
Sabtu sore sekitar jam 16.00 wib, saya
sempat ngobrol dengan dua orang yang sangat istimewa. Satu pak Ilham Pimpinan
BSI Cabang Bengkalis. Kedua pak Dr. Alma’arif seorang dosen muda berwajah tua
-mungkin karena terlalu tekun belajar dan berkarya. Saya tahu ia sangat
produktif menulis artikel dan buku yang sangat berkualitas.
Dua tema sedikit berbeda. Pembahasan dengan
pak ilham mengambil tema tentang kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Menurutnya, kita sering melihat kenikmatan Allah dengan kacamata sempit.
Sehingga pikiran pun ikut sempit mengenal kenikmatan-Nya. yang sering terlihat
hanya hal-hal yang jelek-jelek dan tidak menyenangkan.
Sedangkan tema yang saya bahas dengan Dr.
Alma’arif tentang urgensi menghidupkan warisan peradaban yang dulu pernah hidup
dan dihidupkan oleh para ilmuwan seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghozali dan
lain-lain. Ada tugas dosen tidak hanya melulu membahas persoalan BKD, SKP dan
tukin. Tapi ada yang lebih besar dari semua itu, yaitu memberi asupan nutrisi
peradaban kepada generasi Islam dengan karya-karya nyata.
Pembahasan bersama kedua orang hebat
tersebut benar-benar melupakan cuaca sore hari yang terasa sedikit “sumuk”
dan saya lihat di langit Kota Bengkalis ada mendung hitam yang sangat tebal
serta angin berhembus cukup kencang. Suatu simbol yang membingungkan apakah
hujan akan turun atau sebaliknya, “sumuk” akan berlanjut. Saya tetap menikmati
diskusi ilmiah dan sekaligus menyentuh hati dari dua narasumber di atas.
Dari diskusi ilmiah tersebut, saya
merangkum dalam sebuah tulisan sebagai berikut. Selamat menikmati sambil minum
kopi yang sudah mulai dingin.
Kematian Sayid Husein di Padang Karbala membawa
persoalan politik berkepanjangan. Bagai bola liar yang terus menjadi
pembicaraan. Mayoritas umat Islam saat itu sangat marah. Bukan hanya para
pengikut setia Ali bin Abi Thalib, tapi juga kemarahan seluruh umat Islam. Kemarahan
umat Islam saat itu karena melihat sosok cucu Nabi Muhammad dibunuh oleh
tentara yang bengis tanpa peri kemanusiaan. Bagaimana bisa, orang yang ingin
mengharapkan Syafa’at Rasul, tapi cucu nya malah dibunuh dengan cara sangat
sadis.
Keluarga Husein yang tersisa akhirnya
menjauhkan diri dari persoalan konflik. Salah satunya yaitu putra husein yang
bernama Ali Zainal Abidin. Ia mengasingkan diri dari persoalan politik. Ia
memilih terus menimba ilmu pengetahuan sebagaimana yang telah diwariskan
tradisi tersebut oleh kakek nya yaitu Ali Bin Abi Thalib. Malam hari Sayid Zainal
Abidin juga menggunakan waktu untuk memperbanyak sujud kepada Allah SWT. Wajar
ia mendapatkan gelar as-sajjad (orang yang selalu sujud atau
memperbanyak sholat malam).
Nama nya semakin harum. Ia muncul sebagai
seorang mujtahid yang sempurna, seorang sufi yang malam nya digunakan untuk
bermesraan dengan Tuhan nya, siang hari digunakan untuk berpuasa dan
waktu-waktunya digunakan mengajar para santri-santrinya. Namanya sangat harum.
Harum nya mampu melawan arah mata angin. Sebagai manusia pada umum nya, ia juga
mendapatkan cacian, fitnah terus saja menghampirinya. Semakin difitnah, semakin
semerbak bunga keagungan di masyarakat Madinah.
Ketika pemerintah dinasti umayyah berganti,
penerusnya mewarisi persoalan konflik di tengah masyarakat. Sebagian masyarakat
menuntut agar kasus pembunuhan husein segera dituntaskan. Maka pemerintah baru
pun membuka kembali kasus pembunuhan tersebut. Bahkan pemerintah baru tersebut
akan menghukum setimpal dengan kejahatan yang telah dilakukan.
Sang pemimpin pasukan mendengar hal
tersebut cepat-cepat keluar dari kerajaan. Sebelum subuh segera melarikan diri
dan mencari tempat perlindungan yang aman. Sebab ketika pagi hari tiba, pasti
seluruh pasukan kerajaan akan mencarinya dan menangkapnya. Ia pun sibuk mencari
perlindungan ke rumah penduduk. Bersembunyi untuk menghindari pasukan kerajaan.
Beruntung, pagi itu ada sebuah rumah terpencil dari keramaian. Ia segera
mengetuk pintu. Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Keluarlah seorang laki-laki
yang sangat anggun dan penuh kewibawaan.
Pemimpin pasukan tersebut segera
memperkenalkan diri, bahwa ia adalah seorang kepala pasukan. Pada saat Perang
Karbala, ia telah membunuh Sayidina Husein. Namun pemerintah baru membuat
kebijakan baru, yaitu menangkap semua yang terlibat pembunuhan tersebut. Itu
sebabnya ia sebagai pemimpin pasukan terancam keselamatan jiwanya. Ia juga
ingin tinggal beberapa hari di rumah tersebut untuk menghindari kejaran pasukan
kerajaan.
Tuan rumah mendengarkan cerita pemimpin
pasukan dengan penuh perhatian. Ekspresi wajah nya sangat tenang. Laksana
telaga yang sangat dalam. Tenang, teduh, dan wajah nya memancarkan kedamaian
batin yang sangat dalam.
Sang pemimpin pasukan sangat senang tinggal
di rumah tersebut. tuan rumah menjamu nya dengan sangat baik sekali. wajar jika
sang pemimpin pasukan sangat betah tinggal di tempat tersebut. hingga tak
terasa waktu sudah tiga hari di tempat tersebut. ia pun berpamitan kepada tuan
rumah. Sebelum pamitan dan saat duduk-duduk bersama, tuan rumah memberikan
beberapa bekal makanan dan beberapa uang untuk kebutuhan di perjalanan.
Sang pemimpin pasukan tersebut sangat
terharu akan kebaikan akhlaknya. Sangat
sulit menemukan kebaikan manusia sepertinya: menyediakan tempat bagi musuh
negara, memberi makan-minum dan memberi bekal berupa uang untuk bekal di
perjalanan.
“Maaf, tuan. Sebenarnya siapa nama anda.
Maaf saya selama tiga hari lupa bertanya nama tuan. Semoga saya bisa membalas
kebaikan tuan pada suatu hari nanti” tanya sang pemimpin pasukan.
“Saya adalah anak dari Husein bin Ali yang
anda bunuh di padang Karbala, Ali Zainal Abidin” jawab tuan rumah dengan
tenang.
Sang pemimpin pasukan kaget. Badan bergetar
sangat kuat. Menggigil sekujur tubuh. Ia tidak bisa membayangkan betapa orang
yang membantu menyelamatkan nyawa nya dari kejaran pasukan kerajaan justru
berasal dari anak yang orang tuanya dibunuh oleh nya.
Dalam keadaan lemas tubuh nya tak berdaya
melihat situasi yang sangat sulit dicerna oleh akal, sang pemimpin pasukan
bertanya: “Kenapa tuan tidak membunuhku saat aku tidur, atau meracuniku saat
aku makan. Kenapa tuan malah memberi penghormatan kepada ku sebagaimana manusia
pada umum nya?”.
Sayyid Zainal Abidin menjawab: “Saat
pertama kamu datang, kamu meminta perlindungan ku dari kejaran pasukan kerajaan.
Saya menyanggupinya. Saat itu juga kamu telah menjadi tamu ku. Allah dan Rasul-Nya
telah mengajarkan kepada ku untuk menghormati tamu. Allah dan Rasul-Nya juga
mengajariku mencintai terhadap seluruh makhluk meskipun orang tersebut sangat
menyakitkan diri ku. Nabi yang agung, kakek dan ayah ku mengajarkan kepada ku
untuk menghilangkan rasa dendam kepada siapapun”.
Pelajaran kisah tersebut di atas menunjukan
bahwa dendam kepada siapapun merupakan pangkal kekejaman dan kerusakan umat
manusia. Sebaliknya, cinta dan kasih sayang kepada manusia akan menumbuhkan
benih-benih taman peradaban tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat dunia.
Pertanyaannya, dimanakah hati umat Islam
dan hati manusia di dunia berlabuh, apakah di “Kawah Angkara Murka” atau “Taman
Kebencian”. Sampai hari ini, saya belum mengetahui nya dengan jelas. Mata dan
telingaku masih mendengar sayup-sayup tangisan anak-anak di Palestina, Sudan,
dan Somalia. Sayup-sayup telinga ku juga mendengar di sebelah sana musik-musik
sekumpulan manusia berpesta pora dengan minum berwarna merah. Saya
pun tidak tahu, apakah itu anggur merah ataupun
yang di ambil dari darah anak-anak palestina yang tidak berdosa.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
ISKANDAR,S.Ag
Matur suwun KY suguhan ilmunya...
Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   113
Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146
Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214
Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291
Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875