
Jika Umar bin Khatab melarang putranya -Abdullah bin Umar -berkarir di politik ada
sisi benarnya. Bukan karena dia kurang cerdas, kurang sholeh, kurang zuhud, dan
kurang professional. Bukan. Bukan karena itu. Umar bin Khatab sudah melihat politik
bukan dari buku-buku politik, dia melihat politik dari realita kehidupan. sejak
masih muda sebelum masuk Islam dan ketika sudah menjadi muslim, Umar bin Khatab
hidup dengan dinamika politik yang beragam -dari barbar tanpa mengenal sifat
kemanusiaan sampai pada politik ketuhanan yang mengenal ayat-ayat Al-Qur’an.
Umar bin Khatab melarang Abdullah bin Umar untuk
menjadi penerus karir politiknya karena dia sudah paham bahwa persoalan politik
yang paling dominan berkaitan dengan kepentingan. Hukum tertinggi kepentingan. Semua
konstitusi dibuat dan ditafsirkan sesuai dengan kepentingan. Bukan hanya aturan-aturan
hukum, bahkan aturan tertinggi sumber hukum Islam -Al-Qur’an dan As-Sunnah -sering
dijadikan legalitas kepentingan tersebut.
Jika anda pernah membaca tulisan Prof.Dr.
Ikhsan Ilahi Zahiri, M.A yang berjudul”Asy-Syi’ah Was Sunnah”, maka akan
menemukan betapa rumitnya hubungan kedua aliran tersebut. keduanya menggunakan
dalil-dalil naqli dan tafsir-tafsir untuk memperkuat argumentasi kebenaran-kebenaran
masing-masing kedua belah pihak.
Jika anda pernah membaca tulisan saudara Helmi
Candra, Zulfahmi Alwi, Rahman, Imam Ghozali dan Muhammad Irwanto -Pengaruh
Sunni dan Syi’ah terhadap Perkembangan Ilmu Hadist -akan menemukan tafsir-tafsir
sumber hukum Islam dalam upaya melakukan pembelaan terhadap eksistensi kedua
aliran tersebut. penulis akan menemukan dari fakta tersebut bahwa grand design eksistensi
kedua aliran tersebut akan selalu ada dalam lintasan sejarah. kedua nya sudah
mempunyai perangkat yang sama-sama sangat kuat untuk mempertahankan -dan kalau
bisa mengalahkan -keberadaannya dalam catatan sejarah.
Karena kepentingan menjadi suatu kepastian
dalam dunia politik, maka posisi kebenaran terkadang serba dilematis. Posisi kebenaran
menjadi seperti “sepotong tongkat lurus” yang ditaruh di dalam air yang jernih.
Orang-orang bisa melihat dalam dua presepsi. Satu sisi melihat seolah-olah bengkok,
sisi lain melihat lurus. Bahkan dalam dinamika sosial, ada tafsir-tafsir lebih
luas lagi untuk menterjemahkan kedua hal tersebut -bengkok dan lurus -dalam wilayah-wilayah
yang berbeda. Dan sekarang sudah terbukti.
Bagi kaum sunni yang lurus-lurus dan tidak
pernah memikirkan dan memusingkan dinamika politik, akan melihat ajaran-ajaran
islam lurus-lurus saja dan berfikir bahwa semua sesuai dengan apa yang
dikehendaki oleh allah swt. padahal makna yang dikehendaki oleh Allah itu
sendiri juga bias dan sering menimbulkan perdebatan panjang hingga saat
sekarang ini.
Bagi kaum sunni yang sangat merindukan kebangkitan
Khilafah Islamiyah terlihat indah dan terdengar sangat rasionalis, menarik
dan menginspirasi bagi sebagian masyarakat muslim. tentu saja ini masih sebatas
marketing branding seperti seorang Ketua Yayasan ingin mendirikan pondok
pesantren dengan “iming-iming” kualitas terbaik out put nya. Maka
tidak heran, jika kemasan produk harus benar-benar digarap dengan professional agar
berhasil membangun image positif di tengah-tengah masyarakat.
Sayangnya, produk khilafah bukan hanya satu
macam. Ada beragam jenis baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Dalam negeri
sejak dulu sudah ada seperti Darul Islam/Tentara Islam Indonesia(DI/TII), Majelis
Mujahidin Indonesia(MMI), Jamaah Islamiyah(JI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Khilafatul
Muslimin, dan lain-lain. Semua gerakan-gerakan tersebut juga mempunyai pemimpin
dan ingin menjadi khalifah di Indonesia.
Pola gerakan khilafah seperti ini
sebenarnya tidak jauh berbeda pada masa pasca pemerintahan Hasan bin Ali. Ketika
tampuk pimpinan berpindah ke Muawiyah, maka keluarga Abbas dan keluarga Ali
serta kelompok-kelompok lain ingin menjadi penguasa khilafah-khilafah Islamiyah.
Ada semangat yang sama untuk mendirikan dan menegakan syariat Islam yang
dicita-citakan. Tapi lagi-lagi, gerakan-gerakan tersebut sebenarnya tidak
terlepas dari eksklusifitas kelompok. Sangat sulit Muawiyah menerima keluarga Abbas
dan keluarga Ali. Jadi, makna khilafah Islamiyah pada masa dulu pun
tidak terlepas dari kepentingan-kepentingan tidak hanya pada persoalan agama,
tapi juga persoalan-persoalan pragmatis kelompok tertentu. Ini yang kemudian
hari pertikaian dan peperangan menghiasi perjalanan khilafah Islamiyah dalam
suksesi kepemimpinan. Suatu fakta yang terkadang sebagian orang sangat “risih”
untuk mengungkapkan hal tersebut.
Persoalan konflik politik juga terjadi pada
perjalanan perpolitikan kaum syi’ah. adanya beragam faksi -kaum radikal dan
moderat – menimbulkan perebutan kekuasaan untuk mempertahankan kekuasaannya.
Perselisihan Muhammad Al-Baqir dengan
saudaranya Zaid bin Ali berkaitan pengakuan terhadap imamah/atau kepemimpinan Abu
Bakar dan Umar bin Khatab. Muhammad Baqir juga mengklaim dirinya sebagai imam
berdasarkan nash dan wasiah dari imam sebelumnya. Kemudian Zaid bin Ali pun mengangkat
dirinya sebagai Imam di Kuffah. Hal-hal seperti ini yang kemudian hari terjadi
konflik di antara mereka. Bahkan konflik pun berlangsung hingga pada era
modern.
Apakah konlfik kepentingan tersebut -antara
sunni dan sunni, syi’ah dan syi’ah, sunni dan syi’ah -bisa diperminim dan lebih
mengutamakan hal-hal yang bersifat subtansial dan menjangkau kepentingan
masyarakat yang lebih luas -seperti kepentingan masyarakat global -dengan
mengurangi egoisme atas nama ideologi?.
Tulisan ini tentu saja tidak bisa menjawab
pertanyaan tersebut sebagai bagian dari respon keinginan -mungkin juga -mayoritas
masyarakat dunia. Ma’lum persoalan politik dan kekuasaan terlalu pelik
untuk dibahas dan kadang terlalu genit ketika dilihat.
Mungkin keinginan ku terlalu luas. Saya mempersempit
lagi jangkauannya pada level nasional. Bisakah para penguasa guyub-rukun dan
sama-sama menyatukan energi untuk kemaslahatan masyarakat Indonesia sesuai
dengan janji-janjinya.
Atau jika dipersempit lagi, apakah para
gubernur-wakil gubernur, bupati-wakil bupati, walikota-wakil walikota mampu bisa
duduk bareng dan bisa menerapkan program S3 (Senyum Saling Sapa), tidak ada
sikut-sikutan. Duduk bareng, ngobrol bareng, dan selesaikan bareng
persoalan-persoalan yang ada di wilayah kekuasaannya.
Saya tidak tahu permintaan sederhana ku
ini. Apakah terwujud apa tidak. Ma’lum lah, kadang saya melihat para pemimpin
seperti pasangan suami-istri yang menikah karena paksaan orang tua. Resepsi besar-besaran.
Canda Tawa seperti Sang Pangeran dan Putri Salju. Tapi sayang sungguh disayang,
kadang kegembiraan terlalu cepat berlalu, wajah terlihat sayu, dan yang lebih mengerikan
adalah dendam di dalam hati menyebar seperti benalu -sangat cepat menular dan
membahayakan -menyerang seluruh sistem kekebalan tubuh. Siapa yang rugi. Dua belah
pihak rugi.
Itulah politik sabun. Ia hanya menebarkan
keharuman saat mandi berdua di kamar mandi. Selesai memakai baju, mereka jalan
masing-masing dan saling tebar pesona sambil berkata:”Godain aku donk”
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875