
وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ
اَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوْبُوْٓا اِلٰىبَارِىِٕكُمْ
فَاقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِنْدَ بَارِىِٕكُمْۗ
فَتَابَ عَلَيْكُمْۗ اِنَّهٗ هُوَالتَّوَّابُ الرَّحِيْمُ ٥
(Ingatlah)
ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, sesungguhnya kamu telah
menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai
sembahan). Oleh karena itu, bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu.
Itu lebih baik bagimu dalam pandangan Penciptamu. Dia akan menerima tobatmu.
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.
Setelah menguji
skripsi di prodi siyasah syari’ah, penulis kedatangan mahasiswa dari berbagai
jurusan. Kebetulan mereka bukan bagian mahasiswa yang menonjol secara akademik.
Bahkan bisa dikatakan, mereka agak sedikit terlambat dari teman-teman yang
secara akademik lebih dulu berhasil dengan nilai baik. Meskipun demikian, mereka
bersedia menemuiku dan ingin berdiskusi terkait persoalan seputar kuliah,
skripsi dan organisasi. Menurutku, pada sisi ini mereka sebenarnya mempunyai
keinginan untuk merubah diri menjadi lebik baik.
Saat melihat
mereka, saya teringat pada diri sendiri di masa lalu yang mempunyai nasib tidak
jauh berbeda dari mereka secara akademik. Keterbatasan ekonomi dan kemampuan
pada diri sendiri telah menyebabkan saya tertinggal jauh dari teman-teman yang
secara ekonomi orang tua dan kemampuan akal yang baik telah lebih dulu menoreh
prestasi dalam hidupnya.
Sungguh sangat
beruntung bagi anda yang telah diberi kenikmatan kecerdasan akal pikiran,
kemapanan orang tua dan kemudahan meraih jenjang karir. Penulis menyakini
kesukesan tersebut bagian dari perjuangan anda yang membutuhkan waktu cukup panjang
untuk mendapatkan kesuksesan.
Namun Tuhan
menghadirkan hamba-hamba-Nya yang mempunyai keterbatasan kecerdasan, fisik, dan
kemampuan lainnya. Tidak mudah menghadapi segala keterbatasan tersebut dengan
tabah. Orang tua atau saudara-saudaranya prihatin melihat saya, anda dan kita
saat melihat pada diri sendiri yang seolah-olah tidak mempunyai masa depan yang
cerah. Doa dan ikhtiar selalu dipanjatkan kepada Allah atas segala ujian
tersebut. Jika anda posisi di level serba kekurangan, maka orang tua anda mengangkat
kedua tangan dan berdoa agar anda dan kita semua terbebas dari segala
penderitaan.
Ada kisah menarik. Suatu
hari saat berada di salah satu kota di Sumatera, saya dan ayah ku menginap di
sebuah rumah. Saat malam hari saya tertidur pulas, ayah membangunkanku. Saya lihat
jam menunjukan pukul 02.00 WIB. Waktu yang sangat nikmat untuk istirahat. Tapi,
saya tidak berani tidur lagi. Saya paling segan kepada ayah ku, apalagi saya
melihatnya sedang duduk di kursi dan membaca al-Qur’an. Rasa ingin tidur pun
secara pelan-pelan hilang.
Ayah berkata
kepadaku, “Mam bangun, jangan tidur terus. Tidak pantas malam hari
dihabiskan untuk tidur. Jika tidak sempat sholat tahajud, baca istighfar atau
sholawat. Setelah itu tidur lagi tak masalah”.
Saat di pagi hari
saya sarapan bersama ayah. Sudah menjadi kebiasaanya, makan tidak pernah
dihabiskan. Ayahku kalau makan paling banter sebanyak 5 sendok, baik sarapan
pagi, siang maupun malam. Saya tidak pernah melihat ayah ku makan lebih dari
dari 5 atau 7 sendok. Sisa nya diberikan kepadaku untuk menghabiskannya.
Saya hanya berfikir
saja betapa orang tua ku mampu menahan nafsu makan begitu hebat. ia benar-benar
tidak pernah kenyang, meskipun banyak ragam lauk dan sayur di meja
makan. Berbeda dengan ku yang terkadang makan bertambah ketika ada sayur atau lauk terasa nikmat.
Ayah ku mengatakan
begini;”Dimanapun berada, jangan lupa sholat. Sebab Tuhan dimanapun tempat
sama, yaitu Allah swt. Jangan lupa juga selalu mendoakan kebaikan kepada
siapapun, baik orang yang mencintaimu maupun orang yang membencimu”.
Saya
mendengar kalimat tersebut merasa sangat janggal. Saya masih ingat saat masih
remaja dan sudah beranjak dewasa, caci maki, ejekan, hinaan dan sejenisnya
selalu saja mampir dalam setiap catatan harian. Bahkan sampai detik ini, sebagian
dari nama-nama mereka masih tersimpan dengan baik kalimat cacian.
Hati saya mengatakan
begini,”Bagaimana mungkin, saya dihina diam saja. Saya harus melawannya dan
membalas hinaan tersebut. Saya tidak bisa tidur kalau belum bisa membalas
hinaan tersebut”.
Ternyata konsep
berfikir ku tidak menyelesaikan masalah. Hari-hari berikutnya muncul beragam
masalah sebagaimana di atas. Saya mencoba melawan nya, namun sia-sia. Energi
saya semakin habis dan letih, sedangkan masalah terus bertambah. Lalu saya
mengadukan hal tersebut kepada ayah ku. Tujuannya agar ayah ku membela anaknya.
Namun di luar
dugaan, saat saya melaporkan perilaku orang-orang yang mencaciku dan ingin
membalas mereka, ayah ku justru malah menyalahkanku.
Ayah ku berkata, “
Mam, para pencaci maki tidak salah, justru kamu yang salah. Sebab kamu terlalu
sibuk memikirkan orang lain sedangkan kamu lupa mengingat Tuhan mu. Cobalah,
perbanyak dzikrullah sehingga tertutup hati mu untuk menerima segala cacian. Sibukan
hatimu melihat segala sesuatu dari sudut kebaikan, sehingga tidak ada
kesempatan berfikir negatif kepada orang lain, meskipun mereka mempunyai niat
tidak baik terhadap dirimu”.
Saya diam mendengar
nasehat tersebut. Hatiku belum bisa menerima secara total. Ma’lum pikiranku
terlalu sibuk dalam tataran syariah, belum bisa memahami tentang makna mukasafah
kehidupan yang penuh dinamika. Hatiku masih tertarik akan sanjungan,
penghargaan, dan belum siap menerima ejekan, cacian dan sejenisnya. Saya ingin
terlihat sempurna dihadapan orang lain, dan tidak mau melihat jelek dalam
pandangan manusia. Saya kira masih manusiawi cara berfikir demikian. Sebab
fitrah manusia selalu membutuhkan pengakuan dari manusia lain, sebagai wujud
dan makhluk sosial.
Saya merenung dan
mencoba merumuskan nasehat agung dari orang tuaku. Ada beberapa yang bisa
ditulis dalam artikel agar menjadi catatan amal sholeh orang tua, yaitu:
pertama, dalam konteks sosial sikap saling menghargai atas prestasi orang lain
dan memberi masukan untuk perbaikan yang belum baik merupakan kebutuhan yang
harus diberikan pada tempat yang tepat. Menghargai prestai orang lain adalah
wujud ibadah sosial sebagai perwujudan hati yang bersih dari anasir-anasir
pikiran dan hati kotor; kedua, jangan mudah berprasangka negatif terhadap
kejadian yang mampir dalam kehidupan kita baik dalam wujud ujian berupa sakit,perusahaan
bangkrut, kurang dihormati dan segala cacian yang datang dari segala penjuru
mata angin; ketiga sertakan Allah dan Rasul-Nya dalam segala kegiatan dan aktivitas
sosial lainnya baik diwujudkan melalui lisan senantiasa basah menyebut
asma-asma-Nya, wirid, atau cara berfikir bahwa semua yang dilakukan hanya mengharapkan
ridha dari Allah swt. Saat Tuhan sebagai kerangka berfikir dalam segala
aktivitas, maka kita akan melihat bahwa semua nya menjadi terlihat indah, sebab
baik dan buruk dalam kehidupan dunia menjadi ladang amal dan pahala saat semua nya mempunyai niat mendapat ridha-Nya.
Penulis : Imam Ghozali
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876