Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Konsisten dalam Kebaikan



Kamis , 18 April 2024



Telah dibaca :  865

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْن ِۗ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ.

Pemilik hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus.

Pada pertemuan ketiga, penulis membahas tentang pentingnya konsisten berbuat baik pasca Idul Fitri. Penulis menilai persoalan tersebut penting untuk dibahas dalam tulisan yang sederhana ini. Mengapa demikian?. Penulis melihat fenomena penyambutan hari raya Idul Fitri dari masa ke masa mendapat tempat istimewa di hati masyarakat muslim dari dulu sampai sekarang. Mereka menyambutnya penuh dengan persiapan maksimal. Tidak saja masyarakat yang mempunyai penghasilan di atas rata-rata, juga masyarakat penghasilan biasa-biasa saja. Idul Fitri telah menjadi moment masyarakat Islam untuk saling berbagi dalam kebaikan.

Idul fitri sebagai sarana berbagai kebaikan bisa ditelusuri pengalaman masa lalu. Ketika penulis masih berumur belasan tahun, keluarga Mbok De di Jawa memasuki 16 hari puasa sudah mulai sibuk membuat kueh tradisional. Ada beberapa yang masih ingat nama-nama kueh tersebut yang sekarang masih ada antara lain; Kueh Satu, Kueh Sagon, Rengginang, dan Kripik Pisang. Saya sangat senang duduk di dapur melihat mbok de dan anak-anaknya membuat kueh-kueh tersebut. Selain bisa membantu nya, juga mendapatkan “rimpilan” ( remukan ) kueh-kueh tersebut, lalu dimasukan dalam plastik dan dimakan setelah berbuka puasa. Di antara proses pembuatan kueh yang cukup menghabiskan waktu yaitu pembuatan jenang atau dodol. Kadang proses sampai larut malam, bahkan kadang sampai menjelang pagi. Semakin lama, kualitasnya semakin baik. Lama proses tersebut agar kueh bisa bertahan lama dan tidak mudah terkena jamur ( Jawa-jamuren).

Zaman tradisional pada era orang tua atau kakek kita telah berlalu dan bergeser ke zaman modern saat sekarang ini. Kueh tradisional sudah diproduksi secara modern. Masyarakat sekarang sudah tidak repot lagi membuatnya. Cukup pesan di berbagai aplikasi dan media sosial. Semua datang dengan cepat. Apalagi sekarang ada pergeseran sistem penjualan dari pasar tradisional menuju pasar dunia maya (online). Pada aspek sosial perubahan sistem tersebut telah menimbulkan beragam persoalan negatif dan positif. Pasar-pasar tradisional yang sebelumnya dipresepsikan adanya bangunan fisik dan terjadi mobilitas manusia melibatkan masyarakat dengan beragam profesi seperti buruh pasar, tukang ojek, penjual, pembeli, tukang parkir, dan lain-lain berubah menjadi lapak-lapak online dalam genggaman tangan. Proses transaksinya tidak harus pergi ke Pasar, ia cukup memencet tombol yang ada di aplikasi dan hanya membutuhkan tenaga manusia dengan jumlah terbatas. Gambaran tersebut bisa tergambar sisi negatif adanya perubahan sistem tersebut antara lain adanya peningkatan pengangguran dan mulai terputus silaturahim secara langsung. Tenaga manusia telah diganti oleh tenaga mesin, komputer, dan internet. Sisi positifnya, masyarakat bisa menjadi penjual meskipun tidak mempunyai tempat atau lapak di Pasar. Bahkan para pembeli pada sisi lain juga bisa menjadi penjual dan penjual bisa menjadi pembeli ketika mereka sama-sama membutuhkan dan menawarkan beragam produk di lapak-lapak online.

Perubahan tersebut tidak merubah watak manusia yang senantiasa menginginkan hari Idul Fitri terlihat sangat spesial. Selain persoalan kueh semakin beragam, juga pakaian lebaran yang terus melahirkan inovasi setiap masa. Mereka berusaha mengisi rumah-rumah mereka dengan kueh, makanan dan minuman yang spesial. Mereka juga ingin tampil dengan baju-baju baru agar suasana terlihat lebih berbeda dari hari-hari sebelumnya. Semua dilakukan tidak lain untuk memulyakan Idul Fitri. Memulyakan Idul Fitri sebenarnya juga memulyakan kepada tamu-tamu yang datang ke rumahnya dengan penuh keikhlasan menyambut nya, dan mempersilahkannya menyantap hidangan dengan penuh riang gembira.

Apakah tradisi memulyakan manusia bisa terus berlanjut pasca Idul Fitri? Pertanyaan sederhana dan jawabanya tidak sesederhana pertanyaannya. Setiap manusia mempunyai pandangan yang berbeda-beda dalam memaknai konsistensi kebaikan pasca Idul Fitri. Penulis sendiri memaknai konsistensi itu sangat penting dalam rangka melahirkan manusia-manusia baru hasil produk bulan ramadhan. Secara teori sungguh rugi, apabila bulan ramadhan yang dirindukan hanya sebatas ibadah rutinitas dan ritual tanpa bekas. Namun disisi lain melakukan budaya istiqomah dalam berbuat kebaikan mempunyai tantangan yang sangat besar. Pada diri manusia ada bisikan-bisikan nafsu yang bertolak belakang; ada nafsu mengajak kebaikan dan ada nafsu mengajak keburukan. Itu sebabnya, manusia produk pelatihan di bulan Ramadhan tidak selalu sukses, bahkan sering yang dilihat adalah suatu kegagalan-kegalan mewujudkan konsistensi kebaikan. Keduanya akan mendapatkan balasan sesuai dengan perbuatan yang dihasilkan oleh setia muslim.

Allah telah berfirman, مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْن (Pemilik hari Pembalasan). Menurut guru kita Prof Wahbah Zuhaili bahwa orang yang memahami ayat tersebut berarti telah mengerti bahwa segala urusan berada dalam kekuasaannya. Kesadaran tentang segala pengawasan kehidupan sebagaimana yang diungkapkan oleh Syeikh Zuhaili tersebut belum berada dalam kesadaran diri manusia, sehingga segala perbuatan yang dilakukan belum mencerminkan suatu perubahan yang signifikan sebagai manusia yang istiqomah dalam mengabdi keada Allah swt. Nabi Muhammad saw bersabda: “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang dilaknat (celaka)” (HR Al-Hakim).

Hadist tersebut menunjukan bahwa periode waktu yang kita lalui dalam kehidupan senantiasa mengalami suatu peningkatan kualitas baik dari segi ibadah juga amal sholeh. Peningkatan tersebut berdasarkan pada kenyataan hidup seorang muslim yang setiap hari senantiasa bertambah umur, ilmu, dan pengalaman. Berbagai kehidupan yang telah dilalui sebenarnya telah memberi pembelajaran penting agar manusia senantiasa selalu memperbaiki diri setiap saat hingga terasa bahwa dirinya belum sempurna. Orang yang sibuk memperbaiki diri akan semakin terlihat banyak kekurangan dan hingga lupa melihat kekurangan orang lain. Maka, dialog dirinya dengan Tuhannya tidak pernah putus. Ia selalu meminta kepada Tuhannya untuk membimbing kehidupan di dunia agar sukses di dunia dan akherat.

Allah berfirman:    )اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus).

Ayat tersebut sangat jelas posisi manusia dalam pandangan-Nya. Hakikat manusia adalah sebagai hamba-Nya. Namun dalam kenyataannya, sering menjadi hamba-hamba selain-Nya. Manusia lebih sering menjadi bagian dari hamba-hamba makhluk-Nya. Ia mungkin sujud kepada Allah, tapi hati nya lebih tunduk kepada atasan-Nya. Ia fasih mengucapkan”Sesungguhnya sholatku, ibadah ku, hidup dan mati hanya karena Allah”, tapi realita sering sholatnya, ibadahnya, hidup dan matinya karena pekerjaan, pasangan hidup, dan kesenangan dunia. Itu realita dan sering terjadi pada sebagian umat Islam yang mengikrarkan diri memasrahkan hidup dan mati hanya kepada Allah, tapi sebenarnya hanya ikrar palsu. Betapa sering kita menderita karena persoalan hidup dan sering menyalahkan Allah yang dianggap sebagai Sang Khaliq yang tidak atau kurang memperhatikan kepentingannya. Manusia sering menempatkan diri dihadapannya sebagai seorang penjual yang hanya melihat untung rugi, bukan sebagai kekasih yang setiap sedia menerima segala pemberian dari kekasihnya.

Allah telah mengerti watak manusia yang demikian lemah dan mudah mengalami perubahan-perubahan. Lalu dengan sifat keagungannya, dan sifat Rahman dan Rahim-nya mengajarkan kepada manusia untuk senantiasa berdoa setiap saat agar mendapatkan petunjuk dalam hidup. perintah berdoa tersebut agar manusia senantiasa ada rasa ketergantungan. Cara tersebut, agar manusia senantiasa ingat setiap saat kepada-nya, sehingga ada kontrol pada dirinya dalam melakukan segala aktivitas sehari-hari.

Siratal mustaqim adalah yaitu jalan tengah sebagai jalan kebenaran pada nabi dan rasul. melalui mereka, manusia mengerti tentang kebenaran dan kebatilan. melalui wasilah mereka, manusia bisa membangun sistem kehidupan yang selaras dari hati nurani manusia. sebab syariat-syariat islam yang mereka bawa adalah syariat yang tidak bertentangan dengan hati nurani setiap manusia, apakah beriman ataupun tidak. Hanya orang-orang yang tertutup nafsu amarah melihat aturan-aturan tersebut seolah-olah jauh diskriminatif, ortodok dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman. padahal, makna ortodok adalah makna versi manusia dengan sudut kacamata nafsu duniawi. Ia membuat format nilai dengan indicator-indikator nilai-nilai dunia yang sangat relatif. Padahal, ketika berbicara ortodok dan sejenisnya sebenarnya sedang membicarakan suatu perdebatan tanpa henti. Setiap kaum akan melihat makna tersebut dengan versi yang berbeda-beda. Ketika orang barat menilai cara hidup orang Indonesia dianggap sebagai masyarakat yang terbelakang, padahal filsafat bangsa Indonesia sendiri melihat filsafat kehidupannya adalah kehidupan yang baik dan penuh dengan moralitas agung. Hal yang sama juga bangsa Indonesia melihat kehidupan bangsa barat yang bebas sebagai wujud dari kemerosotan moral, sedangkan mereka melihatnya sebagai wujud peradaban modern.

Berbeda dengan standar kebenaran dari wahyu Tuhan. Meskipun ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Qur’an sering bersifat universal dan manusia memberi makna yang beragam terhadap ayat tersebut, masih ada standarisasi dalam memberikan penilaian yaitu ada ukuran jelas berupa wahyu Tuhan. Standarisasi berfikir demikian lebih baik daripada standarisasi berfikir manusia secara totalitas berasal dari akal pikirannya.

Contoh tentang persoalan pakaian kaum perempuan. Ada  perbedaan tafsir persoalan batas-batas aurat apakah kaum perempuan harus menutup aurat semua mulai dari ujung kaki sampai pada ujung rambut, atau ada pengecualian boleh terbuka wajah dan kedua telapak tangan. Perbedaan tafsir rambut perempuan juga terjadi perdebatan di kalangan ilmuwan Islam. Meskipun perbedaan pendapat tersebut sering terjadi perdebatan yang kadang panas di internal umat Islam, tapi semua ulama sepakat bahwa  kaum perempuan harus menutup auratnya. Meskipun ada perbedaan tafsir berkaitan rambut dan jilbab, ulama tetap sepakat mengatakan bahwa tubuh perempuan dari leher ke bawah terlihat oleh kelompok ajnabi atau orang-orang yang bukan muhrimnya. Perbedaan tersebut tetap memperlihatkan kepedulian ajaran islam dalam menjaga harkat dan martabat kaum perempuan. Jelas pandangan yang sangat berbeda dengan barat yang sering mengusung feminisme dengan menggaungkan slogan “kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan”. Ironisnya, praktek-praktek yang sering terjadi justru menempatkan kaum perempuan pada posisi yang tidak terhormat. Lucunya, mereka tidak merasakan sedang direndahkan derajatnya oleh kaum laki-laki.

Walhasil, pasca Idul Fitri umat Islam tidak boleh meninggalkan fitrah nya sebagai manusia yang suci, bersih dan bermartabat. Saat Idul Fitri  dari anak kecil sampai pada orang tuanya menggunakan pakaian-pakaian yang anggun, maka tradisi ini sebaiknya tetap istiqomah. Proses istiqomah memakai baju yang baik dan sopan tentu saja berharap bisa berpengaruh pada perubahan akhlak secara keseluruhan. Pepatah orang tua dulu, “ajine rogo ono ing busana”. Dan busana terindah dari umat Islam adalah takwa nya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876