
مٰلِكِ يَوْمِ
الدِّيْن ِۗ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ
الْمُسْتَقِيْمَۙ.
Pemilik hari
Pembalasan. Hanya kepada
Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus.
Pada pertemuan ketiga, penulis membahas
tentang pentingnya konsisten berbuat baik pasca Idul Fitri. Penulis menilai
persoalan tersebut penting untuk dibahas dalam tulisan yang sederhana ini. Mengapa
demikian?. Penulis melihat fenomena penyambutan hari raya Idul Fitri dari masa
ke masa mendapat tempat istimewa di hati masyarakat muslim dari dulu sampai
sekarang. Mereka menyambutnya penuh dengan persiapan maksimal. Tidak saja
masyarakat yang mempunyai penghasilan di atas rata-rata, juga masyarakat
penghasilan biasa-biasa saja. Idul Fitri telah menjadi moment masyarakat Islam
untuk saling berbagi dalam kebaikan.
Idul fitri sebagai sarana berbagai kebaikan
bisa ditelusuri pengalaman masa lalu. Ketika penulis masih berumur belasan
tahun, keluarga Mbok De di Jawa memasuki 16 hari puasa sudah mulai sibuk
membuat kueh tradisional. Ada beberapa yang masih ingat nama-nama kueh tersebut
yang sekarang masih ada antara lain; Kueh Satu, Kueh Sagon, Rengginang, dan
Kripik Pisang. Saya sangat senang duduk di dapur melihat mbok de dan
anak-anaknya membuat kueh-kueh tersebut. Selain bisa membantu nya, juga
mendapatkan “rimpilan” ( remukan ) kueh-kueh tersebut, lalu dimasukan
dalam plastik dan dimakan setelah berbuka puasa. Di antara proses pembuatan
kueh yang cukup menghabiskan waktu yaitu pembuatan jenang atau dodol. Kadang
proses sampai larut malam, bahkan kadang sampai menjelang pagi. Semakin lama,
kualitasnya semakin baik. Lama proses tersebut agar kueh bisa bertahan lama dan
tidak mudah terkena jamur ( Jawa-jamuren).
Zaman tradisional pada era orang tua atau
kakek kita telah berlalu dan bergeser ke zaman modern saat sekarang ini. Kueh
tradisional sudah diproduksi secara modern. Masyarakat sekarang sudah tidak
repot lagi membuatnya. Cukup pesan di berbagai aplikasi dan media sosial. Semua
datang dengan cepat. Apalagi sekarang ada pergeseran sistem penjualan dari
pasar tradisional menuju pasar dunia maya (online). Pada aspek sosial perubahan
sistem tersebut telah menimbulkan beragam persoalan negatif dan positif. Pasar-pasar
tradisional yang sebelumnya dipresepsikan adanya bangunan fisik dan terjadi mobilitas
manusia melibatkan masyarakat dengan beragam profesi seperti buruh pasar,
tukang ojek, penjual, pembeli, tukang parkir, dan lain-lain berubah menjadi
lapak-lapak online dalam genggaman tangan. Proses transaksinya tidak harus
pergi ke Pasar, ia cukup memencet tombol yang ada di aplikasi dan hanya
membutuhkan tenaga manusia dengan jumlah terbatas. Gambaran tersebut bisa tergambar
sisi negatif adanya perubahan sistem tersebut antara lain adanya peningkatan
pengangguran dan mulai terputus silaturahim secara langsung. Tenaga manusia
telah diganti oleh tenaga mesin, komputer, dan internet. Sisi positifnya,
masyarakat bisa menjadi penjual meskipun tidak mempunyai tempat atau lapak di
Pasar. Bahkan para pembeli pada sisi lain juga bisa menjadi penjual dan penjual
bisa menjadi pembeli ketika mereka sama-sama membutuhkan dan menawarkan beragam
produk di lapak-lapak online.
Perubahan tersebut tidak merubah watak
manusia yang senantiasa menginginkan hari Idul Fitri terlihat sangat spesial. Selain
persoalan kueh semakin beragam, juga pakaian lebaran yang terus melahirkan
inovasi setiap masa. Mereka berusaha mengisi rumah-rumah mereka dengan kueh, makanan
dan minuman yang spesial. Mereka juga ingin tampil dengan baju-baju baru agar
suasana terlihat lebih berbeda dari hari-hari sebelumnya. Semua dilakukan tidak
lain untuk memulyakan Idul Fitri. Memulyakan Idul Fitri sebenarnya juga memulyakan
kepada tamu-tamu yang datang ke rumahnya dengan penuh keikhlasan menyambut nya,
dan mempersilahkannya menyantap hidangan dengan penuh riang gembira.
Apakah tradisi memulyakan manusia bisa
terus berlanjut pasca Idul Fitri? Pertanyaan sederhana dan jawabanya tidak
sesederhana pertanyaannya. Setiap manusia mempunyai pandangan yang berbeda-beda
dalam memaknai konsistensi kebaikan pasca Idul Fitri. Penulis sendiri memaknai
konsistensi itu sangat penting dalam rangka melahirkan manusia-manusia baru
hasil produk bulan ramadhan. Secara teori sungguh rugi, apabila bulan ramadhan
yang dirindukan hanya sebatas ibadah rutinitas dan ritual tanpa bekas. Namun disisi
lain melakukan budaya istiqomah dalam berbuat kebaikan mempunyai tantangan yang
sangat besar. Pada diri manusia ada bisikan-bisikan nafsu yang bertolak
belakang; ada nafsu mengajak kebaikan dan ada nafsu mengajak keburukan. Itu
sebabnya, manusia produk pelatihan di bulan Ramadhan tidak selalu sukses,
bahkan sering yang dilihat adalah suatu kegagalan-kegalan mewujudkan
konsistensi kebaikan. Keduanya akan mendapatkan balasan sesuai dengan perbuatan
yang dihasilkan oleh setia muslim.
Allah telah berfirman, مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْن (Pemilik hari Pembalasan). Menurut guru kita Prof Wahbah Zuhaili bahwa
orang yang memahami ayat tersebut berarti telah mengerti bahwa segala urusan
berada dalam kekuasaannya. Kesadaran tentang segala pengawasan kehidupan
sebagaimana yang diungkapkan oleh Syeikh Zuhaili tersebut belum berada dalam
kesadaran diri manusia, sehingga segala perbuatan yang dilakukan belum
mencerminkan suatu perubahan yang signifikan sebagai manusia yang istiqomah
dalam mengabdi keada Allah swt. Nabi Muhammad saw bersabda: “Barangsiapa
yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang
beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia
(tergolong) orang yang merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari
hari kemarin, maka ia orang yang dilaknat (celaka)” (HR Al-Hakim).
Hadist tersebut menunjukan bahwa
periode waktu yang kita lalui dalam kehidupan senantiasa mengalami suatu peningkatan
kualitas baik dari segi ibadah juga amal sholeh. Peningkatan tersebut
berdasarkan pada kenyataan hidup seorang muslim yang setiap hari senantiasa
bertambah umur, ilmu, dan pengalaman. Berbagai kehidupan yang telah dilalui
sebenarnya telah memberi pembelajaran penting agar manusia senantiasa selalu
memperbaiki diri setiap saat hingga terasa bahwa dirinya belum sempurna. Orang
yang sibuk memperbaiki diri akan semakin terlihat banyak kekurangan dan hingga
lupa melihat kekurangan orang lain. Maka, dialog dirinya dengan Tuhannya tidak
pernah putus. Ia selalu meminta kepada Tuhannya untuk membimbing kehidupan di
dunia agar sukses di dunia dan akherat.
Allah berfirman: )اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah
kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus).
Ayat tersebut sangat jelas posisi manusia
dalam pandangan-Nya. Hakikat manusia adalah sebagai hamba-Nya. Namun dalam
kenyataannya, sering menjadi hamba-hamba selain-Nya. Manusia lebih sering
menjadi bagian dari hamba-hamba makhluk-Nya. Ia mungkin sujud kepada Allah,
tapi hati nya lebih tunduk kepada atasan-Nya. Ia fasih mengucapkan”Sesungguhnya
sholatku, ibadah ku, hidup dan mati hanya karena Allah”, tapi realita
sering sholatnya, ibadahnya, hidup dan matinya karena pekerjaan, pasangan
hidup, dan kesenangan dunia. Itu realita dan sering terjadi pada sebagian umat
Islam yang mengikrarkan diri memasrahkan hidup dan mati hanya kepada Allah,
tapi sebenarnya hanya ikrar palsu. Betapa sering kita menderita karena
persoalan hidup dan sering menyalahkan Allah yang dianggap sebagai Sang Khaliq yang
tidak atau kurang memperhatikan kepentingannya. Manusia sering menempatkan diri
dihadapannya sebagai seorang penjual yang hanya melihat untung rugi, bukan
sebagai kekasih yang setiap sedia menerima segala pemberian dari kekasihnya.
Allah telah mengerti watak manusia yang
demikian lemah dan mudah mengalami perubahan-perubahan. Lalu dengan sifat
keagungannya, dan sifat Rahman dan Rahim-nya mengajarkan kepada manusia untuk
senantiasa berdoa setiap saat agar mendapatkan petunjuk dalam hidup. perintah
berdoa tersebut agar manusia senantiasa ada rasa ketergantungan. Cara tersebut,
agar manusia senantiasa ingat setiap saat kepada-nya, sehingga ada kontrol pada
dirinya dalam melakukan segala aktivitas sehari-hari.
Siratal mustaqim adalah yaitu jalan tengah
sebagai jalan kebenaran pada nabi dan rasul. melalui mereka, manusia mengerti
tentang kebenaran dan kebatilan. melalui wasilah mereka, manusia bisa membangun
sistem kehidupan yang selaras dari hati nurani manusia. sebab syariat-syariat
islam yang mereka bawa adalah syariat yang tidak bertentangan dengan hati
nurani setiap manusia, apakah beriman ataupun tidak. Hanya orang-orang yang
tertutup nafsu amarah melihat aturan-aturan tersebut seolah-olah jauh
diskriminatif, ortodok dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman. padahal,
makna ortodok adalah makna versi manusia dengan sudut kacamata nafsu duniawi.
Ia membuat format nilai dengan indicator-indikator nilai-nilai dunia yang
sangat relatif. Padahal, ketika berbicara ortodok dan sejenisnya sebenarnya
sedang membicarakan suatu perdebatan tanpa henti. Setiap kaum akan melihat
makna tersebut dengan versi yang berbeda-beda. Ketika orang barat menilai cara
hidup orang Indonesia dianggap sebagai masyarakat yang terbelakang, padahal
filsafat bangsa Indonesia sendiri melihat filsafat kehidupannya adalah
kehidupan yang baik dan penuh dengan moralitas agung. Hal yang sama juga bangsa
Indonesia melihat kehidupan bangsa barat yang bebas sebagai wujud dari
kemerosotan moral, sedangkan mereka melihatnya sebagai wujud peradaban modern.
Berbeda dengan standar kebenaran dari wahyu
Tuhan. Meskipun ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Qur’an sering bersifat
universal dan manusia memberi makna yang beragam terhadap ayat tersebut, masih
ada standarisasi dalam memberikan penilaian yaitu ada ukuran jelas berupa wahyu
Tuhan. Standarisasi berfikir demikian lebih baik daripada standarisasi berfikir
manusia secara totalitas berasal dari akal pikirannya.
Contoh tentang persoalan pakaian kaum
perempuan. Ada perbedaan tafsir
persoalan batas-batas aurat apakah kaum perempuan harus menutup aurat semua
mulai dari ujung kaki sampai pada ujung rambut, atau ada pengecualian boleh
terbuka wajah dan kedua telapak tangan. Perbedaan tafsir rambut perempuan juga terjadi
perdebatan di kalangan ilmuwan Islam. Meskipun perbedaan pendapat tersebut
sering terjadi perdebatan yang kadang panas di internal umat Islam, tapi semua
ulama sepakat bahwa kaum perempuan harus
menutup auratnya. Meskipun ada perbedaan tafsir berkaitan rambut dan jilbab,
ulama tetap sepakat mengatakan bahwa tubuh perempuan dari leher ke bawah
terlihat oleh kelompok ajnabi atau orang-orang yang bukan muhrimnya. Perbedaan
tersebut tetap memperlihatkan kepedulian ajaran islam dalam menjaga harkat dan
martabat kaum perempuan. Jelas pandangan yang sangat berbeda dengan barat yang
sering mengusung feminisme dengan menggaungkan slogan “kesetaraan gender antara
laki-laki dan perempuan”. Ironisnya, praktek-praktek yang sering terjadi justru
menempatkan kaum perempuan pada posisi yang tidak terhormat. Lucunya, mereka
tidak merasakan sedang direndahkan derajatnya oleh kaum laki-laki.
Walhasil, pasca Idul Fitri umat Islam tidak
boleh meninggalkan fitrah nya sebagai manusia yang suci, bersih dan
bermartabat. Saat Idul Fitri dari anak
kecil sampai pada orang tuanya menggunakan pakaian-pakaian yang anggun, maka
tradisi ini sebaiknya tetap istiqomah. Proses istiqomah memakai baju yang baik
dan sopan tentu saja berharap bisa berpengaruh pada perubahan akhlak secara
keseluruhan. Pepatah orang tua dulu, “ajine rogo ono ing busana”. Dan busana
terindah dari umat Islam adalah takwa nya.
Penulis : Imam Ghozali
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876