Avatar

Muhammad Ikram

Penulis Kolom

3 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" saat berjalan, aku tak tahu apa nasib waktu. "

Kita Bukan Neraca Iman—Kitab Syarh Mawaizh al-Ushfuriyyah



Senin , 26 Mei 2025



Telah dibaca :  553

الحديث الثاني 

عن عبد الله بن مسعود رضي الله تعالى عنه قال: قال رسول الله ﷺ: الفاجر الراجي رحمة الله تعالى، أقرب إلى الله تعالى من العابِد المقنط 

قال: أخبرنا عن زيد بن أسلم عن عمر أن رجلاً كان في الأمم الماضية يجتهد في العبادة، ويشدّد على نفسه، ويقنط الناس من رحمة الله، ثم مات. فقال:  يا رب، ما لي عندك؟ قال: كنت تقنط الناس من رحمتي في الدنيا، فأنا أقنطك اليوم من رحمتي 

وروي عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه عن النبي ﷺ أنه قال: أنّ رجلاً لم يعمل خيراً قط إلا التوحيد،فلما حضرتْهُ الموت قال لأهله: إذا أنا متّ فاحرقوني بالنار، ثم ذرّوني في البحر في يوم ريح. ففعلوا، فإذا هو في قبضة الله، فقال الله: ما حملك على ما فعلت؟ قال: مخافتك يا رب. فغفر له، ولم يعمل خيراً قط إلا التوحيد

 

Dari Ibnu Mas’ud semoga Allah meridhoinya, ia berkata, telah bersabda Rasulullah shollallohu alaihi wasallam, “Seorang durhaka yang mengharap rahmat Allah Ta’ala itu lebih dekat pada Allah Ta’ala daripada seorang ahli ibadah yang memutus rahmat Allah.”

Mushonnif berkata : Mengabarkan pada kita dari Zaid bin Aslam dari Umar, bahwasannya ada seorang pemuda dari umat masa lalu yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya, keras terhadap dirinya sendiri, dan memutus manusia lain dari rahmat Allah. Kemudian Si Pemuda meninggal dunia lalu berkata.

Wahai Tuhanku, apa yang Tuan berikan untukku?"

Tuhan pun menjawab, “Neraka.”

“Maka kemanakah pahala ibadahku dan kesungguhanku?

Lalu Tuhan berfirman, “Sesungguhnya kau telah memutus manusia dari rahmat-Ku di dunia, Maka aku memutusmu di hari ini dari rahmat-Ku.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dari Nabi Shollallahu alaihi wasallam, “Bahwasannya ada seorang pemuda yang tidak beramal baik sama sekali kecuali mengakui keesaan Allah. Maka tatkala datang padanya kematian, berkat ia pada keluarganya. Jikalau aku mati, bakarlah jasadku dengan api hingga menjadi abu. Lalu taburkanlah aku di laut ketika hari angin bertiup.  Keluarganya pun melaksanakannya, tiba-tiba ia ada dalam genggaman Allah Ta’ala, Allah bertanya.

Apa yang mendorongmu pada perbuatan yang engkau lakukan?"

Dia menjawab, “Takut padamu.”

Atas sebab itu Allah memberinya ampunan, dan dia tidak beramal kebaikan sama sekali kecuali mengakui keesaan Allah.

****

Hasyiyah (catatan pinggir).

Sepertinya perlu untuk merenungkan lebih lagi mengenai khabar yang terakhir. Tentang seorang hamba yang diampuni dosanya hanya karena tauhid. Tapi hal ini bukan berarti membolehkan kita untuk tidak beramal baik sama sekali, bebas melakukan hal apapun, merasa aman karena sudah merasa bertauhid dan merasa dosa nanti akan diampuni.

Perilaku ini pernah disinggung dalam satu maqollat dalam kitab Nashoihul Ibad-nya Syekh Nawawi Banten.

(Dari Hasan al-Bashriy) Rahimahullahu ta’laa, dia merupakan salah satu dari Tabi’in yang besar (Dia berkata : Sesungguhnya rusaknya hati itu disebabkan 6 perkara. Pertama, sebab melakukan dosa sambil berharap taubat) Dalam salah satu salinan matn (lafaznya), ‘sambil berharap rahmat’. Dan perilaku macam ini adalah berharap akan sesuatu yang tidak mungkin.

Hikmah yang dapat kita petik, kendalikanlah hati dari terlalu sering menjadi hisab bagi orang lain. Sebagaimana pepatah, “jangan disangka talas nan gatal tiada berumbi.”

Gus Miek pernah berkata, "Saat memandang diri sendiri pakailah kaca mata syariat. Sementara saat memandang orang lain, pakailah kaca mata hakikat. Dengan begitu kita tidak mudah terjerumus menyalahkan perilaku orang lain.”

Tak ada salahnya juga bila kita kenang kembali Gus Dur dengan syi’irannya, sampai pada bagian yang mungkin sangat perlu diulang-ulang oleh kita yang sedang belajar agama.

Akeh kang apal Qur’an Hadits-e

(Banyak yang hafal Qur’an dan Hadits)

Seneng Ngafirke marang liyane

(Suka mengkafirkan yang lainnya)

Kafire dewe rak digatekke

(Pada kekafirannya sendiri ia tak peduli)

Yen iseh kotor ati akale

(kalau masih kotor hati akalnya).

 

Wallahu a’lam bi al-Shawab

****

Mawa’izh Ushfuriyyah adalah sebuah kitab hadits kecil karangan Syaikh Muhammad bin Abu Bakar. Berisi 40 hadits/khabar/atsar plus hikayat-hikayat penuh hikmah yang berkaitan dengan konteks hadits tersebut. Kisah-kisah dalam kitab ini diceritakan dari para masyayikh terpilih dan para imam besar, setiap dari sohibul hikayat ini meriwayatkannya dari beberapa Sahabat.

 

 





Download File

Penulis : Muhammad Ikram


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Makna Tauhid: Antara Das Sollen dan Das Sein
11 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   114

Sanad Keimanan
05 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   125

Islam, Timur Tengah dan Iran
25 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   180

Musafir Di Persimpangan Jalan
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   197

Cinta ku jatuh di Depan Multazam
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   186

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14212


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5572


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5211


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4062