
Era Dunia Maya (DM) jika diambil sisi positif
sebenarnya bisa dibuat seperti universtas. Ya, Universitas Dunia Maya (UDM). Kita
bisa kuliah dari siapa saja dan jurusan apa saja. Dalam satu hari, kita bisa
kuliah dengan beragam guru besar fakultas apa saja, keahlian apa saja. Bahkan kita
bisa kuliah umum dengan Menteri atau Kepala Negara dengan tidak perlu menyiapkan
karpet merah dan menyiapkan segala asesoris yang kadang menyesakan dada. Jadi,
kita sebenarnya bisa dewasa menyikapi masalah melalui ceramah-ceramah dan
kajian-kajian ilmiah dari mereka. Harapannya, ada kesadaran global masyarakat
dunia memulai hidup baru dengan penuh kedamaian.
Hari ini saya menerima kuliah umum. Pemateri
nya bukan dari bupati, gubernur atau presiden RI, tapi dari Pemimpin Tertinggi
Iran, Sayyid Ali Khameini. Berikut sebagian isi materinya:
Kita telah mengulangi ini lebih seratus kali. Tetapi selalu saja ada suara dari Seberang. Tentang perbedaan sunni dan syi’ah. Kenapa mereka melakukan. Mereka melakukan yang menguntungkan musuh. Mereka tak sadar, bahwa keahlian Inggris antara lain melakukan adu domba. Memecah antara sunni dan syi’ah.
Bersatulah!!. Iya, perbedaan pandangan soal keyakinan dan
pemikiran memang ada. Tapi ada juga kesamaan pandangan kita sepakati bersama. Kita begitu
banyak kesamaan. Lalu kita harus melupakan semua itu. Lalu kita memilih
perpecahan?. Jangan lakukan itu!!.
Materi sangat luarbiasa. ini disampaikan di
internal Pemerintahan Iran. Bukan propaganda politik disampaikan di depan penganut
Sunni. Tapi di internal yang mayoritas penganut syi’ah. Bagiku sayyid Ali sedang
melakukan Pendidikan politik bahwa era perbedaan ideologi harus segara tinggal
landas. Sudah saatnya Kembali kepada satu titik esensi, yaitu memperteguh
tauhid dan menebarkan esensi tauhid sebagai pencipta rahmat semesta alam.
Sejarah masa lalu umat Islam memang
mengalai masa-masa sangat kelam. Menyesakan dada. Luka lama tidak juga kunjung
kering. Mudah kambuh. Ibarat anak baru sunnat dan tidak boleh makan ikan asin. Ia
malah makan laut, akibatnya luka-luka yang sudah hampir kering pun muncul rasa “gatel-gatel”.
Kalau sudah gatal, rasanya tidak tahan untuk menggaruk-garuk. Dan hari ini
seperti itu, yang menggaruk perpecahan diri kita sendiri, dan dibantu oleh kelompok
eksternal.
Implikasi Perang Shifin menyebabkan umat
Islam pecah menjadi tiga faksi: Syi’ah, Khawarij dan kelompok mayoritas-sering
disebut kelompok Sunni. Kelompok ketiga punya watak moderat. Ia tidak mau
melihat saudara sesama muslim bertengkar. Dasarnya menggunakan hadist nabi:
membunuh yang dibunuh masuk neraka, menuduh kafir sesama muslim hukum nya
kafir. Itu sebabnya, kelompok mayoritas-sebagian dari mereka para sahabat nabi-
pergi hijrah di berbagai wilayah untuk menghindari konflik. hikmah nya, Islam
justru semakin tersebar ke berbagai penjuru dunia.
Ini yang sering saya pahami bahwa apa yang
kita lihat terlihat menyedihkan umat Islam, tetapi disisi lain justru Allah
sedang mengangkat derajat Islam sendiri. perang saudara sesama umat Islam pada
masa Ali sering disebut dengan fitnah akbar. Tapi pada disisi lain, juga
menjadi keberkahan akbar. Karena perang, sebagian sahabat-sahabat nabi dan
tabi’in berpindah negara dan menyebarkan agama Islam. kini umat Islam terbesar
nomor dua di muka bumi. Ada satu milyar lebih penduduk bumi mengakui Allah SWT
sebagai Tuhan nya. Laksana taman dengan beragam bunga dan warna, semua sama
yaitu mengeluarkan semerbak harum ke seluruh dunia.
Para penguasa sunni pada masa klasik ingin
menyatukan seluruh dunia dalam satu kekuasaan dalam bentuk negara dunia.
Dinasti Umayyah dan Dinasti Abasiyyah telah berusaha mewujudkan cita-cita besar
tersebut. Mereka pernah jaya dan kemudian berakhir tutup buku.
Dinasti Syi’ah berdiri. Ia mengklaim
sebagai tandingan Dinasti Umayyah dan Abasiyyah. Namanya Dinasti Fatimiyah dan
mengklaim sebagai sebagai pewaris keturunan Nabi Muhammad SAW melalui Fatimah Az-Zahra
dan Ali bin Abi Thalib. Ia penganut Syi’ah Ismailiyah. Kekhalifahan ini juga
berakhir pada 1171 M dibawah kekhalifahan Al-Adid. Setelah itu muncul
kekhalifahan Ayyubiyah.
Ketika negara dunia mulai runtuh dan
diganti dengan negara bangsa [nation state], maka kekuasaan dibatasi
oleh wilayah geografis dalam bentuk beragam: kerajaan, kesultanan, federasi dan
republik. Kini kita mengenal negara-negara Islam dan negara-negara masyoritas
penduduk Islam seperti Arab Saudi, Mesir, Iran, Malaysia, dan Indonesia. Mereka
telah mempunyai otoritas sendiri-sendiri mengatur rumah tangga masing-masing.
Dunia semakin komplek. Fanatisme etnis dan
agama ternyata belum sepenuhnya mencair. Munculnya negara Israel telah
membangkitkan lagi sentiment semitisme-kebencian terhadap bangsa
yahudi-diberbagai negara Islam di belahan dunia. arogansi negara Israel dan
mendapat dukungan absolut negara AS membuat kemarahan umat Islam di dunia.
mereka sudah tidak lagi melihat aliran agama. Mereka bangkit bersatu dalam keberagaman.
Sama-sama mempunyai tujuan yaitu melawan negara Israel.
Sayyid Ali Khameini pemimpin tertinggi Iran
berpidato di depan para ulama dan petinggi negara Iran. Ia mengatakan sudah
saat nya negara-negara Islam bersatu dan jangan selalu ketergantungan terhadap
Amerika Serikat. Menurutnya, umat Islam di dunia ini bisa bangkit mandiri tanpa
bantuan AS. Perbedaan perlu disingkirkan. Persamaan perlu diperkuat. Semua ini
bisa terjadi jika kita sama-sama menyadari diri untuk membesarkan agama Allah
di muka bumi ini.
Sayyid Ali Khameini tidak mengajak orang
lain menjadi syi’ah. Sebab saat ini yang dibutuhkan bukan pada perdebatan
teologi yang hanya menghabiskan waktu. sekarang ini yang dibutuhkan adalah
adanya kesadaran kolektif umat Islam di negara masing-masing untuk sama-sama
bersinergi menjadi negara berdaulat dan tidak disetir oleh negara AS, Inggris
dan negara barat yang sangat tidak menyukai pertumbuhan agama Islam.
Bagi Sayyid Ali, siapapun mau jadi apa
terserah. Mau sunni atau syi’ah terserah. Tapi yang perlu dipahami bersama
bahwa kita diikat oleh satu Tuhan yaitu Allah SWT.
Kuliah umum Sayyid Ali yang telah
disebarkan di seluruh penjuru dunia tersebut berusaha menyadarkan diri
negara-negara Islam. Ia juga berusaha menyudahi persoalan perbedaan teologi.
Biarlah syi’ah menjadi syi’ah, dan sunni menjadi sunni sebagaimana yang sudah
ada saat sekarang ini.
Namun memang tidak semudah mengembalikan
telapak tangan. Kondisi internal setiap negara mempunyai problematika yang
beragam yang sangat komplek. Selain itu, traumatic masa lalu sejarah Islam
belum bisa melupakannya. Masih ada kecurigaan-kecurigaan di masyarakat. Salah
satu yang masih nampak sekarang yaitu kecurigaan sunni dan syi’ah, serta sunni
dengan sunni. Sebagian kaum sunni menuduh sunni lain dengan tuduhan syiah.
Berbeda ibadah di suni langsung dicap bid’ah, kafir, sesat dan masuk neraka.
Hal-hal yang remeh temeh ini terus hidup di tengah-tengah masyarakat yang tidak
berkesudahan.
Bagaimana umat Islam bersatu jika yang
perbedaan yang kecil-kecil sekecil debu masih dianggap sebesar gunung uhud?.
Rasa-rasa nya, umat Islam harus
terus-menerus menonton roket-roket Israel dan Iran berterbangan di udara.
Sebagaimana umat Islam terus-menerus melihat penderitaan masyarakat Palestina.
Menonton dan sedih. Itu saja.
Saya mungkin seperti anda yang sama-sama “wong
cilik”. Tidak punya kekuasaan dan tidak punya kekuatan. Hanya punya doa dan
harapan-harapan. Semoga saja, Allah memberikan jalan terbaik kepada seluruh
manusia dalam hidup penuh kedamaian dan ketenangan serta kebahagiaan dalam
keberagaman.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   237
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875