
Perseteruan Donald Trump dan Elon Musk masih
terus berlanjut. Pertengkaran presiden dan Menteri. Elon musk menjabat sebagai Deparment
of Government Efficiency (DOGE). Ia akhirnya mengundurkan diri. Tidak cocok
dengan kebijakan Trump. Kini Kawan menjadi lawan.
Trump mendapat kritikan tajam. Bukan dari Partai
Demokrat. Bukan dari oposisi, tapi dari internal pemerintahan. Musuh dalam
selimut. Kini selimutnya dibuang. Semua manusia dijagat raya sudah tahu, bahwa
Trump dan Elon lagi cakar-cakaran.
Kini Elon menjadi oposisi dan menyerang
kebijakan pemerintah trump. Salah satu yang dikritisi oleh Elon berkaitan
dengan dengan Rancangan Undang-Undang Big Beautiful Bill. Menurut Elon, program
itu akan membuat utang Amerika kian besar. Akan naik menjadi USD 36 triliun di
tahun 2035. Itu setara dengan 150 persen PDB Amerika.
Menurut Musk, untuk membayar bunganya saja
kelak diperlukan uang sebanyak 30 persen dari pendapatan negara. Ini akan
menghancurkan Amerika. Ini sangat bertolak belakang dengan usaha efisiensi yang
ia lakukan di DOGE
Keduanya saring serang. Elon mengatakan”Tanpa
saya, Trump akan kalah dalam pemilihan. Demokrat akan menguasai DPR dan
Republik akan berada di posisi 51-49 di Senat. Sungguh tidak tahu terima kasih”
Ketegangan konflik di internal pemerintahan
trump memang cukup mengagetkan. Biasanya AS paling sibuk ngurus negara lain.
Kini ngurus diri sendiri “kelimpungan”.
Di AS, partai politik ada dua: Demokrat dan
Republik. Jika Republik berkuasa, maka Demokrat menjadi oposisi. Saya kira ini
fenomena baru di dunia perpolitikan Negeri Paman Sam. Entah amalan apa yang
dilakukan Trump. Apa mungkin dia sedang menerapkan “Jurus Dewa Mabuk”. Atau
jangan-jangan Trump sedang belajar politik model Indonesia. kalau “belum
berkelahi”, seolah-olah tidak sah. Kalau bisa hari ini dipilih menjadi
pemimpin, besok berkelahi sampai menjelang pemilu berikutnya.
Jika berkaitan politik “nesu-nesuan”,
Indonesia paling jago. Mesra di Pelaminan. Di kamar saling buka aib. Pasangan
presiden terpilih Prabowo-Gibran. Satu paket. Ironisnya, ada usulan impeachment
untuk wakilnya, Girban.
Tidak usah terlalu jauh membahas politik di
Jakarta. Di kampung kita saja, entah gubernur, entah bupati. Isu yang sering
terjadi tentang “ketidakharmonisan” terus menjadi bumbu penyedap gosip politik.
Jadi, sebagian masyarakat memang mempunyai keahlian “gosip” tingkat dewa.
Bisa tidak sih, gosip politik berhenti
paling sedikit 3,5 tahun. Bisa tidak sih, sebelum genap 4 tahun para pemimpin
dan seluruh komponen berjibaku mewujudkan program-program janji politik saat
kampanye?.
Jika ada kepala daerah yang sudah tidak
mesra lagi dengan pasangannya, bisa tidak kita ngomong begini:”Persoalan tidak
cocok dengan pasangan itu urusan anda, urusan kami yaitu mendapatkan realisasi
janji-janji politik”. Hal-hal seperti ini masyarakat sering lupa. Mereka justru
lebih sering menikmati konflik tanpa sadar terjebak pada arus permainan para
penguasa. Konflik politik terkadang sengaja diciptakan untuk berbagai
kepentingan. Masyarakat larut dalam buaian, sehingga lupa terhadap visi-dan
misi program yang dijanjikan.
Saya tidak tahu dampak yang lebih luas
akibat perseteruan Donald Trump dan Elon Musk. Biarkan para pengamat atau pakar
politik internasional yang mempunyai hak untuk menganalisis lebih mendalam.
Saya tidak mau membahas lebih mendalam
perseteruan mereka. Kurang asyik. Masa sih, perseteruan di Medsos atau di
platform “X”. Perseteruan kurang berkah.
Menghabiskan paket.
Beda model politik Indonesia, perseteruan
gosipnya di Kedai Kopi. Berkah. Satu jam membahas politik sambil makan seblak
dan minum kopi plus ngrokok. Saya kira, Trump dan Elon untuk hal ini harus
belajar sama orang Indonesia. Perseteruan politik di Kedai Kopi, ngobrol
politik sekaligus ngurip-ngurip UMKM.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2945
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874