
Tulisan ini bukan hasil analisis pengamat politik
internasional. bukan, bukan sama sekali. Ini tulisan hasil diskusi dengan dosen
yang menurut ku mempunyai indra keenam, yaitu Buya Abdul Rauf, Alumni Pesantren
Berjan Jawa Tengah dan Buya Mungidan Al-Hafidz,Alumni Pesantren Al-Azhar Jawa
Barat. Sebenarnya ada satu lagi, Alumni Pesantren Asembagus Situbondo, Dr.
Chanifudin. Karena masih terlalu muda, maka cukup mendengar saja dan posisinya
sebagai santri senior. Saya kebetulan sebagai Panelis. Biar
kelihatan keren saja, hehehe).
“Kenapa India-Pakistan main mercon-merconan?”
tanya Abdu Rauf kepada kami berdua.
Kami bingung. Saya baru paham. Maksud nya rudal.
Mas mungidan masih belum “mudeng”, bertambah gagap. Ma’lum, ia sibuk “nglalar”hafalan
Al-Qur’an dalam hati. Namun Ia segera nyambung maksud pertanyaan Abdul Rauf.
“Mungkin lagi pamer mercon” jawab mungidan
asal-asalan.
“Pamer boleh, tapi kalau rakyat yang jadi
korban, siapa yang bertanggung jawab?” tanya Abdul Rauf.
“Ora usah dipikir, biar saja. Itu urusan malaikat
munkar-nakir” Jawab Mungidan tertawa.
Kami di forum ini memang tidak terlalu berfikir serius persoalan-persoalan yang terjadi di luar sana. Malas saja membahas konflik kedua negara tersebut yang sejak tahun 1947 sudah “cakar-cakaran”. Kami lebih suka minum kopi dan makan gorengan pisang bareng-bareng. Itu lebih nyata dan lebih nikmat.
Kami juga malas membahas persoalan “Ijazah Jokowi” atau
soal keinginan “pemakzulan Gibran” dari posisi wakil presiden. Jika itu ijazah
benar, untuk kami manfaatnya apa? Jika itu palsu, faidahnya untuk kami apa? Tidak
ada. Saya anggap itu Drama Indosiar saja. Tema nya tetap itu-itu saja, tidak jauh-jauh dari persoalan politik.
Malah ijazah ku yang bermasalah saat
sekarang ini. Soalnya, nomor seri ijazah MI nya ditulis pakai pena. Agak “mblobor”,
entah angka 4 atau 9. Bingung. Bahkan pakai kaca pembesar pun tetap juga tidak
jelas. Untung saja aku bukan presiden, atau bukan siapa-siapa. Ternyata status
bukan siapa-siapa pada wilayah tertentu enak juga.
Berbeda media online konflik India-Pakistan
sangat serius memberitakan. Sebab kalau tidak serius, mereka tidak dapat penghasilan serius dari media tersebut. Media online tidak lepas dari prinsip ekonomi. Tentu
tidak boleh melupakan kode etik jurnalistik dan jangan sampai memberitakan berita yang
provokatif jauh dari kesan sebatas otak-atik.
Contoh media cnnindonesia.com membuat judul:”Rudal India Hantam Pangkalan Udara Nur Khan Pakistan”. newsdetik.com membuat berita: “Pakistan Tegaskan Tak Akan Redakan Konflik: India Harus Tanggung Akibatnya!”. cnbcindonesia.com membuat berita:”7 Update Perang India-Pakistan: Perbatasan Mencekam, Iran Buka Suara”. Masih banyak lagi berita dari media online.
Siapa yang menderita? Masyarakat sipil menjadi korban. Cedera, masuk rumah sakit, rumah hancur dan meninggal dunia. Konflik Ukraina-AS, apa-apa menjadi mahal. Perangnya di luar negeri, dampak nya dalam negeri.
Apa dampak konflik India-Pakistan bagi Indonesia. Ekspor terhambat. Dua negara itu ekspor minyak sawit atau crude palm oil atau CPO dan batu bara dari Indonesia. lagi-lagi, yang berkelahi luar negeri, dampak nya dalam negeri. Orang lain kejatuhan nangka, kita dapat getah nya.
Siapa yang “cengengesan” dalam hal
konflik ini? Negara-negara kuat: AS, Cina, Rusia, Israel dan sejenisnya. Dua negara(
India-Pakistan) itu beli rudal nya dari negara-negara tersebut.
Dunia ini memang tempat “ Permainan dan bersendau gurau” negara-negara maju, dan tempat penderitaan manusia biasa. Para pemimpin negara dunia suka sekali main dadu persis kisah Perang Baratayuda. Pemimpin dunia yang licik dan mempunyai amunisi kekuasaan yang besar yang bisa mendesain dadu dengan sekehendak mereka. Kita melihat mereka sangat licik, tapi mereka memandangnya sangat cerdik.
Apapun yang terjadi di dunia, mereka tetap saja “berjoget”, “berdansa ria” melihat bangsa-bangsa di dunia dalam genggaman kekuasaan ekonomi dan politik negara-negara maju. "Anda mau baikot produk kami, maka kami bisa melakukan embargo lebih besar lagi", kita-kira begitu prinsip negara yang sudah maju.
Kita mau apa? Konflik Palestina adalah
permainan mereka. Semakin konflik, semakin laris jualan senjata negara-negara
maju. India, Pakistan, Ukraina, Afganistan, Yaman, Indonesia dan negara-negara
lain telah dikendalikan oleh remote dunia yang dimiliki oleh AS,Rusia, Cina dan
Israel. Remote ghaib. Masyarakat biasa hanya melihat dengan kasat mata,
kesedihan dan penderitaan di Indonesia dan di dunia. Masyarakat biasa
dikipas-kipas dengan angin surga dan angin neraka. Kadang tersenyum kadang
saling caci-maki sesama saudara. Itu fakta. Bisa atas nama suku,etnis, agama,
keyakinan, hutan, laut, dan masih banyak lagi.
Itulah bisnis internasional yang sangat menjajikan. Keuntungan dengan membunuh ribuan atau bahkan jutaan manusia. Mereka tidak peduli. Atas nama hak asasi manusia dan keadilan, negara maju bisa menghancurkan negara manapun sesuka hatinya.
Setelah hancur lebur, ada proyek lagi, yaitu proyek kemanusian. Setelah hancur, mereka tampil
sebagai pahlawan dengan memberikan beragam bantuan. Atas nama lembaga kemanusiaan,
pendidikan, dan hak asasi manusia.
Jadi benar apa yang dikatakan oleh Buya
Abdul Rauf. Bahwa senjata di dunia sebenarnya sebatas sedang bermain
mercon-merconan semata. Mereka membuat, mereka juga yang menghancurkan. Caranya
dengan meminjam orang lain, bangsa lain dan negara lain.
Mereka sedang bersendau-gurau atas nama diplomasi, rekonsiliasi, normalisasi, dan beragam misi. Semua dilakukan sebenarnya untuk kepentingan dan keuntungan negara-negara maju.
Apakah kita sebagai bagian kebanyakan masyarakat biasa akan terus merasa menderita. Kapan bahagianya? Mari kita sama-sama bersendau-gurau
agar tidak terlalu serius melihat kejadian di dunia dengan bersendau-gurau yang berkualitas. Salah satunya yaitu melihat semua kejadian
dalam sudut pandangan tauhid.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   212
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872