
Di beberapa grup WA khusus, teman-teman ku
sibuk membicarakan hasil Pemilihan Suara Ulang (PSU). Rupanya di grup khusus
tersebut rata-rata simpatisan pasangan Afni-Syamsurizal. Rival terberatnya
petahana yaitu Alfedri-Husni.
Namanya juga simpatisan pasti ramai. agak
mirip-mirip pertandingan sepakbola Indonesia vs Australia. Seru. Ada yang tepuk
tangan gembira. Ada yang menetes air mata. Saya hanya tersenyum saja melihat
teman-teman di grup WA bahagia. Padahal, mereka pun tidak dapat apa-apa dari pasangan
yang didukung. Tapi namanya sudah jatuh cinta. Calon nya menang, rasa nya
sangat bahagia.
“Mas, doa ku mustajab. Berkah lail al-qadr.
Jagoku menang mas” kata Paijo SMS.
Saya tersenyum dan mengucapkan selamat. Hati
ku tersenyum juga, apa hanya Timses Afni yang berdoa di bulan ramadhan. Pastinya
timses calon lainnya juga bermunajat kepada Allah. Jangan-jangan para malaikat “hom-pim-pa”
untuk memutuskan calon yang pantas menang. Kebetulan saat “hom-pim-pa” Malaikat
pendukung doa Afni menang. Jadi lah suara nya melonjak dari pemilihan sebelum PSU.
Jauh sebelum adanya PSU, dan sebelum pencoblosan
pilkada langsung beberapa bulan lalu, seorang sahabat saya yang sejak anak-anak
sudah menjadi aktivis NU japri di wa ku. Kurang lebih bunyi nya begini: “Mas
imam, menurut tim survei UNRI, pasangan Afni-Syamsurizal menang, mengalahkan pasangan
petahana. Menurut jenengan pripun?”. Saya menjawabnya pun kurang lebih begini: “Iya,
saya percaya. Salah satu faktor yang memperkuat kemenangan tersebut karena
adanya dukungan Pak Arwin, mantan bupati Siak”.
Pada pilkada langsung 2024, saya memang hanya mengikuti kontestasi demokrasi pada empat titik pilkada: pilkada kepulauan meranti, bengkalis dan siak. Satu lagi, pemilihan gubernur. Kebetulan keempat dari keempat pasangan tersebut, calon dan tim-suksesnya mengharapkan berkah doa dari ku. Dan itu sudah mafhum di musim pilkada. Siapapun calon juga melakukan pendekatan sama. hampir siapapun juga jika ada seorang yang dianggap tokoh, biasanya diharapkan keberkahan doa.
Kebetulan, keempat calon tersebut sukses di pilkada. Ada rasa senang. Itu saja.
Memang ada yang sedikit sewot saat saya
mendoakan salah satu di antara mereka dengan alasan yang sangat subyektif. saya
menjawab bahwa siapapun yang meminta doa kebaikan akan saya doakan. Persoalan menang
atau kalah, sebenarnya bukan sebatas pada faktor doa saja. Banyak faktor. Banyak sekali. Jjika mengacu keimanan, ini persoalan takdir saja. Jika garis tangan memang jadi bupati/gubernur, ada jalan dipermudah untuk bisa terpilih menjadi kepala daerah. Tapi jika
takdir tidak terpilih, sudah mengeluarkan seluruh kekuatan pun tetap juga
gagal.
“Kita ini memilih pemimpin terbaik ustadz” kata
pendukung tertentu.
Saya tersenyum. saya tidak mau debat. Saya juga
tidak mau menguliti satu-persatu kelemahan para calon yang sedang maju di
pilkada. Saya selalu berprasangka baik bahwa mereka manusia pilihan. Buktinya selain
meraka sudah tidak ada calon lain. Namun saya juga punya keyakinan, bahwa yang
terpilih belum tentu yang terbaik. Tidak selalu yang terpilih yang terbaik. Bisa
juga calon yang tidak terpilih itu yang terbaik. Tapi pilkada bukan memilih
yang terbaik, pilkada memilih suara terbanyak. Itulah yang menang. Jadi, makna
terbaik sebenarnya presepsi dari masing-masing tim-sukses. Dan itu harus. Masa sih,
ada tim-sukses tidak percaya dengan calon yang diusung. Jika ada, bisa
dipastikan kalah.
Walhasil, saya secara pribadi mengucapkan
selamat kepada teman-teman ku di Siak yang sedang berbahagia karena jagonya
menang. Saya menunggu Kang Paijo menjemput ku pada syukuran Bupati Siak. Semoga,
malam lail al-qadr di langit Siak mampu memberi keberkahan seluruh masyarakat
siak secara adil dan merata.
Penulis : Imam Ghozali
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   212
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   219
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   236
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872