Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kuliah umum bersama Sayyid Ali Khameini di UDM



Jumat , 20 Juni 2025



Telah dibaca :  525

Era Dunia Maya (DM) jika diambil sisi positif sebenarnya bisa dibuat seperti universtas. Ya, Universitas Dunia Maya (UDM). Kita bisa kuliah dari siapa saja dan jurusan apa saja. Dalam satu hari, kita bisa kuliah dengan beragam guru besar fakultas apa saja, keahlian apa saja. Bahkan kita bisa kuliah umum dengan Menteri atau Kepala Negara dengan tidak perlu menyiapkan karpet merah dan menyiapkan segala asesoris yang kadang menyesakan dada. Jadi, kita sebenarnya bisa dewasa menyikapi masalah melalui ceramah-ceramah dan kajian-kajian ilmiah dari mereka. Harapannya, ada kesadaran global masyarakat dunia memulai hidup baru dengan penuh kedamaian.

Hari ini saya menerima kuliah umum. Pemateri nya bukan dari bupati, gubernur atau presiden RI, tapi dari Pemimpin Tertinggi Iran, Sayyid Ali Khameini. Berikut sebagian isi materinya:

Kita telah mengulangi ini lebih seratus kali. Tetapi selalu saja ada suara dari Seberang. Tentang perbedaan sunni dan syi’ah. Kenapa mereka melakukan. Mereka melakukan yang menguntungkan musuh. Mereka tak sadar, bahwa keahlian Inggris antara lain melakukan adu domba. Memecah antara sunni dan syi’ah.

Bersatulah!!. Iya, perbedaan pandangan soal keyakinan dan pemikiran memang ada. Tapi ada juga kesamaan pandangan kita sepakati bersama. Kita begitu banyak kesamaan. Lalu kita harus melupakan semua itu. Lalu kita memilih perpecahan?. Jangan lakukan itu!!.

Materi sangat luarbiasa. ini disampaikan di internal Pemerintahan Iran. Bukan propaganda politik disampaikan di depan penganut Sunni. Tapi di internal yang mayoritas penganut syi’ah. Bagiku sayyid Ali sedang melakukan Pendidikan politik bahwa era perbedaan ideologi harus segara tinggal landas. Sudah saatnya Kembali kepada satu titik esensi, yaitu memperteguh tauhid dan menebarkan esensi tauhid sebagai pencipta rahmat semesta alam.

Sejarah masa lalu umat Islam memang mengalai masa-masa sangat kelam. Menyesakan dada. Luka lama tidak juga kunjung kering. Mudah kambuh. Ibarat anak baru sunnat dan tidak boleh makan ikan asin. Ia malah makan laut, akibatnya luka-luka yang sudah hampir kering pun muncul rasa “gatel-gatel”. Kalau sudah gatal, rasanya tidak tahan untuk menggaruk-garuk. Dan hari ini seperti itu, yang menggaruk perpecahan diri kita sendiri, dan dibantu oleh kelompok eksternal.

Implikasi Perang Shifin menyebabkan umat Islam pecah menjadi tiga faksi: Syi’ah, Khawarij dan kelompok mayoritas-sering disebut kelompok Sunni. Kelompok ketiga punya watak moderat. Ia tidak mau melihat saudara sesama muslim bertengkar. Dasarnya menggunakan hadist nabi: membunuh yang dibunuh masuk neraka, menuduh kafir sesama muslim hukum nya kafir. Itu sebabnya, kelompok mayoritas-sebagian dari mereka para sahabat nabi- pergi hijrah di berbagai wilayah untuk menghindari konflik. hikmah nya, Islam justru semakin tersebar ke berbagai penjuru dunia.

Ini yang sering saya pahami bahwa apa yang kita lihat terlihat menyedihkan umat Islam, tetapi disisi lain justru Allah sedang mengangkat derajat Islam sendiri. perang saudara sesama umat Islam pada masa Ali sering disebut dengan fitnah akbar. Tapi pada disisi lain, juga menjadi keberkahan akbar. Karena perang, sebagian sahabat-sahabat nabi dan tabi’in berpindah negara dan menyebarkan agama Islam. kini umat Islam terbesar nomor dua di muka bumi. Ada satu milyar lebih penduduk bumi mengakui Allah SWT sebagai Tuhan nya. Laksana taman dengan beragam bunga dan warna, semua sama yaitu mengeluarkan semerbak harum ke seluruh dunia.

Para penguasa sunni pada masa klasik ingin menyatukan seluruh dunia dalam satu kekuasaan dalam bentuk negara dunia. Dinasti Umayyah dan Dinasti Abasiyyah telah berusaha mewujudkan cita-cita besar tersebut. Mereka pernah jaya dan kemudian berakhir tutup buku.

Dinasti Syi’ah berdiri. Ia mengklaim sebagai tandingan Dinasti Umayyah dan Abasiyyah. Namanya Dinasti Fatimiyah dan mengklaim sebagai sebagai pewaris keturunan Nabi Muhammad SAW melalui Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib. Ia penganut Syi’ah Ismailiyah. Kekhalifahan ini juga berakhir pada 1171 M dibawah kekhalifahan Al-Adid. Setelah itu muncul kekhalifahan Ayyubiyah.

Ketika negara dunia mulai runtuh dan diganti dengan negara bangsa [nation state], maka kekuasaan dibatasi oleh wilayah geografis dalam bentuk beragam: kerajaan, kesultanan, federasi dan republik. Kini kita mengenal negara-negara Islam dan negara-negara masyoritas penduduk Islam seperti Arab Saudi, Mesir, Iran, Malaysia, dan Indonesia. Mereka telah mempunyai otoritas sendiri-sendiri mengatur rumah tangga masing-masing.

Dunia semakin komplek. Fanatisme etnis dan agama ternyata belum sepenuhnya mencair. Munculnya negara Israel telah membangkitkan lagi sentiment semitisme-kebencian terhadap bangsa yahudi-diberbagai negara Islam di belahan dunia. arogansi negara Israel dan mendapat dukungan absolut negara AS membuat kemarahan umat Islam di dunia. mereka sudah tidak lagi melihat aliran agama. Mereka bangkit bersatu dalam keberagaman. Sama-sama mempunyai tujuan yaitu melawan negara Israel.

Sayyid Ali Khameini pemimpin tertinggi Iran berpidato di depan para ulama dan petinggi negara Iran. Ia mengatakan sudah saat nya negara-negara Islam bersatu dan jangan selalu ketergantungan terhadap Amerika Serikat. Menurutnya, umat Islam di dunia ini bisa bangkit mandiri tanpa bantuan AS. Perbedaan perlu disingkirkan. Persamaan perlu diperkuat. Semua ini bisa terjadi jika kita sama-sama menyadari diri untuk membesarkan agama Allah di muka bumi ini.

Sayyid Ali Khameini tidak mengajak orang lain menjadi syi’ah. Sebab saat ini yang dibutuhkan bukan pada perdebatan teologi yang hanya menghabiskan waktu. sekarang ini yang dibutuhkan adalah adanya kesadaran kolektif umat Islam di negara masing-masing untuk sama-sama bersinergi menjadi negara berdaulat dan tidak disetir oleh negara AS, Inggris dan negara barat yang sangat tidak menyukai pertumbuhan agama Islam.

Bagi Sayyid Ali, siapapun mau jadi apa terserah. Mau sunni atau syi’ah terserah. Tapi yang perlu dipahami bersama bahwa kita diikat oleh satu Tuhan yaitu Allah SWT.

Kuliah umum Sayyid Ali yang telah disebarkan di seluruh penjuru dunia tersebut berusaha menyadarkan diri negara-negara Islam. Ia juga berusaha menyudahi persoalan perbedaan teologi. Biarlah syi’ah menjadi syi’ah, dan sunni menjadi sunni sebagaimana yang sudah ada saat sekarang ini.

Namun memang tidak semudah mengembalikan telapak tangan. Kondisi internal setiap negara mempunyai problematika yang beragam yang sangat komplek. Selain itu, traumatic masa lalu sejarah Islam belum bisa melupakannya. Masih ada kecurigaan-kecurigaan di masyarakat. Salah satu yang masih nampak sekarang yaitu kecurigaan sunni dan syi’ah, serta sunni dengan sunni. Sebagian kaum sunni menuduh sunni lain dengan tuduhan syiah. Berbeda ibadah di suni langsung dicap bid’ah, kafir, sesat dan masuk neraka. Hal-hal yang remeh temeh ini terus hidup di tengah-tengah masyarakat yang tidak berkesudahan.

Bagaimana umat Islam bersatu jika yang perbedaan yang kecil-kecil sekecil debu masih dianggap sebesar gunung uhud?.

Rasa-rasa nya, umat Islam harus terus-menerus menonton roket-roket Israel dan Iran berterbangan di udara. Sebagaimana umat Islam terus-menerus melihat penderitaan masyarakat Palestina. Menonton dan sedih. Itu saja.

Saya mungkin seperti anda yang sama-sama “wong cilik”. Tidak punya kekuasaan dan tidak punya kekuatan. Hanya punya doa dan harapan-harapan. Semoga saja, Allah memberikan jalan terbaik kepada seluruh manusia dalam hidup penuh kedamaian dan ketenangan serta kebahagiaan dalam keberagaman. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875