu untuk menjadi sekutu-sekutunya. Ketika Sumber Daya Alam-SDA-semakin meniipis, mereka mulai kelimpungan. Solusinya, pakai jurus Kapak Naga Geni-jurus mabok Wiro Sableng. Tidak ada angin-tidak ada hujan, Donald Trump mengancam Venezuela, Kuba, dan Greenland. Satu alasan rasional: khawatir di kapling duluan oleh China dan Rusia.

Siapa yang menjadi korban? Selalu saja negara-level papan menengah kebawah-negara yang SDM nya terbatas, tapi SDA nya melimpah. Negara-negara cacat permanen akibat perang seperti Libya dan Irak merupakan contoh melimpah SDA tapi rendah SDM nya. Mereka menjadi tumbal kerakusan negara-negara maju dari dulu hingga sekarang.

Perang selalu berwajah dua. Bagi negara-negara menengah kebawah, perang selalu dikaitkan dengan pembelaan diri, kehormatan, nasionalisme dan agama. Bagi ketiga negara maju, perang atas nama harta dan kekayaan serta unjuk kekuasaan.

Perang konvensional telah terjadi pada masa lalu. Sudah tidak terhitung jumlah korban. Perang era modern muncul. Perang digital telah menggeser perang geografis. Namun daya rusaknya jauh lebih mengerikan dari perang konvensional. Mereka berlomba-lomba membuat senjata canggih hanya untuk menuruti hawa nafsu hayawani: buas dan rakus. Kecerdasan sudah mencapai puncaknya, tapi karakternya masih seperti jaman jahiliyah.

Dari dulu hingga sekarang para penguasa masih punya watak sama, rakus dan mengabaikan esensi cinta. Manusia-manusia modern dan para penguasa negara-negara maju sangat sulit untuk menaikan sifat kedewasaan dalam memahami kasih sayang terhadap sesama manusia. Dunia semakin tua, tapi watak masih seperti anak-anak remaja. emosional, arogansi dan penyelesaian dengan cara yang sangat brutal: perang.

Dunia digital beramai-ramai membangkitkan lagi pola pemikiran jahiliyah yaitu sebatas memperbaiki perhiasan-perhiasan dunia, memperbanyak kekuasaan dan menumpuk-numpuk harta. Lalu atas nama kemanusiaan dan keadilan, mereka sewenang-wenang menghancurkan negara atau bangsa lain dengan sesuka harinya.

Penulis menjadi teringat pada firman Allah tentang titik utama agama Islam yaitu pada diri Nabi Muhammad berupa suri tauladan yang baik. Hal sama juga Kanjeng Nabi mengatakan bahwa ia diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak.

Dalam dunia politik dan kekuasaan, Nabi menaklukan kota Mekah dengan penuh cinta. Nabi berkata, “al-yaumu yaumul marhamah”-hari ini adalah hari kasih sayang dan “laa tarbiib ‘alaikum al-yaum”-tidak ada cercaan atau hinaan atas kalian hari ini.

Kelihatannya ajaran cinta atas kemanusiaan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad belum menyentuh hati para penguasa adi kuasa. Bahkan ajaran kasih sayang pada agama mereka pun sepertinya telah dihancurkan oleh ambisi keserakahan yang semakin akut. Ketika keserakahan semakin merajalela, maka kasih sayang semakin hilang di hati manusia. saat itulah, peradaban manusia kembali kepada masa jahiliyah. Sebab yang membedakan peradaban yang agung dan kelaku jahiliyah adalah pada sisi-sisi kemanusiaannya. Orang yang mencintai manusia dalam kontek agama berarti telah memahami dan menghargai serta mempraktekan cinta kepada Tuhan nya. Sebab tidak mungkin mencintai Tuhan nya tapi disisi lain membenci ciptaan-Nya.

Kini kita sama-sama menyaksikan, kecerdasan akal pikiran dengan hasil temuan-temuan mutakhir telah menggeser cinta manusia kepada Tuhan dan manusia. Manusia di era digital benar-benar telah kehilangan esensi cinta, kecuali orang-orang yang benar-benar mendapatkan cahaya kasih sayang dari Tuhan nya.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   110

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870