Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ketulusan Mencintai Manusia



Minggu , 29 Juni 2025



Telah dibaca :  632

Sabtu sore sekitar jam 16.00 wib, saya sempat ngobrol dengan dua orang yang sangat istimewa. Satu pak Ilham Pimpinan BSI Cabang Bengkalis. Kedua pak Dr. Alma’arif seorang dosen muda berwajah tua -mungkin karena terlalu tekun belajar dan berkarya. Saya tahu ia sangat produktif menulis artikel dan buku yang sangat berkualitas.

Dua tema sedikit berbeda. Pembahasan dengan pak ilham mengambil tema tentang kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Menurutnya, kita sering melihat kenikmatan Allah dengan kacamata sempit. Sehingga pikiran pun ikut sempit mengenal kenikmatan-Nya. yang sering terlihat hanya hal-hal yang jelek-jelek dan tidak menyenangkan.

Sedangkan tema yang saya bahas dengan Dr. Alma’arif tentang urgensi menghidupkan warisan peradaban yang dulu pernah hidup dan dihidupkan oleh para ilmuwan seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghozali dan lain-lain. Ada tugas dosen tidak hanya melulu membahas persoalan BKD, SKP dan tukin. Tapi ada yang lebih besar dari semua itu, yaitu memberi asupan nutrisi peradaban kepada generasi Islam dengan karya-karya nyata.

Pembahasan bersama kedua orang hebat tersebut benar-benar melupakan cuaca sore hari yang terasa sedikit “sumuk” dan saya lihat di langit Kota Bengkalis ada mendung hitam yang sangat tebal serta angin berhembus cukup kencang. Suatu simbol yang membingungkan apakah hujan akan turun atau sebaliknya, “sumuk” akan berlanjut. Saya tetap menikmati diskusi ilmiah dan sekaligus menyentuh hati dari dua narasumber di atas.

Dari diskusi ilmiah tersebut, saya merangkum dalam sebuah tulisan sebagai berikut. Selamat menikmati sambil minum kopi yang sudah mulai dingin.

Kematian Sayid Husein di Padang Karbala membawa persoalan politik berkepanjangan. Bagai bola liar yang terus menjadi pembicaraan. Mayoritas umat Islam saat itu sangat marah. Bukan hanya para pengikut setia Ali bin Abi Thalib, tapi juga kemarahan seluruh umat Islam. Kemarahan umat Islam saat itu karena melihat sosok cucu Nabi Muhammad dibunuh oleh tentara yang bengis tanpa peri kemanusiaan. Bagaimana bisa, orang yang ingin mengharapkan Syafa’at Rasul, tapi cucu nya malah dibunuh dengan cara sangat sadis.

Keluarga Husein yang tersisa akhirnya menjauhkan diri dari persoalan konflik. Salah satunya yaitu putra husein yang bernama Ali Zainal Abidin. Ia mengasingkan diri dari persoalan politik. Ia memilih terus menimba ilmu pengetahuan sebagaimana yang telah diwariskan tradisi tersebut oleh kakek nya yaitu Ali Bin Abi Thalib. Malam hari Sayid Zainal Abidin juga menggunakan waktu untuk memperbanyak sujud kepada Allah SWT. Wajar ia mendapatkan gelar as-sajjad (orang yang selalu sujud atau memperbanyak sholat malam).

Nama nya semakin harum. Ia muncul sebagai seorang mujtahid yang sempurna, seorang sufi yang malam nya digunakan untuk bermesraan dengan Tuhan nya, siang hari digunakan untuk berpuasa dan waktu-waktunya digunakan mengajar para santri-santrinya. Namanya sangat harum. Harum nya mampu melawan arah mata angin. Sebagai manusia pada umum nya, ia juga mendapatkan cacian, fitnah terus saja menghampirinya. Semakin difitnah, semakin semerbak bunga keagungan di masyarakat Madinah.

Ketika pemerintah dinasti umayyah berganti, penerusnya mewarisi persoalan konflik di tengah masyarakat. Sebagian masyarakat menuntut agar kasus pembunuhan husein segera dituntaskan. Maka pemerintah baru pun membuka kembali kasus pembunuhan tersebut. Bahkan pemerintah baru tersebut akan menghukum setimpal dengan kejahatan yang telah dilakukan.

Sang pemimpin pasukan mendengar hal tersebut cepat-cepat keluar dari kerajaan. Sebelum subuh segera melarikan diri dan mencari tempat perlindungan yang aman. Sebab ketika pagi hari tiba, pasti seluruh pasukan kerajaan akan mencarinya dan menangkapnya. Ia pun sibuk mencari perlindungan ke rumah penduduk. Bersembunyi untuk menghindari pasukan kerajaan. Beruntung, pagi itu ada sebuah rumah terpencil dari keramaian. Ia segera mengetuk pintu. Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Keluarlah seorang laki-laki yang sangat anggun dan penuh kewibawaan.

Pemimpin pasukan tersebut segera memperkenalkan diri, bahwa ia adalah seorang kepala pasukan. Pada saat Perang Karbala, ia telah membunuh Sayidina Husein. Namun pemerintah baru membuat kebijakan baru, yaitu menangkap semua yang terlibat pembunuhan tersebut. Itu sebabnya ia sebagai pemimpin pasukan terancam keselamatan jiwanya. Ia juga ingin tinggal beberapa hari di rumah tersebut untuk menghindari kejaran pasukan kerajaan.

Tuan rumah mendengarkan cerita pemimpin pasukan dengan penuh perhatian. Ekspresi wajah nya sangat tenang. Laksana telaga yang sangat dalam. Tenang, teduh, dan wajah nya memancarkan kedamaian batin yang sangat dalam.

Sang pemimpin pasukan sangat senang tinggal di rumah tersebut. tuan rumah menjamu nya dengan sangat baik sekali. wajar jika sang pemimpin pasukan sangat betah tinggal di tempat tersebut. hingga tak terasa waktu sudah tiga hari di tempat tersebut. ia pun berpamitan kepada tuan rumah. Sebelum pamitan dan saat duduk-duduk bersama, tuan rumah memberikan beberapa bekal makanan dan beberapa uang untuk kebutuhan di perjalanan.

Sang pemimpin pasukan tersebut sangat terharu akan kebaikan akhlaknya.  Sangat sulit menemukan kebaikan manusia sepertinya: menyediakan tempat bagi musuh negara, memberi makan-minum dan memberi bekal berupa uang untuk bekal di perjalanan.

“Maaf, tuan. Sebenarnya siapa nama anda. Maaf saya selama tiga hari lupa bertanya nama tuan. Semoga saya bisa membalas kebaikan tuan pada suatu hari nanti” tanya sang pemimpin pasukan.

“Saya adalah anak dari Husein bin Ali yang anda bunuh di padang Karbala, Ali Zainal Abidin” jawab tuan rumah dengan tenang.

Sang pemimpin pasukan kaget. Badan bergetar sangat kuat. Menggigil sekujur tubuh. Ia tidak bisa membayangkan betapa orang yang membantu menyelamatkan nyawa nya dari kejaran pasukan kerajaan justru berasal dari anak yang orang tuanya dibunuh oleh nya.

Dalam keadaan lemas tubuh nya tak berdaya melihat situasi yang sangat sulit dicerna oleh akal, sang pemimpin pasukan bertanya: “Kenapa tuan tidak membunuhku saat aku tidur, atau meracuniku saat aku makan. Kenapa tuan malah memberi penghormatan kepada ku sebagaimana manusia pada umum nya?”.

Sayyid Zainal Abidin menjawab: “Saat pertama kamu datang, kamu meminta perlindungan ku dari kejaran pasukan kerajaan. Saya menyanggupinya. Saat itu juga kamu telah menjadi tamu ku. Allah dan Rasul-Nya telah mengajarkan kepada ku untuk menghormati tamu. Allah dan Rasul-Nya juga mengajariku mencintai terhadap seluruh makhluk meskipun orang tersebut sangat menyakitkan diri ku. Nabi yang agung, kakek dan ayah ku mengajarkan kepada ku untuk menghilangkan rasa dendam kepada siapapun”.

Pelajaran kisah tersebut di atas menunjukan bahwa dendam kepada siapapun merupakan pangkal kekejaman dan kerusakan umat manusia. Sebaliknya, cinta dan kasih sayang kepada manusia akan menumbuhkan benih-benih taman peradaban tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat dunia.

Pertanyaannya, dimanakah hati umat Islam dan hati manusia di dunia berlabuh, apakah di “Kawah Angkara Murka” atau “Taman Kebencian”. Sampai hari ini, saya belum mengetahui nya dengan jelas. Mata dan telingaku masih mendengar sayup-sayup tangisan anak-anak di Palestina, Sudan, dan Somalia. Sayup-sayup telinga ku juga mendengar di sebelah sana musik-musik sekumpulan manusia berpesta pora dengan minum  berwarna merah. Saya pun tidak tahu, apakah itu anggur merah ataupun  yang di ambil dari darah anak-anak palestina yang tidak berdosa.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

ISKANDAR,S.Ag

Matur suwun KY suguhan ilmunya...

   Berita Terkait

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   113

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875