Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kisah Menggetarkan pada Jam 02.00 Dini Hari



Rabu , 26 Juni 2024



Telah dibaca :  786

 

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ اَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوْبُوْٓا اِلٰىبَارِىِٕكُمْ فَاقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِنْدَ بَارِىِٕكُمْۗ فَتَابَ عَلَيْكُمْۗ اِنَّهٗ هُوَالتَّوَّابُ الرَّحِيْمُ ۝٥

(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, sesungguhnya kamu telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan). Oleh karena itu, bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu. Itu lebih baik bagimu dalam pandangan Penciptamu. Dia akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.

Setelah menguji skripsi di prodi siyasah syari’ah, penulis kedatangan mahasiswa dari berbagai jurusan. Kebetulan mereka bukan bagian mahasiswa yang menonjol secara akademik. Bahkan bisa dikatakan, mereka agak sedikit terlambat dari teman-teman yang secara akademik lebih dulu berhasil dengan nilai baik. Meskipun demikian, mereka bersedia menemuiku dan ingin berdiskusi terkait persoalan seputar kuliah, skripsi dan organisasi. Menurutku, pada sisi ini mereka sebenarnya mempunyai keinginan untuk merubah diri menjadi lebik baik.

Saat melihat mereka, saya teringat pada diri sendiri di masa lalu yang mempunyai nasib tidak jauh berbeda dari mereka secara akademik. Keterbatasan ekonomi dan kemampuan pada diri sendiri telah menyebabkan saya tertinggal jauh dari teman-teman yang secara ekonomi orang tua dan kemampuan akal yang baik telah lebih dulu menoreh prestasi dalam hidupnya.

Sungguh sangat beruntung bagi anda yang telah diberi kenikmatan kecerdasan akal pikiran, kemapanan orang tua dan kemudahan meraih jenjang karir. Penulis menyakini kesukesan tersebut bagian dari perjuangan anda yang membutuhkan waktu cukup panjang untuk mendapatkan kesuksesan.

Namun Tuhan menghadirkan hamba-hamba-Nya yang mempunyai keterbatasan kecerdasan, fisik, dan kemampuan lainnya. Tidak mudah menghadapi segala keterbatasan tersebut dengan tabah. Orang tua atau saudara-saudaranya prihatin melihat saya, anda dan kita saat melihat pada diri sendiri yang seolah-olah tidak mempunyai masa depan yang cerah. Doa dan ikhtiar selalu dipanjatkan kepada Allah atas segala ujian tersebut. Jika anda posisi di level serba kekurangan, maka orang tua anda mengangkat kedua tangan dan berdoa agar anda dan kita semua terbebas dari segala penderitaan.

Ada kisah menarik. Suatu hari saat berada di salah satu kota di Sumatera, saya dan ayah ku menginap di sebuah rumah. Saat malam hari saya tertidur pulas, ayah membangunkanku. Saya lihat jam menunjukan pukul 02.00 WIB. Waktu yang sangat nikmat untuk istirahat. Tapi, saya tidak berani tidur lagi. Saya paling segan kepada ayah ku, apalagi saya melihatnya sedang duduk di kursi dan membaca al-Qur’an. Rasa ingin tidur pun secara pelan-pelan hilang.

Ayah berkata kepadaku, “Mam bangun, jangan tidur terus. Tidak pantas malam hari dihabiskan untuk tidur. Jika tidak sempat sholat tahajud, baca istighfar atau sholawat. Setelah itu tidur lagi tak masalah”.

Saat di pagi hari saya sarapan bersama ayah. Sudah menjadi kebiasaanya, makan tidak pernah dihabiskan. Ayahku kalau makan paling banter sebanyak 5 sendok, baik sarapan pagi, siang maupun malam. Saya tidak pernah melihat ayah ku makan lebih dari dari 5 atau 7 sendok. Sisa nya diberikan kepadaku untuk menghabiskannya.

Saya hanya berfikir saja betapa orang tua ku mampu menahan nafsu makan begitu hebat. ia benar-benar tidak pernah kenyang, meskipun banyak ragam lauk dan sayur di meja makan. Berbeda dengan ku yang terkadang makan bertambah ketika  ada sayur atau lauk terasa nikmat.

Ayah ku mengatakan begini;”Dimanapun berada, jangan lupa sholat. Sebab Tuhan dimanapun tempat sama, yaitu Allah swt. Jangan lupa juga selalu mendoakan kebaikan kepada siapapun, baik orang yang mencintaimu maupun orang yang membencimu”.

Saya mendengar kalimat tersebut merasa sangat janggal. Saya masih ingat saat masih remaja dan sudah beranjak dewasa, caci maki, ejekan, hinaan dan sejenisnya selalu saja mampir dalam setiap catatan harian. Bahkan sampai detik ini, sebagian dari nama-nama mereka masih tersimpan dengan baik kalimat cacian.

Hati saya mengatakan begini,”Bagaimana mungkin, saya dihina diam saja. Saya harus melawannya dan membalas hinaan tersebut. Saya tidak bisa tidur kalau belum bisa membalas hinaan tersebut”.

Ternyata konsep berfikir ku tidak menyelesaikan masalah. Hari-hari berikutnya muncul beragam masalah sebagaimana di atas. Saya mencoba melawan nya, namun sia-sia. Energi saya semakin habis dan letih, sedangkan masalah terus bertambah. Lalu saya mengadukan hal tersebut kepada ayah ku. Tujuannya agar ayah ku membela anaknya.

Namun di luar dugaan, saat saya melaporkan perilaku orang-orang yang mencaciku dan ingin membalas mereka, ayah ku justru malah menyalahkanku.

Ayah ku berkata, “ Mam, para pencaci maki tidak salah, justru kamu yang salah. Sebab kamu terlalu sibuk memikirkan orang lain sedangkan kamu lupa mengingat Tuhan mu. Cobalah, perbanyak dzikrullah sehingga tertutup hati mu untuk menerima segala cacian. Sibukan hatimu melihat segala sesuatu dari sudut kebaikan, sehingga tidak ada kesempatan berfikir negatif kepada orang lain, meskipun mereka mempunyai niat tidak baik terhadap dirimu”.

Saya diam mendengar nasehat tersebut. Hatiku belum bisa menerima secara total. Ma’lum pikiranku terlalu sibuk dalam tataran syariah, belum bisa memahami tentang makna mukasafah kehidupan yang penuh dinamika. Hatiku masih tertarik akan sanjungan, penghargaan, dan belum siap menerima ejekan, cacian dan sejenisnya. Saya ingin terlihat sempurna dihadapan orang lain, dan tidak mau melihat jelek dalam pandangan manusia. Saya kira masih manusiawi cara berfikir demikian. Sebab fitrah manusia selalu membutuhkan pengakuan dari manusia lain, sebagai wujud dan makhluk sosial.

Saya merenung dan mencoba merumuskan nasehat agung dari orang tuaku. Ada beberapa yang bisa ditulis dalam artikel agar menjadi catatan amal sholeh orang tua, yaitu: pertama, dalam konteks sosial sikap saling menghargai atas prestasi orang lain dan memberi masukan untuk perbaikan yang belum baik merupakan kebutuhan yang harus diberikan pada tempat yang tepat. Menghargai prestai orang lain adalah wujud ibadah sosial sebagai perwujudan hati yang bersih dari anasir-anasir pikiran dan hati kotor; kedua, jangan mudah berprasangka negatif terhadap kejadian yang mampir dalam kehidupan kita baik dalam wujud ujian berupa sakit,perusahaan bangkrut, kurang dihormati dan segala cacian yang datang dari segala penjuru mata angin; ketiga sertakan Allah dan Rasul-Nya dalam segala kegiatan dan aktivitas sosial lainnya baik diwujudkan melalui lisan senantiasa basah menyebut asma-asma-Nya, wirid, atau cara berfikir bahwa semua yang dilakukan hanya mengharapkan ridha dari Allah swt. Saat Tuhan sebagai kerangka berfikir dalam segala aktivitas, maka kita akan melihat bahwa semua nya menjadi terlihat indah, sebab baik dan buruk dalam kehidupan dunia menjadi ladang amal dan pahala saat semua nya mempunyai niat mendapat ridha-Nya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876